Konsultasi Gratis
Riset

Elektabilitas Capres 2029: Peta Survei dari Waktu ke Waktu

Ditulis oleh Tim Head Politika 27 Agustus, 2026 33 menit baca
Grafik perbandingan elektabilitas calon presiden 2029 dari beberapa lembaga survei
Pelacak Survei Nasional
Halaman pelacak, diperbarui berkala
Elektabilitas Capres 2029: Peta Survei dari Waktu ke Waktu

Kumpulan hasil survei elektabilitas calon presiden 2029 dari berbagai lembaga, lengkap dengan tanggal lapangan, jumlah responden, margin of error, dan bentuk pertanyaannya, supaya angka yang berbeda beda bisa dibaca dengan takaran yang sama.

13survei
Pengukuran nasional yang berhasil ditelusuri sejak Januari 2025
37,8poin
Selisih terlebar untuk satu nama yang sama pada periode berdekatan
28,8persen
Angka belum menentukan tertinggi yang tercatat dalam kumpulan ini
0lembaga
Yang mengungkap sumber dana surveinya di dalam rilis publik

Elektabilitas capres 2029 adalah tingkat dukungan publik terhadap nama nama yang disebut sebagai calon presiden pada Pemilu 2029, sebagaimana terekam oleh survei opini pada waktu tertentu. Halaman ini mengumpulkan pengukuran itu dari banyak lembaga, menyusunnya berurutan waktu, dan menampilkan cara tiap lembaga bekerja. Tujuannya satu: menyediakan tempat rujukan ketika angka yang beredar saling berselisih.

Persoalannya nyata. Pada awal 2026, satu nama yang sama bisa tercatat 60,1 persen di satu lembaga dan 22,3 persen di lembaga lain, padahal jarak waktu lapangannya hanya beberapa pekan. Pembaca lalu bertanya mana yang benar. Jawabannya biasanya bukan salah satu, melainkan keduanya benar untuk pertanyaan yang berbeda. Perbedaan itu justru dapat dilacak sebabnya, dan itulah yang dikerjakan halaman ini.

Baca ini lebih dulu

Elektabilitas bukan ramalan hasil pemilu. Pencalonan resmi Pemilu 2029 belum dibuka, tahapannya belum berjalan, dan tidak satu pun nama di halaman ini berstatus calon. Seluruh angka adalah pengukuran opini pada saat survei dilakukan, bukan prediksi pemenang. Halaman ini juga tidak menyimpulkan lembaga mana yang paling akurat. Yang disajikan adalah selisihnya, beserta keterangan yang cukup agar pembaca menilai sendiri.

Poin Penting dalam 30 DetikRingkasan temuan
  • 1Arah yang konsisten di banyak lembaga sepanjang 2026: dukungan untuk Prabowo Subianto menurun, dukungan untuk Dedi Mulyadi naik. Besaran angkanya berbeda beda, arahnya sama.
  • 2Selisih antarlembaga paling sering lahir dari bentuk pertanyaan, bukan dari perubahan opini. Pertanyaan terbuka tanpa daftar nama dan daftar tertutup berisi belasan nama menghasilkan angka yang jauh berbeda untuk orang yang sama.
  • 3Angka belum menentukan sama pentingnya dengan angka dukungan. Pada satu pengukuran angkanya 2,3 persen, pada pengukuran lain 28,8 persen. Peta dengan undecided besar jauh lebih cair daripada yang terlihat.
  • 4Menjelang Pemilu 2024, survei elektabilitas jauh hari menempatkan angka pemenang lebih rendah daripada hasil resmi KPU, sedangkan hitung cepat di hari pemungutan suara sangat dekat dengan hasil akhir. Keduanya alat yang berbeda.
  • 5Satu dokumen survei berisi 32 nama yang beredar pada Juli 2026 dibantah oleh lembaga yang namanya dicatut. Dokumen itu tidak dipakai sebagai data di halaman ini.
  • 6Tidak satu pun rilis survei nasional dalam kumpulan ini yang menyebutkan sumber dananya, meski pelaporan sumber dana diwajibkan pada masa tahapan pemilu.

Rincian dan sumber tiap butir ada di bagian bernomor di bawah. Seluruh angka dalam ringkasan ini berasal dari tabel yang sama, sehingga dapat ditelusuri baris per baris.

1Dasar Pembacaan

Pengertian Singkat dan Cara Membaca Halaman Ini

Sebelum masuk ke angka, ada tiga istilah yang perlu disepakati lebih dulu, karena ketiganya sering tertukar dalam pemberitaan. Pengertian ringkas di bawah cukup untuk membaca halaman ini. Uraian yang lebih panjang tentang konsep elektabilitas dan tentang metodologi survei disiapkan sebagai bahasan tersendiri.

Tabel Definisi
3 Istilah yang Sering Tertukar

Perbedaan ketiganya menjelaskan mengapa satu tokoh bisa sangat dikenal tetapi angkanya kecil, dan sebaliknya.

Popularitas
Seberapa banyak responden mengenal nama seseorang. Diukur dengan pertanyaan apakah responden pernah mendengar nama tersebut. Angka besar di sini tidak berarti dukungan.
Elektabilitas
Seberapa banyak responden memilih nama itu bila pemilihan dilakukan hari ini. Inilah angka yang dikumpulkan halaman ini. Nilainya sangat bergantung pada bagaimana pertanyaannya diajukan.
Belum menentukan
Bagian responden yang tidak menjawab atau menyatakan belum punya pilihan. Sering diabaikan, padahal angka ini menentukan seberapa longgar sisa ruang yang masih terbuka.

Catatan bentuk pertanyaan. Sepanjang halaman ini, pertanyaan dibedakan menjadi tiga: terbuka atau top of mind, ketika responden menyebut nama sendiri tanpa dibacakan daftar; semi terbuka, ketika daftar dibacakan tetapi responden boleh menyebut nama di luar daftar; dan tertutup, ketika responden memilih dari daftar nama yang sudah ditetapkan. Penanda ini melekat pada setiap baris data.

Aturan Praktis
Kapan 2 Angka Survei Boleh Dibandingkan

Sebagian besar kebingungan pembaca hilang bila dua syarat berikut diperiksa lebih dulu.

Boleh dibandingkan
Bila 3 hal ini sama
  • Bentuk pertanyaannya sama, misalnya sama sama daftar tertutup dengan jumlah nama yang mirip
  • Cakupan wilayahnya sama, sama sama nasional atau sama sama satu provinsi
  • Waktu lapangannya berdekatan dan tidak dipisahkan peristiwa politik besar
Tidak boleh dibandingkan
Bila salah satu terjadi
  • Satu memakai pertanyaan terbuka, satu lagi memakai daftar tertutup
  • Satu survei nasional, satu lagi survei satu daerah saja
  • Selisihnya lebih kecil daripada margin of error kedua survei, sehingga perbedaannya belum tentu nyata

Cara memakai margin of error. Bila sebuah survei menyatakan margin of error 2,9 persen, angka 46,7 persen sebaiknya dibaca sebagai kisaran sekitar 43,8 sampai 49,6 persen. Dua angka yang kisarannya bertumpang tindih belum dapat disebut berbeda. Pergeseran baru layak disebut pergerakan bila melampaui kisaran itu, dan idealnya terlihat pada lebih dari satu lembaga.

