Riset
Menang di Angka 50,07 Persen: Bagaimana Pramono Anung Membalik Keunggulan Ridwan Kamil

Menang di Angka 50,07 Persen: Bagaimana Pramono Anung Membalik Keunggulan Ridwan Kamil
Pada awal siklus pencalonan, hampir semua survei menempatkan Ridwan Kamil jauh di depan. 10 pekan kemudian ia kalah, dan lawannya menang satu putaran hanya dengan jarak 0,07 poin di atas ambang. Laporan ini menelusuri kapan persisnya keunggulan itu berpindah, apa yang menggerakkannya, dan apa yang sebenarnya diukur oleh survei survei awal.
Pada pertengahan September 2024, hasil survei Lembaga Survei Indonesia menempatkan pasangan Ridwan Kamil dan Suswono pada 51,8 persen, sementara Pramono Anung dan Rano Karno baru 28,4 persen. Selisih 23,4 poin itu tampak seperti jarak yang tidak masuk akal untuk dikejar dalam waktu 10 pekan. Namun pada 27 November 2024, hitungan resmi menunjukkan hasil yang nyaris berkebalikan. Pertanyaannya bukan sekadar siapa yang menang, melainkan apa yang sebenarnya sedang diukur oleh angka angka awal itu.
Jawaban paling jujur atas pertanyaan tersebut agak tidak nyaman bagi semua pihak. Keunggulan awal Ridwan Kamil sebagian besar adalah keunggulan pengenalan nama, diukur pada saat pesaing terkuatnya belum resmi tersingkir dan pesaing sebenarnya belum dikenal publik Jakarta sebagai calon gubernur. Fenomena semacam ini bukan hal baru dalam politik elektoral Indonesia. Kami pernah membedah pola serupa ketika seorang figur daerah membalik posisi tokoh yang jauh lebih mapan dalam survei nasional, dan mekanismenya mirip, yaitu angka awal mengukur keterkenalan, angka akhir mengukur pilihan.
Laporan ini menyusun ulang perjalanan Pilkada Gubernur Jakarta 2024 dari waktu ke waktu, memakai rilis resmi lembaga survei, putusan Mahkamah Konstitusi, keputusan Persepi, dan rekapitulasi resmi Komisi Pemilihan Umum. Kami memisahkan secara tegas mana yang fakta terverifikasi, mana kutipan, mana data, dan mana yang masih berupa dugaan. Beberapa hal yang sering dianggap sudah pasti, misalnya bahwa satu blunder kampanye membalikkan segalanya, ternyata tidak sepenuhnya didukung deret waktu survei.
Laporan ini membedah angkanya. Untuk pembaca yang ingin tahu keputusan apa saja yang diambil ketiga tim di balik angka itu, kami membedahnya secara terpisah pada laporan kedua mengenai strategi pemenangan Pilkada Jakarta 2024.
- 1Kemenangan itu setipis 0,07 poin dari ambang. Pramono Rano meraih 2.183.239 suara atau 50,07 persen. Jakarta adalah satu satunya provinsi yang mensyaratkan lebih dari 50 persen untuk menang satu putaran, sehingga selisih sekitar 3.000 suara memisahkan hasil ini dari putaran kedua.
- 2Perpindahan dukungan berlangsung bertahap, bukan melompat. Versi LSI, Pramono Rano bergerak dari 28,4 persen pada survei 6 sampai 12 September menjadi 41,6 persen pada survei 10 sampai 17 Oktober. Rilis 23 Oktober 2024 adalah publikasi pertama yang menunjukkan penyalipan.
- 3Koalisi terbesar tidak otomatis menjadi mesin terbesar. Pengusung Ridwan Kamil menguasai 91 dari 106 kursi DPRD Jakarta, sementara PDI Perjuangan hanya memegang 15 kursi. Hasil akhirnya justru berkebalikan dengan bobot kursi itu.
- 4Dukungan Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama terbukti terukur, bukan sekadar klaim. Exit poll SMRC yang dirilis 1 Desember 2024 menemukan selisih 13 poin pada pendukung Basuki yang mengetahui dukungan Anies, dan 8 poin pada pendukung Anies yang mengetahui dukungan Basuki.
- 5Restu tokoh pusat tidak memberi efek positif. Pada exit poll yang sama, elektabilitas Ridwan Kamil di kelompok yang mengetahui dukungan Prabowo Subianto justru 38 persen, sedikit di bawah 39 persen pada kelompok yang tidak mengetahuinya.
- 6Partisipasi anjlok ke 57,52 persen. Sebanyak 4.724.393 dari 8.214.007 pemilih terdaftar menggunakan hak pilihnya, sehingga 3.489.614 tidak memilih. Pemenang 2024 meraih sekitar 1,06 juta suara lebih sedikit daripada pemenang 2017. Angka 53,05 persen yang beredar luas di pemberitaan adalah perbandingan suara sah terhadap daftar pemilih tetap, bukan tingkat partisipasi.
- 7Perbedaan hasil antarlembaga survei berujung sanksi etik. Dua rilis pada 23 dan 24 Oktober 2024 berselisih sekitar 14 poin untuk pasangan yang sama, dan Dewan Etik Persepi menjatuhkan sanksi pada 4 November 2024. Hasil resmi KPU kemudian membuktikan salah satu angka jauh lebih dekat pada kenyataan.
Seluruh angka pada ringkasan ini dirinci beserta sumber, tanggal survei, ukuran sampel, dan margin kesalahan pada bagian bagian berikutnya. Bagian yang tidak kami temukan datanya ditandai terbuka pada catatan metodologi di akhir laporan.
0,07 poin yang memisahkan satu putaran dari dua putaran
Ada satu aturan yang membuat Pilkada Jakarta berbeda dari 37 provinsi lainnya, dan tanpa memahaminya seluruh cerita kemenangan ini akan terbaca keliru. Pasal 10 ayat 2 Undang Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta, yang meneruskan ketentuan Pasal 11 Undang Undang Nomor 29 Tahun 2007, mensyaratkan pasangan calon meraih lebih dari 50 persen suara sah untuk menang dalam satu putaran. Di provinsi lain, suara terbanyak sudah cukup, berapa pun persentasenya.
Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jakarta menetapkan hasil rekapitulasi pada 8 Desember 2024. Pramono Anung dan Rano Karno memperoleh 2.183.239 suara atau 50,07 persen. Artinya jarak mereka dari ambang hanya 0,07 poin persentase, setara sekitar 3.000 suara dari 4.360.629 suara sah. Bila 3.000 pemilih itu memilih berbeda, Jakarta akan menggelar putaran kedua pada 2025.
Sumber angka. Rekapitulasi resmi KPU Provinsi Jakarta, ditetapkan 8 Desember 2024, sebagaimana dilaporkan Kompas.id, Detik, CNN Indonesia, dan CNBC Indonesia. Suara sah 4.360.629, suara tidak sah 363.764, total pengguna hak pilih 4.724.393, daftar pemilih tetap 8.214.007. Penetapan digelar di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta Pusat, dipimpin Ketua KPU Jakarta Wahyu Dinata.
