Konsultasi Gratis Masuk / Daftar
Analisis

Elektabilitas Anies Baswedan: Anatomi Langit Langit Dukungan

Ditulis oleh Tim Head Politika 27 Agustus, 2026 27 menit baca
Survei dan Elektabilitas
Pelacak angka, diperbarui tiap rilis survei nasional
Elektabilitas Anies Baswedan: Anatomi Langit Langit Dukungan

Hampir semua pemilih mengenalnya. Selama 18 bulan sekitar 1 dari 10 memilihnya, lalu 1 pengukuran terbaru mencatatnya 2 kali lipat. Halaman ini menelusuri 18 survei nasional untuk mencari tahu di mana persisnya angka itu berhenti, apa yang menahannya, dan apakah tesis itu masih berdiri.

10–20,5%
Rentang 2 pengukuran terbaru
Tempo Data Science 10 persen, lapangan 31 Juli sampai 11 Agustus 2026, n 1.260, margin of error 2,9 persen, dari pemberitaan. Median 20,5 persen, lapangan 21 Juli sampai 2 Agustus 2026, n 1.212, margin of error 2,76 persen, tatap muka.
91,5%
Tingkat pengenalan
Adidaya Institute, lapangan 1 sampai 8 Mei 2026, n 1.240, margin of error 2,78 persen. Angka dari pemberitaan.
24,95%
Perolehan Pilpres 2024
KPU, Keputusan 360 Tahun 2024, ditetapkan 20 Maret 2024. Bersama Muhaimin Iskandar, 40.971.906 suara.
18bulan
Tanpa gerakan, sampai Juli 2026
Hitungan Head Politika atas 18 survei nasional, Januari 2025 sampai Agustus 2026. Pengukuran Median Agustus 2026 berada di luar rentang itu dan sedang diuji di bagian 1.

Hampir 9 dari 10 pemilih Indonesia tahu siapa Anies Baswedan, dan hanya sekitar 1 dari 10 yang menyebutnya ketika ditanya siapa presiden pilihannya untuk 2029. Elektabilitas, yaitu persentase pemilih yang menyatakan akan memilih seseorang bila pemilihan digelar hari ini, adalah ukuran yang sama sekali berbeda dari sekadar dikenal orang. Jarak antara kedua angka itu yang menyimpan seluruh ceritanya.

Selama 18 bulan, angkanya tidak ke mana mana. Lalu satu pengukuran menantangnya.

Pola itu muncul di banyak lembaga sekaligus. Lembaga Survei Indonesia menaruhnya di 8,2 persen pada Januari 2025. Indikator Politik Indonesia mencatat 8,6 persen pada bulan yang sama, lalu 9 persen pada November 2025. Saiful Mujani Research and Consulting mendapat 8,2 persen pada Juli 2026. Tempo Data Science menutup rangkaian itu dengan 10 persen pada Agustus 2026. Seluruh lembaga tersebut memakai wawancara tatap muka dengan margin of error di kisaran 2,9 sampai 3,7 persen, sehingga selisih satu dua persen di antara titik titik itu belum bisa disebut kenaikan.

Yang menarik justru ada di sisi lain. Popularitasnya menyentuh 91,5 persen, setara papan atas nasional, hanya terpaut sedikit dari Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yang berada di 92,7 persen. Anggap saja seperti warung yang papan namanya terlihat dari ujung jalan, tetapi mejanya tetap kosong. Persoalannya sudah pindah dari soal dikenal ke soal dipilih.

Perkembangan terbaru
1 pengukuran yang menantang tesis halaman ini
Median merilis survei pada 31 Agustus 2026, dengan lapangan 21 Juli sampai 2 Agustus 2026, 1.212 responden, wawancara tatap muka, multistage random sampling, kontrol mutu 20 persen, dan margin of error 2,76 persen.
Semi terbuka20,5%
Responden disodori daftar nama dan boleh menyebut nama di luar daftar. Anies berada di urutan ketiga, tipis di bawah Dedi Mulyadi 20,6 persen, dengan Prabowo Subianto 32,4 persen di urutan pertama.Median, lapangan 21 Juli sampai 2 Agustus 2026, n 1.212, margin of error 2,76 persen.
Terbuka19,5%
Responden ditanya tanpa disodori daftar sama sekali. Inilah yang membuat angka ini sulit ditepis, karena pertanyaan terbuka justru bentuk yang paling keras kepada tokoh yang lama tidak memegang jabatan.Survei yang sama, bentuk pertanyaan terbuka.
Pembanding terdekat10%
Tempo Data Science mencatat 10 persen dengan lapangan 31 Juli sampai 11 Agustus 2026, periode yang bertumpang tindih. Selisihnya 10,5 poin terhadap angka semi terbuka Median.Tempo Data Science, n 1.260, margin of error 2,9 persen, dari pemberitaan.

