Rapor Pemerintahan • Prabowo Periode November 2025 hingga Juli 2026
0%
Kepuasan kini
0
Anjlok dalam 9 bulan
0%
Kini tidak puas

Ada satu angka yang membuat banyak orang di sekitar Istana terdiam pekan ini. Angka itu 51,1 persen. Sekilas ia masih terlihat di atas garis aman, masih separuh lebih. Tetapi di dunia survei, yang paling penting bukan posisi diam sebuah angka, melainkan ke arah mana dan secepat apa ia bergerak. Dan arah yang ditunjukkan angka ini terjal, cepat, serta berangkat dari titik yang sangat tinggi.

Sembilan bulan lalu, tepatnya pada November 2025, Saiful Mujani Research and Consulting mencatat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto berada di 81,2 persen. Itu angka bulan madu yang megah, tergolong tertinggi untuk ukuran seorang kepala negara. Lalu pada rentang akhir Februari sampai awal Maret 2026 angka itu sudah menurun ke 66,4 persen. Kini, dalam rilis 26 Juli 2026, ia mendarat di 51,1 persen. Total penurunannya 30,1 poin. Dalam bahasa yang lebih membumi, kira kira satu dari tiga orang yang dulu memuji sekarang berbalik ragu.

Kami sengaja tidak buru buru menghakimi. Sebelum menulis satu kalimat opini pun, tim kami lebih dahulu mengumpulkan lebih dari dua puluh pemberitaan dari Kompas, Tempo, Liputan6, Tirto, Reuters, sampai The Jakarta Post, lalu menandai setiap angka, setiap kutipan, dan setiap nama narasumber. Tujuannya cuma satu, memastikan tulisan ini berdiri di atas fakta, bukan di atas asumsi. Hasilnya kami sajikan sebagai bacaan yang mengalir, lengkap dengan grafik yang bisa Anda sentuh dan telusuri sendiri.

“Approval rating tidak datang dari ruang hampa. Penurunannya terjadi bersamaan dengan memburuknya penilaian publik atas ekonomi, politik, dan penegakan hukum.” Deni Irvani, Direktur Eksekutif SMRC, saat memaparkan hasil survei

Satu hal perlu ditegaskan sejak awal. Tulisan ini bukan sorakan bahwa pemerintah gagal, dan bukan pula pembelaan bahwa semuanya baik baik saja. Ini kritik yang membangun. Kami justru melihat angka 51 persen sebagai sesuatu yang berharga, karena ia datang lebih awal, ketika pemerintahan masih memegang ruang, waktu, dan modal politik untuk berbenah. Alarm yang berbunyi terlalu telat tidak ada gunanya. Alarm yang berbunyi sekarang adalah sebuah hadiah.

Poin Penting dalam 30 Detik

  • Kepuasan turun ke 51,1 persen pada Juli 2026, dari 81,2 persen di November 2025, melewati 66,4 persen di kisaran Februari sampai Maret 2026.
  • Penurunannya 30,1 poin dalam sembilan bulan, jauh melampaui dua kali margin of error yang sebesar 3,7 persen, sehingga penurunannya nyata secara statistik.
  • Tiga aspek jadi pemicu utama, yaitu ekonomi yang dinilai buruk oleh 49,4 persen publik, politik oleh 42,8 persen, dan penegakan hukum oleh 37,6 persen.
  • Ketidakpuasan melonjak dari 16 persen ke 46,9 persen, membuat jarak antara yang puas dan yang tidak puas kini sangat tipis.
  • Kabar baiknya, ini bisa dibalik, karena akar masalahnya terbaca jelas dan sebagian besar berada dalam kendali langsung pemerintah.
01 Apa yang Sebenarnya Terjadi

Bukan Sekadar Turun, tetapi Turun dengan Kecepatan yang Jarang Terjadi

Coba perhatikan bentuk garisnya pada grafik di bawah ini. Ia tidak melandai pelan pelan seperti gerimis, melainkan menukik seperti hujan yang mendadak deras. Dalam pembacaan survei, kemiringan garis inilah yang justru lebih banyak bercerita ketimbang titik akhirnya. Garis yang curam menandakan ada sesuatu yang berubah cepat di benak publik, bukan pergeseran musiman yang biasa biasa saja.