Yang diukur survei awal bukan pilihan, melainkan siapa yang paling dikenal
Bila kita berhenti pada kalimat bahwa Ridwan Kamil unggul di awal, kita melewatkan hal yang jauh lebih penting. Sepanjang paruh pertama 2024, Ridwan Kamil sebenarnya bukan pemuncak survei Jakarta. Ia berada di urutan ketiga, di bawah 2 nama yang sudah lebih dulu memerintah kota ini. Keunggulan besar Ridwan Kamil baru muncul setelah 2 nama itu dipastikan tidak ikut bertanding, dan itu terjadi hanya beberapa pekan sebelum pemungutan suara.
Ketuk setiap tanggal di bawah untuk melihat bagaimana peta nama bergerak. Perhatikan bahwa 2 kolom pertama mengukur tokoh yang belum tentu maju, sedangkan kolom terakhir baru mengukur pasangan calon yang resmi bertanding.
Cara membaca. Panjang batang dihitung relatif terhadap angka tertinggi pada masing masing potret, bukan terhadap 100 persen, agar perbedaan antarnama terlihat jelas. Angka persentase di sebelah kanan adalah angka asli rilis. Sumber berturut turut: Proximity Indonesia, Litbang Kompas, Indikator Politik Indonesia, dan Lembaga Survei Indonesia.
Pandangan redaksi Lonjakan Ridwan Kamil dari 15,4 persen pada Juli menjadi 51,8 persen pada September bukanlah bukti bahwa dukungan padanya menguat sebesar itu dalam 2 bulan. Yang lebih masuk akal adalah suara dari 2 nama yang tersingkir sementara menumpuk pada satu satunya nama yang sudah dikenal luas, sementara Pramono Anung praktis baru diperkenalkan kepada pemilih Jakarta pada akhir Agustus. Blok pemilih yang belum mantap seperti inilah yang kerap menentukan hasil akhir, sebagaimana pernah kami tunjukkan ketika membedah ke mana perginya suara yang lepas dari sebuah partai besar.
6 Hari pada Agustus 2024 yang mengubah siapa saja yang boleh bertanding
Peta pencalonan Jakarta tidak berubah karena kampanye, melainkan karena hukum. Dalam rentang kurang dari sepekan pada Agustus 2024, sebuah koalisi raksasa dideklarasikan, Mahkamah Konstitusi membongkar ambang batas pencalonan, DPR mencoba menganulirnya, dan gelombang protes menghentikan upaya itu. Tanpa 6 hari tersebut, Pramono Anung dan Rano Karno kemungkinan besar tidak pernah menjadi pasangan calon. Konteks ketegangan antara putusan pengadilan dan pembentuk undang undang ini kami bahas lebih luas pada tulisan mengenai tantangan reformasi hukum dan politik.
Ketuk setiap tanggal untuk membuka rinciannya.
0119 Agustus 2024Koalisi besar dideklarasikan di Hotel Sultan
Koalisi pendukung Ridwan Kamil dideklarasikan dengan kekuatan gabungan 91 dari 106 kursi DPRD Jakarta, atau sekitar 85,8 persen. Komposisinya mencakup PKS 18 kursi, Gerindra 14, NasDem 10, Golkar 10, PKB 10, PAN 10, Demokrat 9, PSI 8, PPP 1, dan Perindo 1, ditambah sejumlah partai tanpa kursi.
Pada titik ini PDI Perjuangan dengan 15 kursi tidak memenuhi ambang batas lama sebesar 20 persen kursi DPRD, sehingga secara hukum belum bisa mengusung calon sendiri.
0220 Agustus 2024Mahkamah Konstitusi membongkar ambang batas pencalonan
Putusan Nomor 60/PUU-XXII/2024 atas permohonan Partai Buruh dan Partai Gelora menghapus syarat 20 persen kursi DPRD dan menggantinya dengan ambang suara sah antara 6,5 sampai 10 persen bergantung jumlah penduduk. Putusan Nomor 70/PUU-XXII/2024 menegaskan syarat usia calon dihitung pada saat penetapan pasangan calon, bukan saat pelantikan.
Dampaknya langsung. PDI Perjuangan yang sebelumnya terkunci mendadak memiliki jalan hukum untuk mengusung pasangan calon tanpa berkoalisi.
0321 Agustus 2024Badan Legislasi DPR menyetujui rancangan yang berbeda dari putusan
Hanya sehari setelah putusan, Badan Legislasi DPR menggelar rapat dan menyetujui rancangan revisi Undang Undang Pilkada yang isinya bertentangan dengan putusan Mahkamah Konstitusi. 8 dari 9 fraksi menyatakan setuju, dan hanya PDI Perjuangan yang menolak.
0422 Agustus 2024Peringatan Darurat dan rapat paripurna yang batal
Gelombang unjuk rasa meletus di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan sejumlah kota lain di bawah tanda pagar Kawal Putusan MK. Rapat paripurna yang dijadwalkan mengesahkan revisi batal digelar karena tidak memenuhi kuorum, dengan hanya 89 anggota hadir.
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco kemudian memastikan bahwa putusan Mahkamah Konstitusi yang berlaku untuk proses pendaftaran calon.
0527 sampai 29 Agustus 2024Pendaftaran dibuka, dan sebuah nama muncul pada menit menit akhir
Anies Baswedan mendatangi kantor DPP PDI Perjuangan pada 26 Agustus, tetapi namanya tidak diumumkan. Bendahara Umum Olly Dondokambey mengonfirmasi keputusan partai pada 27 Agustus, dan Pramono Anung bersama Rano Karno mendaftar ke KPU pada 28 Agustus 2024, sekitar satu hari sebelum pendaftaran ditutup.
Pramono menulis di akun Instagramnya pada hari yang sama, “Saya tidak menduga, tidak meminta, dan tidak pernah berharap, tetapi ketika sudah menjadi keputusan, akan berusaha dengan sungguh sungguh.”
Dari tanggal pendaftaran itu, ia hanya punya 91 hari sampai hari pemungutan suara pada 27 November 2024.
0624 September 2024Laporan dana awal kampanye menunjukkan ketimpangan modal
Ketiga pasangan menyerahkan Laporan Awal Dana Kampanye. Pasangan Ridwan Kamil dan Suswono melaporkan Rp1 miliar, Pramono Anung dan Rano Karno Rp100 juta, sedangkan Dharma Pongrekun dan Kun Wardana Rp5 juta.
Angka akhir kelak menceritakan hal berbeda, dan kami bedah pada bagian mengenai strategi kampanye.
Catatan keterbukaan. Tanggal penetapan pasangan calon dan pengundian nomor urut tidak kami cantumkan karena belum terverifikasi dari sumber primer KPU dalam riset ini. Kekurangan data ini kami catat terbuka pada bagian metodologi. Sumber rangkaian peristiwa di atas: Mahkamah Konstitusi, Liputan6, CNBC Indonesia, Tempo, Kontan, Antara, Jawa Pos, dan Detik.