2Kumpulan Data

Daftar Lengkap Survei Beserta Metodenya

Tabel di bawah adalah inti halaman ini. Setiap baris memuat keterangan yang diperlukan untuk menilai sebuah angka: tanggal lapangan, tanggal rilis, jumlah responden, cakupan wilayah, cara wawancara, margin of error, bentuk pertanyaan, sumber dana, dan asal datanya. Bila salah satu keterangan tidak tersedia dalam rilis maupun pemberitaan, kolomnya ditulis tidak dirinci, bukan dikira kira.

Perhatikan dua kolom yang paling sering menjelaskan perbedaan angka. Kolom bentuk pertanyaan menandai apakah responden menyebut nama sendiri atau memilih dari daftar. Kolom cara wawancara menandai apakah wawancara dilakukan tatap muka, lewat telepon, atau campuran. Dua survei dengan penanda berbeda pada kolom ini memang tidak dirancang untuk menghasilkan angka yang sama.

Tabel Induk
13 Survei Nasional dan 1 Dokumen yang Ditandai

Pilih periode untuk melihat rinciannya. Baris disusun menurut tanggal lapangan, bukan tanggal rilis, karena tanggal lapangan adalah waktu opini itu benar benar diukur.

Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom.

LembagaLapanganRilisRespondenWilayahWawancaraMoEBentuk pertanyaanSumber danaAsal data
Indikator Politik Indonesia16 sampai 21 Jan 202527 Jan 20251.220Nasional, 38 provinsiTatap muka2,9 persenTertutupTidak diungkapkanRilis asli
Lembaga Survei Indonesia20 sampai 28 Jan 20255 Feb 20251.220NasionalTatap muka2,9 persenTertutupTidak diungkapkanKanal resmi
Litbang Kompas
survei Jawa Barat, bukan nasional
1 sampai 5 Jul 202524 Agu 2025400Jawa Barat sajaTatap muka4,9 persenTidak dirinciMandiri, Harian KompasRilis asli
Index Politica1 sampai 10 Okt 2025Oktober 20251.610NasionalTelepon1,6 persenTertutupTidak diungkapkanBerita
Poltracking Indonesia3 sampai 10 Okt 202519 Okt 20251.220Nasional, 38 provinsiTatap muka2,9 persenTerbuka dan Tertutup 10, 3, 2 namaTidak diungkapkanRilis asli
Indikator Politik Indonesia20 sampai 27 Okt 20258 Nov 20251.220Nasional, 38 provinsiTatap muka2,9 persenTertutup bertingkatTidak diungkapkanRilis asli

Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom.

LembagaLapanganRilisRespondenWilayahWawancaraMoEBentuk pertanyaanSumber danaAsal data
Indekstat11 sampai 25 Jan 202612 Feb 20261.200NasionalTidak dirinci2,9 persenTerbuka dan Tertutup 16 namaTidak diungkapkanBerita
Indonesian Public Institute30 Jan sampai 5 Feb 202610 Feb 20261.241NasionalTidak dirinci2,78 persenTertutupTidak diungkapkanBerita
Median
keterangan metode tidak lengkap
Februari 202624 Feb 2026Tidak dirinciNasionalTidak dirinciTidak dirinciTidak dirinciTidak diungkapkanBerita
Poltracking Indonesia2 sampai 8 Mar 202613 Apr 20261.220Nasional, 38 provinsiTatap muka2,9 persenTerbuka, spontanTidak diungkapkanRilis asli
SMRC5 sampai 19 Jul 202629 Jul 2026749NasionalTelepon 83,8 persen, tatap muka 16,2 persen3,7 persenSemi terbuka 20 namaTidak diungkapkanRilis via media
Indonesia Political Opinion
tanggal lapangan tidak dirinci
Tidak dirinci9 Agu 20261.200NasionalTidak dirinci2,9 persenTerbukaTidak diungkapkanBerita
Tempo Data Science31 Jul sampai 11 Agu 202626 Agu 20261.260Nasional, 38 provinsiTatap muka2,9 persenTerbuka dan TertutupTidak diungkapkanRilis via media
DokumenKlaim isiStatusAsal data
Dokumen berlabel survei Indikator berisi 32 namaMengklaim lapangan 14 sampai 24 Juli 2026 dengan 1.200 responden dan simulasi 32 namaDibantah oleh Indikator Politik Indonesia, yang menyatakan tidak pernah menulis maupun mempublikasikan survei tersebutBerita

Mengapa dokumen ini tetap dimuat. Dokumen itu sempat beredar luas dan angkanya dikutip ulang di banyak kanal. Menghapusnya dari halaman ini justru menyulitkan pembaca yang mencari kejelasan. Dokumen ditampilkan sebagai bantahan, ditandai jelas, dan angkanya tidak dipakai di tabel mana pun dalam halaman ini.

Cara membaca kolom asal data. Penanda rilis asli berarti angka diambil dari dokumen atau siaran pers lembaga bersangkutan. Penanda berita berarti rilis aslinya tidak dapat ditemukan dan angka diambil dari pemberitaan yang menyebut lembaga, tanggal lapangan, serta margin of error. Baris bernaung latar kuning adalah baris yang salah satu keterangan pentingnya tidak lengkap, atau yang cakupannya bukan nasional, sehingga tidak sebanding dengan baris lain.

3Hasil per Nama

Hasil Tiap Survei untuk Setiap Nama

Tabel berikut menyusun hasil tiap survei dalam satu bidang yang sama, satu baris per pengukuran, satu kolom per nama. Kolom paling kanan memuat angka belum menentukan, dan sebaiknya dibaca bersamaan dengan kolom lainnya. Perlu ditegaskan sekali lagi bahwa baris baris ini tidak seluruhnya sebanding satu sama lain, karena bentuk pertanyaannya berbeda. Yang sebanding adalah baris dengan penanda bentuk pertanyaan yang sama.

Beberapa lembaga menampilkan lebih dari satu simulasi dalam satu rilis, misalnya pertanyaan terbuka dan daftar tertutup sekaligus. Dalam hal itu keduanya ditulis sebagai baris terpisah, karena menggabungkannya akan menyamarkan justru bagian yang paling menjelaskan.

Tabel Hasil
Angka 6 Nama yang Paling Sering Diukur

Seluruh angka dalam persen. Tanda strip berarti nama itu tidak disebut dalam rilis yang bersangkutan, bukan berarti nol.

Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom.

PengukuranBentukPrabowoDedi MulyadiAniesGibranGanjarAHYBelum menentukan
Indikator
16 sampai 21 Jan 2025
Tertutup68,9tidak disebut8,63,85,93,12,3
LSI
20 sampai 28 Jan 2025
Tertutup69,41,08,26,42,23,14,9
Litbang Kompas
1 sampai 5 Jul 2025, Jawa Barat
Tidak dirinci36,930,310,1tidak disebuttidak disebuttidak disebut22,7 gabungan
Index Politica
1 sampai 10 Okt 2025
Tertutup40,12,513,44,87,15,13,1
Poltracking
3 sampai 10 Okt 2025
Tertutup48,515,76,3tidak disebut2,04,93,0
Indikator
20 sampai 27 Okt 2025
Tertutup46,718,49,04,83,73,97,6
Indekstat
11 sampai 25 Jan 2026
Terbuka60,15,310,6tidak disebuttidak disebuttidak disebuttidak dilaporkan
Indekstat
11 sampai 25 Jan 2026
Tertutup 16 nama48,916,910,13,43,70,97,4
Indonesian Public Institute
30 Jan sampai 5 Feb 2026
Tertutup22,37,98,512,29,01,933,3 gabungan
Median
rilis 24 Feb 2026
Tidak dirinci29,017,020,6tidak disebut5,24,2tidak dilaporkan
Poltracking
2 sampai 8 Mar 2026
Terbuka32,913,59,2tidak disebuttidak disebutdi bawah 528,8
SMRC
5 sampai 19 Jul 2026
Semi terbuka 20 nama14,535,08,27,74,24,912,8
Indonesia Political Opinion
rilis 9 Agu 2026
Terbuka23,4di bawah Prabowotidak dirincitidak dirincitidak dirincitidak dirinci17
Tempo Data Science
31 Jul sampai 11 Agu 2026
Terbuka20306tidak disebuttidak disebuttidak disebuttidak dirinci
Tempo Data Science
31 Jul sampai 11 Agu 2026
Tertutup1541 atau 4210643tidak dirinci

Dua angka untuk satu survei. Pada baris terakhir, hasil Dedi Mulyadi dikutip berbeda oleh dua media untuk rilis yang sama. Suara.com menulis 41 persen, sedangkan TitaStory menulis 42 persen dan memuat rincian nama yang lebih lengkap. Rilis aslinya tidak berhasil diakses langsung, sehingga selisih 1 poin ini belum dapat direkonsiliasi. Keduanya ditampilkan apa adanya, dan tidak ada yang dipilih diam diam.

