Konsultasi Gratis
Riset

Elektabilitas Dedi Mulyadi: Anatomi Kenaikan Tercepat

Ditulis oleh Tim Head Politika 27 Agustus, 2026 19 menit baca
Grafik kenaikan elektabilitas Dedi Mulyadi dalam survei calon presiden 2029
Survei dan Elektabilitas
Kartu Data Pelacak
Elektabilitas Dedi Mulyadi: Anatomi Kenaikan Tercepat

Angkanya bergerak dari 18,4 persen pada Oktober 2025 menjadi 41 persen pada Agustus 2026. Pertanyaannya sekarang, dari mana kenaikan itu datang, dan apa yang bisa menghentikannya.

18,4%
Indikator, lapangan 20 sampai 27 Oktober 2025
35%
SMRC, lapangan 5 sampai 19 Juli 2026
41%
Tempo Data Science, lapangan Agustus 2026
30%
Teringat pertama, ukuran yang berbeda dari elektabilitas

Elektabilitas Dedi Mulyadi adalah persentase responden survei yang menyatakan akan memilihnya sebagai calon presiden bila pemilihan digelar saat wawancara berlangsung. Angka itu naik lebih cepat daripada nama mana pun sepanjang 2025 sampai 2026, dari 18,4 persen menurut Indikator Politik Indonesia pada Oktober 2025 menjadi 41 persen menurut Tempo Data Science pada Agustus 2026. Laporan ini tidak menebak apakah ia akan maju atau menang. Yang kami periksa hanya satu hal, yaitu dari mana kenaikan itu datang dan apa yang menentukan ia bertahan atau menguap.

Kami memulai riset dengan satu dugaan kerja: dukungan sebesar itu bertumpu pada keteringatan, bukan pada pilihan yang dipikirkan, sehingga rapuh. Setelah seluruh angka dikumpulkan, dugaan itu tidak terbukti pada bagian terpentingnya, dan kami menuliskannya apa adanya.

30
Poin Penting dalam 30 DetikRingkasan temuan
  • 1Kenaikannya nyata dan melampaui margin of error. Pada seri SMRC, angkanya bergerak dari 19,7 persen pada November 2025 menjadi 35 persen pada Juli 2026, jauh di atas margin of error 3,7 persen.
  • 2Dugaan bahwa dukungannya dangkal tidak terbukti. Elektabilitasnya versi Tempo Data Science 41 persen, sedangkan teringat pertamanya 30 persen. Selisihnya positif, kebalikan dari pola yang diperkirakan.
  • 3Angka antarlembaga merentang dari 13,5 sampai 42 persen pada periode berdekatan. Penyebab utamanya bentuk pertanyaan, bukan salah satu lembaga keliru.
  • 4Dukungannya tidak lagi terpusat di Jawa Barat menurut Tempo, tetapi basis nyata yang terverifikasi tetap Jawa Barat lewat 14.130.192 suara pada Pilkada 2024.
  • 5Sebagian kenaikan adalah suara protes. Pemilih yang menilai ekonomi buruk beralih kepadanya sampai 83 persen menurut tabulasi silang SMRC.
  • 6Kendala terbesarnya bukan popularitas, melainkan kendaraan partai. Gerindra sudah mengunci Prabowo lewat mandat kongres.
  • 7Angka penolakan dan kemantapan pemilih tingkat nasional tidak ditemukan dari lembaga mana pun, sehingga kedalaman dukungannya belum benar benar terukur.
1Pengertian dan pemisahan ukuran

4 Ukuran yang Sering Dicampur Padahal Angkanya Berbeda

Banyak perdebatan tentang angka Dedi Mulyadi sebenarnya adalah perdebatan tentang ukuran yang berbeda beda. Empat hal berikut kerap disebut bergantian dalam satu berita yang sama, padahal keempatnya mengukur hal yang tidak sama dan tidak boleh dipertukarkan.

