Analisis Data • Survei SMRC Elektabilitas Partai • 5 sampai 19 Juli 2026
Pemilih yang belum menentukan pilihan
25,9 Persen

Ini blok terbesar dalam survei, lebih besar dari partai mana pun. Gerindra, sang pemuncak, hanya 16,9 persen. Dan ke kolom inilah suara Gerindra yang lenyap pergi, bukan ke partai oposisi.

16,9%Gerindra, peringkat 1
11,7%PDIP, peringkat 2
749Responden, margin 3,7%

Suara yang Parkir: Kenapa Gerindra Turun tapi Oposisi Tak Ikut Naik

Rilis SMRC menyebut elektabilitas Gerindra melemah seiring merosotnya Prabowo. Itu benar, tapi baru separuh cerita. Separuh yang lain, ke mana suara itu sebenarnya pergi, justru jauh lebih menentukan wajah 2029.

16,9% Elektabilitas Gerindra pada Juli 2026. Perhatikan: angka ini masih di atas hasil riil Pemilu 2024, yaitu 13,2 persen.
+10,2 Lonjakan poin pemilih “belum tahu” pada periode yang sama saat Gerindra jatuh dari puncaknya.
11,7% PDIP, partai oposisi terbesar, justru ikut turun dan berada di bawah hasil Pemilu 2024 (16,7 persen).

Dalam dua tulisan sebelumnya, kami menelusuri dua kejutan beruntun dari lembaga yang sama. Pertama, kepuasan publik pada pemerintahan Prabowo yang anjlok tiga puluh poin hanya dalam sembilan bulan. Kedua, seorang gubernur, Dedi Mulyadi, yang untuk pertama kalinya menyalip seorang presiden petahana di bursa capres. Rilis ketiga SMRC ini menutup segitiga itu dengan pertanyaan yang paling penting bagi para politisi: ketika sang nakhoda oleng, apa yang terjadi pada kapalnya, yakni partai yang ia pimpin?

Jawaban resmi SMRC terdengar rapi dan masuk akal. Elektabilitas Gerindra, kata mereka, melemah paralel dengan turunnya Prabowo dan merosotnya penilaian publik atas ekonomi, politik, serta hukum. Angka Gerindra memang jatuh tajam, dari puncak 29,3 persen pada survei Februari sampai Maret 2026 menjadi 16,9 persen pada Juli 2026. Sekilas, ini kisah keruntuhan. Judul-judul berita pun ramai memakai kata “anjlok”.

Tetapi begitu angka-angka itu kami bongkar satu per satu, ceritanya berbelok. Gerindra tidak sedang runtuh, ia sedang mengembalikan bonus. Suara yang lepas darinya tidak pindah ke lawan, melainkan parkir di garasi bernama “belum tahu”. Dan yang paling jarang disadari, seluruh angka ini kebetulan lahir tepat di meja tempat DPR sedang menawar aturan main 2029. Mari kita telusuri pelan-pelan, mulai dari yang paling kasat mata.

30 Detik Poin Penting Sebelum Anda Lanjut
  • Bukan keruntuhan, tapi reversi. Gerindra turun dari puncak 29,3 persen ke 16,9 persen, namun angka terakhir itu masih 3,7 poin di atas hasil riil Pemilu 2024 (13,2 persen). Yang runtuh adalah puncak sementara, bukan fondasi.
  • Suaranya parkir, bukan pindah. Saat Gerindra kehilangan 12,4 poin, kolom “belum tahu” naik 10,2 poin. Suara itu tidak lari ke oposisi, ia hanya berhenti memilih untuk sementara. Ini demobilisasi, bukan realignment.
  • Oposisi gagal menuai. Di tengah pemerintah yang tidak populer, PDIP sebagai oposisi terbesar malah turun ke 11,7 persen, di bawah hasil pemilunya sendiri.
  • Empat partai di ujung tanduk statistik. NasDem, PKS, PSI, dan PAN berdesakan di angka yang, dalam margin of error 3,7 persen, bisa berarti lolos atau tersingkir dari Senayan. Sebagian “tren menurun” yang dilaporkan sebenarnya adalah derau.
  • Survei ini adalah amunisi. Angka ini keluar tepat saat DPR menggodok ambang batas parlemen baru untuk 2029, sesudah Mahkamah Konstitusi menghapus angka lama. Setiap desimal punya nilai politik.
01Apa yang Sebenarnya Terjadi

Gerindra Tidak Runtuh. Ia Mengembalikan Bonus Bulan Madu.

Bacalah grafik di bawah ini bukan sebagai satu garis, melainkan dua garis yang saling bercermin. Garis biru tua adalah elektabilitas Gerindra. Garis emas adalah proporsi pemilih yang menjawab “belum tahu”. Perhatikan pola pentingnya: ketika garis biru memuncak, garis emas menukik. Dan ketika garis biru terjun pada Juli 2026, garis emaslah yang melonjak menggantikannya. Dua gerakan itu nyaris berlawanan sempurna. Petunjuk pertama bahwa suara yang hilang tidak ke mana-mana, ia hanya berpindah dari kolom “Gerindra” ke kolom “belum menentukan pilihan”.

