Riset
Bagaimana Pramono Anung dan Rano Karno Menang Cuma dalam 91 Hari di Pilkada Jakarta 2024

Bagaimana Pramono Anung dan Rano Karno Menang Cuma dalam 91 Hari di Pilkada Jakarta 2024
Satu pasangan punya 12 partai, dana terbesar, dan restu 2 presiden. Satu pasangan lagi dibentuk 1 hari sebelum pendaftaran ditutup, hanya bermodal 1 partai. Laporan ini membedah keputusan demi keputusan yang diambil ketiga tim, termasuk yang baru terungkap setelah pemilihan usai, lalu memisahkan mana yang bisa ditiru di daerah lain dan mana yang hanya bisa terjadi di Jakarta.
Pada 28 Agustus 2024 pukul 11.00 WIB, sebuah opelet berhenti di depan kantor KPU Jakarta. Dari dalamnya turun 2 orang berbusana Betawi yang baru dipastikan menjadi pasangan calon kurang dari 24 jam sebelumnya. Sembilan puluh satu hari kemudian, keduanya memenangi pemilihan gubernur satu putaran. Laporan pertama kami sudah membedah angka dan hasil resminya. Laporan ini membedah bagian yang jauh lebih sulit dilihat, yaitu keputusan apa saja yang diambil di balik angka itu.
Kami menyusunnya sebagai bahan belajar, bukan sebagai cerita ulang berita. Karena itu setiap strategi ditelusuri sampai ke pertanyaan yang jarang ditanyakan, yaitu siapa yang mengambil keputusan, kapan, atas dasar apa, dan apa akibat yang benar benar bisa diamati. Untuk pembaca yang bekerja di kampanye, laporan ini bisa dibaca sebagai daftar periksa. Perbedaan peran antara perancang strategi dan pelaksana lapangan sendiri pernah kami uraikan pada panduan tentang konsultan politik dan tim sukses.
Satu peringatan sejak awal. Strategi kampanye adalah wilayah yang paling banyak diisi klaim sepihak. Pihak yang menang cenderung merapikan cerita agar terlihat terencana, dan pihak yang kalah cenderung mencari sebab di luar dirinya. Karena itu setiap temuan dalam laporan ini kami beri label kualitas bukti, dan labelnya bisa Anda lihat langsung pada setiap bagian.
Lima label kualitas bukti yang dipakai laporan ini
- 1Pemenang justru punya waktu paling sedikit. Keputusan mengusung Pramono Anung diambil Megawati Soekarnoputri pada 27 Agustus 2024, pendaftaran dilakukan 28 Agustus, dan masa kampanye resmi hanya berjalan 25 September sampai 23 November 2024. Keterbatasan waktu ternyata memaksa fokus, bukan melemahkan.
- 2Koalisi 12 partai gagal menjadi 1 mesin. Pengamat menyebut kekompakan koalisi pendukung Ridwan Kamil seperti perkawinan yang dipaksakan, dan aspirasi partai pengusung kurang terakomodasi. Semakin banyak partai, semakin sulit mengendalikan pesan harian.
- 3Gaya kampanye dipilih secara sadar sejak rapat pertama. Konsep politik riang gembira diputuskan pada rapat perdana tim pemenangan 15 September 2024 yang dipimpin Lies Hartono atau Cak Lontong, lalu diterjemahkan menjadi konten pendek dan kampanye bergaya festival.
- 4Kunci akhir adalah menyatukan 2 kubu yang bertahun tahun berseteru. Pertemuan dengan Anies Baswedan pada 15 November 2024 dan silaturahmi pendukung Basuki Tjahaja Purnama dengan pendukung Anies pada 17 November 2024 mengubah pemilihan ini dari 2 putaran menjadi 1 putaran.
- 5Uang bukan variabel penentu. Belanja kampanye pasangan termahal sekitar 229 kali lipat pasangan termurah, tetapi hanya menghasilkan sekitar 3,7 kali lipat suara. Biaya per suara pemenang justru lebih murah daripada pesaing utamanya.
- 6Isu yang paling dirasakan warga bukan identitas, melainkan pekerjaan. Survei Charta Politika yang dirilis 3 Oktober 2024 menempatkan kesulitan mencari kerja sebesar 37,3 persen sebagai persoalan terbesar, disusul kemacetan 22 persen. Pilkada 2024 nyaris kehilangan polarisasi identitas yang mewarnai 2017.
- 7Pasangan perseorangan menjadi kanal kekecewaan. Dengan dana kampanye sekitar Rp292 juta dan nyaris tanpa iklan berbayar, Dharma Pongrekun dan Kun Wardana meraih hampir 2 kali lipat angka survei, sebagian besar dibaca pengamat sebagai suara protes.
Setiap butir di atas dibedah lengkap beserta tanggal, pelaku, sumber, dan label kualitas buktinya pada bagian bagian berikutnya. Hal yang kami cari tetapi tidak ditemukan juga kami cantumkan terbuka pada catatan metodologi.
Jakarta bukan sekadar 1 provinsi, melainkan panggung terakhir yang tersisa
Strategi tidak lahir di ruang hampa. Untuk memahami mengapa ketiga tim mengambil keputusan seperti yang mereka ambil, kita perlu melihat lebih dulu keadaan politik yang mengelilingi mereka pada paruh kedua 2024. Ada 4 keadaan yang menekan dari luar, dan keempatnya membentuk pilihan strategi yang tersedia.