91 Kursi di Belakang, 39 Persen di Depan
Di atas kertas, pertandingan ini tidak seimbang. Ridwan Kamil disokong koalisi yang menguasai 91 dari 106 kursi DPRD Jakarta. Pramono Anung hanya membawa PDI Perjuangan dengan 15 kursi. Bila kekuatan kursi berbanding lurus dengan kekuatan mesin pemenangan, hasilnya seharusnya sudah selesai sebelum kampanye dimulai. Kenyataannya berkebalikan, dan justru di situ pelajaran terpentingnya.
Kami pernah menunjukkan hal serupa dari sisi yang lain, yaitu ketika partai tanpa kursi di DPR ternyata masih menggenggam ribuan kursi di daerah. Kursi dan suara adalah dua mata uang yang berbeda, dan nilai tukarnya tidak tetap.
Peringatan cara baca. Persentase kursi dan persentase suara pemilih bukan besaran yang sepadan, karena kursi DPRD terbentuk dari Pemilu Legislatif Februari 2024 dengan pemilih dan alokasi daerah pemilihan yang berbeda. Perbandingan ini dipakai sebagai indikator kasar seberapa jauh dukungan partai gagal atau berhasil dikonversi, bukan sebagai perhitungan matematis suara. Sumber komposisi kursi: Harian Umum dan KOMPAS TV. Sumber hasil suara: KPU Provinsi Jakarta.
Fakta Exit poll Litbang Kompas menemukan sekitar 60 persen pemilih PDI Perjuangan memilih Pramono dan Rano, sementara mayoritas pemilih Gerindra dan Golkar memilih Ridwan Kamil dan Suswono. Artinya loyalitas partai memang bekerja pada sebagian pemilih, tetapi tidak pada seluruh gabungan koalisi.
Peneliti politik Badan Riset dan Inovasi Nasional Firman Noor menilai sejumlah partai anggota koalisi memilih tidak menjalankan mesin mereka sepenuhnya, dan menyebut kemenangan koalisi serupa di daerah lain sebagai kemenangan logistik, bukan kemenangan gagasan.
Firman Noor, peneliti politik BRIN, dikutip TempoKlaim pihak terkait Dari sisi pengusung, politikus PKS Mardani Ali Sera menyatakan kader partainya bekerja keras dan hasil akhir yang mendekati 40 persen masih di atas basis suara PKS sendiri di Jakarta. Klaim ini perlu dicatat agar penilaian tidak berat sebelah, meski tidak menjelaskan mengapa gabungan 10 partai berkursi hanya menghasilkan angka tersebut.
Kapan persisnya keunggulan itu berpindah tangan
Banyak yang mengingat pilkada ini sebagai kisah satu blunder yang membalikkan segalanya. Deret waktu survei tidak mendukung ingatan itu. Perpindahan dukungan sudah terlihat bergerak sejak awal Oktober, sebelum kontroversi paling ramai terjadi. Yang dilakukan peristiwa peristiwa akhir Oktober adalah mempercepat dan mengunci tren, bukan memulainya.
Berikut seluruh rilis survei yang kami temukan sejak pasangan calon resmi terbentuk sampai hasil resmi. Setiap baris menyebut periode survei, ukuran sampel, dan margin kesalahan, karena angka tanpa keterangan itu tidak bisa dinilai.
Yang perlu diingat. Baris baris di atas berasal dari lembaga berbeda dengan metode, sampel, dan bentuk pertanyaan yang tidak sama, sehingga garis penghubung antarbaris akan menyesatkan bila ditarik seolah satu kurva tunggal. Yang sah dibaca adalah arah umumnya. Selisih persentase yang tidak sampai seratus adalah pemilih yang belum menentukan pilihan atau menolak menjawab.
Pandangan redaksi 2 hal menonjol dari tabel di atas. Pertama, sejak akhir Oktober tidak ada lagi satu pun lembaga selain Poltracking yang menempatkan Ridwan Kamil di atas, dan angkanya bertahan pada kisaran 34 sampai 40 persen. Kisaran itu nyaris sama dengan hasil akhir 39,40 persen. Kedua, angka Pramono terus naik tanpa pernah melampaui 50 persen di survei mana pun, lalu justru menembusnya tepat di hari pemungutan suara. Ini sinyal bahwa pemilih yang belum menentukan pilihan bergerak ke satu arah pada pekan terakhir.
2 Rilis Berselang Sehari, Selisih 14 Poin, dan 1 Sanksi Etik
Pada 23 dan 24 Oktober 2024, 2 lembaga survei yang sama sama bereputasi merilis hasil untuk periode yang nyaris identik, dengan kesimpulan yang saling menghancurkan. Keduanya tidak mungkin benar. Peristiwa ini penting bukan karena gosipnya, melainkan karena ia menyingkap satu hal yang selama ini jarang dilihat publik, yaitu bahwa lembaga survei adalah pihak yang bisa diaudit, dan bahwa audit itu pernah benar benar dijalankan.
Perlu ditegaskan agar tidak keliru, lembaga survei berbeda dari konsultan politik dan berbeda pula dari tim sukses, meski ketiganya sering disebut bergantian dalam percakapan sehari hari. Kami sudah memisahkan ketiga peran itu pada panduan tentang apa itu konsultan politik dan cara memilihnya.
Ketuk untuk membandingkan kedua rilis.
Lembaga Survei Indonesia
- Sampel dan margin kesalahan
- 1.200 responden, margin 2,9 persen
- Ridwan Kamil dan Suswono
- 37,4 persen
- Pramono Anung dan Rano Karno
- 41,6 persen
- Kesimpulan lembaga
- Djayadi Hanan menyatakan keduanya masih sama kuat, karena selisihnya belum signifikan secara statistik
Hasil resmi KPU
- Ridwan Kamil dan Suswono
- 39,40 persen
- Selisih dari angka lembaga
- 2,0 poin, berada di dalam rentang margin kesalahan
- Status akurasi
- Angka lembaga terbukti dekat dengan kenyataan
Poltracking Indonesia
- Sampel dan margin kesalahan
- 2.000 responden, margin 2,2 persen, wawancara tatap muka
- Ridwan Kamil dan Suswono
- 51,6 persen
- Pramono Anung dan Rano Karno
- 36,4 persen
- Kesimpulan lembaga
- Hanta Yuda menyebut adanya potensi kemenangan satu putaran bagi Ridwan Kamil dan Suswono
Hasil resmi KPU
- Ridwan Kamil dan Suswono
- 39,40 persen
- Selisih dari angka lembaga
- 12,2 poin, jauh melampaui margin kesalahan 2,2 persen
- Status akurasi
- Angka lembaga terbukti jauh dari kenyataan
Catatan penting. Sanksi Persepi dijatuhkan atas persoalan verifikasi data, bukan atas kesimpulan politiknya. Selisih akurasi di atas kami hitung sendiri dengan mengurangkan angka rilis dari hasil resmi KPU, dan perhitungan itu bisa diperiksa ulang siapa pun.
Kronologi pemeriksaannya berjalan cepat. Ketuk untuk membuka.