Grafik 1 • Naik dan Turunnya Gerindra

Saat Gerindra Jatuh, yang Naik Bukan Lawan, tapi Keraguan

Elektabilitas Gerindra (biru tua) versus proporsi pemilih “belum tahu” (emas), empat titik waktu dari Pemilu 2024 sampai Juli 2026. Ketuk atau arahkan kursor ke titik untuk melihat angkanya.

Elektabilitas Gerindra Pemilih belum menentukan pilihan
0 10 20 30 13,2 23,3 29,3 16,9 14,2 30,5 15,7 25,9 Pemilu 2024 Nov 2025 Feb/Mar 2026 Juli 2026
Cara membacanya. Titik terpenting bukan puncak 29,3 persen, melainkan garis dasar 13,2 persen. Itulah suara riil yang Gerindra kumpulkan di bilik suara Pemilu 2024. Angka Juli 2026 sebesar 16,9 persen berada di atas garis dasar itu. Artinya, secara teknis, “titik terburuk” Gerindra hari ini masih sedikit lebih tinggi dari hari ketika ia benar-benar memenangkan pemilu.
Sumber: SMRC, Elektabilitas Partai, Temuan Survei Nasional 5 sampai 19 Juli 2026 (angka Gerindra dan proporsi belum tahu per titik waktu). Titik “Belum tahu” 2024 memakai gelombang Oktober 2024. Penempatan sumbu waktu disederhanakan redaksi untuk keterbacaan.

Jadi kata “anjlok” tidak salah, tapi menyesatkan jika berhenti di situ. Yang anjlok adalah selisih dari puncak, bukan kekuatan dasar partai. Puncak 29,3 persen itu sendiri adalah anomali, sebuah bonus bulan madu yang lahir dari euforia kemenangan dan optimisme awal pemerintahan. Bonus semacam itu memang cenderung menguap. Pertanyaan yang jauh lebih penting, dan yang akan kita kejar di bagian berikutnya, adalah ke mana perginya 12,4 poin yang menguap itu. Sebab jawabannya menentukan apakah ini luka permanen atau sekadar memar yang bisa pulih.

02Ke Mana Suara Itu Pergi

Suaranya Parkir, Bukan Pindah ke Lawan

Kalau sebuah partai kehilangan dukungan, akal sehat berkata suara itu pasti mendarat di partai lain. Di negara dengan oposisi yang sehat, kejatuhan partai penguasa biasanya menjadi rezeki bagi penantangnya. Maka mari kita periksa: pada periode Gerindra terjun dari puncak, siapa yang panen? Neraca di bawah ini membandingkan perubahan tiap partai antara survei Februari sampai Maret 2026 dan Juli 2026. Batang merah berarti kehilangan, batang biru berarti tambahan, dan batang emas adalah kolom “belum tahu”.

Grafik 2 • Neraca Perpindahan Suara

Yang Panen dari Kejatuhan Gerindra adalah Golput, Bukan Oposisi

Perubahan elektabilitas tiap partai, Februari sampai Maret 2026 dibanding Juli 2026, dalam poin persen. Angka di sisi kiri adalah kondisi awal dan akhir tiap partai.

Gerindra29,3 → 16,9
-12,4
Belum tahu15,7 → 25,9
+10,2
PKB7,8 → 5,4
-2,4
PDIP13,5 → 11,7
-1,8
PKS5,5 → 4,4
-1,1
PAN2,5 → 1,9
-0,6
Golkar8,3 → 9,6
+1,3
NasDem3,1 → 4,4
+1,3
Aritmetika yang bicara. Gerindra kehilangan 12,4 poin. Kolom “belum tahu” bertambah 10,2 poin. Sekitar delapan dari sepuluh poin yang lepas dari Gerindra terserap ke keraguan, bukan ke rival. Golkar dan NasDem hanya menambah 1,3 poin, masih di dalam rentang keliru statistik. PDIP, yang seharusnya paling diuntungkan, malah ikut kehilangan 1,8 poin.
Sumber: SMRC, Elektabilitas Partai, Temuan Survei Nasional 5 sampai 19 Juli 2026 (tren tiap partai). Pembacaan neraca dan penjumlahan poin adalah hitung ulang redaksi Head Politika atas angka tersebut.

Perbedaan antara “parkir” dan “pindah” bukan sekadar main kata. Suara yang pindah ke lawan adalah suara yang hilang, sebab pemiliknya sudah menemukan rumah baru dan sulit ditarik kembali. Sedangkan suara yang parkir hanyalah pemilih yang sedang kecewa dan menahan pilihan, tetapi belum berpaling. Bagi Gerindra, ini kabar yang jauh lebih baik daripada yang tersirat dari kata “anjlok”. Bagi oposisi, ini justru kabar buruk: momentum terbaik untuk menyerap kekecewaan publik datang, dan mereka gagal menangkapnya.

03Peta Lengkap 21 Kolom

Papan Peringkat, dan Angka yang Jarang Anda Lihat

Berita biasanya mengutip angka mentah: Gerindra 16,9 persen, PDIP 11,7 persen, dan seterusnya. Tetapi angka mentah itu memasukkan seperempat responden yang belum memilih siapa pun ke dalam penyebut. Padahal kursi DPR dibagi dari suara sah, bukan dari orang yang tidak memilih. Coba tekan tombol “Tanpa golput” di bawah, dan saksikan peta berubah. Basis dihitung ulang ke 74,1 persen, dan tiba-tiba wajah persaingannya jauh lebih ramai.