Label bukti. Keadaan 2 dan 3 terverifikasi melalui peristiwa dan dokumen resmi. Keadaan 1 dan 4 merupakan analisis pihak ketiga mengenai peta politik, bukan pernyataan resmi partai mana pun. Kaitan langsung antara gelombang protes Agustus dan perilaku memilih pada November masih berupa dugaan, dan kami tidak menemukan survei yang mengukurnya.
Keadaan kedua layak digarisbawahi karena efeknya paling sering salah diperkirakan. Di banyak daerah lain pada pilkada serentak yang sama, dukungan tokoh pusat terbukti bekerja. Di Jakarta tidak. Kami sudah membedah bagaimana kepercayaan publik terhadap pemerintahan pusat bergerak dalam laporan tentang anjloknya rapor pemerintahan, dan pola pascakepresidenan Joko Widodo dalam tulisan mengenai cetak biru politiknya di daerah.
Mengapa ini penting bagi strategi. Tim yang membaca angka ini akan menempatkan pekerjaan dan biaya hidup di jantung pesannya. Tim yang tidak membacanya akan berbicara tentang hal lain, betapapun bagus gagasannya. Pada bagian berikutnya kita akan melihat siapa yang berbicara tentang apa. Sumber angka: Charta Politika, dirilis 3 Oktober 2024, sebagaimana disampaikan Direktur Eksekutif Yunarto Wijaya.
3 tim, 3 bentuk organisasi, dan ketimpangan sumber daya yang mencolok
Sebelum membicarakan taktik, kita perlu tahu siapa yang mengerjakannya. Struktur tim menentukan seberapa cepat keputusan diambil, seberapa disiplin pesan dijaga, dan seberapa besar peluang kebocoran pesan. Ketuk untuk membandingkan ketiga tim.
- Pengusung
- PDI Perjuangan, kemudian mendapat dukungan Hanura dan Partai Ummat
- Ketua tim pemenangan
- Lies Hartono, dikenal publik sebagai Cak Lontong, seorang pelawak dan pembawa acara
- Ketua dewan pengarah
- Todung Mulya Lubis
- Juru bicara
- Chico Hakim dan Aris Setiawan Yodi
- Figur pendukung menonjol
- Once Mekel, Putra Nababan, Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Darmadi Durianto
- Dana kampanye
- Rp63,27 miliar, dengan Rp33,5 miliar dari perseorangan dan pihak lain, serta Rp29,7 miliar dari partai
- Ciri organisasi
- Kendali pesan terpusat pada lingkaran kecil, karena hanya ada 1 partai utama yang perlu diajak sepakat
- Pengusung
- Koalisi Indonesia Maju Plus, 12 partai secara resmi. Ridwan Kamil sendiri pernah menyebut angka 15 partai pendukung, dan perbedaan ini muncul karena sebagian partai tidak memiliki kursi DPRD
- Ketua tim pemenangan
- Ahmad Riza Patria dari Gerindra, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta
- Sekretaris
- Basri Baco
- Juru bicara
- Cheryl Tanzil
- Figur pendukung menonjol
- Anggota DPR dan DPRD dari partai partai pengusung
- Dana kampanye
- Sekitar Rp67 miliar, dengan Rp66,6 miliar atau hampir seluruhnya berasal dari partai politik
- Ciri organisasi
- Kendali pesan tersebar di antara banyak partai, sehingga keputusan harian harus melewati lebih banyak meja
- Pengusung
- Jalur perseorangan, tanpa partai. Dukungan yang lolos verifikasi faktual sebanyak 677.468, di atas syarat minimal 618.968
- Struktur tim
- Tidak ditemukan. Kami mencari struktur resmi tim pemenangan mereka dan tidak menemukan dokumen maupun pemberitaan yang merincinya
- Juru bicara
- Kedua calon berbicara langsung, tanpa juru bicara khusus yang menonjol
- Dana kampanye
- Sekitar Rp292 juta, seluruhnya dari sumbangan pihak lain
- Ciri organisasi
- Berbasis relawan akar rumput, dengan penyebaran pesan mengandalkan perhatian organik, bukan belanja iklan
Lubang data yang kami akui. Kami mencari nama konsultan politik dan lembaga survei internal yang bekerja untuk ketiga pasangan, dan tidak menemukannya diumumkan secara terbuka. Karena itu tidak ada nama konsultan yang kami sebut dalam laporan ini. Struktur rinci tim Dharma Pongrekun dan Kun Wardana juga tidak ditemukan. Sumber angka dana: laporan penerimaan dan pengeluaran dana kampanye sebagaimana diberitakan Jawa Pos, Kompas.id, GoodStats, dan Suara.
Pandangan redaksi Penunjukan seorang pelawak sebagai ketua tim pemenangan mudah dianggap main main. Kami melihatnya sebagai keputusan strategi yang sangat jelas. Ketua tim adalah orang yang menentukan nada seluruh kampanye, dan memilih figur yang dikenal karena humor berarti menetapkan nada itu sejak hari pertama. Bandingkan dengan kubu sebelah yang menunjuk mantan wakil gubernur, sebuah pilihan yang menandakan nada formal dan penekanan pada pengalaman.