Perbandingan
2 Pengukuran Terbaru yang Tersedia

Dua lembaga berbeda, dua metode berbeda, arah yang sama. Panjang bar mengikuti skala 0 sampai 100 persen, sehingga tinggi rendahnya sebanding apa adanya.

SMRC
Lapangan 5 sampai 19 Juli 2026, 749 responden, margin of error 3,7 persen, semi terbuka dengan 20 nama, belum menentukan 12,8 persen.
Dedi Mulyadi35,0
Prabowo Subianto14,5
Anies Baswedan8,2
Gibran Rakabuming7,7
Tempo Data Science
Lapangan 31 Juli sampai 11 Agustus 2026, 1.260 responden, margin of error 2,9 persen, simulasi dengan daftar nama. Angka Dedi Mulyadi dikutip 41 persen oleh satu media dan 42 persen oleh media lain, di sini dipakai angka terendah.
Dedi Mulyadi41
Prabowo Subianto15
Anies Baswedan10
Gibran Rakabuming6

Pandangan Head Politika. Selisih 6 poin pada angka Dedi Mulyadi antara kedua lembaga tidak perlu dibaca sebagai pertentangan. Yang layak diperhatikan justru kesamaannya, yaitu urutan yang sama dan jarak yang lebar antara peringkat pertama dan kedua. Sinyal yang muncul di dua lembaga dengan metode berbeda umumnya lebih kuat daripada satu angka tunggal, sebesar apa pun angka itu.

4Akar Perbedaan

4 Sebab Angka Antarlembaga Berbeda

Pertanyaan yang paling sering muncul dari pembaca bukan berapa angkanya, melainkan mengapa angkanya berbeda beda. Jawaban singkatnya, lembaga survei tidak sedang mengajukan pertanyaan yang sama. Ketuk tiap sebab di bawah untuk melihat contoh nyatanya dari tabel yang sudah ditampilkan.

01Sebab TerbesarBentuk pertanyaan dan panjang daftar nama

Pertanyaan terbuka meminta responden menyebut nama sendiri tanpa dibacakan daftar. Dalam bentuk ini, nama yang paling dikenal dan paling sering muncul di pemberitaan cenderung terkumpul di puncak, karena nama itulah yang paling mudah diingat. Sebaliknya, daftar tertutup berisi belasan nama membagi suara ke lebih banyak pilihan, sehingga angka nama teratas menyusut.

Contoh dari tabel, satu lembaga satu periode

Indekstat melakukan lapangan pada 11 sampai 25 Januari 2026 dengan 1.200 responden. Pada pertanyaan terbuka, Prabowo tercatat 60,1 persen. Pada simulasi tertutup berisi 16 nama, dalam survei yang sama, angkanya 48,9 persen. Selisih 11,2 poin itu muncul tanpa satu hari pun berlalu, karena yang berubah hanya cara bertanya.

Contoh dari tabel, dua lembaga berdekatan

Pada periode Januari sampai Februari 2026, Prabowo tercatat 60,1 persen pada pertanyaan terbuka Indekstat dan 22,3 persen pada simulasi Indonesian Public Institute yang memasukkan lebih banyak nama, termasuk Gibran Rakabuming, Pramono Anung, dan Sjafrie Sjamsoeddin. Selisih 37,8 poin ini adalah yang terlebar dalam kumpulan halaman ini.

Karena itu, satu angka tanpa keterangan bentuk pertanyaan sebenarnya belum bisa dinilai. Bila sebuah pemberitaan menyebut angka tanpa menyertakan keterangan ini, angka tersebut tidak dapat dibandingkan dengan angka lembaga lain.

02Sebab KeduaCara wawancara menentukan siapa yang terjaring

Wawancara tatap muka menjangkau responden di rumah, termasuk mereka yang jarang memakai telepon untuk urusan seperti ini. Wawancara telepon lebih cepat dan lebih murah, tetapi sebaran respondennya condong ke kelompok yang lebih mudah dihubungi. Perbedaan cara menjaring ini menghasilkan komposisi responden yang tidak persis sama, meski keduanya memakai penarikan sampel acak.

Contoh dari tabel

Pada Oktober 2025, tiga lembaga melakukan lapangan pada rentang waktu yang berdekatan. Poltracking dan Indikator memakai tatap muka dan mencatat Prabowo pada 48,5 persen dan 46,7 persen. Index Politica memakai telepon dan mencatat 40,1 persen. Selisih terlebarnya 8,4 poin, jauh melampaui margin of error ketiganya.

Ini bukan berarti salah satu cara lebih benar. Keduanya sah, dan keduanya dipakai lembaga yang kredibel. Yang tidak sah adalah membandingkan keduanya seolah setara tanpa menyebut perbedaan metodenya.

03Sebab KetigaJarak waktu lapangan dan peristiwa di antaranya

Dua survei yang dirilis pada bulan yang sama belum tentu mengukur opini pada waktu yang sama. Jarak antara tanggal lapangan dan tanggal rilis bisa mencapai lebih dari satu bulan. Bila di antara keduanya terjadi peristiwa politik besar, angka yang lebih tua sebenarnya sedang menggambarkan keadaan yang sudah berlalu.

Contoh dari tabel

Poltracking melakukan lapangan pada 2 sampai 8 Maret 2026, tetapi rilisnya baru keluar 13 April 2026, berjarak 36 hari. Tempo Data Science melakukan lapangan pada 31 Juli sampai 11 Agustus 2026 dan merilisnya 26 Agustus 2026. Karena itu, di seluruh halaman ini baris disusun menurut tanggal lapangan, bukan tanggal rilis.

Aturan praktisnya sederhana. Ketika membaca berita survei, cari lebih dulu tanggal lapangannya. Bila yang disebut hanya tanggal rilis, angka itu belum punya penanda waktu yang berguna.

04Ketika Perbedaan Dibawa ke Forum EtikMekanisme audit ada, tetapi hanya mengikat anggota

Perbedaan hasil tidak selalu berhenti sebagai perdebatan metodologi. Indonesia punya preseden ketika dua lembaga besar berbeda hasil dan perkaranya dibawa ke dewan etik asosiasi. Contoh berikut bukan data capres, melainkan gambaran cara kerja mekanismenya.