Grafik 3 • Elektabilitas 21 Kolom

Dua Cara Membaca Angka yang Sama

Ketuk untuk beralih antara angka mentah versi rilis dan angka setelah golput dikeluarkan dari penyebut.

Gerindra0,0
PDIP0,0
Golkar0,0
Demokrat0,0
PKB0,0
NasDem0,0
PKS0,0
PSI0,0
Perindo0,0
PAN0,0
PPP0,0
Garuda0,0
Buruh0,0
Hanura0,0
Gerakan Rakyat0,0
PBB0,0
Ummat0,0
PKN0,0
Gelora0,0
Lainnya0,0
Belum tahu0,0
Sumber: Angka mentah dari SMRC, Elektabilitas Partai, 5 sampai 19 Juli 2026. Kolom “tanpa golput” adalah hitung ulang redaksi Head Politika, membagi tiap angka dengan basis 74,1 persen (100 dikurangi 25,9 persen yang belum memilih). Balok emas adalah kolom “belum tahu”; sengaja dibedakan dari partai agar terlihat jelas bahwa justru kolom itulah yang terpanjang.

Lihat apa yang terjadi pada empat partai papan tengah: NasDem, PKS, PSI, dan PAN. Dalam angka mentah, mereka tampak rapuh, empat sampai lima persen, seolah sekali embusan bisa lenyap. Setelah golput dikeluarkan, tiga di antaranya naik menembus lima setengah persen dan PAN merangkak ke 2,6 persen. Perbedaan ini bukan main-main, sebab di angka sekitar inilah nasib sebuah partai di parlemen ditentukan. Dan di sinilah cerita menjadi genting, karena aturan yang menentukan hidup-mati mereka justru sedang ditulis ulang saat survei ini terbit. Tapi sebelum ke sana, ada satu hal yang harus kita luruskan lebih dulu: seberapa yakin kita boleh mempercayai selisih-selisih kecil ini?

04Seberapa Yakin Kita Boleh Percaya

Ketika “Tren Menurun” Sebenarnya Cuma Derau

Setiap survei punya angka pengakuan yang jujur, dan pada survei ini angka itu adalah margin of error 3,7 persen. Artinya, tiap hasil sebaiknya dibaca bukan sebagai titik pasti, melainkan sebagai rentang. Ketika sebuah lembaga menyebut sebuah partai memperoleh 4,4 persen, yang sesungguhnya mereka katakan adalah “kemungkinan besar antara 0,7 dan 8,1 persen”. Rentang selebar itu mengubah banyak hal, terutama untuk partai-partai kecil yang nasibnya ditentukan oleh selisih satu dua poin.

Lihat gambar di bawah. Tiap belah ketupat biru adalah angka yang dilaporkan, dan tiap batang emas adalah rentang ketidakpastiannya. Perhatikan betapa batang-batang itu saling menindih. Di sinilah letak persoalannya.

Grafik 4 • Pita Ketidakpastian

Enam Partai, Rentang yang Saling Bertumpuk

Angka yang dilaporkan (belah ketupat) beserta rentang margin of error 3,7 persen (batang emas), untuk enam partai papan tengah. Sumbu mendatar adalah persentase.

04812%
Demokrat
8,1% ±3,7
PKB
5,4% ±3,7
NasDem
4,4% ±3,7
PKS
4,4% ±3,7
PSI
4,1% ±3,7
PAN
1,9% ±3,7
PKS dan NasDem: seri, bukan berurutan. Keduanya persis 4,4 persen, dengan rentang yang sepenuhnya identik. Menempatkan satu di atas yang lain, apalagi menyimpulkan salah satu “mengungguli”, secara statistik tidak berdasar. Begitu pula klaim bahwa PKB, PKS, NasDem, dan PAN “cenderung menurun”. Untuk sebagian dari mereka, gerakan naik-turun antarsurvei masih berada di dalam rentang keliru, yang berarti kita sedang membaca derau, bukan tren.
Sumber: Angka partai dari SMRC, Elektabilitas Partai, 5 sampai 19 Juli 2026, dan margin of error 3,7 persen yang ditetapkan SMRC. Pita rentang dan pembacaannya adalah hitung ulang redaksi Head Politika (angka dilaporkan dikurangi dan ditambah 3,7). Rentang disederhanakan sebagai margin simetris untuk keperluan visual.

Ini bukan berarti survei tidak berguna. Rentang selebar itu justru pesan penting: pada papan bawah, urutan partai belum benar-benar mengeras. Yang layak dilaporkan bukan “partai A mengalahkan partai B pada 4,4 lawan 4,1”, melainkan “empat partai berdesakan di zona yang sama, dan siapa pun bisa naik atau turun”. Kehati-hatian membaca selisih kecil ini bukan sikap cerewet, melainkan syarat pertama sebelum kita boleh menafsirkan apa pun.

05Membaca Tabulasi Silang dengan Kritis

“Teater Chi-Square”: Ketika Angka Cantik Berasal dari Segelintir Orang

Bagian paling memikat dari rilis ini adalah tabulasi silang, tabel yang memecah pilihan partai menurut sikap responden atas ekonomi, politik, hukum, sampai program unggulan. Di sana terpampang angka-angka yang tampak meyakinkan, lengkap dengan uji chi-square dan nilai p yang kecil, sinyal klasik bahwa “hubungan ini nyata secara statistik”. Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: dari berapa orang sebenarnya tiap angka itu dihitung?