Perbedaan lain yang jarang disorot adalah asal dana. Pasangan yang menang justru mengumpulkan lebih dari separuh dananya dari sumbangan perseorangan, sedangkan pasangan yang kalah hampir sepenuhnya dibiayai kas partai. Ini pola teramati, bukan penilaian moral, tetapi ia menyiratkan tingkat keterlibatan pendukung yang berbeda. Soal bagaimana anggaran kampanye biasanya disusun dan apa saja yang menentukan besarannya pernah kami uraikan pada panduan mengenai rentang biaya jasa politik profesional.
Apa yang dikerjakan pemenang pada tiap tahap, dari opelet sampai Gelora Bung Karno
Dari pendaftaran pada 28 Agustus 2024 sampai pemungutan suara 27 November 2024 hanya tersedia 91 hari, dan masa kampanye resminya bahkan lebih pendek, yaitu 25 September sampai 23 November 2024 atau sekitar 60 hari. Dalam siklus pilkada yang lazim, kandidat serius biasanya sudah bergerak bertahun tahun sebelumnya. Soal jarak waktu persiapan ini pernah kami bahas tersendiri pada panduan kapan sebaiknya kandidat mulai bersiap.
Ketuk setiap tahap untuk melihat keputusan apa yang diambil dan apa akibatnya.
H-9127 sampai 28 Agustus 2024Keputusan mendadak, dan sebuah opelet di depan kantor KPU
Keputusan mengusung Pramono Anung diambil Megawati Soekarnoputri pada 27 Agustus 2024. Bendahara Umum PDI Perjuangan Olly Dondokambey menyebut keputusan itu sebagai perintah ketua umum. Pendaftaran dilakukan keesokan harinya, 28 Agustus 2024 sekitar pukul 11.00 WIB.
Cara mendaftarnya bukan kebetulan. Keduanya datang mengenakan busana Betawi dengan opelet, kendaraan yang melekat pada tokoh Si Doel yang diperankan Rano Karno. Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto menyebut langkah itu sebagai kejutan, dengan kalimat, “Ya inilah surprise.”
Terverifikasi Tanggal, jam pendaftaran, dan pernyataan pengurus partai tercatat dalam pemberitaan sezaman. Dugaan Bahwa pemilihan busana dan opelet merupakan bagian dari rancangan komunikasi yang disiapkan matang belum bisa kami buktikan, karena tidak ada dokumen atau pengakuan yang menjelaskan siapa yang merancangnya.
H-7315 September 2024Rapat perdana menetapkan nada seluruh kampanye
Rapat perdana tim pemenangan digelar dan dipimpin Lies Hartono atau Cak Lontong. Dari rapat inilah konsep yang kemudian dikenal sebagai politik riang gembira ditetapkan sebagai gaya kampanye.
Cak Lontong menjelaskan dasar pemikirannya, bahwa untuk mencapai kebahagiaan warga Jakarta pun caranya harus memakai cara cara yang membahagiakan.
Klaim orang dalam Penetapan konsep ini bersumber dari pernyataan pelaku kampanye sendiri, sehingga wajar bila terdengar rapi. Yang bisa diverifikasi secara mandiri adalah bahwa gaya itu benar benar konsisten muncul di lapangan sesudahnya.
H-6325 September 2024Masa kampanye resmi dimulai, hanya 60 hari tersedia
Masa kampanye resmi berlangsung 25 September sampai 23 November 2024. Ini rentang yang sama bagi ketiga pasangan, tetapi tidak berarti setara. Pasangan nomor urut 1 dan 2 sudah lebih dulu dikenal publik Jakarta, sedangkan pasangan nomor urut 3 baru diperkenalkan sebagai calon gubernur kurang dari 1 bulan sebelumnya.
Pola teramati Keterbatasan waktu memaksa pilihan. Dengan 60 hari, sebuah tim tidak mungkin mengerjakan semua kanal sekaligus, sehingga harus memilih 1 atau 2 hal yang dikerjakan habis habisan. Bagian berikutnya menunjukkan apa yang dipilih masing masing tim.
H-526 dan 27 Oktober 2024Dua debat pertama, dan panggung yang justru dimenangi pasangan termiskin
Pada debat pertama 6 Oktober 2024, perhatian publik justru tersedot ke pasangan nomor urut 2 setelah Dharma Pongrekun melontarkan pernyataan bernuansa teori konspirasi. Namanya menjadi topik terpopuler nomor 1 di platform X pada hari itu, tanpa 1 rupiah pun belanja iklan.
Pada debat kedua 27 Oktober 2024, Pramono memaparkan program yang sangat konkret, antara lain menaikkan honor pengurus rukun tetangga dan rukun warga hingga 2 kali lipat, menyetarakan gaji guru honorer dengan upah minimum, serta melanjutkan bantuan pendidikan sampai jenjang kuliah.
Terverifikasi Kedua peristiwa tercatat dan terekam. Analisis pihak ketiga Penilaian bahwa program konkret itu lebih mengena dibandingkan gagasan besar datang dari pengamat, bukan dari pengukuran langsung terhadap perpindahan suara.