0128 dan 29 Oktober 2024Kedua lembaga dipanggil Dewan Etik
Lembaga Survei Indonesia diperiksa pada 28 Oktober, Poltracking Indonesia pada 29 Oktober. Dewan Etik Persepi terdiri atas Asep Saefuddin, Hamdi Muluk, dan Saiful Mujani, sementara Persepi dipimpin Philips Vermonte.
Yang diperiksa bukan kesimpulan politiknya, melainkan apakah data mentah survei dapat ditunjukkan dan diverifikasi.
0231 Oktober sampai 3 November 2024Data mentah 2.000 sampel tidak dapat ditunjukkan pada pemeriksaan pertama
Setelah keterangan tertulis diserahkan pada 31 Oktober, pemeriksaan lanjutan digelar 2 November secara virtual. Poltracking tidak dapat menunjukkan data mentah seluruh 2.000 sampel dengan alasan data telah dihapus dari server. Data itu berhasil dipulihkan dan diserahkan pada 3 November 2024.
Inilah temuan yang menjadi inti perkara. Dewan Etik mencatat jumlah sampel valid yang ditunjukkan saat pemeriksaan adalah 1.652 data, sedangkan yang dirilis ke publik 2.000 data. Ketika data pertama dan data kedua dibandingkan, Dewan Etik menemukan banyak perbedaan, sehingga kesahihan datanya tidak dapat dipastikan.
034 November 2024Putusan Dewan Etik dan alasannya
Poltracking dilarang mempublikasikan hasil survei tanpa persetujuan Dewan Etik, kecuali memilih keluar dari keanggotaan Persepi. Lembaga Survei Indonesia tidak dikenai sanksi.
Keputusan itu ditandatangani Ketua Dewan Etik Asep Saefuddin bersama 2 anggotanya, Hamdi Muluk dan Saiful Mujani. Ketua Persepi Philips Vermonte kemudian menjelaskan batas kewenangan lembaganya pada 9 November 2024, “Dewan etik tidak pernah bilang ini data salah. Kita bilang kita tidak bisa memverifikasi datanya.”
04Setelah putusanBantahan Poltracking dan pertanyaan yang belum terjawab
Poltracking memilih keluar dari keanggotaan Persepi pada 5 November 2024. Direktur Poltracking Masduri Amrawi menilai prosesnya tidak adil dan mengajukan 3 keberatan. Pertama, ia menyatakan data 2.000 sampel sudah diserahkan sejak awal, dan permintaan data mentah dari dasbor tidak pernah disampaikan secara spesifik. Kedua, ia mengungkapkan bahwa dalam pertemuan itu terungkap LSI mengganti sekitar 60 unit sampel primer atau sekitar 50 persen dari total unit sampel primer surveinya, yang menurutnya juga berkonsekuensi pada kualitas data. Ketiga, survei Poltracking sepenuhnya memakai aplikasi digital, berbeda dengan kuesioner kertas.
Pandangan redaksi Keberatan ini layak dicatat karena menyangkut keadilan prosedural, dan pembaca berhak menilai sendiri. Meski begitu, satu hal tetap berdiri di luar perdebatan prosedur, yaitu hasil resmi KPU pada akhirnya berada 2,0 poin dari angka LSI dan 12,2 poin dari angka Poltracking.
Klaim yang belum terverifikasi Rilis Poltracking Oktober juga melaporkan bahwa 71,4 persen pemilih yang puas pada kinerja Anies Baswedan condong memilih Ridwan Kamil dan Suswono sebanyak 51,1 persen. Angka itu berlawanan arah dengan seluruh temuan exit poll yang muncul setelah pemungutan suara, dan menjadi salah satu anomali yang dipersoalkan. Kami menampilkannya di sini bukan sebagai fakta, melainkan sebagai catatan bahwa klaim tersebut pernah dipublikasikan dan tidak terbukti.
5 persoalan yang membayangi kampanye, dan bagaimana masing masing berakhir
Bagian ini kami susun dengan aturan ketat. Setiap kontroversi disertai tanggal, kutipan verbatim bila ada, tanggapan pihak terkait, dan status akhirnya. Kami tidak menyimpulkan bahwa satu peristiwa menentukan hasil, karena deret waktu survei pada Bagian 05 sudah menunjukkan tren sudah bergerak lebih dulu. Yang bisa dikatakan adalah peristiwa peristiwa ini terjadi tepat pada 2 pekan paling kritis.
Pada 26 Oktober 2024, di acara relawan Bang Japar di Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta Selatan, calon wakil gubernur nomor urut 1 Suswono merespons usulan kartu janda. Ia menyebut janda miskin bisa mendapat kartu, lalu melanjutkan dengan analogi yang kemudian menjadi polemik nasional.
Pada 28 Oktober 2024 ia menyampaikan permintaan maaf sekaligus mencabut pernyataan itu, dengan kalimat, “Saya menyadari bahwa pernyataan saya telah menimbulkan polemik, atas hal itu saya meminta maaf, sekaligus mencabut pernyataan tersebut.”
Tanggapan datang dari banyak arah. Komnas Perempuan menilai pernyataan itu seksis. PP Muhammadiyah membantah premisnya dengan menegaskan bahwa Nabi Muhammad bukan seorang pengangguran, melainkan menggembala ternak. GP Ansor Jakarta melalui Sulthon mengecam keras. Ormas Betawi Bangkit yang diwakili David Darmawan melaporkannya ke Polda Metro Jaya pada 29 Oktober 2024, sementara Bamus Betawi menilai pelaporan itu berlebihan.
Bawaslu Jakarta menerima 253 laporan warga yang nomor induk kependudukannya dicatut sebagai pendukung pasangan calon perseorangan, tercatat sampai 19 Agustus 2024. Di antara yang dicatut terdapat nomor induk kependudukan 2 putra Anies Baswedan.
Polda Metro Jaya menghentikan penyelidikan pidana atas laporan seorang warga Gambir bernama Samson dan mengarahkan perkara itu ke Bawaslu dengan dasar Pasal 185A Undang Undang Nomor 10 Tahun 2016. KPU Jakarta tetap meloloskan pasangan Dharma Pongrekun dan Kun Wardana melalui verifikasi faktual.
Pandangan redaksi Kasus ini menyisakan pertanyaan tata kelola yang belum terjawab. Bila ratusan warga melapor identitasnya dipakai tanpa izin, dan verifikasi faktual tetap lolos, maka yang perlu diperbaiki bukan hanya penindakan, melainkan desain verifikasi dukungan itu sendiri.
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ketujuh Joko Widodo diketahui mendukung pasangan Ridwan Kamil dan Suswono. Joko Widodo terlihat minum kopi bersama Ridwan Kamil di Jakarta Pusat pada 18 November 2024. Di sisi lain Anies Baswedan mendukung Pramono Anung dan Rano Karno, dengan foto bersama yang diunggah pada 15 November dan deklarasi relawan Warga Kota pada 16 November 2024.
Pola kedekatan figur nasional dengan panggung daerah semacam ini bukan hal baru, dan pernah kami telusuri saat membaca cetak biru politik pascakepresidenan Joko Widodo. Yang membedakan kasus Jakarta adalah efeknya justru tidak sebagaimana diharapkan, dan datanya kami bedah pada Bagian 08.
