Wawasan
Elektabilitas Capres 2029: Peta Survei dari Waktu ke Waktu

Kumpulan hasil survei elektabilitas calon presiden 2029 dari berbagai lembaga, lengkap dengan tanggal lapangan, jumlah responden, margin of error, dan bentuk pertanyaannya, supaya angka yang berbeda beda bisa dibaca dengan takaran yang sama.
Elektabilitas capres 2029 adalah tingkat dukungan publik terhadap nama nama yang disebut sebagai calon presiden pada Pemilu 2029, sebagaimana terekam oleh survei opini pada waktu tertentu. Halaman ini mengumpulkan pengukuran itu dari banyak lembaga, menyusunnya berurutan waktu, dan menampilkan cara tiap lembaga bekerja. Tujuannya satu: menyediakan tempat rujukan ketika angka yang beredar saling berselisih.
Persoalannya nyata. Pada awal 2026, satu nama yang sama bisa tercatat 60,1 persen di satu lembaga dan 22,3 persen di lembaga lain, padahal jarak waktu lapangannya hanya beberapa pekan. Pembaca lalu bertanya mana yang benar. Jawabannya biasanya bukan salah satu, melainkan keduanya benar untuk pertanyaan yang berbeda. Perbedaan itu justru dapat dilacak sebabnya, dan itulah yang dikerjakan halaman ini.
Elektabilitas bukan ramalan hasil pemilu. Pencalonan resmi Pemilu 2029 belum dibuka, tahapannya belum berjalan, dan tidak satu pun nama di halaman ini berstatus calon. Seluruh angka adalah pengukuran opini pada saat survei dilakukan, bukan prediksi pemenang. Halaman ini juga tidak menyimpulkan lembaga mana yang paling akurat. Yang disajikan adalah selisihnya, beserta keterangan yang cukup agar pembaca menilai sendiri.
- 1Arah yang konsisten di banyak lembaga sepanjang 2026: dukungan untuk Prabowo Subianto menurun, dukungan untuk Dedi Mulyadi naik. Besaran angkanya berbeda beda, arahnya sama.
- 2Selisih antarlembaga paling sering lahir dari bentuk pertanyaan, bukan dari perubahan opini. Pertanyaan terbuka tanpa daftar nama dan daftar tertutup berisi belasan nama menghasilkan angka yang jauh berbeda untuk orang yang sama.
- 3Angka belum menentukan sama pentingnya dengan angka dukungan. Pada satu pengukuran angkanya 2,3 persen, pada pengukuran lain 28,8 persen. Peta dengan undecided besar jauh lebih cair daripada yang terlihat.
- 4Menjelang Pemilu 2024, survei elektabilitas jauh hari menempatkan angka pemenang lebih rendah daripada hasil resmi KPU, sedangkan hitung cepat di hari pemungutan suara sangat dekat dengan hasil akhir. Keduanya alat yang berbeda.
- 5Satu dokumen survei berisi 32 nama yang beredar pada Juli 2026 dibantah oleh lembaga yang namanya dicatut. Dokumen itu tidak dipakai sebagai data di halaman ini.
- 6Tidak satu pun rilis survei nasional dalam kumpulan ini yang menyebutkan sumber dananya, meski pelaporan sumber dana diwajibkan pada masa tahapan pemilu.
Rincian dan sumber tiap butir ada di bagian bernomor di bawah. Seluruh angka dalam ringkasan ini berasal dari tabel yang sama, sehingga dapat ditelusuri baris per baris.
Pengertian Singkat dan Cara Membaca Halaman Ini
Sebelum masuk ke angka, ada tiga istilah yang perlu disepakati lebih dulu, karena ketiganya sering tertukar dalam pemberitaan. Pengertian ringkas di bawah cukup untuk membaca halaman ini. Uraian yang lebih panjang tentang konsep elektabilitas dan tentang metodologi survei disiapkan sebagai bahasan tersendiri.
Perbedaan ketiganya menjelaskan mengapa satu tokoh bisa sangat dikenal tetapi angkanya kecil, dan sebaliknya.
- Popularitas
- Seberapa banyak responden mengenal nama seseorang. Diukur dengan pertanyaan apakah responden pernah mendengar nama tersebut. Angka besar di sini tidak berarti dukungan.
- Elektabilitas
- Seberapa banyak responden memilih nama itu bila pemilihan dilakukan hari ini. Inilah angka yang dikumpulkan halaman ini. Nilainya sangat bergantung pada bagaimana pertanyaannya diajukan.
- Belum menentukan
- Bagian responden yang tidak menjawab atau menyatakan belum punya pilihan. Sering diabaikan, padahal angka ini menentukan seberapa longgar sisa ruang yang masih terbuka.
Catatan bentuk pertanyaan. Sepanjang halaman ini, pertanyaan dibedakan menjadi tiga: terbuka atau top of mind, ketika responden menyebut nama sendiri tanpa dibacakan daftar; semi terbuka, ketika daftar dibacakan tetapi responden boleh menyebut nama di luar daftar; dan tertutup, ketika responden memilih dari daftar nama yang sudah ditetapkan. Penanda ini melekat pada setiap baris data.