Infografik 1 • Interaktif
Perjalanan Kepuasan Publik atas Kinerja Prabowo
November 2025 sampai Juli 2026. Arahkan kursor atau sentuh tiap titik untuk melihat detailnya.
80% 65% 50% turun 30,1 poin dalam 9 bulan 81,2 66,4 51,1 Nov 2025 Feb-Mar 2026 Juli 2026

Sumber: SMRC, dipaparkan Deni Irvani, rilis 26 Juli 2026 (Kompas, Tempo, Liputan6). Survei Juli 2026 menjangkau 749 responden, gabungan wawancara telepon dan tatap muka, dengan margin of error kurang lebih 3,7 persen.

Angka 51,1 persen itu tersusun dari 4,8 persen yang menyatakan sangat puas dan 46,3 persen yang cukup puas. Di seberangnya, 35 persen kurang puas dan 11,9 persen tidak puas sama sekali, dengan 2,1 persen memilih tidak menjawab. Artinya, jarak antara kubu yang puas dan yang tidak puas kini menyempit menjadi tinggal beberapa poin saja. SMRC sendiri mengingatkan, karena selisih itu masih berada dalam rentang margin of error, kita sebaiknya tidak gegabah menyimpulkan mana yang benar benar mayoritas. Yang pasti dan tidak terbantahkan adalah trennya, dan tren itu menurun tajam.

Pertanyaan yang wajar muncul berikutnya sederhana saja. Kenapa? Apa yang berubah di kepala jutaan orang hanya dalam hitungan bulan sehingga penilaian mereka bergeser sejauh ini? Jawabannya tidak tunggal, dan tidak boleh disederhanakan menjadi satu kambing hitam. Di bagian berikutnya, kami memecah rapor ini menjadi tiga bidang besar yang menurut data paling menjelaskan penurunan tersebut, yaitu ekonomi, politik, dan penegakan hukum.

02 Tiga Rapor Merah

Ekonomi, Politik, dan Hukum: Tiga Nilai yang Sama Sama Memerah

Kalau approval rating adalah nilai akhir di halaman depan rapor, maka tiga bidang inilah nilai per mata pelajaran yang menyusunnya. SMRC menegaskan penurunan kepuasan berhubungan erat dengan memburuknya penilaian publik atas ekonomi, politik, dan penegakan hukum secara bersamaan. Ketiganya bergerak ke arah yang sama, dan ketika tiga tiganya kompak memerah, wajar bila nilai keseluruhan ikut jatuh.

Kami tuangkan ketiganya dalam kartu skor interaktif berikut. Setiap batang menunjukkan proporsi publik yang menilai baik, biasa saja, dan buruk. Ketuk salah satu baris untuk membuka rinciannya, termasuk bagaimana angkanya berubah sejak November 2025.

Kartu Skor Tiga Bidang Infografik 2 • Ketuk tiap baris
Menilai baik Biasa saja Menilai buruk

Inilah pemicu paling kuat. Hanya 15,7 persen publik yang memandang kondisi ekonomi nasional secara positif, sementara 49,4 persen menyebutnya buruk atau sangat buruk. Sentimen negatif ini menanjak cepat, dari 22,7 persen pada November 2025, ke 31,7 persen pada Februari sampai Maret 2026, lalu ke 49,4 persen pada Juli 2026.

Yang menohok, penilaian retrospektif ikut memburuk. Warga yang merasa ekonomi lebih buruk dibanding tahun lalu naik dari 18,5 persen menjadi 45,8 persen. Menurut Deni Irvani, temuan ini mengonfirmasi para ekonom bahwa angka pertumbuhan tidak selalu mencerminkan keadaan riil di dompet masyarakat.

Nilai positif turun ke 15,7% Merasa lebih buruk dari tahun lalu 45,8%

Di bidang politik, hanya 13,5 persen publik yang menilai keadaan baik, anjlok dari 35,8 persen pada November 2025. Sebaliknya, 42,8 persen menilainya buruk, hampir tiga kali lipat dari yang menilai baik. Sisanya 33,6 persen memilih biasa saja dan 10,2 persen tidak menjawab.

SMRC mengaitkan penurunan ini dengan sederet peristiwa, mulai dari respons pemerintah yang dinilai negatif terhadap akademisi dan kelompok masyarakat sipil yang kritis, sampai teror penyiraman air keras terhadap aktivis. Iklim seperti ini membuat publik merasa ruang politik menyempit.