Perkara Pilkada Jakarta 2024

Pada Oktober 2024, LSI dan Poltracking merilis hasil yang berbeda jauh untuk pemilihan yang sama. Dewan Etik Persepi memeriksa keduanya. LSI dinilai sesuai prosedur, sedangkan Dewan Etik menyatakan tidak dapat memverifikasi implementasi metodologi Poltracking karena perbedaan pada dua kumpulan data mentah yang dikirimkan. Poltracking menyatakan keberatan dan menilai putusan itu tidak adil, lalu memilih keluar dari keanggotaan Persepi.

Dua hal yang perlu dicatat pembaca. Pertama, mekanisme pemeriksaan itu ada dan pernah berjalan sampai membuka data mentah. Kedua, kewenangannya terbatas, karena sanksi asosiasi hanya mengikat anggotanya. Lembaga yang bukan anggota, atau yang keluar, tidak berada dalam jangkauan pemeriksaan itu.

5Uji Terhadap Kenyataan

Rekam Jejak Lembaga pada Pemilu 2024

Cara paling jujur menilai sebuah pengukuran adalah membandingkannya dengan kenyataan yang kemudian terjadi. Pemilu Presiden 2024 menyediakan bahan pembanding itu. Tabel berikut menempatkan survei elektabilitas terakhir tiap lembaga menjelang pemungutan suara berdampingan dengan hasil resmi KPU, lalu menghitung selisihnya dalam poin persentase.

Perlu ditegaskan lebih dulu apa yang sedang dan tidak sedang dilakukan tabel ini. Yang disajikan adalah selisih, bukan penilaian mutu lembaga. Survei elektabilitas mengukur opini pada saat lapangan, bukan meramal hasil. Sebagian selisih memang lahir dari perubahan pilihan pemilih pada hari hari terakhir, terutama ketika angka belum menentukan masih besar.

Tabel Rekam Jejak
Survei Terakhir Dibanding Hasil Resmi KPU 2024

Hasil resmi KPU untuk pasangan Prabowo dan Gibran adalah 58,58 persen, Anies dan Muhaimin 24,95 persen, serta Ganjar dan Mahfud 16,47 persen. Kolom selisih dihitung terhadap pasangan pemenang.

Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom.

LembagaTanggal lapanganPrabowo dan Gibran versi surveiHasil resmi KPUSelisih poinMoE yang dinyatakan
Indikator28 Jan sampai 4 Feb 202451,858,586,78 lebih rendah2,9 persen
Lembaga Survei Indonesia29 Jan sampai 5 Feb 202451,958,586,68 lebih rendah2,9 persen
LSI Denny JAAkhir Januari 202450,758,587,88 lebih rendah2,9 persen
Charta Politika4 sampai 11 Jan 202442,258,5816,38 lebih rendah2,82 persen
Litbang Kompas29 Nov sampai 4 Des 202339,358,5819,28 lebih rendah2,65 persen

Pola yang terlihat. Seluruh selisih bergerak ke arah yang sama, yaitu angka survei lebih rendah daripada hasil akhir, dan selisihnya melebar seiring makin jauhnya tanggal lapangan dari hari pemungutan suara. Survei Litbang Kompas yang lapangannya lebih dari 2 bulan sebelum pencoblosan mencatat angka belum menentukan 28,7 persen, dan sebagian besar suara itu belakangan terdistribusi ke pasangan pemenang.

Pembanding
Hitung Cepat di Hari Pemungutan Suara

Alat yang berbeda, ketepatan yang berbeda. Hitung cepat memakai sampel tempat pemungutan suara yang sudah selesai menghitung, bukan menanyakan niat memilih.

Hitung cepat 2024, pasangan Prabowo dan Gibran
Hasil resmi KPU 58,58 persen. Panjang bar mengikuti skala 0 sampai 100 persen.
Hasil resmi KPU58,58
Litbang Kompas58,47
Poltracking58,51

Kesimpulan yang boleh dan tidak boleh ditarik. Yang boleh: survei elektabilitas jauh hari adalah potret opini yang masih akan berubah, sedangkan hitung cepat adalah pengukuran hasil yang sudah terjadi. Yang tidak boleh: menyimpulkan bahwa lembaga dengan selisih terbesar pada 2024 pasti keliru pada pengukuran 2026, karena tanggal lapangan, bentuk pertanyaan, dan keadaan politiknya berbeda sama sekali. Pada Pemilu 2019, hitung cepat seluruh lembaga besar juga berada dalam kisaran sempit dari hasil resmi, sehingga pola ini konsisten lintas pemilu.

6Ruang yang Masih Terbuka

Angka Belum Menentukan dari Waktu ke Waktu

Angka ini paling jarang diberitakan, padahal paling menentukan cara membaca sisanya. Dukungan 42 persen dengan 10 persen pemilih belum menentukan berarti sangat berbeda dari dukungan 42 persen dengan 30 persen belum menentukan. Pada keadaan pertama peta sudah relatif mengeras, pada keadaan kedua peta masih sangat cair.

Deret Waktu
8 Pengukuran Angka Belum Menentukan

Sumbu tegak dalam persen. Warna titik menandai bentuk pertanyaan, karena naik turunnya angka ini lebih banyak mengikuti cara bertanya daripada mengikuti perubahan opini.

0 10 20 30 2,3 4,9 3,0 7,6 7,4 28,8 12,8 17 Jan 2025 Jan 2025 Okt 2025 Okt 2025 Jan 2026 Mar 2026 Jul 2026 Agu 2026 Indikator, LSI, Poltracking, Indikator, Indekstat, Poltracking, SMRC, Indonesia Political Opinion
Daftar tertutupSemi terbukaPertanyaan terbuka

Cara membaca lonjakan Maret 2026. Angka 28,8 persen pada pengukuran Poltracking bukan tanda tiba tiba banyak pemilih kehilangan pilihan. Pengukuran itu memakai pertanyaan terbuka tanpa dibacakan daftar nama, dan pada bentuk itu wajar bila banyak responden tidak menyebut nama siapa pun. Bandingkan hanya dengan pengukuran berwarna sama, jangan lintas warna.

Lembaga yang tidak melaporkan. Median pada rilis Februari 2026 dan Indonesian Public Institute pada Februari 2026 tidak melaporkan angka ini secara terpisah. Pada Indonesian Public Institute, angka belum menentukan tercampur dalam kategori gabungan bersama nama nama kecil, sehingga tidak dapat dipisahkan. Ketiadaan angka di sini tidak boleh dibaca sebagai nol.

7Pergerakan Nama

Pergerakan 6 Nama yang Konsisten Muncul

Bagian ini menampilkan datanya saja, tanpa penafsiran politik per tokoh. Pembacaan mendalam untuk tiap nama disiapkan sebagai bahasan tersendiri, karena masing masing menuntut ruang yang tidak muat di halaman peta seperti ini.

Grafik berikut hanya memuat pengukuran yang memakai daftar nama, agar setidaknya sebanding satu sama lain. Pengukuran Juli 2026 memakai daftar semi terbuka, dan itu ditandai pada keterangannya.

Deret Waktu
2 Nama Teratas pada 6 Pengukuran Berdaftar Nama

Sumbu tegak dalam persen. Titik kosong berarti nama itu belum disebut dalam rilis yang bersangkutan.

0 20 40 60 68,9 48,5 46,7 48,9 14,5 15 15,7 18,4 16,9 35,0 41 Jan 2025 Okt 2025 Okt 2025 Jan 2026 Jul 2026 Agu 2026 Indikator, Poltracking, Indikator, Indekstat, SMRC semi terbuka, Tempo Data Science
Prabowo SubiantoDedi Mulyadi

Catatan kesebandingan. Titik Juli 2026 berasal dari SMRC dengan daftar semi terbuka 20 nama dan 749 responden, jumlah responden terkecil dalam kumpulan ini dengan margin of error 3,7 persen. Titik Agustus 2026 berasal dari Tempo Data Science dengan 1.260 responden. Keduanya memakai daftar nama, tetapi tidak identik, sehingga kemiringan garis di ruas terakhir sebaiknya dibaca sebagai arah, bukan sebagai ukuran presisi.