Sebagian besar kebingungan pembaca hilang bila dua syarat berikut diperiksa lebih dulu.
- Bentuk pertanyaannya sama, misalnya sama sama daftar tertutup dengan jumlah nama yang mirip
- Cakupan wilayahnya sama, sama sama nasional atau sama sama satu provinsi
- Waktu lapangannya berdekatan dan tidak dipisahkan peristiwa politik besar
- Satu memakai pertanyaan terbuka, satu lagi memakai daftar tertutup
- Satu survei nasional, satu lagi survei satu daerah saja
- Selisihnya lebih kecil daripada margin of error kedua survei, sehingga perbedaannya belum tentu nyata
Cara memakai margin of error. Bila sebuah survei menyatakan margin of error 2,9 persen, angka 46,7 persen sebaiknya dibaca sebagai kisaran sekitar 43,8 sampai 49,6 persen. Dua angka yang kisarannya bertumpang tindih belum dapat disebut berbeda. Pergeseran baru layak disebut pergerakan bila melampaui kisaran itu, dan idealnya terlihat pada lebih dari satu lembaga.
Daftar Lengkap Survei Beserta Metodenya
Tabel di bawah adalah inti halaman ini. Setiap baris memuat keterangan yang diperlukan untuk menilai sebuah angka: tanggal lapangan, tanggal rilis, jumlah responden, cakupan wilayah, cara wawancara, margin of error, bentuk pertanyaan, sumber dana, dan asal datanya. Bila salah satu keterangan tidak tersedia dalam rilis maupun pemberitaan, kolomnya ditulis tidak dirinci, bukan dikira kira.
Perhatikan dua kolom yang paling sering menjelaskan perbedaan angka. Kolom bentuk pertanyaan menandai apakah responden menyebut nama sendiri atau memilih dari daftar. Kolom cara wawancara menandai apakah wawancara dilakukan tatap muka, lewat telepon, atau campuran. Dua survei dengan penanda berbeda pada kolom ini memang tidak dirancang untuk menghasilkan angka yang sama.
Pilih periode untuk melihat rinciannya. Baris disusun menurut tanggal lapangan, bukan tanggal rilis, karena tanggal lapangan adalah waktu opini itu benar benar diukur.
Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom.
Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom.
| Dokumen | Klaim isi | Status | Asal data |
|---|---|---|---|
| Dokumen berlabel survei Indikator berisi 32 nama | Mengklaim lapangan 14 sampai 24 Juli 2026 dengan 1.200 responden dan simulasi 32 nama | Dibantah oleh Indikator Politik Indonesia, yang menyatakan tidak pernah menulis maupun mempublikasikan survei tersebut | Berita |
Mengapa dokumen ini tetap dimuat. Dokumen itu sempat beredar luas dan angkanya dikutip ulang di banyak kanal. Menghapusnya dari halaman ini justru menyulitkan pembaca yang mencari kejelasan. Dokumen ditampilkan sebagai bantahan, ditandai jelas, dan angkanya tidak dipakai di tabel mana pun dalam halaman ini.
Cara membaca kolom asal data. Penanda rilis asli berarti angka diambil dari dokumen atau siaran pers lembaga bersangkutan. Penanda berita berarti rilis aslinya tidak dapat ditemukan dan angka diambil dari pemberitaan yang menyebut lembaga, tanggal lapangan, serta margin of error. Baris bernaung latar kuning adalah baris yang salah satu keterangan pentingnya tidak lengkap, atau yang cakupannya bukan nasional, sehingga tidak sebanding dengan baris lain.
Hasil Tiap Survei untuk Setiap Nama
Tabel berikut menyusun hasil tiap survei dalam satu bidang yang sama, satu baris per pengukuran, satu kolom per nama. Kolom paling kanan memuat angka belum menentukan, dan sebaiknya dibaca bersamaan dengan kolom lainnya. Perlu ditegaskan sekali lagi bahwa baris baris ini tidak seluruhnya sebanding satu sama lain, karena bentuk pertanyaannya berbeda. Yang sebanding adalah baris dengan penanda bentuk pertanyaan yang sama.
Beberapa lembaga menampilkan lebih dari satu simulasi dalam satu rilis, misalnya pertanyaan terbuka dan daftar tertutup sekaligus. Dalam hal itu keduanya ditulis sebagai baris terpisah, karena menggabungkannya akan menyamarkan justru bagian yang paling menjelaskan.
Seluruh angka dalam persen. Tanda strip berarti nama itu tidak disebut dalam rilis yang bersangkutan, bukan berarti nol.
Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom.
Dua angka untuk satu survei. Pada baris terakhir, hasil Dedi Mulyadi dikutip berbeda oleh dua media untuk rilis yang sama. Suara.com menulis 41 persen, sedangkan TitaStory menulis 42 persen dan memuat rincian nama yang lebih lengkap. Rilis aslinya tidak berhasil diakses langsung, sehingga selisih 1 poin ini belum dapat direkonsiliasi. Keduanya ditampilkan apa adanya, dan tidak ada yang dipilih diam diam.
Dua lembaga berbeda, dua metode berbeda, arah yang sama. Panjang bar mengikuti skala 0 sampai 100 persen, sehingga tinggi rendahnya sebanding apa adanya.