Nilai baik jatuh dari 35,8% ke 13,5% Nilai buruk 42,8%

Penegakan hukum mengalami kemerosotan yang paling terasa maknanya. Persepsi positif tinggal 26,4 persen, terjun bebas dari 42,5 persen pada November 2025, sementara yang menilai negatif mencapai 37,6 persen. Ada 5,8 persen yang tidak menjawab dan 30,2 persen menilai biasa saja.

Menurut Deni Irvani, publik mencium aroma potensi korupsi dalam pelaksanaan sejumlah program, seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, ditambah penetapan tersangka di lingkungan Badan Gizi Nasional. Ia bahkan menyebut, seandainya kasus di Jampidsus terjadi lebih awal sebelum survei, persepsi hukum bisa lebih buruk lagi.

Persepsi positif jatuh dari 42,5% ke 26,4% Sorotan MBG, Koperasi, Jampidsus
Sumber: SMRC, rilis 26 Juli 2026, dipaparkan Deni Irvani (Kompas, Tirto, Tempo). Angka November 2025 dipakai sebagai pembanding titik awal.

Perhatikan satu pola yang menyatukan ketiganya. Bukan cuma angka buruknya yang tinggi, tetapi kecepatan jatuhnya penilaian positif. Politik kehilangan lebih dari dua puluh poin nilai baik, hukum kehilangan enam belas poin, dan ekonomi menyeret sentimen negatif nyaris dua kali lipat. Ketika tiga fondasi ini goyah bersamaan, kepuasan pada presiden nyaris tidak punya tempat berpijak untuk bertahan tinggi.

03 Bukan Cuma SMRC

Lima Lembaga, Lima Angka, Satu Arah yang Sama

Setiap kali sebuah survei merilis angka yang tidak enak didengar, respons paling mudah adalah mempertanyakan lembaganya. Maka penting untuk melihat gambar besarnya. SMRC bukan satu satunya yang memotret kepuasan publik pada periode ini, dan angka mereka memang paling rendah. Tetapi bila kita jajarkan hasil lima lembaga sepanjang 2026, ada dua hal yang langsung terlihat.

Infografik 3 • Perbandingan
Kepuasan Publik atas Prabowo menurut Lima Lembaga
Diurutkan menurut waktu survei sepanjang 2026. Metode dan tanggalnya berbeda, jadi bacalah sebagai tren, bukan adu menang kalah.
Indikator15 sampai 21 Jan 2026
79,9%
Poltracking11 sampai 17 Mei 2026
72,2%
Puspollrilis 27 Jun 2026
64,8%
Indopol26 Mei sampai 1 Jun 2026
59,75%
SMRC5 sampai 19 Jul 2026
51,1%

Sumber: Indikator Politik (Antara, CNBC, rilis 8 Feb 2026), Poltracking (Kompas, Suara Surabaya, rilis 4 Jun 2026), Puspoll (Liputan6, rilis 27 Jun 2026), Indopol (Viva, Tempo), dan SMRC (rilis 26 Jul 2026). Ukuran sampel dan metode tiap lembaga berbeda, misalnya SMRC memakai 749 responden campuran telepon dan tatap muka, sedangkan Poltracking dan Indikator memakai sekitar 1.220 responden tatap muka penuh.

Hal pertama, urutan angkanya mengikuti waktu. Semakin belakangan surveinya, semakin rendah hasilnya. Indikator pada Januari masih mencatat 79,9 persen, Poltracking pada Mei di 72,2 persen, lalu berturut turut Puspoll, Indopol, dan akhirnya SMRC pada Juli di 51,1 persen. Perbedaan kapan survei dilakukan menjelaskan sebagian besar selisih ini, karena situasi ekonomi dan politik memang memburuk seiring waktu.

Hal kedua, meski angkanya berbeda, semua lembaga menunjuk luka yang sama, yaitu ekonomi. Indopol, misalnya, mencatat alasan ketidakpuasan tertinggi adalah kenaikan harga kebutuhan pokok. Puspoll mencatat keyakinan publik pada arah pemerintahan merosot tajam. Jadi bukan soal lembaga mana yang benar, melainkan soal satu pesan yang muncul konsisten dari berbagai arah. Ketika lima alat ukur yang berbeda menunjuk ke tempat yang sama, di situlah kita sebaiknya berhenti berdebat dan mulai mendengarkan.