Penanda Pergerakan
Bergerak atau Diam Terhadap Margin of Error

Sebuah perubahan disebut bergerak bila selisihnya melampaui margin of error kedua pengukuran dan terlihat pada lebih dari satu lembaga. Bila tidak, perubahan itu disebut diam, artinya masih dalam kisaran wajar sebuah pengukuran.

NamaRentang tercatatPenilaian
Prabowo SubiantoDari 68,9 persen pada Januari 2025 sampai 14,5 persen pada Juli 2026 dan 15 persen pada Agustus 2026Bergerak turun, jauh melampaui margin of error, terlihat pada beberapa lembaga
Dedi MulyadiDari 1,0 persen pada Januari 2025 sampai 35 persen dan 41 persen pada pertengahan 2026Bergerak naik, dikonfirmasi 2 lembaga dengan metode berbeda
Anies BaswedanBerkisar 6 sampai 13,4 persen, dengan satu pengukuran 20,6 persen pada Februari 2026Diam pada sebagian besar pengukuran, satu angka menyimpang berasal dari rilis yang metodenya tidak dirinci
Gibran RakabumingBerkisar 3,4 sampai 12,2 persen sebagai calon presidenDiam, sebaran angkanya mengikuti panjang daftar nama
Ganjar PranowoDari 5,9 persen pada Januari 2025 menjadi 4 persen pada Agustus 2026Diam, penurunannya kecil dan sebagian dalam kisaran margin of error
Agus Harimurti YudhoyonoBerkisar 0,9 sampai 5,1 persen sepanjang periodeDiam pada tingkat rendah

Nama yang muncul lalu hilang. Pergantian isi daftar juga informasi. Erick Thohir muncul pada rilis Indikator Oktober 2025 dengan 0,4 persen lalu jarang disebut lagi. Sebaliknya sepanjang 2026 muncul nama nama baru dalam daftar survei, di antaranya Sjafrie Sjamsoeddin, Pramono Anung, Purbaya Yudhi Sadewa, dan Sherly Tjoanda. Masuknya sebuah nama ke daftar tidak menaikkan dukungannya dengan sendirinya, tetapi menandai bahwa lembaga survei menilai nama itu layak diuji.

8Kerangka Aturan

Aturan Hukum Publikasi Hasil Survei

Publikasi hasil survei bukan ruang tanpa aturan. Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu menempatkan survei dan jajak pendapat sebagai bentuk partisipasi masyarakat, sekaligus mengatur batasnya. Perlu dicatat bahwa sebagian kewajiban di bawah baru mengikat ketika tahapan pemilu sudah berjalan, sedangkan tahapan Pemilu 2029 belum dimulai.

Tabel Ketentuan
3 Kewajiban dan 1 Larangan Pokok

Disusun dari naskah undang undang pemilu dan peraturan KPU tentang partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemilu.

Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom.

KetentuanIsi pokokDasar hukumSanksi
Larangan publikasi pada masa tenangPengumuman hasil survei atau jajak pendapat tentang pemilu dilarang dilakukan selama masa tenang, yaitu 3 hari sebelum hari pemungutan suaraPasal 449 ayat 2 UU 7/2017Pasal 509, kurungan paling lama 1 tahun dan denda paling banyak Rp12.000.000
Kewajiban mendaftarLembaga wajib berbadan hukum, bersifat independen, dan terdaftar di KPU sebelum melakukan kegiatan survei terkait pemiluPeraturan KPU tentang partisipasi masyarakatAdministratif, termasuk penolakan pendaftaran
Kewajiban melaporkan sumber danaSumber dana wajib dilaporkan dan dibuktikan dengan laporan hasil audit akuntan publik, disertai keterangan metodologi dan jumlah respondenPeraturan KPU tentang partisipasi masyarakatAdministratif
Kewajiban menyerahkan laporanLaporan diserahkan paling lambat 15 hari setelah hasil survei diumumkan ke publikPeraturan KPU tentang partisipasi masyarakatAdministratif

Peran perhimpunan lembaga survei. Selain aturan negara, ada standar yang dijaga asosiasi seperti Persepi dan Aropi melalui kode etik dan pemeriksaan data mentah. Kewenangannya punya satu batas penting: keanggotaan tidak wajib, dan sanksi asosiasi hanya mengikat anggotanya. Tidak ada pula ketentuan asosiasi yang mewajibkan lembaga membuka nama klien atau donaturnya, karena kerahasiaan klien diperlakukan sebagai prinsip.

Temuan halaman ini. Dari 13 survei nasional dalam tabel induk, tidak satu pun rilis publiknya menyebutkan siapa yang membiayai. Ini tidak dengan sendirinya berarti pelanggaran, karena kewajiban pelaporan melekat pada tahapan pemilu yang belum berjalan dan laporannya ditujukan kepada KPU, bukan kepada publik. Yang dapat disimpulkan hanya ini: pembaca tidak punya cara memeriksa pembiayaan survei yang angkanya mereka baca.

9Pandangan Pakar

Suara Pakar dan Kritik terhadap Praktik Survei

Perdebatan tentang cara membaca angka survei berlangsung terbuka di Indonesia, termasuk di antara pelaku surveinya sendiri. Berikut sejumlah pandangan yang relevan dengan halaman ini, lengkap dengan afiliasi, tanggal, dan tautan ke sumber aslinya, agar pembaca dapat memeriksa konteks penuhnya.

Kutipan Terpilih
5 Pandangan yang Perlu Dibaca Berdampingan

Disusun bukan untuk menetapkan siapa yang benar, melainkan untuk menunjukkan bahwa perbedaan angka memang diperdebatkan secara terbuka oleh pihak yang berkepentingan.

Deni Irvani
Direktur Eksekutif SMRC

Memaparkan hasil survei Juli 2026 yang menempatkan Dedi Mulyadi pada 35 persen dan Prabowo Subianto pada 14,5 persen, serta menyebut penurunan elektabilitas Prabowo pada simulasi dua nama dalam kurun 4 bulan terakhir.

29 Juli 2026Sumber
Burhanuddin Muhtadi
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia dan guru besar ilmu politik

Menyoroti survei daring terbuka yang dijalankan tanpa kontrol sampel yang ketat, dan menyebut hal itu sebagai kelemahan utama metodologinya. Pernyataan ini menjelaskan mengapa penarikan sampel, bukan jumlah responden semata, yang menentukan mutu sebuah survei.

Juli 2026Sumber
Hamdi Muluk
Anggota Dewan Etik Persepi dan akademisi psikologi politik

Menjelaskan bahwa sanksi dewan etik hanya mengikat lembaga yang menjadi anggota, dan bahwa lembaga yang sekaligus menjadi konsultan seorang kandidat tidak sepatutnya merilis surveinya ke publik karena ada benturan kepentingan.

Wawancara TempoSumber
Masduri Amrawi
Direktur Poltracking Indonesia

Menyatakan keberatan atas putusan Dewan Etik Persepi dalam perkara perbedaan hasil survei Pilkada Jakarta 2024, dan menilai dewan etik tidak adil dalam menjelaskan perbedaan hasil antara dua lembaga.