Setelah hasil keluar, Ketua Tim Pemenangan Ridwan Kamil dan Suswono, Ahmad Riza Patria, menyoroti tingginya angka tidak memilih dan persoalan distribusi Formulir C6 sebagai pemberitahuan memilih. Namun tuduhan itu tidak pernah diuji di Mahkamah Konstitusi.
Batas pendaftaran sengketa hasil berakhir 11 Desember 2024 pukul 23.59 WIB dan tidak ada permohonan yang diajukan. Pada 13 Desember 2024 kubu Ridwan Kamil resmi menerima hasil. Idrus Marham dari Golkar menyebut penerimaan itu sejalan dengan arahan Presiden Prabowo.
Tidak ada satu pun pasangan calon yang mengajukan sengketa hasil Pilkada Gubernur Jakarta 2024 ke Mahkamah Konstitusi. Dengan demikian Jakarta melanjutkan rekornya pada 2007, 2012, dan 2017 sebagai provinsi yang hasil pilkada gubernurnya tidak pernah dipersoalkan di pengadilan.
Fakta Ketiadaan sengketa ini penting dicatat karena membedakan Jakarta 2024 dari banyak daerah lain pada pilkada serentak yang sama, dan menjadi argumen kuat bahwa hasil 50,07 persen itu tidak dipersoalkan secara hukum oleh pihak mana pun.
Lubang data yang kami akui. Angka resmi Bawaslu Jakarta mengenai laporan pelanggaran netralitas aparatur sipil negara, politik uang, dan serangan fajar tidak kami temukan dalam bentuk rekapitulasi bertanggal. Karena itu kami tidak menuliskan jumlah apa pun untuk 3 kategori tersebut. Sumber bagian ini: Tempo, Media Indonesia, Liputan6, Antara, Merdeka, CNN Indonesia, Detik, dan Bisnis.
Restu 2 mantan gubernur bekerja, restu 2 presiden tidak
Ini bagian yang paling sering diperdebatkan tanpa data. Banyak analis menyebut faktor Anies Baswedan menentukan, dan banyak pula yang menyebut restu Presiden Prabowo Subianto serta Joko Widodo seharusnya menjadi jaminan. Untungnya, kedua klaim itu bisa diuji, karena exit poll mengukur langsung selisih pilihan antara pemilih yang mengetahui suatu dukungan dan yang tidak mengetahuinya.
Ketuk untuk membandingkan kedua jenis dukungan.
Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani menilai pasangan itu berhasil “menyatukan dua kelompok yang selama ini dipandang bersebrangan”, yaitu pemilih Basuki Tjahaja Purnama dan pemilih Anies Baswedan.
Deni Irvani, Direktur Eksekutif SMRC, 1 Desember 2024Konteks yang memperkuat. Pada Pemilihan Presiden Februari 2024, Anies Baswedan meraih sekitar 2,65 juta suara atau 41,07 persen di Jakarta. Basis sebesar itu tidak hilang begitu saja ketika ia tidak bisa maju, dan angka angka di atas menunjukkan ke mana sebagian besar basis itu bergerak.
Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani menyimpulkan bahwa dukungan kedua presiden itu tidak memberi efek positif, bahkan menunjukkan kecenderungan negatif.
Deni Irvani, Direktur Eksekutif SMRC, dikutip CNN Indonesia dan Media IndonesiaCara membaca yang adil. Mayoritas responden tetap menilai dukungan kedua presiden pantas diberikan, yaitu 57 dan 62 persen. Yang tidak terjadi adalah konversi dukungan itu menjadi tambahan suara. Bila dihubungkan dengan turunnya kepuasan publik terhadap pemerintahan pusat yang pernah kami bedah pada laporan mengenai anjloknya rapor pemerintahan, restu politik pusat tampaknya bukan lagi mata uang yang nilainya tetap.
Batas yang perlu jujur diakui Angka angka di atas adalah korelasi kuat, bukan bukti sebab akibat tunggal. Faktor ketokohan Pramono dan Rano, blunder kubu lawan, serta konsolidasi basis pemilih bekerja bersamaan, sehingga tidak mungkin mengisolasi satu sebab sebagai penentu. Yang bisa disimpulkan aman adalah bahwa dukungan 2 mantan gubernur terbukti bergerak searah dengan pilihan pemilih, sedangkan restu 2 presiden tidak.
Menang di 6 wilayah, tetapi dengan 1,06 juta suara lebih sedikit daripada pemenang 2017
Ada 1 angka yang jarang masuk pemberitaan kemenangan, dan justru angka itu yang paling banyak bercerita. Dari 8.214.007 pemilih terdaftar, yang menggunakan hak pilih hanya 4.724.393 orang. Artinya tingkat partisipasi 57,52 persen, dan 3.489.614 pemilih tidak datang.
Koreksi angka yang beredar luas Banyak pemberitaan menyebut partisipasi Pilkada Jakarta 2024 sebesar 53,05 persen. Angka itu sebenarnya hasil pembagian suara sah 4.360.629 dengan daftar pemilih tetap, sehingga ikut memasukkan 363.764 suara tidak sah ke dalam kelompok yang dianggap tidak memilih. Padahal pemilih yang datang lalu suaranya dinyatakan tidak sah tetap datang. Kami memakai 57,52 persen sebagai tingkat partisipasi, dan menampilkan kedua angka agar pembaca bisa memeriksa sendiri.
Apa pun angka yang dipakai, kesimpulannya searah. Kemenangan yang tampak dominan di peta justru lebih kecil dalam jumlah suara nyata dibandingkan pemenang pilkada sebelumnya.
| Wilayah | Pramono dan Rano | Ridwan dan Suswono | Dharma dan Kun |
|---|---|---|---|
| Jakarta Timurhasil pengurangan | 635.170 | 535.613 | 136.935 |
| Jakarta Barat | 500.738 | 386.880 | 109.457 |
| Jakarta Selatan | 491.017 | 375.391 | 90.294 |
| Jakarta Utara | 328.486 | 261.463 | 77.026 |
| Jakarta Pusat | 220.372 | 152.235 | 44.865 |
| Kepulauan Seribu | 7.456 | 6.578 | 653 |
Selisihnya 1.057.748 suara, atau sekitar 1,06 juta. Artinya dukungan nyata di balik pemenang 2024 secara jumlah lebih kecil daripada pemenang 2017, meski persentasenya cukup untuk menang satu putaran. Ini bukan kritik kepada pemenang, melainkan pengingat bahwa persentase dan jumlah pemilih adalah 2 hal berbeda. Catatan konflik data: sebagian sumber mencatat partisipasi 2017 pada kisaran 70 sampai 72 persen, sementara angka 75,64 dan 77,02 persen per putaran berasal dari CNA.id. Perbedaan itu kami tampilkan apa adanya, bukan dipilih salah satu secara diam diam. Ketua Divisi Sosialisasi dan Partisipasi Masyarakat KPU Jakarta Astri Megatari menyatakan pihaknya akan mengevaluasi program sosialisasi karena hasilnya lebih rendah dari harapan.