Total responden survei ini 749 orang. Begitu tabel dipecah ke kategori paling sempit, seperti mereka yang menilai ekonomi “sangat baik”, jumlahnya menciut drastis. Grafik berikut menerjemahkan tiap kategori menjadi perkiraan jumlah orang riil.

Grafik 5 • Ukuran Sel yang Sebenarnya

Berapa Orang di Balik Setiap Baris Tabulasi Silang

Perkiraan jumlah responden pada tiap kategori, dihitung dari basis persen dikali 749. Hijau berarti kokoh, emas berarti batas, merah berarti terlalu tipis untuk disandari.

Kokoh (100 orang atau lebih) Batas (30 sampai 99) Rapuh (di bawah 30)
Pilih presiden: Dedi Mulyadi300
Pilih presiden: Prabowo125
Pilih presiden: Anies70
Pilih presiden: Gibran66
MBG: sangat puas49
Pilih presiden: AHY42
KDMP: sangat yakin21
Hukum: sangat baik15
Politik: sangat baik13
Ekonomi: sangat baik11
Kenapa ini penting. Ketika SMRC melaporkan, misalnya, bahwa 46 persen orang yang menilai ekonomi “sangat baik” memilih Gerindra, angka itu berasal dari sekitar sebelas responden. Empat puluh enam persen dari sebelas orang hanya sekitar lima orang. Uji chi-square sendiri mensyaratkan isi tiap sel minimal lima; pada sel-sel merah ini, syarat itu tak terpenuhi, sehingga nilai p yang tampak meyakinkan menjadi rapuh. Angkanya boleh ditampilkan, tapi tidak layak jadi tumpuan kesimpulan besar.
Sumber: Basis persen tiap kategori dari tabulasi silang SMRC, Elektabilitas Partai, 5 sampai 19 Juli 2026. Konversi ke jumlah orang (basis persen dikali 749) dan penilaian kokoh, batas, atau rapuh adalah hitung ulang redaksi Head Politika. Jumlah dibulatkan.

Ironisnya, justru narasi utama SMRC, bahwa merosotnya penilaian atas ekonomi dan politik menyeret Gerindra, banyak bersandar pada sel-sel tipis ini. Sementara satu tabulasi silang yang benar-benar kokoh, yang berdiri di atas ratusan responden, menyimpan temuan paling menarik yang justru belum banyak dibahas siapa pun. Tabulasi silang itu adalah pilihan presiden, dan di sanalah kita menemukan sosok paling membingungkan sekaligus paling menentukan dalam survei ini. Kita masuk ke sana sekarang.

06Tabulasi Silang yang Kokoh

Enam Wajah, Enam Peta Loyalitas yang Berbeda

Inilah tabulasi silang yang layak dipercaya, sebab berdiri di atas ratusan responden, bukan belasan. Pertanyaannya sederhana tapi dalam: bila seseorang menyukai tokoh presiden tertentu, ke partai mana suara legislatifnya jatuh? Jawabannya membentuk enam peta yang sama sekali berbeda, dan salah satunya mengubah cara kita membaca peluang 2029. Ketuk nama tokoh untuk berpindah peta.

Grafik 6 • Sebaran Partai Menurut Pilihan Presiden

Dari 100 Pemilih Tiap Tokoh, ke Partai Mana Suaranya Jatuh

Angka menunjukkan berapa persen pemilih tiap tokoh yang memilih partai bersangkutan. Ditampilkan tujuh partai teratas per tokoh.

Pemilih Dedi Mulyadi40,1% dari seluruh responden memilih tokoh ini
Gerindra19
Golkar16
PDIP13
Demokrat11
PKB10
Lainnya10
NasDem7
Yang terbaca: Menyebar rata. Tidak ada satu partai pun yang benar-benar memiliki pemilih Dedi, padahal ia sendiri kader Gerindra. Daya tariknya personal, melintasi sekat partai. Inilah aset sekaligus teka-teki 2029: elektabilitas lintas partai, tanpa kendaraan yang mengunci.
Pemilih Prabowo16,7% dari seluruh responden memilih tokoh ini
Gerindra39
Lainnya16
PDIP12
Golkar12
PSI9
Demokrat5
NasDem4
Yang terbaca: Terkonsentrasi. Basis Prabowo paling partisan, hampir empat dari sepuluh mengunci Gerindra. Kontras tajam dengan sebaran Dedi. Coattail presiden masih nyata, tapi kini bertumpu pada kelompok yang mengecil.
Pemilih Anies9,4% dari seluruh responden memilih tokoh ini
PKS31
Gerindra23
PKB11
Lainnya10
Demokrat8
NasDem8
PDIP5
Yang terbaca: Bocor ke PKS. Karena kendaraannya sendiri, Partai Gerakan Rakyat, baru lahir dan belum berbasis, suara Anies mendarat di PKS, hampir satu dari tiga. Ini menjelaskan kenapa PKS bertahan lebih baik dari partai menengah lain.
Pemilih Gibran8,8% dari seluruh responden memilih tokoh ini
PDIP28
Gerindra20
PSI16
Golkar13
Lainnya10
Demokrat6
PKB4
Yang terbaca: Anomali. Pemilih Gibran justru paling banyak berasal dari PDIP, partai yang memecatnya, disusul Gerindra dan PSI. Sebuah peta loyalitas yang berlapis dan tidak mudah dibaca dengan garis lurus.
Pemilih AHY5,6% dari seluruh responden memilih tokoh ini
Demokrat66
Golkar17
PDIP5
Lainnya5
PSI4
PKB2
Gerindra1
Yang terbaca: Kunci mati. Dua dari tiga pemilih AHY memilih Demokrat, loyalitas tokoh-partai tertinggi di seluruh survei. Inti keras inilah yang membuat Demokrat menjadi satu-satunya partai yang stabil bahkan menguat.
Sumber: SMRC, Elektabilitas Partai menurut Pilihan Presiden (semi terbuka), 5 sampai 19 Juli 2026, chi-square 265,308, nilai p 0,000. Urutan tujuh partai teratas dan penyorotan partai dominan adalah penyajian redaksi Head Politika atas angka tersebut.