5 November 2024Sumber
Sufmi Dasco Ahmad
Ketua Harian Partai Gerindra

Menanggapi survei yang menempatkan Dedi Mulyadi di atas Prabowo dengan menyebut hasil survei bersifat fluktuatif dan dapat berbeda antarlembaga. Tanggapan ini dimuat sebagai pandangan pihak yang terdampak, bukan sebagai penilaian metodologi.

Juli 2026Sumber

Kritik yang belum terjawab. Sorotan yang berulang dari kalangan pengamat adalah ketiadaan kewajiban membuka pembiayaan survei kepada publik. Pihak asosiasi menjawabnya dengan prinsip kerahasiaan klien, yang juga berlaku pada riset pasar di luar politik. Kedua pandangan ini belum bertemu, dan halaman ini tidak berada dalam posisi menengahinya. Yang dapat dilakukan hanyalah menandai kolom sumber dana apa adanya, termasuk ketika isinya tidak diungkapkan.

10Pembacaan Konsultan

Bacaan Strategis untuk Tim Kampanye, Partai, dan Caleg

Bagian ini adalah pandangan Head Politika Head Politika, bukan temuan survei. Dasarnya tetap data yang sudah ditampilkan di atas, dan tiap saran menunjuk pada baris yang dapat diperiksa. Pilih sudut pandang yang paling dekat dengan posisi Anda.

Tiga Sudut Pandang
Apa yang Berguna dan Apa yang Menyesatkan

Peta seperti ini berguna untuk membaca arah dan menakar ruang kosong, dan berbahaya bila dipakai sebagai bukti kemenangan.

1Percayai arah, bukan besaranKenaikan Dedi Mulyadi tercatat di SMRC dan Tempo Data Science dengan metode berbeda, yaitu 35 persen dan 41 persen. Besarannya berselisih 6 poin, arahnya sama. Sinyal yang muncul di lebih dari satu lembaga jauh lebih layak dijadikan dasar keputusan daripada satu angka besar dari satu rilis.
2Perlakukan margin of error sebagai saringan pertamaPerubahan di bawah 2,9 poin pada survei berukuran 1.200 responden umumnya belum layak disebut pergerakan. Rapat evaluasi yang membahas naik turun 1 poin sedang membahas derau, bukan tren.
3Baca angka belum menentukan sebagai ukuran ruang kerjaKetika undecided tercatat 28,8 persen, ruang yang belum dikuasai siapa pun lebih besar daripada jarak antara peringkat pertama dan kedua. Di keadaan seperti itu, upaya merebut pemilih baru biasanya lebih berhasil daripada upaya menggeser pendukung lawan.
4Yang menyesatkan, membandingkan angka lintas bentuk pertanyaanMenyandingkan 60,1 persen dari pertanyaan terbuka dengan 22,3 persen dari daftar panjang, lalu menyimpulkan terjadi keruntuhan dukungan, adalah kekeliruan pembacaan yang paling sering terjadi.
5Yang menyesatkan, memakai survei daerah sebagai peta nasionalPengukuran Litbang Kompas Juli 2025 dilakukan di Jawa Barat dengan 400 responden dan margin of error 4,9 persen. Angka itu sah untuk Jawa Barat, dan tidak sah untuk menggambarkan Indonesia.

Pandangan Head Politika: nilai terbesar sebuah pelacak survei bagi tim kampanye bukan pada angka terakhir, melainkan pada kemampuannya menunjukkan sejak kapan sebuah pergerakan dimulai, dan pada peristiwa apa pergerakan itu mulai terlihat.

1Peta yang cair belum layak dijadikan dasar penguncian dukunganAngka belum menentukan pada pengukuran Maret 2026 mencapai 28,8 persen, dan pada Agustus 2026 masih 17 persen. Pencalonan resmi pun belum dibuka. Keputusan dukungan yang dikunci terlalu dini berisiko terikat pada figur yang posisinya masih bergerak.
2Bedakan pergerakan yang terkonfirmasi dari lonjakan satu rilisPergerakan Dedi Mulyadi terlihat pada beberapa lembaga sepanjang Oktober 2025 sampai Agustus 2026, dari kisaran belasan persen menjadi puluhan persen. Itu jenis sinyal yang layak ditindaklanjuti. Sebaliknya, satu angka mengejutkan yang tidak muncul di lembaga lain sebaiknya ditunggu konfirmasinya.
3Periksa siapa yang tidak ada di dalam daftarSepanjang 2026 muncul nama baru dalam daftar survei, di antaranya Sjafrie Sjamsoeddin, Pramono Anung, Purbaya Yudhi Sadewa, dan Sherly Tjoanda. Masuknya sebuah nama menandai bahwa lembaga survei menilai nama itu layak diuji, dan biasanya mendahului perhatian publik yang lebih luas.
4Yang menyesatkan, menganggap elektabilitas tinggi berarti kemenanganPeta 2026 tidak menyediakan dasar untuk memperkirakan hasil 2029. Yang disediakannya adalah gambaran keadaan opini hari ini, beserta ukuran seberapa besar bagian yang masih terbuka.

Pandangan Head Politika: bagi partai, pertanyaan yang lebih berguna bukan siapa yang tertinggi hari ini, melainkan seberapa kokoh dukungan itu ketika daftar namanya diubah. Nama yang angkanya jatuh drastis begitu daftar diperpanjang biasanya sedang bersandar pada pengenalan, bukan pada preferensi.

1Elektabilitas calon presiden menetes ke perolehan kursi partaiPemilih yang datang untuk seorang figur cenderung sekaligus memilih partai yang diasosiasikan dengannya. Karena itu, pergerakan pada peta capres bukan urusan elite semata, melainkan menyentuh peluang calon legislatif di daerah pemilihan.
2Kepuasan terhadap pemerintah bergerak beriringan dengan angka iniSurvei Tempo Data Science mencatat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah turun menjadi 37 persen pada pengukuran Agustus 2026, dari 58 persen pada Maret 2026 dan 75 persen pada Desember 2025. Pelemahan itu berjalan searah dengan turunnya angka dukungan pada tabel di bagian 3.
3Bangun basis yang tidak sepenuhnya bergantung pada figur nasionalCalon legislatif yang seluruh kampanyenya bersandar pada satu figur akan ikut naik dan ikut turun bersama figur itu. Peta yang berubah cepat dalam 12 bulan terakhir memperlihatkan bahwa sandaran seperti itu tidak stabil.
4Yang menyesatkan, memakai angka nasional untuk menakar daerahSeluruh survei di halaman ini berskala nasional. Tidak satu pun dapat dipakai untuk memperkirakan keadaan di satu daerah pemilihan. Untuk keperluan itu diperlukan pengukuran tersendiri dengan kerangka sampel daerah bersangkutan.

Pandangan Head Politika: pada tahap sejauh ini dari hari pemungutan suara, peta capres lebih berguna sebagai alat membaca arah angin daripada sebagai dasar menyusun daftar dukungan. Yang layak dikerjakan sekarang adalah membangun pengenalan sendiri, bukan menunggu efek ekor jas yang belum tentu datang.

11Penutup

Yang Bisa dan Tidak Bisa Dikatakan Peta Ini

Setelah 13 survei disusun berdampingan, gambaran yang muncul bukan sebuah ramalan, melainkan sebuah keadaan. Keadaan itu bisa diringkas dalam satu kalimat: peta elektabilitas menjelang 2029 sedang bergerak, dan bagian yang belum dikuasai siapa pun masih besar.