Pandangan Head Politika. Selisih 6 poin pada angka Dedi Mulyadi antara kedua lembaga tidak perlu dibaca sebagai pertentangan. Yang layak diperhatikan justru kesamaannya, yaitu urutan yang sama dan jarak yang lebar antara peringkat pertama dan kedua. Sinyal yang muncul di dua lembaga dengan metode berbeda umumnya lebih kuat daripada satu angka tunggal, sebesar apa pun angka itu.
4 Sebab Angka Antarlembaga Berbeda
Pertanyaan yang paling sering muncul dari pembaca bukan berapa angkanya, melainkan mengapa angkanya berbeda beda. Jawaban singkatnya, lembaga survei tidak sedang mengajukan pertanyaan yang sama. Ketuk tiap sebab di bawah untuk melihat contoh nyatanya dari tabel yang sudah ditampilkan.
01Sebab TerbesarBentuk pertanyaan dan panjang daftar nama
Pertanyaan terbuka meminta responden menyebut nama sendiri tanpa dibacakan daftar. Dalam bentuk ini, nama yang paling dikenal dan paling sering muncul di pemberitaan cenderung terkumpul di puncak, karena nama itulah yang paling mudah diingat. Sebaliknya, daftar tertutup berisi belasan nama membagi suara ke lebih banyak pilihan, sehingga angka nama teratas menyusut.
Indekstat melakukan lapangan pada 11 sampai 25 Januari 2026 dengan 1.200 responden. Pada pertanyaan terbuka, Prabowo tercatat 60,1 persen. Pada simulasi tertutup berisi 16 nama, dalam survei yang sama, angkanya 48,9 persen. Selisih 11,2 poin itu muncul tanpa satu hari pun berlalu, karena yang berubah hanya cara bertanya.
Pada periode Januari sampai Februari 2026, Prabowo tercatat 60,1 persen pada pertanyaan terbuka Indekstat dan 22,3 persen pada simulasi Indonesian Public Institute yang memasukkan lebih banyak nama, termasuk Gibran Rakabuming, Pramono Anung, dan Sjafrie Sjamsoeddin. Selisih 37,8 poin ini adalah yang terlebar dalam kumpulan halaman ini.
Karena itu, satu angka tanpa keterangan bentuk pertanyaan sebenarnya belum bisa dinilai. Bila sebuah pemberitaan menyebut angka tanpa menyertakan keterangan ini, angka tersebut tidak dapat dibandingkan dengan angka lembaga lain.
02Sebab KeduaCara wawancara menentukan siapa yang terjaring
Wawancara tatap muka menjangkau responden di rumah, termasuk mereka yang jarang memakai telepon untuk urusan seperti ini. Wawancara telepon lebih cepat dan lebih murah, tetapi sebaran respondennya condong ke kelompok yang lebih mudah dihubungi. Perbedaan cara menjaring ini menghasilkan komposisi responden yang tidak persis sama, meski keduanya memakai penarikan sampel acak.
Pada Oktober 2025, tiga lembaga melakukan lapangan pada rentang waktu yang berdekatan. Poltracking dan Indikator memakai tatap muka dan mencatat Prabowo pada 48,5 persen dan 46,7 persen. Index Politica memakai telepon dan mencatat 40,1 persen. Selisih terlebarnya 8,4 poin, jauh melampaui margin of error ketiganya.
Ini bukan berarti salah satu cara lebih benar. Keduanya sah, dan keduanya dipakai lembaga yang kredibel. Yang tidak sah adalah membandingkan keduanya seolah setara tanpa menyebut perbedaan metodenya.
03Sebab KetigaJarak waktu lapangan dan peristiwa di antaranya
Dua survei yang dirilis pada bulan yang sama belum tentu mengukur opini pada waktu yang sama. Jarak antara tanggal lapangan dan tanggal rilis bisa mencapai lebih dari satu bulan. Bila di antara keduanya terjadi peristiwa politik besar, angka yang lebih tua sebenarnya sedang menggambarkan keadaan yang sudah berlalu.
Poltracking melakukan lapangan pada 2 sampai 8 Maret 2026, tetapi rilisnya baru keluar 13 April 2026, berjarak 36 hari. Tempo Data Science melakukan lapangan pada 31 Juli sampai 11 Agustus 2026 dan merilisnya 26 Agustus 2026. Karena itu, di seluruh halaman ini baris disusun menurut tanggal lapangan, bukan tanggal rilis.
Aturan praktisnya sederhana. Ketika membaca berita survei, cari lebih dulu tanggal lapangannya. Bila yang disebut hanya tanggal rilis, angka itu belum punya penanda waktu yang berguna.
04Ketika Perbedaan Dibawa ke Forum EtikMekanisme audit ada, tetapi hanya mengikat anggota
Perbedaan hasil tidak selalu berhenti sebagai perdebatan metodologi. Indonesia punya preseden ketika dua lembaga besar berbeda hasil dan perkaranya dibawa ke dewan etik asosiasi. Contoh berikut bukan data capres, melainkan gambaran cara kerja mekanismenya.