H-1215 sampai 17 November 2024Tiga hari yang mengubah pemilihan ini menjadi 1 putaran
Pada 15 November 2024 Anies Baswedan mengunggah keterangan bahwa ia berbincang mengenai Jakarta dan masa depannya bersama Pramono dan Rano di rumahnya. Juru bicaranya, Sahrin Hamid, menegaskan posisi itu dengan kalimat, “Bukan condong, memang mendukung.”
Sehari kemudian, 16 November 2024, Basuki Tjahaja Purnama menyatakan harapannya bisa menambah suara bagi pasangan tersebut. Pada 17 November 2024, bersamaan dengan debat ketiga, digelar silaturahmi antara pendukung Basuki dan pendukung Anies, 2 kelompok yang selama bertahun tahun dikenal saling berhadapan.
Terverifikasi Ketiga peristiwa tercatat. Bagian ini kami bedah tersendiri pada Bagian 07, karena inilah mata rantai paling menentukan dalam seluruh laporan.
H-423 November 2024Penutup kampanye di Gelora Bung Karno
Kampanye akbar penutup digelar di Gelora Bung Karno dengan format hajatan, menghadirkan penampilan musik dan sejumlah mantan gubernur Jakarta. Format ini menutup kampanye dengan nada yang sama seperti yang ditetapkan pada rapat perdana 15 September, yaitu perayaan alih alih orasi keras.
Pola teramati Konsistensi nada dari hari pertama sampai hari terakhir adalah hal yang jarang bertahan dalam kampanye 60 hari. Konsistensi ini sendiri merupakan indikator bahwa kendali pesan berada di tangan sedikit orang.
Yang tidak kami temukan. Kami mencari dokumen rencana kampanye, notula rapat, atau materi presentasi internal ketiga tim, dan tidak menemukannya. Seluruh isi bagian ini karena itu bersandar pada peristiwa yang terlihat publik dan pengakuan pelaku, bukan pada dokumen perencanaan.
6 keputusan Pramono dan Rano, dibedah satu per satu
Kampanye 60 hari tidak menyediakan ruang untuk mencoba banyak hal. Yang bisa dilakukan hanyalah memilih sedikit hal lalu mengerjakannya sampai habis. Berikut 6 keputusan yang bisa kami lacak, beserta sasaran, pelaksanaan, dan akibat yang teramati. Perhatikan bahwa tidak semuanya punya bukti sekuat yang lain, dan kami menandainya.
Pandangan redaksi Bila 6 keputusan itu diringkas menjadi 1 kalimat, isinya kira kira begini. Tim ini menerima kelemahannya apa adanya, lalu membeli waktu dengan modal orang lain. Kelemahannya adalah kandidat yang belum dikenal dan partai tunggal. Modal orang lain adalah kedekatan kultural Rano Karno serta warisan politik 2 mantan gubernur. Ini pelajaran yang bisa dipakai di mana saja, yaitu kandidat dengan waktu pendek sebaiknya tidak membangun citra baru dari nol, melainkan menyambung diri pada citra yang sudah ada.
Strategi Ridwan Kamil dan Suswono, dan 4 tempat retaknya
Bagian ini paling mudah ditulis dengan nada mengejek, dan justru itu yang kami hindari. Pasangan ini memulai dengan keunggulan besar di survei, sumber daya terbesar, dan dukungan paling luas. Kekalahannya karena itu lebih layak dibaca sebagai pelajaran teknis, bukan sebagai bahan tertawaan.
Pengamat dari IDSA A. Khoirul Umam menggambarkan persoalan koalisi ini pada 28 November 2024, “Kekompakkan KIM Plus bak kawin paksa, dimana aspirasi kepentingan partai-partai pengusung tampaknya kurang terakomodasi.”
A. Khoirul Umam, pengamat politik, dikutip TribunnewsYang dilakukan tim ini dengan benar
Laporan yang hanya mencatat kesalahan pihak kalah bukan laporan yang jujur. Ada 2 hal yang patut dicatat. Pertama, penanganan pascakekalahan. Meski sempat mengklaim hasil versi internal berbeda, tim ini akhirnya tidak mengajukan sengketa ke Mahkamah Konstitusi sampai batas waktu 11 Desember 2024, dan Ridwan Kamil menyampaikan ucapan selamat. Kedua, keberanian mengangkat pertanyaan arah kota jangka panjang, sesuatu yang jarang dilakukan kandidat dan tetap relevan meski tidak menang.
Klaim orang dalam yang tidak cocok dengan data Pada 28 November 2024, Ketua Tim Pemenangan Ahmad Riza Patria dan Sekretaris Basri Baco menyatakan hasil hitungan internal mereka menunjukkan pemilihan berlangsung 2 putaran. Basri Baco bahkan menyebut angka seratus persen atas keyakinan itu dan mengancam menggugat ke Mahkamah Konstitusi. Kami menampilkannya bukan untuk mempermalukan, melainkan karena klaim ini bertolak belakang dengan hasil resmi dan dengan seluruh hitung cepat lembaga kredibel, dan gugatan itu akhirnya tidak pernah diajukan. Pelajarannya jelas, yaitu hitungan internal yang tidak diuji dari luar bisa membuat sebuah tim salah membaca posisinya sendiri sampai hari terakhir.