Perhatikan asimetri yang mencolok. Prabowo mewariskan basis yang terkunci rapat ke Gerindra, sementara Dedi Mulyadi, orang dari partai yang sama, mewariskan basis yang tercerai ke sepuluh arah. Dua kader satu partai, dua pola yang bertolak belakang. Bagi Gerindra, ini pisau bermata dua: Dedi mendatangkan popularitas raksasa, tapi popularitas itu tidak otomatis menjadi milik partai. Sementara di ujung lain, AHY memperlihatkan model sebaliknya, kecil tapi terkunci mati, dan justru dari kunci itulah Demokrat memetik kestabilan.

07Paradoks Oposisi

Pemerintah Tak Populer, tapi PDIP Ikut Turun

Ada satu keganjilan yang seharusnya menjadi berita besar, tapi luput dari sorotan. Ketika kepuasan publik pada pemerintah runtuh, dari 81,2 persen pada November 2025 menjadi 51,1 persen pada Juli 2026, hukum politik yang lazim berkata partai penantang akan panen. Nyatanya PDIP, satu-satunya partai besar di luar lingkar kekuasaan, justru ikut merosot ke 11,7 persen, di bawah hasil Pemilu 2024-nya sendiri.

Grafik 7 • Oposisi yang Tak Menuai

PDIP Hari Ini Lebih Rendah dari Hari Ia Menang Pemilu

Elektabilitas PDIP pada Pemilu 2024 dibanding survei Juli 2026, di tengah anjloknya kepuasan pada pemerintah.

Hasil Pemilu 202416,7
Survei Juli 202611,7
Kenapa oposisi tak panen? Sebagian karena PDIP sendiri memilih posisi yang tidak sepenuhnya beroposisi terbuka, sehingga tidak menjadi muara alami bagi kekecewaan publik. Akibatnya, suara yang lepas dari pemerintah tidak menemukan rumah penampung, lalu memilih diam di kolom “belum tahu”. Ini menutup lingkaran tesis kita: tanpa oposisi yang menampung, kekecewaan berubah menjadi golput, bukan perpindahan.
Sumber: Elektabilitas PDIP dari SMRC (hasil Pemilu 2024 KPU dan survei Juli 2026). Angka approval Prabowo dari rilis SMRC 26 Juli 2026. Pembacaan paradoks oposisi adalah pandangan redaksi Head Politika.

PDIP hanyalah satu contoh. Kalau kita bentangkan seluruh partai utama dan bandingkan hasil riil Pemilu 2024 dengan survei Juli 2026, muncul rapor yang jauh lebih kaya. Tetapi ada satu jebakan yang harus kita hindari lebih dulu, dan justru di sinilah letak analisis yang jujur.

Angka Pemilu 2024 adalah suara riil di bilik suara, tanpa golput. Sedangkan angka survei mentah masih memasukkan 25,9 persen yang belum memilih ke dalam penyebut. Membandingkan keduanya secara langsung membuat hampir semua partai seolah runtuh, padahal sebagian penurunan itu semu, hanya efek dari banyaknya yang belum menentukan pilihan. Perbandingan yang setara memakai angka tanpa golput. Tekan tombol di bawah untuk melihat betapa berbedanya kedua cerita itu.

Grafik 7b • Rapor Semua Partai, 2024 lawan 2026

Siapa Naik, Siapa Turun, dan Seberapa Besar

Batang abu-abu adalah hasil Pemilu 2024, batang berwarna adalah survei Juli 2026 (hijau bila naik, merah bila turun). Angka pada label kanan atas adalah selisihnya dalam poin.

Gerindra+3,7 poin
202413,2
202616,9
PDIP-5,0 poin
202416,7
202611,7
Golkar-5,7 poin
202415,3
20269,6
Demokrat+0,7 poin
20247,4
20268,1
PKB-5,2 poin
202410,6
20265,4
NasDem-5,3 poin
20249,7
20264,4
PKS-4,0 poin
20248,4
20264,4
PSI+1,3 poin
20242,8
20264,1
Perindo+0,9 poin
20241,3
20262,2
PAN-5,3 poin
20247,2
20261,9
PPP-2,6 poin
20243,9
20261,3
Sumber: Hasil Pemilu 2024 dari Komisi Pemilihan Umum. Angka survei Juli 2026 dari SMRC. Versi “setara” (tanpa golput) adalah hitung ulang redaksi Head Politika, membagi angka survei dengan basis 74,1 persen agar sebanding dengan suara riil 2024. Selisih dihitung dalam poin persen.