Tabel definisi
Apa yang sebenarnya diukur oleh tiap angka
Pengenalan
Berapa persen responden mengenal sosoknya ketika namanya disebut. Indikator mencatat 88,2 persen pada Oktober 2025. Ukuran ini nyaris tidak pernah turun.
Teringat pertama
Berapa persen yang menyebut namanya secara spontan tanpa diberi daftar. Tempo Data Science mencatat 30 persen pada Agustus 2026. Ini ukuran paling keras dan paling sulit dinaikkan.
Kesukaan
Berapa persen dari yang mengenalnya menyatakan suka. Indikator mencatat 88,3 persen pada Oktober 2025. Angka ini tinggi tetapi tidak berarti orang akan memilihnya.
Elektabilitas
Berapa persen menyatakan akan memilihnya. Inilah yang dimaksud judul artikel ini, dan angkanya paling sensitif terhadap bentuk pertanyaan.
Mengapa ini penting. Menyandingkan pengenalan 88,2 persen dengan elektabilitas 41 persen lalu menyimpulkan ada 47 persen pendukung yang hilang adalah kekeliruan membaca. Keduanya tidak berada pada skala yang sama.
2Pecahan data

9 Titik Survei, dan Sebab Angkanya Merentang dari 13,5 sampai 42 Persen

Rentang selebar itu bukan tanda ada lembaga yang berbohong. Simulasi terbuka meminta responden menyebut nama sendiri, simulasi berdaftar menyodorkan daftar tertutup, dan teringat pertama meminta nama yang paling dulu terlintas. Ketiganya menghasilkan angka berbeda untuk orang yang sama pada minggu yang sama.

Tabel induk survei
Seluruh titik data yang memenuhi syarat pelaporan
LembagaLapanganRespondenMargin of errorBentuk pertanyaanAngka DediAsal data
Indikator20 sampai 27 Okt 20251.2202,9 persenSemi terbuka, 25 nama18,4 persenRilis lembaga
SMRCNov 2025tidak dilaporkantidak dilaporkanSemi terbuka19,7 persenSekunder
Median10 sampai 14 Feb 20261.200tidak dilaporkanDaring, bukan sampel probabilitas17 persenSekunder
Poltracking2 sampai 8 Mar 20261.2202,9 persenTerbuka, teringat pertama13,5 persenSekunder
SMRC5 sampai 19 Jul 20267493,7 persenSemi terbuka, 20 nama35 persenSiaran pers
SMRC5 sampai 19 Jul 20267493,7 persenSimulasi 2 nama59 persenSekunder
IPO27 Jul sampai 3 Agu 2026tidak dilaporkantidak dilaporkanSimulasi terbuka21,7 persenSekunder
Tempo Data Science31 Jul sampai 11 Agu 20261.2602,9 persenTerbuka, teringat pertama30 persenSekunder
Tempo Data Science31 Jul sampai 11 Agu 20261.2602,9 persenSimulasi terbuka menurut Suara.com, simulasi berdaftar menurut TitaStory41 persen dan 42 persenSekunder
Dua catatan kejujuran data. Pertama, rilis resmi Tempo Data Science tertanggal 26 Agustus 2026 tidak tersedia untuk umum saat laporan ini disusun, sehingga seluruh angkanya kami tandai berasal dari pemberitaan sekunder. Kedua, dua media menyebut angka berbeda untuk survei yang sama, yaitu 41 persen dan 42 persen, dengan keterangan bentuk pertanyaan yang juga berbeda. Kami menampilkan keduanya dan tidak memilih salah satu.
Peringatan sumber
Dokumen survei Indikator Juli 2026 yang beredar luas dibantah lembaganya sendiri

Sepanjang akhir Juli 2026 beredar dokumen setebal 240 halaman yang mengaku laporan survei nasional Indikator Politik Indonesia dengan lapangan 14 sampai 24 Juli 2026, memuat angka teringat pertama 22,4 persen dan simulasi 32 nama 31,4 persen. Lewat surat tertanggal 28 Juli 2026, Direktur Indikator Fauny Hidayat menyatakan lembaganya tidak pernah merilis survei nasional pada periode itu.

Angka dari dokumen tersebut tidak kami pakai sebagai data di halaman ini, dan sebaiknya juga tidak Anda pakai. Kami menyebutkannya justru supaya pembaca yang pernah melihatnya tahu bahwa dokumen itu sudah dibantah.

3Deret waktu

Kapan Angkanya Benar Benar Melompat, dan Apa yang Mendahuluinya

Fluktuasi di bawah margin of error bukan perubahan. Yang pantas disebut lompatan hanya satu, yaitu jarak antara November 2025 dan Juli 2026 pada seri berdaftar, ketika angkanya bergerak lebih dari 15 poin sementara margin of error survei terkait hanya 3,7 persen.