Rp292 juta, tanpa iklan berbayar, dan 459.230 suara
Pasangan nomor urut 2 hampir selalu diperlakukan sebagai catatan pinggir. Dari sudut pandang strategi, mereka justru kasus paling menarik dalam pilkada ini, karena memperlihatkan berapa banyak suara yang bisa diperoleh tanpa partai, tanpa dana, dan tanpa iklan.
Perhatikan dulu 1 angka. Dari pustaka iklan platform yang dipantau lembaga pemantau, belanja iklan media sosial pasangan ini tercatat nol rupiah.
Cara membaca. Batang pada baris ketiga hanya penanda posisi, karena nilainya nol dan tidak mungkin digambar. Angka ini hanya mencakup 1 platform dan hanya akun yang terpantau, sehingga bukan gambaran seluruh belanja digital. Sumber: pemantauan pustaka iklan Meta sebagaimana dilaporkan lembaga pemantau pemilu.
Keterbatasan yang wajib dibaca sebelum memakai angka ini. Ini pola teramati, bukan ukuran efisiensi mutlak, dan ada 3 alasannya. Pertama, laporan resmi hanya mencatat dana yang dilaporkan. ICW dan Perludem menemukan belanja iklan digital di luar akun resmi yang tidak tertuang dalam laporan dana kampanye, sehingga angka sebenarnya bisa lebih besar. Kedua, angka ini tidak menghitung nilai hal hal yang tidak dibayar, seperti dukungan tokoh, kerja relawan, modal popularitas awal, dan perhatian media yang datang gratis. Ketiga, biaya rendah tidak otomatis berarti strategi lebih baik, karena pasangan termurah tetap kalah. Yang sah disimpulkan hanyalah bahwa besarnya belanja bukan penentu hasil.
Tiga hari pada November yang menyatukan 2 kubu yang bertahun tahun bermusuhan
Kalau seluruh laporan ini harus diringkas menjadi 1 bagian, inilah bagiannya. Selama bertahun tahun, pendukung Basuki Tjahaja Purnama dan pendukung Anies Baswedan adalah 2 kelompok yang paling sulit dipertemukan dalam politik Jakarta. Perseteruan keduanya bahkan menjadi penanda Pilkada 2017. Pada November 2024, keduanya memilih hal yang sama.
Yang terjadi bukan kebetulan, dan juga bukan hasil rekayasa 1 malam. Ia bertumpu pada keputusan yang diambil jauh lebih awal, yaitu memposisikan diri sebagai penerus kedua gubernur itu sekaligus, seperti kami bedah pada keputusan keenam di Bagian 04.
Yang membuat temuan ini kuat. Angka di atas bukan opini analis, melainkan selisih terukur antara 2 kelompok pemilih yang berbeda hanya pada 1 hal, yaitu tahu atau tidak tahu adanya dukungan. Selisih 13 poin dan 8 poin itulah efek yang bisa diklaim. Terverifikasi Sumber: rilis resmi SMRC dan pemberitaan sezaman.
Urutan peristiwanya berlangsung sangat cepat. Pada 15 November 2024 Anies mengunggah keterangan bahwa ia berbincang mengenai Jakarta bersama Pramono dan Rano di rumahnya. Juru bicaranya, Sahrin Hamid, menutup ruang tafsir dengan 1 kalimat pendek.
“Bukan condong, memang mendukung.”
Sahrin Hamid, juru bicara Anies Baswedan, 15 November 2024Sehari berikutnya, 16 November 2024, Basuki Tjahaja Purnama menyampaikan hal serupa kepada media dengan nada yang tidak kalah terbuka.
“Puji Tuhan bisa nambah suara untuk kemenangan Mas Pram dan Bang Doel.”
Basuki Tjahaja Purnama, kepada detikcom, 16 November 2024Puncaknya pada 17 November 2024, bersamaan dengan debat ketiga, digelar silaturahmi antara pendukung Basuki dan pendukung Anies yang menyerukan pemenangan 1 putaran. Analis SMRC Saidiman Ahmad menilai dukungan Anies terbukti lebih menentukan pilihan dibandingkan dukungan tokoh lain pada pilkada ini.
Pandangan redaksi Pelajaran teknisnya bukan soal siapa yang mendukung siapa, melainkan soal waktu dan syarat. Waktunya berada pada 12 hari terakhir, saat pemilih yang belum menentukan pilihan sedang mencari alasan terakhir. Syaratnya adalah kandidat harus lebih dulu bersih dari permusuhan dengan kedua kubu. Kandidat yang selama kampanye menyerang salah satu kubu tidak akan bisa memakai taktik ini, karena pintunya sudah tertutup sendiri.
Tiga rantai, dan celah yang kami biarkan terbuka
Bagian ini paling rawan menipu pembaca. Setelah hasil diketahui, sangat mudah menyusun rantai sebab akibat yang tampak mulus, seolah setiap keputusan otomatis menghasilkan akibat yang diinginkan. Kampanye nyata tidak pernah serapi itu. Karena itu setiap rantai di bawah kami lengkapi dengan penjelasan alternatif yang juga masuk akal. Ketuk untuk membuka.