Perhatikan betapa dramatis perubahannya saat Anda menekan “Setara”. Dalam pembacaan mentah, seolah terjadi pembantaian: PDIP minus lima poin, Golkar minus hampir enam, PAN nyaris lenyap. Tetapi begitu golput dikeluarkan agar sebanding dengan suara riil 2024, gambarnya berbalik. Gerindra sebenarnya melonjak sekitar sepuluh poin, dari 13,2 menjadi 22,8 persen. PDIP nyaris rata, hanya turun kurang dari satu poin. Demokrat, PSI, dan Perindo justru naik. Yang benar-benar tergerus tinggal partai menengah lama seperti PAN, PKB, dan NasDem.

Inilah pelajaran metodologis yang membedakan pembacaan dangkal dari pembacaan matang. Judul yang menyebut “elektabilitas semua partai anjlok” memakai perbandingan yang tidak setara. Setelah disetarakan, ceritanya adalah konsolidasi di puncak, Gerindra menguat, sebagian besar pemain lama melemah, dan wajah baru mulai menyembul. Itu cerita yang jauh lebih menarik, dan jauh lebih benar.

08Konteks yang Belum Disambungkan Siapa Pun

Angka Ini Lahir di Atas Meja Perundingan

Ada satu hal yang membuat survei ini jauh lebih genting dari sekadar potret opini, dan hampir tidak ada yang menautkannya. Pada 2024, Mahkamah Konstitusi menghapus ambang batas parlemen empat persen untuk Pemilu 2029, lalu memerintahkan DPR menyusun angka baru yang lebih masuk akal. Kini, tepat ketika survei ini terbit, DPR sedang menggodok angka itu di dalam revisi Undang-Undang Pemilu, yang masuk Program Legislasi Nasional Prioritas 2026. Usulannya berkisar liar, dari nol persen sampai lima, enam, bahkan tujuh persen berjenjang hingga ke daerah.

Artinya, setiap desimal dalam survei ini punya nilai politik langsung. Ketika sebuah partai berdebat soal di mana garis batas harus ditarik, ia sedang berdebat tentang hidup dan matinya sendiri. Mari kita letakkan angka elektabilitas, versi tanpa golput, ke dalam tiga zona.

Grafik 8 • Tiga Zona Kelangsungan Hidup

Siapa Aman, Siapa Genting, Siapa Rawan

Elektabilitas tanpa golput (hitung ulang redaksi), dikelompokkan menurut jarak ke zona ambang batas yang sedang diperdebatkan (sekitar 4 sampai 7 persen).

Zona aman • jauh di atas ambang usulan
Gerindra22,8
PDIP15,8
Golkar13,0
Demokrat10,9
Zona genting • berdesakan di garis batas
PKB7,3
NasDem5,9
PKS5,9
PSI5,5
Zona rawan • di bawah kebanyakan usulan ambang
Perindo3,0
PAN2,6
Gerakan Rakyat0,7
Sumber: Elektabilitas mentah dari SMRC, 5 sampai 19 Juli 2026. Angka tanpa golput adalah hitung ulang redaksi Head Politika (dibagi basis 74,1 persen). Zona ambang usulan dari pemberitaan revisi UU Pemilu 2026. Perlu diingat, dalam margin of error 3,7 persen, posisi partai zona genting bisa bergeser cukup jauh.

Sekarang bagian yang paling menarik. Siapa mengusulkan apa, dan bagaimana usulan itu beradu dengan angkanya sendiri? Di sinilah kepentingan telanjang.

Peta Kepentingan • Usulan vs Angka Sendiri

Ketika Partai Menawar Aturan yang Menentukan Nasibnya Sendiri

Golkar13,0% • aman
Mengusulkan ambang 4 sampai 6 persen berjenjang lewat Ahmad Doli Kurnia. Dengan angka setinggi ini, Golkar aman di mana pun garis ditarik, sekaligus diuntungkan bila pesaing kecil tersingkir.
NasDem5,9% • genting
Justru mendorong ambang naik ke 5,5 sampai 7 persen, bahkan berjenjang sampai DPRD, lewat Rifqinizamy Karsayuda. Inilah ironi terbesar meja perundingan: dalam bayang margin of error, angka NasDem sendiri bisa jatuh di bawah garis yang ia perjuangkan.
PKS5,9% • genting
Cenderung mempertahankan ambang, berkaca pada pengalaman. Posisinya di zona genting membuat tiap poin sangat berharga, dan tiap kenaikan ambang adalah taruhan.
PSI5,5% • genting
Belum bersuara setegas yang lain, padahal justru paling ditentukan oleh angka final ambang. Nasibnya bergantung pada tawar-menawar yang ia belum ikut warnai.
PDIP15,8% • aman
Aman secara angka, dan cenderung mempertahankan ambang demi menyederhanakan jumlah pesaing di parlemen. Kepentingan struktural mengalahkan solidaritas partai kecil.
Inilah sudut yang belum disambungkan. Aturan yang akan menentukan siapa lolos ke Senayan 2029 sedang ditawar oleh partai-partai yang kelangsungan hidupnya justru ditentukan aturan itu, dengan memakai angka seperti yang ada di survei ini sebagai amunisi. Survei elektabilitas bukan lagi sekadar cermin opini, ia telah menjadi kartu di meja judi legislasi.
Sumber: Angka elektabilitas dari SMRC (hitung ulang tanpa golput oleh redaksi). Sikap dan usulan tiap partai dari pemberitaan pembahasan revisi UU Pemilu, April sampai Juli 2026 (Kompas, Detik, dan lainnya). Penilaian zona dan pembacaan kepentingan adalah pandangan redaksi Head Politika.