Mengapa alasan penepisan yang lama tidak lagi berlaku. Sebelum ini, angka Anies di kisaran 20 persen hanya pernah muncul pada survei Median yang respondennya pengguna media sosial, dan halaman ini menepisnya karena bukan hasil pencuplikan acak tatap muka. Pengukuran Agustus 2026 berbeda. Ia memakai tatap muka dan multistage random sampling, yaitu metode yang sama dengan lembaga lain yang dikutip di halaman ini. Karena itu angkanya tidak dapat ditepis dengan alasan metode, dan harus diuji sebagai kemungkinan yang nyata.

Poin Penting dalam 30 DetikRingkasan temuan
  • 1Pada survei tatap muka sejak Januari 2025 sampai Juli 2026, angkanya bergerak di pita 8,2 sampai 11,6 persen. Pita itu bertahan di banyak lembaga selama 18 bulan.
  • 2Satu pengukuran terbaru menantang pita itu. Median mencatat 20,5 persen pada daftar semi terbuka dan 19,5 persen pada pertanyaan terbuka, dengan lapangan 21 Juli sampai 2 Agustus 2026, tatap muka, 1.212 responden, margin of error 2,76 persen. Selisihnya terhadap Tempo Data Science mencapai 10,5 poin pada periode yang bertumpang tindih.
  • 2Pengenalan sudah bukan hambatan. Dengan popularitas 91,5 persen, tambahan suara tidak lagi bisa datang dari memperkenalkan nama.
  • 3Tidak satu pun lembaga besar mempublikasikan angka penolakan Anies untuk 2029, yaitu persentase pemilih yang menyatakan tidak akan memilihnya apa pun keadaannya. Dugaan bahwa penolakan tinggi menahan angkanya tidak punya sandaran data langsung.
  • 4Bentuk pertanyaan mengubah hasilnya cukup jauh. Ditanya bebas tanpa daftar, Anies mendapat 6 persen. Disodori daftar 32 nama, angkanya naik ke 11,6 persen.
  • 5Ambang batas pencalonan presiden sudah dihapus lewat Putusan Mahkamah Konstitusi 62/PUU-XXII/2024, tetapi sampai Agustus 2026 belum ada satu pun partai peserta pemilu yang menyatakan akan mengusungnya.

Seluruh angka di halaman ini disertai nama lembaga, tanggal lapangan, jumlah responden, dan margin of error di tempatnya masing masing. Angka yang berasal dari pemberitaan, bukan dari rilis asli lembaga, ditandai per baris.

01Titik data

18 bulan tanpa gerakan, lalu 1 pengukuran yang menantangnya

Enam titik survei tatap muka yang bisa dibandingkan sepanjang Januari 2025 sampai Agustus 2026 seluruhnya jatuh di antara 8,2 dan 11,6 persen. Titik terendah dipegang Saiful Mujani Research and Consulting pada Juli 2026, titik tertinggi dipegang Indikator Politik Indonesia pada bulan yang sama, dan keduanya memakai bentuk pertanyaan yang berbeda. Di antara keduanya, seluruh lembaga lain berkerumun di sekitar 9 sampai 10 persen.

Setiap survei punya margin of error, yaitu rentang keliru yang wajar karena yang diwawancarai cuma sekitar 1.200 orang, sementara pemilihnya ratusan juta. Anggap seperti timbangan di pasar yang selisihnya bisa beberapa ons. Kalau dua angka bedanya lebih kecil daripada selisih timbangan itu, keduanya sebenarnya sedang mengukur hal yang sama. Dengan margin of error 2,9 sampai 3,7 persen di seluruh lembaga tersebut, jarak antara 8,2 dan 10 persen belum bisa disebut kenaikan.

Selama 18 bulan itu, tidak ada satu pun lonjakan.

Pengukuran Median pada Agustus 2026 keluar dari pola tersebut, dan selisihnya terlalu besar untuk dijelaskan oleh margin of error. Angka 20,5 persen dengan margin 2,76 persen membentang dari 17,7 sampai 23,3 persen, sedangkan angka 10 persen dengan margin 2,9 persen membentang dari 7,1 sampai 12,9 persen. Kedua rentang itu tidak bersinggungan sama sekali, sehingga keduanya tidak mungkin sedang mengukur hal yang sama dengan cara yang sama.