Pada Oktober 2024, LSI dan Poltracking merilis hasil yang berbeda jauh untuk pemilihan yang sama. Dewan Etik Persepi memeriksa keduanya. LSI dinilai sesuai prosedur, sedangkan Dewan Etik menyatakan tidak dapat memverifikasi implementasi metodologi Poltracking karena perbedaan pada dua kumpulan data mentah yang dikirimkan. Poltracking menyatakan keberatan dan menilai putusan itu tidak adil, lalu memilih keluar dari keanggotaan Persepi.
Dua hal yang perlu dicatat pembaca. Pertama, mekanisme pemeriksaan itu ada dan pernah berjalan sampai membuka data mentah. Kedua, kewenangannya terbatas, karena sanksi asosiasi hanya mengikat anggotanya. Lembaga yang bukan anggota, atau yang keluar, tidak berada dalam jangkauan pemeriksaan itu.
Rekam Jejak Lembaga pada Pemilu 2024
Cara paling jujur menilai sebuah pengukuran adalah membandingkannya dengan kenyataan yang kemudian terjadi. Pemilu Presiden 2024 menyediakan bahan pembanding itu. Tabel berikut menempatkan survei elektabilitas terakhir tiap lembaga menjelang pemungutan suara berdampingan dengan hasil resmi KPU, lalu menghitung selisihnya dalam poin persentase.
Perlu ditegaskan lebih dulu apa yang sedang dan tidak sedang dilakukan tabel ini. Yang disajikan adalah selisih, bukan penilaian mutu lembaga. Survei elektabilitas mengukur opini pada saat lapangan, bukan meramal hasil. Sebagian selisih memang lahir dari perubahan pilihan pemilih pada hari hari terakhir, terutama ketika angka belum menentukan masih besar.
Hasil resmi KPU untuk pasangan Prabowo dan Gibran adalah 58,58 persen, Anies dan Muhaimin 24,95 persen, serta Ganjar dan Mahfud 16,47 persen. Kolom selisih dihitung terhadap pasangan pemenang.
Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom.
Pola yang terlihat. Seluruh selisih bergerak ke arah yang sama, yaitu angka survei lebih rendah daripada hasil akhir, dan selisihnya melebar seiring makin jauhnya tanggal lapangan dari hari pemungutan suara. Survei Litbang Kompas yang lapangannya lebih dari 2 bulan sebelum pencoblosan mencatat angka belum menentukan 28,7 persen, dan sebagian besar suara itu belakangan terdistribusi ke pasangan pemenang.
Alat yang berbeda, ketepatan yang berbeda. Hitung cepat memakai sampel tempat pemungutan suara yang sudah selesai menghitung, bukan menanyakan niat memilih.
Kesimpulan yang boleh dan tidak boleh ditarik. Yang boleh: survei elektabilitas jauh hari adalah potret opini yang masih akan berubah, sedangkan hitung cepat adalah pengukuran hasil yang sudah terjadi. Yang tidak boleh: menyimpulkan bahwa lembaga dengan selisih terbesar pada 2024 pasti keliru pada pengukuran 2026, karena tanggal lapangan, bentuk pertanyaan, dan keadaan politiknya berbeda sama sekali. Pada Pemilu 2019, hitung cepat seluruh lembaga besar juga berada dalam kisaran sempit dari hasil resmi, sehingga pola ini konsisten lintas pemilu.
Angka Belum Menentukan dari Waktu ke Waktu
Angka ini paling jarang diberitakan, padahal paling menentukan cara membaca sisanya. Dukungan 42 persen dengan 10 persen pemilih belum menentukan berarti sangat berbeda dari dukungan 42 persen dengan 30 persen belum menentukan. Pada keadaan pertama peta sudah relatif mengeras, pada keadaan kedua peta masih sangat cair.
Sumbu tegak dalam persen. Warna titik menandai bentuk pertanyaan, karena naik turunnya angka ini lebih banyak mengikuti cara bertanya daripada mengikuti perubahan opini.
Cara membaca lonjakan Maret 2026. Angka 28,8 persen pada pengukuran Poltracking bukan tanda tiba tiba banyak pemilih kehilangan pilihan. Pengukuran itu memakai pertanyaan terbuka tanpa dibacakan daftar nama, dan pada bentuk itu wajar bila banyak responden tidak menyebut nama siapa pun. Bandingkan hanya dengan pengukuran berwarna sama, jangan lintas warna.
Lembaga yang tidak melaporkan. Median pada rilis Februari 2026 dan Indonesian Public Institute pada Februari 2026 tidak melaporkan angka ini secara terpisah. Pada Indonesian Public Institute, angka belum menentukan tercampur dalam kategori gabungan bersama nama nama kecil, sehingga tidak dapat dipisahkan. Ketiadaan angka di sini tidak boleh dibaca sebagai nol.
Pergerakan 6 Nama yang Konsisten Muncul
Bagian ini menampilkan datanya saja, tanpa penafsiran politik per tokoh. Pembacaan mendalam untuk tiap nama disiapkan sebagai bahasan tersendiri, karena masing masing menuntut ruang yang tidak muat di halaman peta seperti ini.
Grafik berikut hanya memuat pengukuran yang memakai daftar nama, agar setidaknya sebanding satu sama lain. Pengukuran Juli 2026 memakai daftar semi terbuka, dan itu ditandai pada keterangannya.