Satu catatan teknis yang sering terlewat, dan penting agar kita tidak salah membaca. Suara tidak sama dengan kursi. Indonesia memakai metode Sainte-Lague, yang cenderung memberi bonus kursi pada partai besar dan menghukum partai kecil. Sebagai gambaran, pada Pemilu 2024 PDIP meraih sekitar 16,7 persen suara tetapi memperoleh 110 dari 580 kursi DPR, hampir 19 persen. Maka angka 16,9 persen Gerindra hari ini, bila bertahan, bisa berbuah porsi kursi yang lebih besar dari itu. Membaca survei sebagai ramalan kursi secara harfiah adalah jebakan yang harus dihindari.

09Bagaimana Angka Ini Dibingkai

Empat Cara Membaca Satu Survei yang Sama

Angka yang sama bisa menghasilkan cerita yang sangat berbeda, tergantung siapa yang membacanya dan dengan kepentingan apa. Ketuk tiap sudut untuk melihat bagaimana survei ini dibingkai, dan di mana posisi kami.

Grafik 9 • Empat Sudut Framing

Media, Gerindra, Pakar, dan Head Politika

Elektabilitas Gerindra anjlok tajam, peluang jadi partai nomor satu terancam.

Nada umum pemberitaan, Juli 2026
Sudut Head Politika: Akurat, tapi berhenti di permukaan. Kata “anjlok” benar untuk selisih dari puncak, namun luput bahwa 16,9 persen masih di atas hasil Pemilu 2024, dan luput menanyakan ke mana suara itu pergi.

Namanya survei itu naik turun, wajar dan lumrah.

Sufmi Dasco Ahmad, Ketua Harian Gerindra
Sudut Head Politika: Benar bahwa survei berfluktuasi, tapi bingkai ini terlalu menenangkan diri. Ia mengabaikan pola cermin yang jelas, bahwa suara yang lepas parkir di golput dan bisa hilang bila kekecewaan mengeras.

Program pusat seperti MBG dan Kopdes mulai dipertanyakan publik, memengaruhi elektabilitas.

Nada umum pengamat politik
Sudut Head Politika: Masuk akal, tapi hati-hati. Grafik “paralel” hanya menunjukkan korelasi, bukan sebab akibat, dan tabulasi silang yang mendasarinya sebagian bertumpu pada sel yang terlalu tipis untuk disandari.
Tiga hal yang kami tekankan. Pertama, ini reversi bulan madu, bukan keruntuhan; fondasi Gerindra utuh. Kedua, suara yang lepas parkir di golput, bukan pindah ke oposisi, jadi masih bisa direbut kembali. Ketiga, angka ini adalah amunisi hidup dalam pertarungan ambang batas 2029 yang sedang berlangsung di DPR.
Sumber: Kutipan diringkas dari pemberitaan Juli 2026 (Suara, Databoks, Tribun, dan lainnya) serta pernyataan resmi tokoh. Kolom “Sudut Head Politika” adalah pandangan redaksi.
10Penutup

Membaca Angka dengan Kepala Dingin

Survei ini, bila dibaca sepintas, adalah kisah kejatuhan sebuah partai penguasa. Bila dibaca pelan, ia bercerita tentang sesuatu yang lebih halus dan lebih penting. Gerindra tidak runtuh, ia mengembalikan bonus yang memang pinjaman. Suara yang lepas tidak membelot, ia hanya berhenti sejenak di ruang tunggu bernama keraguan. Oposisi tidak menuai, sebab ia tidak hadir sebagai penampung. Dan seluruh angka ini kebetulan jatuh tepat di atas meja tempat aturan main 2029 sedang ditawar.

Bagi seorang analis, pelajarannya bukan “siapa menang, siapa kalah”, melainkan bagaimana cara membaca. Renormalisasi mengubah peta. Margin of error mengubah kepastian menjadi rentang. Ukuran sel menentukan mana temuan yang kokoh dan mana yang sekadar cantik. Dan konteks legislasi mengubah angka dari cermin menjadi senjata. Empat lensa itulah yang memisahkan pembacaan mendalam dari sekadar mengutip judul.

Angka bukan ramalan, melainkan undangan untuk berpikir lebih jernih. Yang menang pada 2029 bukan yang paling ramai dibicarakan hari ini, melainkan yang paling paham ke mana suara yang sedang parkir itu akan pulang.

Jajak Pendapat Pembaca

Menurut Anda, ke Mana Arah Gerindra Menjelang 2029?

Pilih satu. Hasil hanya potret sementara pembaca Head Politika, bukan survei ilmiah, dan tidak disimpan di mana pun.