Fakta Pasangan Dharma Pongrekun dan Kun Wardana meraih 459.230 suara atau 10,53 persen. Untuk pasangan perseorangan tanpa dukungan partai dan tanpa rekam jejak jabatan publik di Jakarta, angka itu tidak kecil. Perolehan mereka lebih besar daripada selisih antara pemenang dan ambang 50 persen, sehingga secara aritmetika keberadaan mereka ikut menentukan apakah pilkada ini berlangsung satu atau dua putaran.
Pandangan redaksi Kombinasi 3 angka pada bagian ini, yaitu partisipasi 53,05 persen, suara protes 10,53 persen, dan margin 0,07 poin, memberi gambaran yang lebih jujur daripada narasi kemenangan telak. Yang terjadi di Jakarta 2024 adalah kemenangan yang sah dan tidak dipersoalkan di pengadilan, tetapi berdiri di atas basis partisipasi paling tipis dalam sejarah kota ini.
6 penjelasan yang beredar, dan mana yang benar benar tahan diuji
Setiap kekalahan besar melahirkan penjelasan yang terdengar meyakinkan. Masalahnya, penjelasan yang meyakinkan belum tentu didukung bukti. Di bagian ini kami menguji 6 hipotesis yang paling sering dilontarkan, masing masing dengan bukti pendukung dan bukti penyangkalnya. Ketuk untuk membuka.
01Hipotesis pertamaKoalisi gemuk justru menurunkan suara
Bukti mendukung
Pengusung menguasai 85,8 persen kursi DPRD tetapi hanya meraih 39,40 persen suara. Firman Noor menilai sejumlah partai tidak menjalankan mesin sepenuhnya.
Bukti menyanggah
Mardani Ali Sera menyatakan kader bekerja keras dan angka akhir masih di atas basis suara PKS sendiri. Exit poll juga menunjukkan mayoritas pemilih Gerindra dan Golkar tetap memilih Ridwan Kamil.
Terbukti sebagian Mesin partai bekerja pada sebagian pemilih, tetapi jumlah partai pengusung terbukti tidak berbanding lurus dengan jumlah suara.
02Hipotesis keduaAda perlawanan pemilih terhadap kesan campur tangan pusat
Bukti mendukung
Elektabilitas Ridwan Kamil pada kelompok yang mengetahui restu Prabowo 38 persen dan restu Joko Widodo 37 persen, keduanya lebih rendah daripada kelompok yang tidak mengetahui. Sebanyak 38 dan 34 persen responden menilai restu itu tidak pantas.
Bukti menyanggah
Mayoritas responden, yaitu 57 dan 62 persen, tetap menilai restu itu pantas diberikan. Selisih 1 sampai 3 poin juga tergolong kecil.
Terbukti sebagian Yang terbukti bukan penolakan besar besaran, melainkan ketiadaan tambahan suara. Restu pusat tidak merugikan secara dramatis, tetapi juga tidak menolong.
03Hipotesis ketigaPartisipasi rendah menguntungkan pemilih inti yang terkonsolidasi
Bukti mendukung
Partisipasi 57,52 persen, jauh di bawah 2017. Basis pemilih Anies dan Basuki terkonsolidasi ke 1 pasangan, sementara koalisi besar justru terpecah perhatiannya.
Bukti menyanggah
Pramono dan Rano menang merata di 6 wilayah, bukan hanya di kantong pemilih tertentu. Pola kemenangan merata biasanya menandakan dukungan luas, bukan sekadar keunggulan mobilisasi inti.
Masuk akal, belum terbukti Kami tidak menemukan data lapisan pemilih yang cukup untuk menyimpulkan siapa yang paling diuntungkan oleh rendahnya partisipasi.
04Hipotesis keempatKandidat yang dianggap pendatang menghadapi hambatan khusus di Jakarta
Bukti mendukung
Pengamat pemilu Titi Anggraini menilai Ridwan Kamil belum mengakar di Jakarta dan masih dilihat publik sebagai tokoh Jawa Barat. Pakar komunikasi politik Ibnu Hamad menilai pasangan Pramono dan Rano lebih dekat dengan Jakarta.
Bukti menyanggah
Ridwan Kamil sempat unggul jauh dalam survei September, yang menunjukkan status pendatang tidak otomatis menjadi penghalang.
Terbukti kuat Persoalan figur luar yang masuk ke wilayah politik yang bukan basisnya berulang di banyak kontestasi. Dinamika serupa pernah kami bedah pada langkah Kaesang Pangarep menuju daerah pemilihan Jawa Tengah V.
05Hipotesis kelimaBlunder pada 2 pekan terakhir yang membalikkan keadaan
Bukti mendukung
Pernyataan tentang janda kaya pada 26 Oktober 2024 terjadi tepat pada periode penyalipan yang paling tajam, dan menuai kecaman luas.
Bukti menyanggah
Survei LSI periode 10 sampai 17 Oktober sudah menunjukkan penyalipan sebelum pernyataan itu dibuat. Tren sudah bergerak lebih dulu.
Tidak terbukti sebagai penyebab Blunder mempercepat dan mengunci tren yang sudah berjalan, bukan memulainya. Menyalahkan 1 pernyataan berarti mengabaikan pergerakan 13,2 poin yang terjadi sebelumnya.
06Hipotesis keenamPemilih Jakarta kurang responsif terhadap mobilisasi struktural
Bukti mendukung
Restu tokoh nasional tidak berbuah tambahan suara, sementara faktor ketokohan dan rekam jejak lokal justru menonjol dalam exit poll.
Bukti menyanggah
Tidak ada data yang memisahkan pengaruh tingkat pendidikan atau konsumsi media dari faktor lain, sehingga klaim ini tidak dapat diisolasi.
Belum dapat diuji Ini hipotesis yang menarik tetapi paling lemah buktinya. Kami mencantumkannya agar tidak terkesan menyembunyikan penjelasan yang beredar.
Yang bisa diperbaiki oleh 3 pihak berbeda
Kritik tanpa usulan hanya menambah kebisingan. Dari seluruh temuan di atas, ada 3 pihak yang benar benar bisa berbuat sesuatu, dan tuntutannya berbeda beda. Ketuk masing masing.
- Publikasikan 1 definisi resmi tingkat partisipasi. Kekacauan antara angka 57,52 dan 53,05 persen di pemberitaan bermula dari ketiadaan definisi baku yang mudah diakses. Ini persoalan komunikasi data yang bisa diselesaikan dalam hitungan hari.
- Terbitkan rekapitulasi per kecamatan dalam format terbuka. Kami harus menghitung sendiri angka Jakarta Timur karena rinciannya tidak tersedia terbuka. Data yang sudah dihitung negara sebaiknya bisa diunduh siapa pun.
- Evaluasi distribusi formulir pemberitahuan memilih. Tuduhan mengenai hal ini muncul dari pihak yang kalah tetapi tidak pernah diuji di pengadilan, sehingga tetap menggantung. Audit mandiri akan menutup ruang tuduhan yang tak terbukti.
- Umumkan rekapitulasi laporan pelanggaran secara berkala. Kami tidak menemukan angka resmi pelanggaran netralitas aparatur dan politik uang, padahal data itu penting untuk menilai kualitas penyelenggaraan.