Sumbu tegak dalam persen. Titik kosong berarti nama itu belum disebut dalam rilis yang bersangkutan.
Catatan kesebandingan. Titik Juli 2026 berasal dari SMRC dengan daftar semi terbuka 20 nama dan 749 responden, jumlah responden terkecil dalam kumpulan ini dengan margin of error 3,7 persen. Titik Agustus 2026 berasal dari Tempo Data Science dengan 1.260 responden. Keduanya memakai daftar nama, tetapi tidak identik, sehingga kemiringan garis di ruas terakhir sebaiknya dibaca sebagai arah, bukan sebagai ukuran presisi.
Sebuah perubahan disebut bergerak bila selisihnya melampaui margin of error kedua pengukuran dan terlihat pada lebih dari satu lembaga. Bila tidak, perubahan itu disebut diam, artinya masih dalam kisaran wajar sebuah pengukuran.
| Nama | Rentang tercatat | Penilaian |
|---|---|---|
| Prabowo Subianto | Dari 68,9 persen pada Januari 2025 sampai 14,5 persen pada Juli 2026 dan 15 persen pada Agustus 2026 | Bergerak turun, jauh melampaui margin of error, terlihat pada beberapa lembaga |
| Dedi Mulyadi | Dari 1,0 persen pada Januari 2025 sampai 35 persen dan 41 persen pada pertengahan 2026 | Bergerak naik, dikonfirmasi 2 lembaga dengan metode berbeda |
| Anies Baswedan | Berkisar 6 sampai 13,4 persen, dengan satu pengukuran 20,6 persen pada Februari 2026 | Diam pada sebagian besar pengukuran, satu angka menyimpang berasal dari rilis yang metodenya tidak dirinci |
| Gibran Rakabuming | Berkisar 3,4 sampai 12,2 persen sebagai calon presiden | Diam, sebaran angkanya mengikuti panjang daftar nama |
| Ganjar Pranowo | Dari 5,9 persen pada Januari 2025 menjadi 4 persen pada Agustus 2026 | Diam, penurunannya kecil dan sebagian dalam kisaran margin of error |
| Agus Harimurti Yudhoyono | Berkisar 0,9 sampai 5,1 persen sepanjang periode | Diam pada tingkat rendah |
Nama yang muncul lalu hilang. Pergantian isi daftar juga informasi. Erick Thohir muncul pada rilis Indikator Oktober 2025 dengan 0,4 persen lalu jarang disebut lagi. Sebaliknya sepanjang 2026 muncul nama nama baru dalam daftar survei, di antaranya Sjafrie Sjamsoeddin, Pramono Anung, Purbaya Yudhi Sadewa, dan Sherly Tjoanda. Masuknya sebuah nama ke daftar tidak menaikkan dukungannya dengan sendirinya, tetapi menandai bahwa lembaga survei menilai nama itu layak diuji.
Aturan Hukum Publikasi Hasil Survei
Publikasi hasil survei bukan ruang tanpa aturan. Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu menempatkan survei dan jajak pendapat sebagai bentuk partisipasi masyarakat, sekaligus mengatur batasnya. Perlu dicatat bahwa sebagian kewajiban di bawah baru mengikat ketika tahapan pemilu sudah berjalan, sedangkan tahapan Pemilu 2029 belum dimulai.
Disusun dari naskah undang undang pemilu dan peraturan KPU tentang partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemilu.
Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom.
Peran perhimpunan lembaga survei. Selain aturan negara, ada standar yang dijaga asosiasi seperti Persepi dan Aropi melalui kode etik dan pemeriksaan data mentah. Kewenangannya punya satu batas penting: keanggotaan tidak wajib, dan sanksi asosiasi hanya mengikat anggotanya. Tidak ada pula ketentuan asosiasi yang mewajibkan lembaga membuka nama klien atau donaturnya, karena kerahasiaan klien diperlakukan sebagai prinsip.
Temuan halaman ini. Dari 13 survei nasional dalam tabel induk, tidak satu pun rilis publiknya menyebutkan siapa yang membiayai. Ini tidak dengan sendirinya berarti pelanggaran, karena kewajiban pelaporan melekat pada tahapan pemilu yang belum berjalan dan laporannya ditujukan kepada KPU, bukan kepada publik. Yang dapat disimpulkan hanya ini: pembaca tidak punya cara memeriksa pembiayaan survei yang angkanya mereka baca.
Suara Pakar dan Kritik terhadap Praktik Survei
Perdebatan tentang cara membaca angka survei berlangsung terbuka di Indonesia, termasuk di antara pelaku surveinya sendiri. Berikut sejumlah pandangan yang relevan dengan halaman ini, lengkap dengan afiliasi, tanggal, dan tautan ke sumber aslinya, agar pembaca dapat memeriksa konteks penuhnya.
Disusun bukan untuk menetapkan siapa yang benar, melainkan untuk menunjukkan bahwa perbedaan angka memang diperdebatkan secara terbuka oleh pihak yang berkepentingan.
Memaparkan hasil survei Juli 2026 yang menempatkan Dedi Mulyadi pada 35 persen dan Prabowo Subianto pada 14,5 persen, serta menyebut penurunan elektabilitas Prabowo pada simulasi dua nama dalam kurun 4 bulan terakhir.