R1Pasangan nomor urut 3Rantai kemenangan, kekuatan bukti kuat
Bobot kemenangan bisa jadi lebih ditentukan kejenuhan pemilih terhadap koalisi besar dan terhadap campur tangan pusat, bukan oleh figur Rano maupun oleh dukungan 2 mantan gubernur. Kami tidak menemukan data yang bisa memisahkan bobot kedua penjelasan ini, sehingga besarnya kontribusi masing masing tetap berupa dugaan.
R2Pasangan nomor urut 1Rantai kekalahan, kekuatan bukti sedang
Kekalahan bisa jadi lebih ditentukan oleh persepsi bahwa kandidat belum mengakar di Jakarta, dan blunder hanya mempercepat sesuatu yang sudah bergerak. Kami tidak memperoleh dokumen internal koalisi, sehingga penilaian mengenai mesin yang tidak solid bersandar pada pengamat dan pada pola hasil, bukan pada bukti langsung. Karena itu rantai ini kami beri kekuatan bukti sedang, bukan kuat.
R3Pasangan nomor urut 2Rantai kekalahan yang melampaui prediksi, kekuatan bukti sedang
Sebagian suara itu mungkin bukan protes yang disadari, melainkan efek penampilan debat yang viral, atau akibat seruan mencoblos di luar 2 kandidat utama yang beredar di sebagian kelompok pemilih. Kami mencari data sebaran per kecamatan yang bisa membuktikan pola protes secara kuantitatif dan tidak menemukannya, sehingga tafsir suara protes tetap berstatus analisis, bukan fakta.
Mengapa celahnya sengaja dibiarkan terbuka. Rantai sebab akibat yang mulus tanpa celah biasanya tanda bahwa penulisnya menyusun cerita dari hasil, bukan dari bukti. Dalam kampanye, banyak faktor bekerja bersamaan dan tidak ada 1 keputusan yang bisa diklaim sebagai penyebab tunggal. Yang bisa kami pastikan adalah arah hubungannya, bukan besarnya.
Apa yang bisa ditiru, apa yang harus dihindari, dan apa yang hanya bisa terjadi di Jakarta
Bagian ini kami susun untuk pembaca yang bekerja di kampanye. Setiap butir dilengkapi syarat keberhasilan, jenis daerah yang cocok, dan risikonya. Butir yang tidak punya syarat jelas bukan strategi, melainkan harapan. Ketuk untuk memilih kategori.
Status bagian ini. Seluruh butir di atas adalah pandangan redaksi Head Politika yang disusun dari temuan laporan ini, bukan rekomendasi resmi lembaga mana pun, dan bukan jaminan hasil. Kami menyampaikannya terbuka agar bisa dibantah, dikoreksi, atau dikembangkan.
Penutup: dari politik yang memecah pada 2017 menjadi politik yang menjahit pada 2024
Bila kita berdiri agak jauh dan melihat 3 pilkada Jakarta terakhir sebagai 1 rangkaian, ada pergeseran yang cukup mencolok dalam hal cara memenangi kota ini. Pada 2012 yang menonjol adalah kekuatan figur baru dan kunjungan langsung. Pada 2017 yang menonjol adalah mobilisasi berdasarkan identitas, dengan biaya sosial yang masih terasa bertahun tahun sesudahnya. Pada 2024, strategi yang menang justru bekerja ke arah sebaliknya, yaitu menurunkan tensi dan menjahit kembali 2 kelompok yang dulu berhadapan.
Ini bukan berarti politik Jakarta sudah sembuh. Survei Litbang Kompas periode 20 sampai 25 Oktober 2024 memang menemukan latar agama pendukung kedua kandidat utama hampir tidak berbeda, dan itu kabar baik. Namun partisipasi yang hanya 57,52 persen menunjukkan bahwa berkurangnya polarisasi tidak otomatis berarti bertambahnya keterlibatan. Sebagian warga tidak lagi bertengkar, tetapi juga tidak lagi datang.
Bagi pembaca yang bekerja di kampanye, pelajaran terpentingnya mungkin terdengar tidak dramatis. Kampanye yang menang pada 2024 bukan kampanye dengan uang terbesar, bukan pula kampanye dengan partai terbanyak. Yang membedakannya adalah kejujuran menilai kelemahan sendiri, kedisiplinan menjaga 1 nada dari hari pertama sampai hari terakhir, dan kesabaran menahan diri untuk tidak menyerang. Ketiganya tidak butuh anggaran besar, tetapi butuh keputusan yang diambil lebih awal. Bagaimana keputusan semacam itu biasanya disiapkan pernah kami uraikan pada panduan mengenai peran konsultan politik dan cara memilihnya.
Satu catatan terakhir yang perlu kami sampaikan terus terang. Laporan ini disusun setelah hasilnya diketahui, dan itu selalu membuat segala sesuatu tampak lebih terencana daripada yang sebenarnya terjadi. Sebagian keputusan yang kami bedah di atas kemungkinan besar diambil dalam keadaan terburu buru, dengan informasi terbatas, dan sebagian keberhasilannya datang dari keberuntungan. Kami mencoba menandai batas itu di sepanjang laporan, tetapi pembaca tetap perlu memegangnya sendiri.
7 pertanyaan tentang strategi kampanye Pilkada Jakarta 2024
01Berapa lama waktu kampanye Pramono Anung dan Rano Karno?