04 Membaca Akar Masalah

Menelusuri dari Gejala ke Sumbernya, Bukan Berhenti di Permukaan

Angka yang turun hanyalah gejala. Kalau kita berhenti di situ, yang terjadi biasanya cuma saling tuding. Maka pada bagian ini kami mengajak Anda menelusuri lebih dalam, memakai tiga alat sederhana yang lazim dipakai untuk membedah masalah, yaitu menghitung isu mana yang paling sering muncul, bertanya kenapa berulang kali sampai ketemu akarnya, lalu memetakan seluruh penyebab dalam satu kerangka.

Mari mulai dari yang paling gampang, menghitung. Dari lebih dari dua puluh pemberitaan yang kami kumpulkan, kami menandai setiap kali sebuah isu disebut sebagai penyebab. Hasilnya membentuk pola yang khas, di mana sedikit isu mendominasi hampir seluruh percakapan. Inilah yang dalam analisis sering disebut prinsip Pareto, bahwa sebagian kecil sebab biasanya menjelaskan sebagian besar akibat.

Infografik 4 • Frekuensi Isu
Isu yang Paling Sering Disebut sebagai Penyebab
Hitungan tim Head Politika atas pemberitaan yang dikumpulkan. Ini hasil pemetaan kami, bukan angka resmi SMRC.
Ekonomi, daya beli, harga, PHK18 berita
Hukum & korupsi (MBG, Koperasi, Jampidsus)12 berita
Politik, demokrasi, sikap antikritik10 berita
Metodologi & margin of error10 berita
Reshuffle kabinet8 berita
Program pemerintah (MBG, Koperasi, Danantara)6 berita
Tanggapan Istana, akan naik lagi5 berita
Tudingan agenda politik2 berita

Catatan: Batang merah menandai tiga isu teratas yang bersama sama mendominasi pemberitaan, yaitu ekonomi, hukum, dan politik. Ini pemetaan analitis, bukan data survei.

Tiga batang teratas berwarna merah bukan kebetulan. Ekonomi, hukum, dan politik, tiga hal yang sama persis dengan tiga rapor merah SMRC tadi, adalah simpul yang paling banyak disebut. Artinya, kalau pemerintah ingin memperbaiki keadaan secara efisien, di tiga titik inilah energi sebaiknya dipusatkan lebih dulu, bukan disebar merata ke semua hal.

Sekarang kita masuk lebih dalam lagi. Menghitung memberi tahu apa yang sering muncul, tetapi belum menjawab kenapa. Untuk itu kami memakai metode bertanya kenapa secara berlapis, menelusuri satu jalur paling dominan, yaitu ekonomi, sampai menyentuh akarnya. Silakan tekan tombolnya untuk mengupas lapis demi lapis.

Lima Kenapa, Menelusuri Jalur Ekonomi
Infografik 5 • Interaktif. Tekan tombol untuk membuka lapisan berikutnya.
!
Gejala
Kepuasan publik turun ke 51,1 persen.
1
Kenapa?
Karena publik menilai kondisi ekonomi buruk, sebanyak 49,4 persen menyebutnya buruk atau sangat buruk.
2
Kenapa ekonomi dinilai buruk?
Karena daya beli tertekan, harga kebutuhan pokok naik, dan kekhawatiran soal lapangan kerja serta PHK meningkat.
3
Kenapa daya beli tertekan?
Karena pertumbuhan ekonomi di angka sekitar lima persen tidak terasa nyata di dompet masyarakat, seperti diakui sendiri oleh SMRC.
4
Kenapa pertumbuhan tidak terasa?
Karena program unggulan belum berdampak langsung, ditambah tekanan dari luar berupa rupiah yang melemah, bursa yang lesu, dan defisit anggaran yang melebar ke 2,85 persen dari PDB.
A
Akar
Kebijakan fiskal dan program besar belum menyentuh ekonomi sehari hari, sementara komunikasi pemerintah gagal meyakinkan publik bahwa perbaikan sedang berjalan.

Terakhir, kami rangkai semua penyebab yang disebut sumber ke dalam satu kerangka tulang ikan. Cara membacanya, kepala ikan di kanan adalah masalahnya, dan setiap tulang mewakili satu kelompok penyebab. Ketuk atau arahkan kursor ke tiap tulang untuk melihat penjelasannya.