Grafik garis
Dua ukuran, dua garis, karena keduanya tidak sebanding
0% 10% 20% 30% 40% 50% 18,4 19,7 35 42 13,5 30 Okt 2025 Nov 2025 Mar 2026 Jul 2026 Agu 2026
Simulasi berdaftar, semi terbuka atau tertutupTeringat pertama, spontan tanpa daftar
Cara membaca. Kedua garis sengaja dipisah karena mengukur hal berbeda. Garis merah selalu lebih rendah bukan karena dukungannya menurun, melainkan karena menyebut nama tanpa bantuan daftar jauh lebih sulit. Tidak ada titik data berdaftar pada Maret 2026, sehingga garis biru ditarik langsung dari November 2025 ke Juli 2026.

Rentang bulan yang mendahului lompatan itu berhimpit dengan penurunan tajam kepuasan publik terhadap pemerintah. SMRC mencatat kepuasan terhadap Presiden Prabowo turun dari 81,2 persen pada November 2025 menjadi 66,4 persen pada awal 2026, lalu 51,1 persen pada Juli 2026. Tempo Data Science mencatat angka yang lebih rendah lagi, yaitu 37 persen pada Agustus 2026. Kami membahas anjloknya kepuasan itu secara terpisah dan tidak mengulangnya di sini.

Pada rentang yang sama, jangkauan media sosial Dedi Mulyadi sudah sangat besar. Kanal YouTube-nya menembus 3 juta pelanggan sejak Januari 2022 dan berada di kisaran 7,55 juta pada pertengahan 2025, sementara TikTok dan Instagramnya masing masing di kisaran 6,8 juta dan 3,8 juta pengikut pada Mei 2025. Perhatikan urutannya. Popularitas kanalnya sudah tinggi bertahun tahun sebelum elektabilitas nasionalnya melompat. Pandangan Head Politika: media sosial tampaknya menjadi syarat perlu, bukan syarat cukup. Yang mengubah keadaan pada pertengahan 2026 adalah tersedianya ruang kekecewaan, bukan bertambahnya pengikut.

4Uji kedalaman

4 Uji untuk Dugaan Bahwa Dukungannya Dangkal

Inilah bagian yang paling ingin kami buktikan dan justru gagal kami buktikan. Ketuk tiap uji untuk melihat hasilnya.

01Uji selisihElektabilitas dibanding teringat pertama

Bila dukungan seseorang hanya bertumpu pada keteringatan, elektabilitasnya biasanya setara atau lebih rendah daripada angka teringat pertamanya. Yang terjadi justru sebaliknya. Versi Tempo Data Science, elektabilitasnya 41 persen sementara teringat pertamanya 30 persen, sehingga selisihnya positif 11 poin.

Hasil: dugaan tidak terbukti. Ada sekelompok responden yang tidak menyebut namanya lebih dulu tetapi tetap memilihnya ketika ditanya. Itu bukan ciri dukungan yang semata mata refleks ingatan.

02Uji daftar panjangApakah angkanya jatuh saat nama pesaing ditambah

Dukungan dangkal biasanya runtuh ketika daftar nama diperpanjang, karena pemilih yang tidak punya alasan kuat mudah berpindah ke nama lain yang baru muncul. Dedi Mulyadi tetap memimpin pada simulasi 20 nama versi SMRC dan pada simulasi terbuka versi Tempo, serta berada di papan atas pada simulasi 25 nama versi Indikator.

Hasil: dugaan tidak terbukti. Persentasenya memang lebih kecil pada daftar panjang, tetapi itu wajar secara metodologis karena suara terbagi ke lebih banyak nama. Posisinya tidak runtuh.

03Uji kemantapan dan penolakanBerapa persen pendukungnya sudah mantap

Ini uji yang paling menentukan, dan datanya tidak ditemukan. Tidak satu pun lembaga yang kami telusuri mempublikasikan angka kemantapan pilihan maupun angka penolakan tingkat nasional untuk Dedi Mulyadi. Yang tersedia hanya data Pilkada Jawa Barat 2024, yaitu pemilih kuat 56,9 persen dan pemilih yang masih mungkin berubah 38,0 persen menurut Poltracking. Keduanya konteks provinsi, bukan calon presiden.