Dari pendaftaran ke KPU pada 28 Agustus 2024 sampai pemungutan suara 27 November 2024 tersedia 91 hari. Masa kampanye resminya lebih pendek lagi, yaitu 25 September sampai 23 November 2024 atau sekitar 60 hari. Keputusan mengusung Pramono sendiri baru diambil Megawati Soekarnoputri pada 27 Agustus 2024, yaitu 1 hari sebelum pendaftaran.
02Siapa ketua tim pemenangan masing masing pasangan?
Tim Pramono Anung dan Rano Karno diketuai Lies Hartono, pelawak yang dikenal sebagai Cak Lontong, dengan Todung Mulya Lubis sebagai ketua dewan pengarah. Tim Ridwan Kamil dan Suswono diketuai Ahmad Riza Patria dari Gerindra, dengan sekretaris Basri Baco. Untuk pasangan Dharma Pongrekun dan Kun Wardana, kami tidak menemukan struktur tim pemenangan yang dirinci secara terbuka.
03Apa itu politik riang gembira dan siapa yang menetapkannya?
Politik riang gembira adalah gaya kampanye bernada perayaan yang menghindari serangan terhadap lawan. Konsep ini ditetapkan pada rapat perdana tim pemenangan 15 September 2024 yang dipimpin Lies Hartono. Dasar pemikirannya, untuk mencapai kebahagiaan warga pun caranya harus memakai cara cara yang membahagiakan. Perlu dicatat bahwa penetapan ini bersumber dari pengakuan pelaku kampanye sendiri, sehingga wajar bila terdengar rapi. Yang bisa diperiksa secara mandiri adalah konsistensi gaya itu dari rapat pertama sampai kampanye penutup di Gelora Bung Karno.
04Bagaimana dukungan Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama diperoleh?
Rangkaiannya berlangsung dalam 3 hari. Pada 15 November 2024 Anies mengunggah keterangan bahwa ia berbincang mengenai Jakarta bersama Pramono dan Rano di rumahnya, dan juru bicaranya Sahrin Hamid menegaskan bahwa itu memang dukungan. Pada 16 November 2024 Basuki menyatakan harapannya bisa menambah suara bagi pasangan tersebut. Pada 17 November 2024 digelar silaturahmi antara pendukung kedua tokoh. Landasannya sudah disiapkan lebih awal lewat posisi melanjutkan program kedua gubernur tanpa memihak salah satu.
05Berapa biaya per suara ketiga pasangan?
Dihitung dari laporan resmi dana kampanye dibagi perolehan suara, hasilnya sekitar Rp38.937 untuk Ridwan Kamil dan Suswono, Rp28.958 untuk Pramono dan Rano, serta Rp635 untuk Dharma dan Kun. Angka ini bukan ukuran efisiensi mutlak karena laporan resmi hanya mencatat dana yang dilaporkan, tidak menghitung nilai dukungan tokoh dan kerja relawan yang tidak dibayar, dan karena pasangan dengan biaya terendah tetap kalah.
06Mengapa koalisi 12 partai bisa kalah?
Tidak ada 1 jawaban tunggal yang terbukti. Yang bisa dikatakan, pengamat menilai kekompakan koalisi itu menyerupai perkawinan yang dipaksakan dan kepentingan sebagian partai pengusung kurang terakomodasi, sehingga kendali pesan harian menjadi longgar. Ditambah positioning yang tidak langsung menjawab keluhan terbesar warga, restu tokoh pusat yang tidak bertukar menjadi suara, dan blunder yang terjadi 2 kali. Kami tidak memperoleh dokumen internal koalisi, sehingga penilaian ini bersandar pada pengamat dan pada pola hasil.
07Strategi mana yang bisa ditiru di daerah lain?
Empat taktik yang paling mungkin dipindahkan adalah menetapkan nada kampanye sejak rapat pertama, menjual program dalam bentuk angka yang bisa dihitung warga, memilih pendamping yang menutup kelemahan kandidat utama, dan memusatkan kendali pesan pada sedikit orang. Yang tidak bisa ditiru adalah 3 hal yang bergantung pada konteks Jakarta, yaitu aturan ambang lebih dari 50 persen, keberadaan 2 mantan gubernur populer yang bisa dirangkul, dan konsumsi media warga yang sangat tinggi. Rinciannya beserta syarat dan risikonya ada pada Bagian 09.
Bagaimana laporan ini disusun, dan apa yang tidak kami temukan
Berbeda dari laporan pertama yang bertumpu pada angka resmi, laporan ini bekerja pada bahan yang jauh lebih licin, yaitu strategi. Sebagian besar keterangan tentang strategi datang dari pelaku yang punya kepentingan menjelaskan dirinya sendiri. Karena itu kami memakai 5 label kualitas bukti sepanjang artikel, dan tidak menghapus keterangan yang bertentangan.
Tiga prinsip yang kami pegang. Pertama, klaim orang dalam tidak pernah disajikan sebagai fakta, dan nama pengucapnya selalu disebut agar pembaca bisa menilai kepentingannya. Kedua, setiap rantai sebab akibat wajib disertai penjelasan alternatif, karena rantai yang mulus tanpa celah biasanya tanda cerita disusun dari hasil, bukan dari bukti. Ketiga, pihak yang kalah juga dicatat hal benarnya, dan pihak yang menang juga dicatat keberuntungannya.