Infografik 6 • Diagram Tulang Ikan Interaktif
Kepuasan turun ke 51,1 persen Manusia Metode Material Lingkungan Persepsi Anggaran
Ketuk salah satu tulang untuk melihat penjelasan penyebabnya.

Sumber penyebab: dirangkum dari pernyataan SMRC dan pemberitaan Kompas, Tempo, Reuters, serta Tirto. Pengelompokan tulang ikan adalah kerangka analitis tim Head Politika.

05 Suara yang Berbeda

Cara Media dan Pakar Membaca Angka yang Sama

Satu angka bisa diceritakan dengan banyak cara. Karena itu penting melihat bagaimana media membingkai hasil survei ini, sebab framing menentukan kesan yang tertinggal di kepala pembaca. Kami mengelompokkan pemberitaan berdasarkan nada, dari yang cukup kritis, yang cenderung netral dan mendalam, sampai yang lebih defensif membela pemerintah. Ketuk tiap label untuk melihatnya.

TempoJaringan Tribun

Kelompok ini menautkan angka survei ke konteks yang lebih luas. Tempo menghubungkan penurunan kepuasan dengan situasi demokrasi dan sikap terhadap kritikus. Jaringan Tribun mengambil sudut kabinet, bahkan menurunkan daftar sebelas menteri yang dinilai rawan reshuffle, sehingga tekanan terasa lebih tajam kepada pemerintah.

KompasReutersKontanThe Jakarta PostLiputan6TirtoGoodStats

Kelompok terbesar. Mereka menyajikan rincian data apa adanya dan menyandingkannya dengan konteks makroekonomi, seperti rupiah, bursa, dan defisit anggaran. Nadanya menahan diri, menempatkan angka sebagai fakta yang perlu dipahami, bukan senjata untuk menyerang atau membela.

FajarSurya

Kelompok ini memberi panggung lebih besar kepada suara yang meredam. Ada yang memuat pandangan bahwa survei ini bagian dari agenda politik tertentu, ada pula yang menonjolkan sikap Istana melalui Bakom bahwa hasil survei bersifat dinamis dan diyakini akan naik lagi.

Yang menarik, di balik perbedaan nada itu, hampir semua media sepakat pada satu titik data, yaitu ekonomi sebagai pemicu utama. Perbedaannya lebih pada seberapa keras mereka menekan tombol alarmnya, bukan pada apa isi alarmnya.

Hal serupa terjadi di kalangan pakar. Kami memilah komentar mereka menjadi dua, apa yang mereka sepakati dan di mana mereka berbeda jalan.

Titik Temu

Ekonomi adalah akar masalahNyaris semua pengamat dan lembaga survei menunjuk sektor ekonomi sebagai sumber utama penurunan. Jamiluddin Ritonga, Lili Romli, dan lembaga survei pembanding
Evaluasi tidak bisa ditundaAda konsensus bahwa pemerintah perlu segera membenahi kinerja, terutama di bidang yang paling merah.

Titik Beda

Reshuffle mendesakMenyerukan pergantian menteri ekonomi, hukum, dan komunikasi. Jamiluddin Ritonga, Lili Romli
Koalisi masih amanMenilai angka di atas 50 persen belum mengguncang koalisi. Ardli Johan Kusuma
Peringatan kelas menengahMengingatkan risiko kelas menengah yang jatuh miskin, mengutip Paradoks Cile. Hasto Kristiyanto
Skeptis dan membelaMenuding adanya agenda politik, atau menilai hasil bersifat dinamis dan akan pulih. Iwan Piliang, Muhammad Qodari

Perbedaan pandangan ini justru sehat. Ia menunjukkan bahwa membaca satu survei tidak boleh hitam putih. Tetapi ketika titik temunya begitu jelas, yaitu ekonomi, maka di sanalah pemerintah punya alasan paling kuat untuk memulai. Di bagian berikutnya, kami menyusun jalan keluarnya, dari yang bisa dikerjakan dalam tiga puluh hari sampai satu tahun.

06 Jalan Keluar

Peta Jalan yang Bisa Dieksekusi, dari 30 Hari sampai Satu Tahun

Mengeluh soal angka itu mudah. Yang sulit dan berguna adalah menyusun langkah yang bisa benar benar dikerjakan. Karena itu, kami tidak berhenti pada diagnosis. Berdasarkan seluruh fakta di atas, kami menyusun rekomendasi yang realistis dan bertingkat, dari yang bisa dimulai dalam tiga puluh hari, dikuatkan dalam seratus hari, sampai dirawat sepanjang satu tahun. Ini rekomendasi Head Politika, disandarkan pada data survei dan pemberitaan, bukan tebakan.