Hasil: tidak dapat diuji. Tanpa angka penolakan, langit langit dukungannya tidak diketahui. Ini celah terbesar dalam laporan ini dan kami memilih menyatakannya terbuka daripada mengisinya dengan perkiraan.

04Uji asal usul dukunganBerapa bagian yang sebenarnya suara protes

Tabulasi silang SMRC menunjukkan pola yang tegas. Responden yang menilai keadaan ekonomi sangat baik mayoritas tetap memilih Prabowo di kisaran 78 persen, sedangkan responden yang menilai ekonomi buruk beralih kepada Dedi Mulyadi sampai 83 persen.

Hasil: dugaan terbukti sebagian. Sebagian dukungannya melekat pada penilaian terhadap keadaan ekonomi, bukan pada sosoknya. Bagian dukungan itulah yang rapuh, dan ia bisa bergerak dua arah, menguap bila keadaan membaik atau membesar bila memburuk.

Kesimpulan bagian ini. Dari 4 uji, dua membantah dugaan, satu tidak bisa dijalankan karena datanya tidak ada, dan satu membenarkannya sebagian. Menyebut dukungan Dedi Mulyadi dangkal, per Agustus 2026, adalah pernyataan yang belum punya dasar data.
5Sebaran dukungan

7 Wilayah, dan Pertanyaan Apakah Ini Masih Tokoh Jawa Barat

Pembeda paling menentukan antara tokoh daerah dan tokoh nasional adalah sebaran. Versi Tempo Data Science, dukungannya sudah melewati batas provinsinya sendiri, meskipun dua wilayah teratas tetap Banten dan Jawa Barat.

Sebaran wilayah
Simulasi berdaftar, Tempo Data Science, lapangan 31 Juli sampai 11 Agustus 2026
Banten
68%
Jawa Baratprovinsi yang dipimpinnya
65%
Kalimantan
54%
Jawa Tengah dan DIY
46%
Jakarta
41%
Sumatera
39%
Jawa Timur
30%
Wilayah tempat ia kalah. Di Sulawesi keunggulan dipegang Prabowo pada 33 persen, di Bali dipegang Gibran Rakabuming Raka pada 22 persen, dan di Maluku serta Papua dipegang Sherly Tjoanda pada 34 persen. Peta ini tidak merata, meski juga tidak lagi sempit.

Satu pembanding penting perlu diletakkan berdampingan. Angka survei adalah pengukuran opini, sedangkan hasil pemilihan adalah perilaku nyata. Pada Pilkada Jawa Barat 2024, pasangan Dedi Mulyadi dan Erwan Setiawan memperoleh 14.130.192 suara atau 62,22 persen suara sah menurut penetapan KPU Jawa Barat. Sampai Agustus 2026, itulah satu satunya basis dukungannya yang sudah teruji lewat kotak suara.

6Kendaraan partai

Soal yang Menentukan Nasibnya, dan Jarang Dibahas

Seluruh angka di atas menjadi tidak berarti bila tidak ada partai yang mencalonkannya. Tiga hal berikut menentukan, dan ketiganya bergerak terpisah satu sama lain.

Dasar hukum
Ambang batas pencalonan presiden sudah dihapus

Lewat Putusan Nomor 62/PUU-XXII/2024 yang dibacakan pada 2 Januari 2025, Mahkamah Konstitusi menyatakan Pasal 222 Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945 dan tidak lagi mengikat. Syarat 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara nasional untuk mengusung calon presiden dengan demikian tidak berlaku lagi.

Yang sering disalahpahami: penghapusan itu tidak membuka jalur perseorangan. Pencalonan tetap wajib melalui partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu. Artinya secara teknis kini banyak partai dapat mengusungnya, tetapi tetap harus ada partai yang bersedia.

Mahkamah Konstitusi juga memisahkan jadwal pemilu nasional dari pemilu daerah mulai 2029 lewat Putusan Nomor 135/PUU-XXII/2024, dan konsekuensinya masih menunggu revisi undang undang.

Posisi partai
Tiket Gerindra sudah terpakai

Dedi Mulyadi adalah kader Partai Gerindra setelah sebelumnya berada di Partai Golkar sampai 2023. Persoalannya, Gerindra sudah mengunci Prabowo Subianto sebagai calon presiden 2029 lewat mandat kongres, dan sejumlah pengurus daerah menegaskan kembali sikap itu.