Yang dapat dikatakan dengan cukup dasar ada tiga. Pertama, arah pergerakan Prabowo Subianto dan Dedi Mulyadi terlihat pada lebih dari satu lembaga dengan metode berbeda, sehingga bukan sekadar anomali satu rilis. Kedua, sebagian besar selisih antarlembaga dapat dijelaskan oleh bentuk pertanyaan dan cara wawancara, bukan oleh kecurangan. Ketiga, angka belum menentukan yang bergerak antara 2,3 sampai 28,8 persen menunjukkan bahwa peta ini masih jauh dari mengeras.

Yang tidak dapat dikatakan juga tiga. Halaman ini tidak dapat menyebut siapa yang akan menang pada 2029, karena pencalonan belum dibuka dan waktunya masih panjang. Halaman ini tidak dapat menetapkan lembaga mana yang paling akurat, karena ketepatan sebuah lembaga hanya dapat diuji terhadap pemilu yang sudah berlangsung, bukan terhadap yang belum. Dan halaman ini tidak dapat memastikan siapa yang membiayai survei survei tersebut, karena tidak satu pun rilisnya menyebutkan hal itu.

Kritik yang layak diajukan, dan ini pandangan Head Politika, bukan pada lembaga survei sebagai institusi. Metodologi mereka umumnya dipaparkan cukup terbuka, dan rekam jejak hitung cepat pada dua pemilu terakhir menunjukkan kemampuan teknis yang serius. Yang perlu diperbaiki adalah cara angka itu diedarkan. Ketika sebuah angka dikutip tanpa tanggal lapangan, tanpa bentuk pertanyaan, dan tanpa margin of error, angka itu berhenti menjadi informasi dan berubah menjadi alat. Perbaikannya sederhana dan bisa dimulai siapa saja: menuntut lima keterangan minimal sebelum mempercayai sebuah angka, yaitu lembaga, tanggal lapangan, jumlah responden, margin of error, dan bentuk pertanyaan. Halaman ini disusun dengan aturan itu, dan akan terus diperbarui dengan aturan yang sama.

12Tanya Jawab

12 Pertanyaan yang Paling Sering Diajukan

01PengertianApa yang dimaksud dengan elektabilitas capres 2029?

Elektabilitas capres 2029 adalah tingkat dukungan publik terhadap nama nama yang disebut sebagai calon presiden pada Pemilu 2029, sebagaimana terekam survei opini pada waktu tertentu. Angkanya menunjukkan berapa persen responden menyatakan akan memilih nama itu bila pemilihan dilakukan pada hari survei dilaksanakan. Karena pencalonan resmi belum dibuka, seluruh nama yang diukur berstatus tokoh yang disebut publik, bukan calon.

02Pertanyaan Paling SeringMengapa hasil survei berbeda beda?

Karena lembaga survei tidak mengajukan pertanyaan yang sama. Empat sebab utamanya adalah bentuk pertanyaan, panjang daftar nama yang dibacakan, cara wawancara, dan jarak waktu lapangan. Pertanyaan terbuka tanpa daftar nama menghasilkan angka yang jauh berbeda dari daftar tertutup berisi 16 nama, meski dilakukan lembaga yang sama pada hari yang sama.

03Perbandingan LembagaLembaga survei mana yang paling akurat?

Halaman ini tidak menyimpulkan hal itu, dan menyajikan selisihnya agar pembaca menilai sendiri. Sebagai pembanding, pada Pemilu 2024 seluruh survei elektabilitas terakhir mencatat angka pemenang lebih rendah daripada hasil resmi KPU, dengan selisih 6,68 sampai 19,28 poin bergantung pada seberapa jauh tanggal lapangannya. Sebaliknya hitung cepat di hari pemungutan suara berselisih kurang dari 0,2 poin. Ketepatan sebuah lembaga juga tidak berpindah dengan sendirinya dari satu pemilu ke pemilu berikutnya.

04Kecurigaan UmumApakah survei bisa dipesan?

Lembaga survei memang menerima pekerjaan riset berbayar, dan itu praktik yang lazim. Yang diatur kode etik adalah benturan kepentingannya. Anggota Dewan Etik Persepi menyatakan lembaga yang sekaligus menjadi konsultan seorang kandidat tidak sepatutnya merilis surveinya ke publik. Kelemahan yang tersisa adalah pembaca tidak punya cara memeriksa pembiayaan, karena tidak ada kewajiban membuka nama klien, dan dari 13 survei dalam halaman ini tidak satu pun menyebutkan sumber dananya.

05Batas TafsirApakah elektabilitas menentukan kemenangan?

Tidak. Elektabilitas adalah potret opini pada saat survei, bukan ramalan hasil. Buktinya ada pada Pemilu 2024, ketika survei pada Desember 2023 mencatat angka pemenang 39,3 persen sedangkan hasil akhirnya 58,58 persen. Selisih itu sebagian besar berasal dari pemilih yang belum menentukan pilihan pada saat survei dilakukan.

06Selisih EkstremKenapa satu nama bisa 60 persen dan 22 persen pada waktu berdekatan?

Karena bentuk pertanyaannya berbeda. Angka 60,1 persen berasal dari pertanyaan terbuka Indekstat pada Januari 2026, ketika responden menyebut nama sendiri tanpa dibacakan daftar. Angka 22,3 persen berasal dari simulasi Indonesian Public Institute pada Januari sampai Februari 2026 yang membagi pilihan ke lebih banyak nama. Kedua angka sah untuk pertanyaannya masing masing, dan tidak sah dibandingkan langsung.

07Temuan TerbaruApakah Dedi Mulyadi benar benar memimpin?

Pada pengukuran terbaru yang tersedia, ya, dan itu tercatat di dua lembaga dengan metode berbeda. SMRC pada Juli 2026 mencatat 35 persen, sedangkan Tempo Data Science pada Agustus 2026 mencatat 41 persen menurut satu media dan 42 persen menurut media lain. Besarannya berselisih, urutannya sama. Uraian lebih dalam tentang asal usul kenaikan ini dapat dibaca pada pembahasan Head Politika tentang pembalikan angka tersebut.

08Kekeliruan UmumMengapa angka Litbang Kompas berbeda sendiri?

Karena rilis yang beredar bukan survei nasional. Pengukuran Litbang Kompas pada 1 sampai 5 Juli 2025 dilakukan di Jawa Barat dengan 400 responden dan margin of error 4,9 persen. Angka itu sah untuk menggambarkan Jawa Barat, tetapi tidak dapat disandingkan dengan survei nasional. Sampai halaman ini disusun, belum ditemukan survei bursa capres 2029 berskala nasional dari lembaga tersebut.

09Angka yang TerlewatApa itu angka belum menentukan dan mengapa penting?

Itu bagian responden yang tidak menjawab atau menyatakan belum punya pilihan. Angka ini menentukan seberapa cair peta yang sedang dibaca. Dukungan 41 persen dengan 12,8 persen belum menentukan berarti sangat berbeda dari angka serupa dengan 28,8 persen belum menentukan. Dalam kumpulan halaman ini, dua lembaga tidak melaporkan angka tersebut secara terpisah.

10Ketentuan HukumApakah survei boleh dirilis kapan saja?

Tidak sepenuhnya. Pasal 449 ayat 2 Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 melarang pengumuman hasil survei tentang pemilu pada masa tenang, yaitu 3 hari sebelum hari pemungutan suara. Pelanggarannya diancam Pasal 509 berupa kurungan paling lama 1 tahun dan denda paling banyak Rp12.000.000. Di luar masa itu, publikasi tidak dilarang, dengan kewajiban pendaftaran dan pelaporan yang melekat pada tahapan pemilu.

11PengawasanApakah lembaga survei wajib menjadi anggota Persepi?