Silakan pindah dari satu tenggat ke tenggat lain lewat tombol di bawah. Setiap kartu menjelaskan lima hal, yaitu masalah yang ingin diselesaikan, fakta yang mendukungnya, risiko bila diabaikan, manfaat bila dijalankan, dan indikator keberhasilannya.

Kunci Harga Pangan dan Perbaiki Sasaran Bantuan
Ekonomi
Masalah
Daya beli tertekan dan harga kebutuhan pokok memberatkan rumah tangga.
Fakta
49,4 persen publik menilai ekonomi buruk menurut SMRC, dan Indopol mencatat kenaikan harga pokok sebagai alasan ketidakpuasan tertinggi.
Risiko
Keresahan meluas dan berpotensi memicu gelombang aksi di jalan.
Manfaat
Sentimen yang paling cepat terasa di keseharian membaik lebih dulu.
Indikator
Inflasi pangan turun dan indeks keyakinan konsumen naik dalam dua bulan.
Buka Terang Benderang Penanganan Kasus di Program Unggulan
Hukum
Masalah
Publik mencurigai korupsi pada program program besar pemerintah.
Fakta
SMRC menyebut aroma korupsi pada Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, kasus Badan Gizi Nasional, dan Jampidsus.
Risiko
Kepercayaan pada penegakan hukum, yang tinggal 26,4 persen positif, terus tergerus.
Manfaat
Sinyal bahwa pemerintah tidak melindungi siapa pun akan memulihkan wibawa hukum.
Indikator
Progres kasus diumumkan berkala dan penindakan berjalan tanpa tebang pilih.
Hentikan Nada Antikritik, Rangkul yang Berseberangan
Politik
Masalah
Ruang politik terasa menyempit dan sikap terhadap pengkritik memperburuk persepsi.
Fakta
Politik dinilai buruk oleh 42,8 persen publik, dan SMRC menyoroti respons negatif terhadap akademisi serta teror terhadap aktivis.
Risiko
Pembelahan sosial makin dalam dan kepercayaan kelompok terdidik jatuh.
Manfaat
Iklim dialog yang sehat menurunkan tensi dan memperbaiki citra pemerintah.
Indikator
Insiden intimidasi terhadap kritikus dan pers menurun.
Reshuffle Besar-Besaran, Bukan Sekadar Tambal Sulam
Kartu Kunci
Masalah
Menteri di bidang yang paling merah dinilai lamban, dan publik butuh sinyal keseriusan yang tidak setengah hati.
Fakta
Jamiluddin Ritonga dan Lili Romli menyerukan reshuffle menteri ekonomi, hukum, dan komunikasi. Jaringan Tribun bahkan menurunkan daftar sebelas menteri yang dinilai rawan.
Risiko
Tanpa perombakan berarti, penurunan approval berlanjut dan soliditas koalisi ikut goyah.
Manfaat
Wajah dan energi baru memberi momentum psikologis sekaligus perbaikan kinerja yang nyata.
Indikator
Approval naik lebih dari 7,4 poin, yaitu dua kali margin of error, pada survei berikutnya.
Hapus Politik-tainment, Ganti Seremoni dengan Hasil yang Terukur
Fokus
Masalah
Terlalu banyak acara seremonial yang ramai di panggung tetapi minim dampak yang dirasakan rakyat.
Fakta
Di tengah ekonomi yang dinilai buruk oleh hampir separuh publik, panggung seremonial justru memperlebar jarak antara citra dan kenyataan.
Risiko
Publik makin merasa pemerintah sibuk tampil, bukan bekerja, sehingga sinisme kian dalam.
Manfaat
Fokus pada hasil mengembalikan keyakinan bahwa anggaran dan waktu dipakai untuk hal yang penting.
Indikator
Agenda pejabat bergeser dari peresmian dan seremoni ke capaian program yang bisa diukur.
Evaluasi Kementerian Desa, Karena Muara Semua Program Ada di Desa
Strategis
Masalah
Banyak program besar bermuara ke desa, tetapi pengelolaan di kementerian yang menaunginya dinilai terlalu seremonial dan miskin gagasan konkret.
Fakta
Koperasi Desa Merah Putih, penyaluran bantuan, dan sejumlah program prioritas berujung di desa, sementara basis dukungan Prabowo juga kuat di wilayah pedesaan.
Risiko
Bila desa dikelola tanpa terobosan, program unggulan kehilangan tulang punggungnya dan dukungan di basis sendiri ikut tergerus.
Manfaat
Kepemimpinan baru dengan gagasan nyata untuk desa akan memperkuat seluruh rantai program sekaligus merawat basis dukungan.
Indikator
Muncul peta jalan pembangunan desa yang terukur, bukan sekadar rangkaian acara.
Buat Pertumbuhan Terasa di Dompet, Bukan Cuma di Angka
Ekonomi
Masalah
Pertumbuhan makro tidak tercermin dalam ekonomi riil masyarakat.
Fakta
SMRC menyatakan persepsi publik mengonfirmasi para ekonom bahwa pertumbuhan tidak mencerminkan keadaan yang riil.
Risiko
Jurang antara data dan rasa memicu ketidakpercayaan yang berkepanjangan.
Manfaat
Ekonomi yang inklusif mengangkat kepuasan secara struktural, bukan sesaat.
Indikator
Persepsi ekonomi positif kembali di atas 30 persen.
Tegakkan Hukum secara Konsisten dan Tanpa Pandang Bulu
Hukum
Masalah
Persepsi penegakan hukum jatuh dan dibayangi kecurigaan korupsi.
Fakta
Persepsi positif hukum turun dari 42,5 persen ke 26,4 persen hanya dalam sembilan bulan.
Risiko
Hukum yang dianggap tebang pilih meruntuhkan legitimasi pemerintahan.
Manfaat
Konsistensi membangun kepercayaan jangka panjang yang sulit digoyahkan.
Indikator
Kepercayaan pada penegakan hukum kembali di atas 40 persen.
Jaga Ruang Demokrasi dan Kebebasan Pers
Demokrasi
Masalah
Iklim politik memburuk dan ruang kritik terasa menyempit.
Fakta
Nilai baik untuk politik anjlok dari 35,8 persen ke 13,5 persen.
Risiko
Demokrasi yang tergerus merusak reputasi sekaligus stabilitas jangka panjang.
Manfaat
Ruang sipil yang sehat menjadi katup pengaman sekaligus sumber legitimasi.
Indikator
Berkurangnya laporan intimidasi dan membaiknya indeks kebebasan sipil.
Sorotan Khusus