Menyoroti survei daring terbuka yang dijalankan tanpa kontrol sampel yang ketat, dan menyebut hal itu sebagai kelemahan utama metodologinya. Pernyataan ini menjelaskan mengapa penarikan sampel, bukan jumlah responden semata, yang menentukan mutu sebuah survei.
Menjelaskan bahwa sanksi dewan etik hanya mengikat lembaga yang menjadi anggota, dan bahwa lembaga yang sekaligus menjadi konsultan seorang kandidat tidak sepatutnya merilis surveinya ke publik karena ada benturan kepentingan.
Menyatakan keberatan atas putusan Dewan Etik Persepi dalam perkara perbedaan hasil survei Pilkada Jakarta 2024, dan menilai dewan etik tidak adil dalam menjelaskan perbedaan hasil antara dua lembaga.
Menanggapi survei yang menempatkan Dedi Mulyadi di atas Prabowo dengan menyebut hasil survei bersifat fluktuatif dan dapat berbeda antarlembaga. Tanggapan ini dimuat sebagai pandangan pihak yang terdampak, bukan sebagai penilaian metodologi.
Kritik yang belum terjawab. Sorotan yang berulang dari kalangan pengamat adalah ketiadaan kewajiban membuka pembiayaan survei kepada publik. Pihak asosiasi menjawabnya dengan prinsip kerahasiaan klien, yang juga berlaku pada riset pasar di luar politik. Kedua pandangan ini belum bertemu, dan halaman ini tidak berada dalam posisi menengahinya. Yang dapat dilakukan hanyalah menandai kolom sumber dana apa adanya, termasuk ketika isinya tidak diungkapkan.
Bacaan Strategis untuk Tim Kampanye, Partai, dan Caleg
Bagian ini adalah pandangan Head Politika Head Politika, bukan temuan survei. Dasarnya tetap data yang sudah ditampilkan di atas, dan tiap saran menunjuk pada baris yang dapat diperiksa. Pilih sudut pandang yang paling dekat dengan posisi Anda.
Peta seperti ini berguna untuk membaca arah dan menakar ruang kosong, dan berbahaya bila dipakai sebagai bukti kemenangan.
Pandangan Head Politika: nilai terbesar sebuah pelacak survei bagi tim kampanye bukan pada angka terakhir, melainkan pada kemampuannya menunjukkan sejak kapan sebuah pergerakan dimulai, dan pada peristiwa apa pergerakan itu mulai terlihat.
Pandangan Head Politika: bagi partai, pertanyaan yang lebih berguna bukan siapa yang tertinggi hari ini, melainkan seberapa kokoh dukungan itu ketika daftar namanya diubah. Nama yang angkanya jatuh drastis begitu daftar diperpanjang biasanya sedang bersandar pada pengenalan, bukan pada preferensi.
Pandangan Head Politika: pada tahap sejauh ini dari hari pemungutan suara, peta capres lebih berguna sebagai alat membaca arah angin daripada sebagai dasar menyusun daftar dukungan. Yang layak dikerjakan sekarang adalah membangun pengenalan sendiri, bukan menunggu efek ekor jas yang belum tentu datang.
Yang Bisa dan Tidak Bisa Dikatakan Peta Ini
Setelah 13 survei disusun berdampingan, gambaran yang muncul bukan sebuah ramalan, melainkan sebuah keadaan. Keadaan itu bisa diringkas dalam satu kalimat: peta elektabilitas menjelang 2029 sedang bergerak, dan bagian yang belum dikuasai siapa pun masih besar.
Yang dapat dikatakan dengan cukup dasar ada tiga. Pertama, arah pergerakan Prabowo Subianto dan Dedi Mulyadi terlihat pada lebih dari satu lembaga dengan metode berbeda, sehingga bukan sekadar anomali satu rilis. Kedua, sebagian besar selisih antarlembaga dapat dijelaskan oleh bentuk pertanyaan dan cara wawancara, bukan oleh kecurangan. Ketiga, angka belum menentukan yang bergerak antara 2,3 sampai 28,8 persen menunjukkan bahwa peta ini masih jauh dari mengeras.
Yang tidak dapat dikatakan juga tiga. Halaman ini tidak dapat menyebut siapa yang akan menang pada 2029, karena pencalonan belum dibuka dan waktunya masih panjang. Halaman ini tidak dapat menetapkan lembaga mana yang paling akurat, karena ketepatan sebuah lembaga hanya dapat diuji terhadap pemilu yang sudah berlangsung, bukan terhadap yang belum. Dan halaman ini tidak dapat memastikan siapa yang membiayai survei survei tersebut, karena tidak satu pun rilisnya menyebutkan hal itu.