Potret sementara pembaca

Angka ini ilustrasi partisipasi, bukan data survei. Pilihan Anda tidak dikirim atau disimpan, hanya ditampilkan di layar Anda.

Bagikan pembacaan ini. Bila Anda sudah memilih di jajak pendapat, prediksi Anda ikut tercantum dalam pesan yang dibagikan.

Bagikan
11Pertanyaan yang Sering Muncul

Ringkasan Cepat untuk Anda yang Ingin Langsung ke Intinya

Gerindra memimpin dengan 16,9 persen, diikuti PDIP 11,7 persen dan Golkar 9,6 persen. Yang jarang disorot, pemilih yang belum menentukan pilihan justru terbesar, 25,9 persen. Survei dilakukan 5 sampai 19 Juli 2026 terhadap 749 responden dengan margin of error sekitar 3,7 persen.
Karena angka 16,9 persen itu masih di atas hasil riil Pemilu 2024 (13,2 persen). Yang runtuh adalah puncak sementara 29,3 persen pada Februari sampai Maret 2026, sebuah bonus bulan madu yang memang cenderung menguap. Fondasi elektoral Gerindra sendiri masih utuh.
Bukan ke oposisi, melainkan ke kolom “belum tahu”. Saat Gerindra kehilangan 12,4 poin, proporsi yang belum memilih justru naik 10,2 poin. Ini demobilisasi, bukan perpindahan. Suara yang cuma parkir jauh lebih mudah direbut kembali daripada suara yang sudah pindah ke lawan.
PGR adalah Partai Gerakan Rakyat, partai baru yang lahir dari relawan Anies Baswedan, dideklarasikan Januari 2026 dan mendaftar resmi ke Kementerian Hukum pada 23 Juli 2026. Ia berbeda dari Partai Garuda. Karena baru lahir dan belum berbasis, suara Anies dalam survei ini justru banyak jatuh ke PKS.
Karena perbedaan waktu, metode, dan sampel. SMRC memotret paling akhir, sesudah kepuasan pada pemerintah jatuh paling dalam, memakai format semi terbuka dengan mayoritas sampel telepon dan ukuran sampel kecil. Angka undecided-nya juga jauh lebih tinggi, sehingga menekan semua angka partai. Poltracking dan NRI pada Maret sampai April 2026 masih mencatat Gerindra di atas 26 persen.
Mahkamah Konstitusi telah menghapus ambang batas parlemen empat persen untuk 2029, dan DPR kini menyusun angka baru dalam revisi UU Pemilu. Partai zona genting seperti NasDem, PKS, dan PSI berada di angka yang menentukan hidup-mati mereka, sehingga survei ini menjadi amunisi dalam tawar-menawar ambang batas yang sedang berlangsung.

Catatan Metodologi dan Transparansi

Survei SMRC yang menjadi tulang punggung artikel ini dilakukan 5 sampai 19 Juli 2026 terhadap 749 responden, gabungan 605 wawancara telepon dengan metode double sampling dan 144 wawancara tatap muka dengan stratified multistage random sampling, margin of error sekitar 3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, dibobot terhadap Daftar Pemilih Tetap KPU 2024 dan Susenas BPS 2024.

Seluruh angka elektabilitas, tren, dan tabulasi silang bersumber pada rilis resmi SMRC. Adapun hitung ulang tanpa golput, pita margin of error, konversi ukuran sel tabulasi silang, penempatan zona ambang batas, serta seluruh tafsir dan pandangan adalah analisis redaksi Head Politika yang disandarkan pada data tersebut, bukan bagian dari temuan survei. Sepanjang artikel, penanda sumber di tiap grafik memisahkan mana temuan SMRC dan mana hitung ulang atau pandangan kami. Perbandingan lintas lembaga tidak sepenuhnya setara karena beda waktu, metode, dan ukuran sampel. Artikel ini akan kami tinjau ulang setiap ada rilis survei nasional baru.

Sumber yang Dapat Ditelusuri

  1. SMRC, Elektabilitas Partai, Temuan Survei Nasional 5 sampai 19 Juli 2026, rilis resmi di saifulmujani.com dan kanal YouTube SMRC TV.
  2. Ringkasan angka partai versi SMRC melalui Databoks Katadata dan Suara.com.
  3. Approval Prabowo 51,1 persen, SMRC via Databoks. Analisis pendamping Head Politika, Kenapa Kepuasan Publik ke Prabowo Anjlok 30 Poin dan Dedi Mulyadi 35 Persen.
  4. Survei pembanding: Poltracking (Gerindra 26,1 persen) via Detik, dan NRI (Gerindra 27,25 persen) via Antara.
  5. Indikator Politik membantah merilis survei Juli 2026 (klarifikasi dokumen palsu) via Tempo.
  6. Putusan MK Nomor 116/PUU-XXI/2023 soal penghapusan ambang batas parlemen empat persen untuk 2029 via Detik.
  7. Pembahasan revisi UU Pemilu dan usulan ambang batas: Golkar (Doli Kurnia) dan NasDem (Rifqinizamy).
  8. Metode Sainte-Lague dan hasil kursi Pileg 2024 via Bawaslu dan Republika.
  9. Profil Partai Gerakan Rakyat (PGR) via Wikipedia, serta alasan PDIP tak menjadi oposisi via Kompas.

Ditulis oleh Tim Riset Head Politika • 3 Agustus 2026