Tidak wajib. Keanggotaan asosiasi bersifat sukarela, dan sanksi dewan etik hanya mengikat anggotanya. Pada perkara perbedaan hasil survei Pilkada Jakarta 2024, satu lembaga yang dijatuhi sanksi menyatakan keberatan lalu memilih keluar dari keanggotaan. Kewajiban yang bersifat memaksa berasal dari negara lewat pendaftaran ke KPU, bukan dari asosiasi.

12Dokumen yang BeredarApakah dokumen survei berisi 32 nama itu sahih?

Tidak. Dokumen yang beredar pada akhir Juli 2026 dan mengatasnamakan Indikator Politik Indonesia dibantah oleh lembaga tersebut, yang menyatakan tidak pernah menulis maupun mempublikasikannya. Angka di dalamnya tidak dipakai sebagai data di halaman ini, dan hanya dicantumkan sebagai catatan agar pembaca yang menemukannya di kanal lain dapat mengenalinya.

13Transparansi

Catatan Metodologi, Keterbatasan, dan Celah Riset

Cara Halaman Ini Disusun
6 Aturan yang Dipakai Head Politika

Ditulis terbuka supaya pembaca dapat menilai batas kepercayaan yang pantas diberikan pada halaman ini.

1Lima keterangan minimalSebuah angka dilaporkan sebagai data hanya bila diketahui lembaganya, tanggal lapangannya, jumlah respondennya, margin of error, dan bentuk pertanyaannya. Bila salah satu tidak ada, angkanya tetap ditampilkan tetapi ditandai sebagai catatan dengan keterangan apa yang kurang.
2Tanggal lapangan mendahului tanggal rilisSeluruh urutan disusun menurut tanggal lapangan, karena itulah waktu opini benar benar diukur. Kedua tanggal tetap ditampilkan berdampingan.
3Rilis asli diutamakanPemberitaan dipakai hanya bila rilis aslinya tidak dapat ditemukan, dan itu ditandai per baris pada kolom asal data.
4Angka yang berselisih ditampilkan keduanyaKetika dua media menyebut angka berbeda untuk survei yang sama, keduanya dimuat beserta sumbernya. Tidak ada angka yang dipilih diam diam.
5Penilaian dipisahkan dari dataBagian yang merupakan pendapat Head Politika ditandai dengan kalimat pandangan Head Politika. Selebihnya adalah data beserta sumbernya, atau pernyataan pihak yang disebutkan namanya.
6Tidak ada peringkat mutu lembagaHalaman ini menampilkan selisih angka, bukan penilaian terhadap lembaga. Kata sifat yang menghakimi dihindari, baik terhadap tokoh maupun terhadap lembaga survei.

Celah riset yang perlu diketahui pembaca. Pertama, rilis asli dalam bentuk dokumen tidak berhasil diakses untuk sebagian lembaga, sehingga datanya bersandar pada pemberitaan yang memuat keterangan metode. Kedua, rilis Median dan Indonesian Public Institute tidak merinci sebagian keterangan penting, sehingga keduanya ditandai. Ketiga, tanggal lapangan Indonesia Political Opinion tidak diketahui, hanya tanggal rilisnya. Keempat, selisih 1 poin pada angka Tempo Data Science belum dapat direkonsiliasi karena rilis aslinya tidak berhasil diakses langsung. Kelima, paruh kedua 2024 nyaris tidak memiliki survei bursa capres 2029, sehingga deret waktu halaman ini baru padat mulai Oktober 2025.

Hak jawab. Bila terdapat lembaga, tokoh, atau pihak yang merasa datanya keliru disajikan di halaman ini, Head Politika Head Politika membuka koreksi dan akan mencantumkan perubahannya pada catatan di bawah.

Riwayat
Catatan Perubahan

Halaman ini adalah pelacak yang diperbarui setiap ada rilis survei nasional baru. Setiap pembaruan dicatat di sini beserta tanggalnya.

27 Agustus 2026Halaman disusun pertama kali, memuat 13 survei nasional dengan tanggal lapangan Januari 2025 sampai Agustus 2026, ditambah 1 dokumen yang dibantah lembaga bersangkutan.
14Ketertelusuran

Daftar Sumber

Sumber Sekunder
Pemberitaan yang Memuat Keterangan Metode

Dipakai hanya bila rilis aslinya tidak dapat ditemukan, dan hanya bila memuat nama lembaga, tanggal lapangan, serta margin of error.

Bacaan lanjutan di Head Politika

Dedi Mulyadi 35 Persen, Prabowo 14,5 Persen: Kenapa Bisa Terbalik. Membedah satu rilis yang menjadi titik balik pada tabel di bagian 3, termasuk dari kelompok pemilih mana kenaikan itu datang.

Kenapa Kepuasan Publik ke Prabowo Anjlok 30 Poin? Ini Datanya. Menjelaskan sisi lain dari peta ini, yaitu kepuasan terhadap kinerja pemerintah yang bergerak searah dengan angka dukungan.

Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Turun, ke Mana Suaranya. Melihat dampak pergerakan angka tokoh terhadap partai, yang penting bagi pembaca yang mengikuti bagian 10 halaman ini.

Apa Itu Pemilu? Pengertian, Asas, Jenis, dan Cara Kerjanya. Rujukan dasar tentang tahapan dan asas pemilu, berguna untuk memahami mengapa pencalonan 2029 belum dibuka.

Ditulis, dianalisis, dan dipublikasikan oleh Tim Head Politika. Halaman ini adalah pelacak yang diperbarui setiap ada rilis survei nasional baru, dan koreksi atas data di dalamnya kami terima dan akan dicatat pada bagian Catatan Perubahan.

Bacaan lanjutan di Head Politika
Elektabilitas Prabowo: kepuasan runtuh, dukungan bertahan
Satu satunya nama di halaman ini yang punya angka kepuasan sebagai petahana, dan kedua angkanya bergerak ke arah berbeda.
Elektabilitas Dedi Mulyadi: anatomi kenaikan tercepat
Dari mana kenaikannya datang, seberapa dalam dukungannya, dan apa yang bisa menghentikannya.
Apa itu konsultan politik: definisi, peran, dan cara memilihnya
Angka survei baru berguna kalau dibaca dengan benar. Ini pekerjaan yang dilakukan konsultan politik, dan cara menilai sebelum menyewa satu.
KPU adalah: tugas, wewenang, dan strukturnya sampai TPS
Lembaga yang menyelenggarakan seluruh tahapan. Termasuk kenyataan bahwa hampir semua petugas di hari pemungutan suara bukan pegawainya.
Elektabilitas Anies Baswedan: anatomi langit langit dukungan
Hampir semua pemilih mengenalnya, tapi angkanya berhenti di kisaran belasan persen. Apa yang menahannya.
Keterbukaan
Head Politika juga menyelenggarakan survei sebagai bagian dari layanannya. Penilaian di halaman ini disusun dari dokumen publik yang dapat diperiksa siapa pun, dan tidak dimaksudkan untuk menilai mutu satu lembaga dibanding lembaga lain.
Bagikan
Tentang Penulis

Ditulis oleh Tim Head Politika, konsultan politik Indonesia yang mendampingi kandidat eksekutif dan legislatif melalui riset data, strategi kampanye terukur, dan komunikasi yang efektif sejak 2014.

Konsultasi Gratis

Ingin Peta Politik Dapil Anda Dibaca dengan Data?

Diskusikan situasi Anda langsung dengan tim kami. Tanpa biaya, tanpa keterikatan, hanya pembicaraan jujur tentang peluang Anda.

Mulai Konsultasi Gratis
Daftar Isi