Kritik yang layak diajukan, dan ini pandangan Head Politika, bukan pada lembaga survei sebagai institusi. Metodologi mereka umumnya dipaparkan cukup terbuka, dan rekam jejak hitung cepat pada dua pemilu terakhir menunjukkan kemampuan teknis yang serius. Yang perlu diperbaiki adalah cara angka itu diedarkan. Ketika sebuah angka dikutip tanpa tanggal lapangan, tanpa bentuk pertanyaan, dan tanpa margin of error, angka itu berhenti menjadi informasi dan berubah menjadi alat. Perbaikannya sederhana dan bisa dimulai siapa saja: menuntut lima keterangan minimal sebelum mempercayai sebuah angka, yaitu lembaga, tanggal lapangan, jumlah responden, margin of error, dan bentuk pertanyaan. Halaman ini disusun dengan aturan itu, dan akan terus diperbarui dengan aturan yang sama.
12 Pertanyaan yang Paling Sering Diajukan
01PengertianApa yang dimaksud dengan elektabilitas capres 2029?
Elektabilitas capres 2029 adalah tingkat dukungan publik terhadap nama nama yang disebut sebagai calon presiden pada Pemilu 2029, sebagaimana terekam survei opini pada waktu tertentu. Angkanya menunjukkan berapa persen responden menyatakan akan memilih nama itu bila pemilihan dilakukan pada hari survei dilaksanakan. Karena pencalonan resmi belum dibuka, seluruh nama yang diukur berstatus tokoh yang disebut publik, bukan calon.
02Pertanyaan Paling SeringMengapa hasil survei berbeda beda?
Karena lembaga survei tidak mengajukan pertanyaan yang sama. Empat sebab utamanya adalah bentuk pertanyaan, panjang daftar nama yang dibacakan, cara wawancara, dan jarak waktu lapangan. Pertanyaan terbuka tanpa daftar nama menghasilkan angka yang jauh berbeda dari daftar tertutup berisi 16 nama, meski dilakukan lembaga yang sama pada hari yang sama.
03Perbandingan LembagaLembaga survei mana yang paling akurat?
Halaman ini tidak menyimpulkan hal itu, dan menyajikan selisihnya agar pembaca menilai sendiri. Sebagai pembanding, pada Pemilu 2024 seluruh survei elektabilitas terakhir mencatat angka pemenang lebih rendah daripada hasil resmi KPU, dengan selisih 6,68 sampai 19,28 poin bergantung pada seberapa jauh tanggal lapangannya. Sebaliknya hitung cepat di hari pemungutan suara berselisih kurang dari 0,2 poin. Ketepatan sebuah lembaga juga tidak berpindah dengan sendirinya dari satu pemilu ke pemilu berikutnya.
04Kecurigaan UmumApakah survei bisa dipesan?
Lembaga survei memang menerima pekerjaan riset berbayar, dan itu praktik yang lazim. Yang diatur kode etik adalah benturan kepentingannya. Anggota Dewan Etik Persepi menyatakan lembaga yang sekaligus menjadi konsultan seorang kandidat tidak sepatutnya merilis surveinya ke publik. Kelemahan yang tersisa adalah pembaca tidak punya cara memeriksa pembiayaan, karena tidak ada kewajiban membuka nama klien, dan dari 13 survei dalam halaman ini tidak satu pun menyebutkan sumber dananya.
05Batas TafsirApakah elektabilitas menentukan kemenangan?
Tidak. Elektabilitas adalah potret opini pada saat survei, bukan ramalan hasil. Buktinya ada pada Pemilu 2024, ketika survei pada Desember 2023 mencatat angka pemenang 39,3 persen sedangkan hasil akhirnya 58,58 persen. Selisih itu sebagian besar berasal dari pemilih yang belum menentukan pilihan pada saat survei dilakukan.
06Selisih EkstremKenapa satu nama bisa 60 persen dan 22 persen pada waktu berdekatan?
Karena bentuk pertanyaannya berbeda. Angka 60,1 persen berasal dari pertanyaan terbuka Indekstat pada Januari 2026, ketika responden menyebut nama sendiri tanpa dibacakan daftar. Angka 22,3 persen berasal dari simulasi Indonesian Public Institute pada Januari sampai Februari 2026 yang membagi pilihan ke lebih banyak nama. Kedua angka sah untuk pertanyaannya masing masing, dan tidak sah dibandingkan langsung.
07Temuan TerbaruApakah Dedi Mulyadi benar benar memimpin?
Pada pengukuran terbaru yang tersedia, ya, dan itu tercatat di dua lembaga dengan metode berbeda. SMRC pada Juli 2026 mencatat 35 persen, sedangkan Tempo Data Science pada Agustus 2026 mencatat 41 persen menurut satu media dan 42 persen menurut media lain. Besarannya berselisih, urutannya sama. Uraian lebih dalam tentang asal usul kenaikan ini dapat dibaca pada pembahasan Head Politika tentang pembalikan angka tersebut.
08Kekeliruan UmumMengapa angka Litbang Kompas berbeda sendiri?
Karena rilis yang beredar bukan survei nasional. Pengukuran Litbang Kompas pada 1 sampai 5 Juli 2025 dilakukan di Jawa Barat dengan 400 responden dan margin of error 4,9 persen. Angka itu sah untuk menggambarkan Jawa Barat, tetapi tidak dapat disandingkan dengan survei nasional. Sampai halaman ini disusun, belum ditemukan survei bursa capres 2029 berskala nasional dari lembaga tersebut.
09Angka yang TerlewatApa itu angka belum menentukan dan mengapa penting?