Rumor kepindahannya ke partai lain sempat beredar pada akhir Agustus 2026 dan dibantah kedua belah pihak. Ketua DPP PSI Bidang Politik Bestari Barus menyatakan tidak ada komunikasi ke arah itu, dan Gerindra juga membantahnya.

Pandangan Head Politika: selama mandat kongres itu berlaku, kenaikan elektabilitas sebesar apa pun tidak otomatis berubah menjadi pencalonan. Ini kendala yang paling konkret dan paling sedikit dibicarakan.

Pernyataan yang bersangkutan
Belum menyatakan kesediaan

Sampai laporan ini disusun, kami tidak menemukan pernyataan Dedi Mulyadi yang menyatakan kesediaannya maju sebagai calon presiden. Pernyataan termutakhir yang kami temukan justru menolak membahasnya.

Fokus saya mah kerja, udahlah. Masih kejauhan, jangan ngomongin dulu 2029.

Dedi Mulyadi, 9 November 2025

Karena itu seluruh angka di halaman ini harus dibaca sebagai pengukuran opini pada satu titik waktu, bukan sebagai pertanda pencalonan. Pendaftaran resmi calon presiden 2029 belum dibuka.

7Pembanding sejarah

5 Pelajaran tentang Seberapa Jauh Angka 3 Tahun Sebelum Pemilu Bisa Dipercaya

Bagian ini bukan ramalan tentang Dedi Mulyadi. Ini pengingat bahwa memimpin survei pada 2026 dan memenangi pemilihan pada 2029 adalah dua peristiwa yang hubungannya jauh lebih longgar daripada yang diasumsikan banyak orang.

01 dari 5
Pemuncak survei bertahun tahun yang tetap kalah
2021
Sudah memuncaki survei sejak sekitar 3 tahun sebelum pemilihan
28,6%
Indikator, November 2022, salah satu angka tertingginya
Kalah
Hasil akhir Pemilihan Presiden 2024

Kasus paling relevan untuk dibandingkan. Keunggulan panjang di survei tergerus menjelang hari pemungutan suara seiring berubahnya konstelasi koalisi dan dinamika pencalonan.

02 dari 5
Konsisten di papan atas, tetapi soalnya ada di koalisi
2021
Sudah berada di papan atas survei nasional
Maju
Berhasil memperoleh kendaraan dan menjadi calon pada 2024
Kalah
Tidak memenangi pemilihan

Menunjukkan bahwa memperoleh kendaraan partai memang penting, tetapi tetap bukan jaminan. Konsolidasi koalisi dan waktu pengumuman ikut menentukan.

03 dari 5
Populer di daerah, tidak menembus tiket nasional
Papan tengah
Posisi pada survei capres nasional menjelang 2024
Tidak maju
Tidak menjadi calon presiden pada 2024
Isu lokal
Sebab yang paling sering disebut pengamat

Pembanding yang paling sering dipakai pengamat ketika membahas kepala daerah Jawa Barat yang naik ke panggung nasional. Isu yang bersifat kedaerahan sulit diterjemahkan menjadi agenda nasional.

04 dari 5
Arah bisa berbalik, asal mesinnya bertahan
2014
Kalah pada pemilihan presiden
2019
Kalah lagi pada pemilihan berikutnya
2024
Menang setelah dua kali kalah

Contoh arah sebaliknya. Angka yang buruk pada satu siklus tidak mengunci hasil siklus berikutnya, sepanjang mesin partai dan basis organisasinya bertahan.

05 dari 5
Naik dari angka rendah dalam waktu singkat
2011
Belum berada di papan atas survei nasional
2014
Menjadi calon dan memenangi pemilihan
Kendaraan
Faktor penentu yang membedakan dari kasus lain

Menunjukkan bahwa peta tiga tahun sebelum pemilihan dapat berubah total. Yang membedakan bukan tingginya angka awal, melainkan tersedianya kendaraan pada saat yang tepat.