- Wajibkan penyimpanan data mentah untuk jangka waktu tertentu. Perkara 2024 berawal dari data yang disebut sudah terhapus dari server. Kewajiban retensi data akan mencegah persoalan yang sama terulang.
- Umumkan kriteria pemeriksaan secara terbuka. Keberatan bahwa hanya sebagian lembaga yang diperiksa akan hilang bila kriterianya diketahui publik sejak awal.
- Publikasikan uji akurasi setelah setiap pemilihan. Bandingkan angka rilis tiap lembaga dengan hasil resmi, lalu terbitkan sebagai catatan permanen. Publik berhak tahu rekam jejak akurasi, bukan hanya rilis terbaru.
- Cantumkan sampel, margin kesalahan, dan pemberi biaya di setiap rilis. Beberapa rilis yang kami telusuri tidak mencantumkan keterangan metodologi lengkap, sehingga angkanya sulit dinilai.
- Jangan menyamakan jumlah partai dengan jumlah suara. Pelajaran paling mahal dari 2024 adalah 91 kursi tidak menghasilkan 50 persen suara. Yang menentukan adalah siapa yang benar benar bekerja di lapangan.
- Bangun kedekatan sebelum musim pencalonan, bukan sesudahnya. Waktu kampanye efektif hanya 91 hari, dan itu terlalu pendek untuk membangun kedekatan dari nol. Soal jarak waktu persiapan ini pernah kami uraikan pada panduan kapan sebaiknya kandidat mulai bersiap.
- Pisahkan peran riset, strategi, dan mobilisasi. Banyak kekeliruan lahir karena ketiganya dianggap 1 pekerjaan yang sama. Perbedaan perannya kami bahas pada tulisan mengenai konsultan politik dan tim sukses.
- Uji setiap pernyataan sensitif sebelum diucapkan di panggung. Satu kalimat yang terdengar biasa di ruang internal bisa menjadi masalah nasional dalam hitungan jam.
Status usulan. Seluruh butir di atas adalah pandangan redaksi Head Politika yang disusun dari temuan laporan ini, bukan rekomendasi resmi lembaga mana pun. Kami menyampaikannya terbuka agar dapat dibantah, dikoreksi, atau dikembangkan pihak lain.
Penutup: kemenangan yang sah, di atas landasan yang menipis
Pilkada Gubernur Jakarta 2024 sering diringkas sebagai kisah kuda hitam yang menyalip di tikungan terakhir. Ringkasan itu enak dibaca tetapi tidak akurat. Yang sebenarnya terjadi lebih sederhana sekaligus lebih penting. Keunggulan awal Ridwan Kamil terbentuk saat 2 pesaing terkuatnya belum resmi tersingkir dan pesaing sebenarnya belum dikenal. Begitu peta pencalonan mengeras pada akhir Agustus, angka mulai bergerak, dan bergerak terus sampai hari pemungutan suara.
Pelajaran terbesarnya bukan tentang siapa yang menang. Pelajarannya adalah bahwa 3 hal yang selama ini dianggap jaminan ternyata tidak menjamin apa apa, yaitu jumlah partai pengusung, restu tokoh nasional, dan keunggulan pada survei awal. Ketiganya dimiliki 1 pihak, dan ketiganya tidak cukup.
Di sisi lain, kemenangan ini juga tidak sebesar yang tampak. Ia berdiri di atas partisipasi 57,52 persen, margin 0,07 poin dari ambang, dan 459.230 suara protes kepada pasangan perseorangan. Angka angka itu bukan alasan untuk meragukan keabsahan hasil, karena tidak ada pihak yang menggugatnya ke pengadilan. Angka itu adalah pekerjaan rumah. Ujian sebenarnya bukan lagi soal memenangkan pemilihan, melainkan soal apakah janji yang dibawa bisa diterjemahkan menjadi kebijakan yang berjalan, dan soal itu punya tantangannya sendiri sebagaimana pernah kami uraikan dalam pembahasan mengenai cara menyusun kebijakan publik yang efektif.
7 pertanyaan yang paling sering diajukan
01Berapa hasil resmi Pilkada Gubernur Jakarta 2024?
Berdasarkan penetapan KPU Provinsi Jakarta pada 8 Desember 2024, Pramono Anung dan Rano Karno memperoleh 2.183.239 suara atau 50,07 persen, Ridwan Kamil dan Suswono 1.718.160 suara atau 39,40 persen, serta Dharma Pongrekun dan Kun Wardana 459.230 suara atau 10,53 persen, dari total 4.360.629 suara sah.
02Mengapa Pilkada Jakarta 2024 hanya 1 putaran padahal selisihnya tipis dari 50 persen?
Karena syaratnya adalah meraih lebih dari 50 persen suara sah, bukan sejumlah tertentu di atasnya. Ketentuan itu diatur pada Pasal 10 ayat 2 Undang Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta, yang meneruskan ketentuan Pasal 11 Undang Undang Nomor 29 Tahun 2007. Dengan 50,07 persen, syarat itu terpenuhi meski hanya berjarak 0,07 poin.
03Kapan elektabilitas Pramono Anung mulai melampaui Ridwan Kamil?
Rilis Lembaga Survei Indonesia pada 23 Oktober 2024, untuk survei periode 10 sampai 17 Oktober 2024, adalah publikasi pertama yang menunjukkan Pramono dan Rano unggul dengan 41,6 persen berbanding 37,4 persen. LSI sendiri menegaskan selisih itu belum signifikan secara statistik karena margin kesalahannya 2,9 persen.
04Mengapa Poltracking dijatuhi sanksi oleh Persepi?
Dewan Etik Persepi menjatuhkan sanksi pada 4 November 2024 karena tidak dapat memverifikasi kesahihan data survei. Jumlah sampel valid yang ditunjukkan saat pemeriksaan adalah 1.652 data, sedangkan yang dirilis ke publik 2.000 data. Data mentah awalnya tidak dapat ditunjukkan dengan alasan telah dihapus dari server, dan ketika dipulihkan pada 3 November 2024 ditemukan banyak perbedaan dengan data sebelumnya. Persepi menegaskan sanksi itu menyangkut verifikasi data, bukan penilaian atas kesimpulan politiknya.
05Seberapa besar pengaruh dukungan Anies Baswedan?
Exit poll SMRC yang dirilis 1 Desember 2024 menemukan pendukung Basuki Tjahaja Purnama yang mengetahui dukungan Anies memilih Pramono dan Rano sebanyak 55 persen, atau 13 poin lebih tinggi daripada yang tidak mengetahui. Exit poll Litbang Kompas mencatat 60,3 persen pemilih pasangan itu menyebut faktor Anies. Angka angka tersebut menunjukkan korelasi kuat, tetapi tidak dapat diperlakukan sebagai satu satunya sebab kemenangan.
06Berapa sebenarnya tingkat partisipasi Pilkada Jakarta 2024?