Ada 1 kelompok angka yang kami hitung sendiri, yaitu biaya per suara dan rasio perbandingannya. Perhitungannya sederhana, yaitu pengeluaran pada laporan resmi dibagi perolehan suara resmi, dan bisa diperiksa ulang siapa pun.
!KeterbukaanDelapan hal yang dicari tetapi tidak ditemukan
Kami memilih mengosongkan daripada menambal dengan perkiraan. Berikut yang belum tertutup.
1. Nama konsultan politik dan lembaga survei internal yang bekerja untuk ketiga pasangan. Tidak diumumkan terbuka, sehingga tidak ada nama konsultan yang kami sebut.
2. Struktur rinci tim pemenangan Dharma Pongrekun dan Kun Wardana.
3. Dokumen rencana kampanye, notula rapat, atau materi presentasi internal ketiga tim.
4. Data belanja iklan politik dari pustaka transparansi iklan Google. Yang kami peroleh hanya pemantauan pustaka iklan Meta.
5. Sebaran suara Dharma dan Kun per kecamatan, yang diperlukan untuk menguji tafsir suara protes secara kuantitatif.
6. Jumlah saksi yang benar benar terisi tiap kubu di 14.835 tempat pemungutan suara.
7. Riset akademik atau tesis komprehensif yang membedah kampanye Pilkada Jakarta 2024.
8. Survei persepsi pemenang debat kedua dan ketiga.
Bila Anda memiliki dokumen untuk salah satu butir di atas, redaksi terbuka untuk memperbarui laporan ini.
Catatan konflik keterangan Terdapat 3 titik perbedaan yang kami tampilkan apa adanya. Pertama, jumlah partai pengusung Ridwan Kamil dan Suswono tercatat 12 partai secara resmi, sementara Ridwan Kamil sendiri pernah menyebut 15 partai pendukung. Perbedaan ini muncul karena sebagian partai tidak memiliki kursi DPRD. Kedua, hitungan internal tim yang kalah menyatakan pemilihan berlangsung 2 putaran, dan itu bertolak belakang dengan hasil resmi serta seluruh hitung cepat lembaga kredibel. Ketiga, klaim mengenai jumlah titik kunjungan harian berasal dari tim sendiri dan tidak dapat kami verifikasi secara mandiri.
Sumber yang dapat Anda periksa sendiri
Berikut sumber yang tautannya sudah kami verifikasi dapat diakses. Sumber lain yang dipakai tetapi belum terverifikasi tautannya kami sebutkan namanya saja di bawah, agar Anda tidak diarahkan ke tautan yang salah.
Sumber berikut dipakai dalam laporan tetapi tautan langsungnya belum kami verifikasi, sehingga sengaja tidak kami tautkan.
- Rilis survei Charta Politika mengenai pemeringkatan isu warga Jakarta, dipublikasikan 3 Oktober 2024, sebagaimana disampaikan Direktur Eksekutif Yunarto Wijaya.
- Rilis survei SMRC periode 31 Oktober sampai 9 November 2024 mengenai tingkat pengenalan dan kedisukaan calon.
- Pemberitaan mengenai rapat perdana tim pemenangan pada 15 September 2024 dan penetapan gaya kampanye.
- Pemberitaan mengenai pernyataan Pramono Anung di Kelapa Gading pada 23 Oktober 2024.
- Pemberitaan detikcom mengenai pernyataan Basuki Tjahaja Purnama pada 16 November 2024.
- Pemberitaan mengenai proses verifikasi faktual dukungan pasangan perseorangan dan laporan pencatutan nomor induk kependudukan.
- Pemberitaan mengenai kampanye akbar penutup pada 23 November 2024.
- Analisis Indikator Politik Indonesia mengenai perbandingan kanal kampanye antarpasangan.
Bila terdapat tautan yang tidak lagi dapat diakses atau angka yang keliru, silakan sampaikan kepada redaksi agar kami perbarui.
Laporan ini disusun, dianalisis, dan dipublikasikan oleh Tim Riset Head Politika. Ini bagian kedua dari 2 laporan mengenai Pilkada Gubernur Jakarta 2024. Bagian pertama membedah angka dan hasil resmi Pilkada Jakarta 2024, bagian kedua membedah strategi dan sebab akibatnya.
Laporan disusun sebagai riset independen. Kami tidak mewakili kepentingan pemerintah, partai politik, kandidat, lembaga survei, atau pihak mana pun yang disebut di dalamnya. Bagian yang berisi penilaian ditandai sebagai pandangan redaksi, dan bagian yang berisi keterangan pelaku kampanye ditandai sebagai klaim orang dalam. Bila terdapat angka yang keliru, konteks yang terlewat, atau keterangan yang perlu diluruskan, redaksi terbuka untuk koreksi, diskusi, dan hak jawab.
Dipublikasikan 22 Agustus 2026. Head Politika, headpolitika.com.
Ingin Peta Politik Dapil Anda Dibaca dengan Data?
Diskusikan situasi Anda langsung dengan tim kami. Tanpa biaya, tanpa keterikatan, hanya pembicaraan jujur tentang peluang Anda.
Mulai Konsultasi Gratis