Pandangan Head Politika. Dari lima kasus di atas, tidak satu pun hasil akhirnya dapat diramalkan dari angka survei tiga tahun sebelumnya. Yang berulang justru satu pola lain, yaitu bahwa nasib seorang tokoh lebih ditentukan oleh ketersediaan kendaraan partai daripada oleh tinggi rendahnya angkanya.
8Bacaan strategis

Apa yang Harus Terjadi, dan 5 Risiko yang Diurutkan

Bagian ini ditulis sebagai pembacaan konsultan, bukan dukungan maupun serangan, dan setiap butirnya bersandar pada data di dalam artikel ini.

Syarat bertahan
3 hal yang menentukan angka setinggi ini masih ada pada 2029
A
Mengubah suara protes menjadi dukungan berbasis program
Data SMRC menunjukkan dukungannya melekat pada penilaian ekonomi. Selama sifatnya masih protes, angkanya akan bergerak mengikuti keadaan yang tidak ia kendalikan.
B
Memperluas isu dari kedaerahan menjadi agenda nasional
Ini persis titik yang disebut pengamat sebagai penghambat kepala daerah populer sebelumnya. Sebaran versi Tempo menunjukkan pintunya sudah terbuka, tetapi Jawa Timur pada 30 persen dan wilayah timur menunjukkan pekerjaannya belum selesai.
C
Memastikan ada kendaraan, jauh sebelum masa pendaftaran
Lima pembanding sejarah di bagian sebelumnya menunjuk ke arah yang sama. Tanpa kepastian ini, seluruh pembahasan angka hanya bersifat akademis.
Peta risiko
Diurutkan dari yang paling mungkin terjadi
1
Tidak memperoleh kendaraan partai
Risiko yang sudah aktual, bukan spekulatif, karena mandat kongres Gerindra sudah menetapkan calonnya.
2
Suara protes menguap bila kepuasan publik pulih
Bagian dukungannya yang berasal dari kekecewaan terhadap keadaan ekonomi bisa kembali seperti semula.
3
Peluruhan bertahap seperti pola pemuncak survei sebelumnya
Jarak 3 tahun sampai pemilihan adalah waktu yang panjang, dan tidak ada preseden keunggulan yang bertahan utuh sepanjang itu.
4
Ketegangan internal partai
Kenaikan seorang kader yang melampaui ketua umumnya dalam survei jarang berlangsung tanpa gesekan.
5
Langit langit dukungan yang belum diketahui
Karena angka penolakan tidak pernah dipublikasikan, tidak ada yang tahu berapa persen pemilih yang tidak akan memilihnya dalam keadaan apa pun.

Bagi partai yang sedang menimbang, dua hal perlu dipisahkan. Daya tarik elektoralnya sudah terbukti pada tingkat provinsi lewat 14.130.192 suara. Namun efek ekor jasnya terhadap partai belum terbukti, dan pengamat menegaskan belum ada bukti bahwa kenaikannya mengangkat suara partainya. Bagi calon anggota legislatif yang berhitung menumpang efek itu, pemisahan jadwal pemilu mulai 2029 mengubah dasar perhitungannya.

Penutup: Angka yang Besar, Jalan yang Belum Terbuka

Tiga kesimpulan pantas dibawa pulang dari laporan ini. Pertama, kenaikan elektabilitas Dedi Mulyadi nyata, terukur, dan memang tercepat di antara semua nama pada periode 2025 sampai 2026. Kedua, dugaan bahwa dukungan itu dangkal tidak terbukti, dan pada bagian yang paling penting justru dibantah oleh datanya sendiri. Ketiga, yang paling menentukan nasib angka itu bukan popularitas dan bukan pula kedalamannya, melainkan tersedianya partai yang bersedia mengusungnya.

Pengingatnya sama seperti di pembuka. Pendaftaran calon presiden 2029 belum dibuka dan seluruh angka di halaman ini adalah potret opini pada satu titik waktu. Halaman ini diperbarui setiap ada rilis survei baru, termasuk bila rilis itu membantah apa yang tertulis sekarang.

8 Pertanyaan yang Paling Sering Diajukan

T1PengertianApa yang dimaksud dengan elektabilitas Dedi Mulyadi?

Persentase responden survei yang menyatakan akan memilih Dedi Mulyadi sebagai calon presiden bila pemilihan digelar pada saat wawancara. Angka ini berbeda dari tingkat pengenalan, tingkat kesukaan, dan tingkat teringat pertama, meski keempatnya sering dicampur dalam pemberitaan.