Kenapa Desa Layak Jadi Titik Balik, Bukan Sekadar Latar Acara

Ada satu benang merah yang sering luput dari perhatian. Hampir semua program unggulan pemerintahan ini pada akhirnya bermuara ke desa. Koperasi Desa Merah Putih jelas berpusat di desa. Penyaluran bantuan, penguatan pangan, sampai banyak agenda kesejahteraan ujungnya menyentuh warga desa. Artinya, kalau mesin di tingkat desa tersendat, seluruh rantai program besar ikut kehilangan tenaga.

Ironisnya, di titik sepenting itu, pengelolaan yang menaungi desa justru kerap terlihat lebih ramai dengan seremoni ketimbang gagasan yang bisa diukur. Padahal desa bukan sekadar panggung untuk foto dan peresmian. Desa adalah tempat kebijakan diuji apakah benar benar mengubah hidup orang atau tidak.

Menariknya lagi, basis dukungan Prabowo justru banyak berada di desa. Maka membiarkan urusan desa dikelola tanpa terobosan bukan cuma soal program yang tersendat, melainkan juga soal merawat rumah sendiri. Di sinilah Head Politika berpendapat, Kementerian Desa dan pembangunan daerah tertinggal layak dievaluasi serius, dan bila perlu dipimpin sosok dengan gagasan konkret, supaya muara semua program ini benar benar mengalir, bukan menggenang di acara seremonial.

07 Penutup

Angka Ini Bukan Vonis, Melainkan Undangan untuk Berbenah

Mari kembali ke titik awal. Kepuasan publik yang turun ke 51,1 persen memang mengejutkan karena kecepatannya, tetapi ia bukan garis akhir. Justru sebaliknya, ia datang di saat yang tepat, ketika pemerintahan masih punya cukup modal untuk mengoreksi arah. Sejarah politik penuh dengan pemimpin yang bangkit dari titik rendah, dan sama penuhnya dengan pemimpin yang tenggelam karena menganggap alarm sebagai gangguan.