Itu bagian responden yang tidak menjawab atau menyatakan belum punya pilihan. Angka ini menentukan seberapa cair peta yang sedang dibaca. Dukungan 41 persen dengan 12,8 persen belum menentukan berarti sangat berbeda dari angka serupa dengan 28,8 persen belum menentukan. Dalam kumpulan halaman ini, dua lembaga tidak melaporkan angka tersebut secara terpisah.
10Ketentuan HukumApakah survei boleh dirilis kapan saja?
Tidak sepenuhnya. Pasal 449 ayat 2 Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 melarang pengumuman hasil survei tentang pemilu pada masa tenang, yaitu 3 hari sebelum hari pemungutan suara. Pelanggarannya diancam Pasal 509 berupa kurungan paling lama 1 tahun dan denda paling banyak Rp12.000.000. Di luar masa itu, publikasi tidak dilarang, dengan kewajiban pendaftaran dan pelaporan yang melekat pada tahapan pemilu.
11PengawasanApakah lembaga survei wajib menjadi anggota Persepi?
Tidak wajib. Keanggotaan asosiasi bersifat sukarela, dan sanksi dewan etik hanya mengikat anggotanya. Pada perkara perbedaan hasil survei Pilkada Jakarta 2024, satu lembaga yang dijatuhi sanksi menyatakan keberatan lalu memilih keluar dari keanggotaan. Kewajiban yang bersifat memaksa berasal dari negara lewat pendaftaran ke KPU, bukan dari asosiasi.
12Dokumen yang BeredarApakah dokumen survei berisi 32 nama itu sahih?
Tidak. Dokumen yang beredar pada akhir Juli 2026 dan mengatasnamakan Indikator Politik Indonesia dibantah oleh lembaga tersebut, yang menyatakan tidak pernah menulis maupun mempublikasikannya. Angka di dalamnya tidak dipakai sebagai data di halaman ini, dan hanya dicantumkan sebagai catatan agar pembaca yang menemukannya di kanal lain dapat mengenalinya.
Catatan Metodologi, Keterbatasan, dan Celah Riset
Ditulis terbuka supaya pembaca dapat menilai batas kepercayaan yang pantas diberikan pada halaman ini.
Celah riset yang perlu diketahui pembaca. Pertama, rilis asli dalam bentuk dokumen tidak berhasil diakses untuk sebagian lembaga, sehingga datanya bersandar pada pemberitaan yang memuat keterangan metode. Kedua, rilis Median dan Indonesian Public Institute tidak merinci sebagian keterangan penting, sehingga keduanya ditandai. Ketiga, tanggal lapangan Indonesia Political Opinion tidak diketahui, hanya tanggal rilisnya. Keempat, selisih 1 poin pada angka Tempo Data Science belum dapat direkonsiliasi karena rilis aslinya tidak berhasil diakses langsung. Kelima, paruh kedua 2024 nyaris tidak memiliki survei bursa capres 2029, sehingga deret waktu halaman ini baru padat mulai Oktober 2025.
Hak jawab. Bila terdapat lembaga, tokoh, atau pihak yang merasa datanya keliru disajikan di halaman ini, Head Politika Head Politika membuka koreksi dan akan mencantumkan perubahannya pada catatan di bawah.
Halaman ini adalah pelacak yang diperbarui setiap ada rilis survei nasional baru. Setiap pembaruan dicatat di sini beserta tanggalnya.
Daftar Sumber
Dokumen yang diterbitkan langsung oleh lembaga survei atau lembaga negara.
Dipakai hanya bila rilis aslinya tidak dapat ditemukan, dan hanya bila memuat nama lembaga, tanggal lapangan, serta margin of error.
Bacaan lanjutan di Head Politika
Dedi Mulyadi 35 Persen, Prabowo 14,5 Persen: Kenapa Bisa Terbalik. Membedah satu rilis yang menjadi titik balik pada tabel di bagian 3, termasuk dari kelompok pemilih mana kenaikan itu datang.
Kenapa Kepuasan Publik ke Prabowo Anjlok 30 Poin? Ini Datanya. Menjelaskan sisi lain dari peta ini, yaitu kepuasan terhadap kinerja pemerintah yang bergerak searah dengan angka dukungan.
Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Turun, ke Mana Suaranya. Melihat dampak pergerakan angka tokoh terhadap partai, yang penting bagi pembaca yang mengikuti bagian 10 halaman ini.
Apa Itu Pemilu? Pengertian, Asas, Jenis, dan Cara Kerjanya. Rujukan dasar tentang tahapan dan asas pemilu, berguna untuk memahami mengapa pencalonan 2029 belum dibuka.
Ditulis, dianalisis, dan dipublikasikan oleh Tim Head Politika. Halaman ini adalah pelacak yang diperbarui setiap ada rilis survei nasional baru, dan koreksi atas data di dalamnya kami terima dan akan dicatat pada bagian Catatan Perubahan.
Ingin Peta Politik Dapil Anda Dibaca dengan Data?
Diskusikan situasi Anda langsung dengan tim kami. Tanpa biaya, tanpa keterikatan, hanya pembicaraan jujur tentang peluang Anda.
Mulai Konsultasi Gratis