T2Angka terbaruBerapa elektabilitas Dedi Mulyadi per Agustus 2026?

Tergantung bentuk pertanyaannya. Tempo Data Science dengan lapangan 31 Juli sampai 11 Agustus 2026 menghasilkan 41 persen pada simulasi terbuka menurut Suara.com dan 42 persen pada simulasi berdaftar menurut TitaStory. SMRC dengan lapangan 5 sampai 19 Juli 2026 menghasilkan 35 persen pada simulasi semi terbuka 20 nama. IPO pada awal Agustus 2026 menghasilkan 21,7 persen.

T3Perbedaan lembagaMengapa angkanya berbeda beda antarlembaga?

Penyebab terbesarnya bentuk pertanyaan. Simulasi terbuka, simulasi berdaftar, dan pertanyaan teringat pertama menghasilkan angka yang berbeda untuk orang yang sama. Penyebab berikutnya adalah metode pengumpulan data, jumlah responden, dan panjang daftar nama yang disodorkan.

T4PencalonanApakah Dedi Mulyadi maju pada 2029?

Belum ada kepastian. Sampai 27 Agustus 2026 kami tidak menemukan pernyataan kesediaannya. Pernyataan termutakhir yang kami temukan justru menolak membahasnya, yaitu pada 9 November 2025.

T5KendaraanPartai apa yang bisa mengusungnya?

Setelah ambang batas pencalonan dihapus lewat Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 62/PUU-XXII/2024, secara teknis setiap partai peserta pemilu dapat mengusung calon presiden, sendiri maupun berkoalisi. Secara politik, Gerindra sebagai partainya sendiri sudah mengunci Prabowo lewat mandat kongres, dan belum ada partai lain yang menyatakan sikap resmi.

T6SebaranApakah dukungannya hanya di Jawa Barat?

Menurut Tempo Data Science, tidak. Ia disebut unggul di Banten, Jawa Barat, Kalimantan, Jawa Tengah dan DIY, Jakarta, Sumatera, serta Jawa Timur, dan kalah di Sulawesi, Bali, serta Maluku dan Papua. Namun basis dukungannya yang sudah teruji lewat kotak suara tetap Jawa Barat, yaitu 62,22 persen pada Pilkada 2024.

T7Daya prediksiApakah elektabilitas tinggi menjamin kemenangan?

Tidak. Angka pada 3 tahun sebelum pemilihan punya daya prediksi rendah. Ada tokoh yang memuncaki survei bertahun tahun lalu kalah, dan ada tokoh yang naik dari angka rendah lalu menang. Yang lebih menentukan adalah kepastian kendaraan partai dan konsolidasi koalisi.

T8VerifikasiBenarkah ada survei Indikator Juli 2026 yang menyebut 22,4 persen?

Dokumen itu dibantah lembaganya sendiri. Direktur Indikator Politik Indonesia Fauny Hidayat lewat surat tertanggal 28 Juli 2026 menyatakan lembaganya tidak pernah merilis survei nasional pada periode tersebut. Angka dari dokumen itu tidak layak dipakai sebagai data.

Bagaimana Laporan Ini Disusun, dan Apa yang Tidak Kami Temukan

Cara kerja. Kami mengumpulkan seluruh survei nasional yang menyebut nama Dedi Mulyadi sebagai calon presiden 2029 sampai Agustus 2026. Angka yang disebutkan media tanpa menyertakan nama lembaga, tanggal lapangan, atau margin of error tidak kami pakai sebagai data. Setiap baris di tabel induk ditandai apakah berasal dari rilis lembaga atau dari pemberitaan sekunder.

Aturan yang kami pegang. Selisih di bawah margin of error tidak kami sebut perubahan. Bila dua media menyebut angka berbeda untuk survei yang sama, keduanya kami tampilkan tanpa memilih salah satu. Angka pengenalan, teringat pertama, kesukaan, dan elektabilitas kami pisahkan secara tegas dan tidak pernah dipertukarkan.

Yang tidak kami temukan. Angka penolakan dan angka kemantapan pilihan tingkat nasional untuk Dedi Mulyadi tidak dipublikasikan oleh lembaga mana pun yang kami telusuri. Litbang Kompas tidak menerbitkan angka elektabilitas calon presiden nasional untuknya. Rilis resmi Tempo Data Science tertanggal 26 Agustus 2026 tidak tersedia untuk umum. Angka Median berasal dari pengumpulan data daring yang bukan sampel probabilitas, sehingga tidak sebanding dengan lembaga lain dan kami cantumkan hanya sebagai catatan.