Seluruh data menunjuk ke satu pesan yang jernih. Publik sedang berbicara soal isi periuk, soal rasa adil di depan hukum, dan soal ruang untuk bersuara. Tiga hal yang sangat manusiawi. Menjawabnya tidak butuh retorika baru, melainkan hasil yang bisa dirasakan. Harga yang terjangkau, penegakan hukum yang tidak pandang bulu, kabinet yang bekerja, dan program yang benar benar sampai ke desa, bukan berhenti di panggung seremoni.

Yang menyelamatkan sebuah pemerintahan bukan angka survei yang tinggi, melainkan keberanian membaca angka yang rendah dengan jujur, lalu bertindak.

Head Politika menuliskan ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mengingatkan. Kritik yang membangun selalu berangkat dari harapan bahwa keadaan bisa lebih baik. Bola kini ada di tangan pemerintahan Prabowo dan Gibran. Waktunya masih ada, ruangnya masih terbuka, dan jalan keluarnya sudah terpeta. Tinggal satu yang menentukan, yaitu kemauan untuk melangkah.

08 Pertanyaan yang Sering Muncul

Ringkasan Cepat untuk Anda yang Ingin Langsung ke Intinya

Menurut survei SMRC yang dirilis 26 Juli 2026, kepuasan publik atas kinerja Presiden Prabowo berada di 51,1 persen. Angka ini turun dari 81,2 persen pada November 2025, setelah sempat di 66,4 persen pada kisaran Februari sampai Maret 2026.

SMRC mengaitkannya dengan memburuknya penilaian publik pada tiga bidang sekaligus, yaitu ekonomi yang dinilai buruk oleh 49,4 persen, politik oleh 42,8 persen, dan penegakan hukum oleh 37,6 persen. Ekonomi disebut sebagai pemicu paling kuat.

Belum tentu. Yang puas 51,1 persen dan yang tidak puas 46,9 persen, selisih yang masih berada dalam rentang margin of error 3,7 persen. Karena itu SMRC menekankan yang paling penting adalah trennya yang menurun tajam, bukan adu tipis antara dua kubu.

Angka SMRC memang paling rendah, tetapi arahnya sama. Indikator mencatat 79,9 persen pada Januari, Poltracking 72,2 persen pada Mei, Puspoll 64,8 persen pada Juni, dan Indopol 59,75 persen pada Mei hingga Juni. Perbedaan angka sebagian besar dijelaskan oleh waktu survei dan metode yang berbeda.

Head Politika menyarankan lima langkah kunci, yaitu menstabilkan harga pangan, membuka transparansi penanganan kasus korupsi program, melakukan reshuffle besar-besaran, menghapus politik-tainment yang hanya seremonial, dan mengevaluasi Kementerian Desa karena muara semua program ada di desa.

Bagikan

Catatan Metodologi dan Transparansi

Survei SMRC Juli 2026 menjangkau 749 responden lewat gabungan wawancara telepon dan tatap muka, dengan margin of error kurang lebih 3,7 persen. Karena metode dan waktu tiap lembaga survei berbeda, angka antarlembaga sebaiknya dibaca sebagai tren, bukan sebagai adu benar salah.

Seluruh data dan kutipan dalam artikel ini bersumber dari rilis SMRC dan pemberitaan media kredibel. Adapun bagian rekomendasi, termasuk seruan reshuffle dan evaluasi Kementerian Desa, adalah pandangan redaksi Head Politika yang disandarkan pada data tersebut, bukan bagian dari temuan survei.

Sumber yang Dapat Ditelusuri

  1. SMRC, dipaparkan Deni Irvani, rilis 26 Juli 2026, dikutip Kompas.com dan Kompas.id.
  2. Rincian ekonomi, politik, dan hukum, Kompas.com, Tirto, dan Tempo.
  3. Konteks makroekonomi, Reuters via Kontan dan The Jakarta Post via The Star.
  4. Dorongan reshuffle dan reaksi tokoh, Tribunnews dan JPNN.
  5. Pembanding lembaga survei lain, Poltracking, Indikator, dan Indopol.

Ditulis oleh Tim Riset Head Politika • 29 Juli 2026