Sebanyak 4.724.393 dari 8.214.007 pemilih terdaftar menggunakan hak pilihnya, sehingga tingkat partisipasinya 57,52 persen. Angka 53,05 persen yang beredar luas berasal dari pembagian suara sah 4.360.629 dengan daftar pemilih tetap, sehingga 363.764 suara tidak sah ikut dihitung sebagai tidak memilih. Berapa pun angka yang dipakai, keduanya jauh di bawah Pilkada 2017.
07Apakah hasil Pilkada Jakarta 2024 digugat ke Mahkamah Konstitusi?
Tidak. Batas pendaftaran sengketa berakhir pada 11 Desember 2024 pukul 23.59 WIB tanpa permohonan yang diajukan, dan pada 13 Desember 2024 kubu Ridwan Kamil menyatakan menerima hasil. Jakarta melanjutkan rekornya pada 2007, 2012, dan 2017 sebagai provinsi yang hasil pilkada gubernurnya tidak pernah dipersoalkan di Mahkamah Konstitusi.
Bagaimana laporan ini disusun, dan apa yang belum kami temukan
Laporan ini disusun dari penelusuran rilis lembaga survei, putusan dan siaran pers lembaga resmi, serta pemberitaan media arus nasional. Kami mendahulukan sumber primer, yaitu rekapitulasi KPU Provinsi Jakarta, putusan Mahkamah Konstitusi, keputusan Dewan Etik Persepi, dan rilis resmi lembaga survei. Media dipakai sebagai penguat dan pelengkap konteks.
Beberapa prinsip yang kami pegang. Pertama, setiap angka disertai tanggal dan sumbernya. Kedua, bila 2 sumber berbeda, keduanya ditampilkan beserta alasan perbedaannya, bukan dipilih diam diam. Ketiga, kutipan ditulis apa adanya beserta konteks kalimatnya. Keempat, pandangan redaksi ditandai eksplisit dan tidak dicampur dengan fakta.
Ada 2 angka yang kami hitung sendiri, dan keduanya kami nyatakan terbuka. Angka Jakarta Timur diperoleh dengan mengurangkan jumlah 5 wilayah lain dari total resmi. Selisih akurasi lembaga survei diperoleh dengan mengurangkan angka rilis dari hasil resmi KPU. Keduanya dapat diperiksa ulang oleh siapa pun.
!KeterbukaanDaftar data yang dicari tetapi tidak ditemukan
Kami memilih mengosongkan daripada menambal dengan perkiraan. Berikut yang belum tertutup.
1. Rekapitulasi resmi Bawaslu Jakarta mengenai jumlah laporan pelanggaran netralitas aparatur sipil negara, politik uang, dan serangan fajar.
2. Tanggal penetapan pasangan calon dan pengundian nomor urut dari dokumen resmi KPU.
3. Data belanja iklan politik digital masing masing pasangan.
4. Rincian suara Pemilu Legislatif 2024 per partai di Jakarta untuk dibandingkan langsung dengan suara pasangan calon.
5. Survei persepsi pemenang debat kedua dan ketiga.
6. Keterangan sampel dan margin kesalahan pada rilis LSI periode September 2024.
7. Konfirmasi resmi KPU atas klaim kemenangan di 42 dari 44 kecamatan.
Bila Anda memiliki dokumen resmi untuk salah satu butir di atas, redaksi terbuka untuk memperbarui laporan ini.
Catatan konflik data Terdapat 3 titik perbedaan antarsumber yang kami tampilkan apa adanya. Pertama, jumlah partai pengusung Ridwan Kamil disebut antara 12 sampai 15 tergantung sumber dan waktu, karena keluar masuknya partai tanpa kursi. Kami memakai komposisi kursi DPRD yang lebih dapat diverifikasi. Kedua, tingkat partisipasi Pilkada 2017 disebut pada kisaran 70 sampai 72 persen oleh sebagian sumber, sementara 75,64 dan 77,02 persen per putaran berasal dari CNA.id. Ketiga, tingkat partisipasi 2024 beredar dalam 2 versi sebagaimana kami jelaskan pada Bagian 09.
Sumber yang dapat Anda periksa sendiri
Berikut sumber yang tautannya sudah kami verifikasi dapat diakses. Sumber lain yang dipakai tetapi belum terverifikasi tautannya kami sebutkan namanya saja di bawah, agar Anda tidak diarahkan ke tautan yang salah.
Sumber berikut dipakai dalam laporan tetapi tautan langsungnya belum kami verifikasi, sehingga sengaja tidak kami tautkan.
- Rilis survei Proximity Indonesia periode 16 sampai 25 Mei 2024.
- Rilis Litbang Kompas periode 15 sampai 20 Juni 2024, dipublikasikan 16 Juli 2024.
- Rilis Indikator Politik Indonesia 25 Juli 2024, serta survei tatap muka dan telepon November 2024.
- Rilis Lembaga Survei Indonesia periode September dan Oktober 2024.
- Rilis Poltracking Indonesia periode 10 sampai 16 Oktober 2024.
- Rilis SMRC, Polmark Indonesia, dan Indopolling Network periode November 2024.
- Pemberitaan Tempo, Media Indonesia, dan Antara mengenai pernyataan Suswono dan tanggapan berbagai pihak.
- Pemberitaan Merdeka, Tempo, dan Detik mengenai laporan pencatutan nomor induk kependudukan.
- Laporan dana kampanye sebagaimana diberitakan Jawa Pos, Kompas.id, GoodStats, dan Detik.
- Data tingkat partisipasi Pilkada DKI Jakarta 2017 dari CNA.id.
- Kutipan Firman Noor, Titi Anggraini, Ibnu Hamad, dan Mardani Ali Sera sebagaimana dikutip Tempo, VOA Indonesia, dan KOMPAS TV.
Bila terdapat tautan yang tidak lagi dapat diakses atau angka yang keliru, silakan sampaikan kepada redaksi agar kami perbarui.
Laporan ini disusun, dianalisis, dan dipublikasikan oleh Tim Riset Head Politika. Ini bagian pertama dari 2 laporan mengenai Pilkada Gubernur Jakarta 2024. Bagian kedua membedah strategi pemenangan ketiga pasangan calon beserta rantai sebab akibatnya.
Laporan disusun sebagai riset independen. Kami tidak mewakili kepentingan pemerintah, partai politik, lembaga survei, atau pihak mana pun yang disebut di dalamnya. Kritik dalam laporan ini disampaikan bersama usulan jalan keluar, karena tujuannya adalah penyelenggaraan pemilihan yang lebih jujur dan lebih terbaca oleh publik. Bila terdapat angka yang keliru, konteks yang terlewat, atau capaian yang belum tercatat, redaksi terbuka untuk koreksi, diskusi, dan hak jawab.
Dipublikasikan 22 Agustus 2026. Data hasil pemilihan mutakhir per penetapan KPU Provinsi Jakarta 8 Desember 2024. Head Politika, headpolitika.com.
Ingin Peta Politik Dapil Anda Dibaca dengan Data?
Diskusikan situasi Anda langsung dengan tim kami. Tanpa biaya, tanpa keterikatan, hanya pembicaraan jujur tentang peluang Anda.
Mulai Konsultasi Gratis