Batas penilaian. Kami tidak menilai kebijakan Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat di halaman ini. Sejumlah kebijakannya memang mendahului lompatan angkanya dan menuai dukungan sekaligus penolakan, tetapi menimbangnya adalah pekerjaan artikel yang berbeda. Bagian yang ditandai sebagai pandangan Head Politika adalah penilaian analitik Tim Head Politika, bukan temuan lembaga survei.

Sumber yang Dapat Anda Periksa Sendiri

  • Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 62/PUU-XXII/2024 tentang penghapusan ambang batas pencalonan presiden, dibacakan 2 Januari 2025.
  • Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 135/PUU-XXII/2024 tentang pemisahan jadwal pemilu nasional dan pemilu daerah.
  • Penetapan hasil Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2024 oleh KPU Provinsi Jawa Barat, 14.130.192 suara atau 62,22 persen suara sah.
  • Surat Direktur Indikator Politik Indonesia Fauny Hidayat tertanggal 28 Juli 2026 yang membantah beredarnya laporan survei nasional Juli 2026, dikutip Tempo pada 30 Juli 2026. Kami tidak menemukan tautan permanen ke naskah suratnya.
  • Pemberitaan TitaStory yang menyebut angka 42 persen pada simulasi berdaftar Tempo Data Science. Kami tidak menemukan tautan permanen yang stabil untuk pemberitaan ini, sehingga angkanya kami cantumkan dengan atribusi nama media saja.
Bacaan lanjutan di Head Politika

Dedi Mulyadi 35 Persen, Prabowo 14,5 Persen: Kenapa Bisa Terbalik
Membedah satu survei SMRC Juli 2026 secara khusus, termasuk rincian simulasi yang tidak kami ulang di halaman ini.

Kenapa Kepuasan Publik ke Prabowo Anjlok 30 Poin? Ini Datanya
Menjelaskan penurunan kepuasan publik yang berhimpit dengan lompatan angka pada bagian 3 di atas.

Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Turun, ke Mana Suaranya
Melihat sisi partainya, yang penting dibaca bersama bagian tentang kendaraan partai.

Ditulis, dianalisis, dan dipublikasikan oleh Tim Head Politika. Halaman ini bersifat pelacak dan diperbarui setiap ada rilis survei nasional baru. Bila Anda menemukan angka, tanggal lapangan, atau kutipan yang keliru di halaman ini, atau mewakili pihak yang ingin menggunakan hak jawab, silakan hubungi Head Politika dan koreksinya akan kami cantumkan terbuka.

Bacaan lanjutan di Head Politika
Peta elektabilitas capres 2029 dari waktu ke waktu
Seluruh survei nasional dalam satu tabel, supaya angka yang berbeda beda bisa dibaca dengan takaran yang sama.
Elektabilitas Prabowo: kepuasan runtuh, dukungan bertahan
Pembanding terdekat. Kepuasan terhadap pemerintahannya jatuh, tapi angka pilihannya nyaris tidak bergerak.
Dedi Mulyadi 35 persen, Prabowo 14,5 persen: kenapa bisa terbalik
Bedah rilis SMRC Juli 2026, saat namanya untuk pertama kali mengungguli petahana.
Keterbukaan
Head Politika juga menyelenggarakan survei sebagai bagian dari layanannya. Penilaian di halaman ini disusun dari dokumen publik yang dapat diperiksa siapa pun, dan tidak dimaksudkan untuk menilai mutu satu lembaga dibanding lembaga lain.
Bagikan
Tentang Penulis

Ditulis oleh Tim Head Politika, konsultan politik Indonesia yang mendampingi kandidat eksekutif dan legislatif melalui riset data, strategi kampanye terukur, dan komunikasi yang efektif sejak 2014.

Konsultasi Gratis

Ingin Peta Politik Dapil Anda Dibaca dengan Data?

Diskusikan situasi Anda langsung dengan tim kami. Tanpa biaya, tanpa keterikatan, hanya pembicaraan jujur tentang peluang Anda.

Mulai Konsultasi Gratis
Daftar Isi