Grafik 1
Elektabilitas Anies Baswedan, Januari 2025 sampai Agustus 2026
Pita abu menandai rentang seluruh angka yang tercatat, yaitu 8,2 sampai 11,6 persen. Jarak antartitik dibuat sama supaya terbaca, jadi sumbu mendatar bukan skala waktu yang sebenarnya.
0 5 10 15 20 25 Perolehan Pilpres 2024: 24,95 persen 8,6 9,0 10,1 10,7 8,2 20,5 10,0 Jan 2025 Okt 2025 Jan 2026 Mei 2026 Jul 2026 Agu, Median Agu, Tempo Angka dalam persen. Sumber tiap titik tercantum di catatan bawah.
Elektabilitas AniesRentang seluruh angka tercatatTitik acuan Pilpres 2024

Sumber tiap titik. Jan 2025, Indikator Politik Indonesia, lapangan 16 sampai 21 Januari 2025, n 1.220, margin of error 2,9 persen, semi terbuka 19 nama, rilis asli. Okt 2025, Indikator Politik Indonesia, lapangan 20 sampai 27 Oktober 2025, n 1.220, margin of error 2,9 persen, semi terbuka, dari pemberitaan. Jan 2026, Indekstat, lapangan 11 sampai 25 Januari 2026, n 1.200, margin of error 2,9 persen, semi terbuka 16 nama, dari pemberitaan. Mei 2026, Adidaya Institute, lapangan 1 sampai 8 Mei 2026, n 1.240, margin of error 2,78 persen, pertanyaan mantap memilih, dari pemberitaan. Jul 2026, Saiful Mujani Research and Consulting, lapangan 5 sampai 19 Juli 2026, n 749, margin of error 3,7 persen, semi terbuka, dari pemberitaan. Agu 2026, Tempo Data Science, lapangan 31 Juli sampai 11 Agustus 2026, n 1.260, margin of error 2,9 persen, simulasi terbuka bernama, dari pemberitaan. Agu Median, Median, lapangan 21 sampai 2 Agustus 2026, n 1.212, margin of error 2,76 persen, tatap muka, multistage random sampling, semi terbuka. Angka tertinggi 11,6 persen berasal dari dokumen yang mengatasnamakan Indikator Politik Indonesia dengan lapangan 14 sampai 24 Juli 2026 dan simulasi 32 nama. Dokumen itu dibantah oleh Indikator Politik Indonesia, sehingga tidak dimasukkan ke garis dan tidak layak dipakai sebagai data.

Mengapa titik Agustus dipisah menjadi 2. Pengukuran Median dan Tempo Data Science dilakukan pada periode yang bertumpang tindih, tetapi hasilnya berselisih 10,5 poin. Menggabungkan keduanya menjadi satu titik akan menyembunyikan perselisihan itu, dan merata ratakannya akan menghasilkan angka yang tidak pernah diukur siapa pun. Karena itu keduanya ditampilkan terpisah, dan garis yang menghubungkannya sebaiknya dibaca sebagai penanda urutan waktu, bukan sebagai pergerakan dukungan.

Uji tesis
2 kemungkinan, dan apa yang membuktikan masing masing
Halaman ini tidak menyatakan tesis langit langit sudah gugur, dan tidak pula menyatakannya masih utuh. Yang jujur dikatakan hari ini adalah tesis itu sedang diuji. Berikut dua kemungkinan yang keduanya masih terbuka.
AAngka Median menyimpang, dan pengukuran berikutnya kembali ke pita lamaKemungkinan ini didukung banyaknya pengukuran yang sepakat sebelumnya. Enam titik dari lima lembaga berbeda selama 18 bulan seluruhnya jatuh di antara 8,2 dan 11,6 persen, dan pengukuran Tempo Data Science pada periode yang sama masih mencatat 10 persen.Yang membuktikannya: bila 2 atau lebih lembaga berikutnya kembali mencatat angka di bawah 13 persen, termasuk pada pertanyaan terbuka.
BAda pergerakan nyata yang belum tertangkap lembaga lainKemungkinan ini didukung 2 hal. Pertama, angka tinggi itu muncul pada 2 bentuk pertanyaan sekaligus, termasuk pertanyaan terbuka yang biasanya menekan angka tokoh tanpa jabatan. Kedua, sebarannya punya pola yang masuk akal, yaitu memusat di wilayah dan kelompok usia tertentu, bukan tersebar merata seperti derau pengukuran.Yang membuktikannya: bila lembaga lain dengan tatap muka mencatat angka di atas 15 persen pada pengukuran berikutnya.

Pandangan Head Politika. Satu pengukuran belum cukup meruntuhkan pola yang bertahan di banyak lembaga selama lebih dari setahun. Tetapi satu pengukuran yang menantang pola itu pada 2 bentuk pertanyaan sekaligus, dengan metode yang setara, juga tidak layak diabaikan. Sikap yang jujur hari ini adalah menyebut tesis langit langit sedang diuji, dan menunggu pengukuran berikutnya sebelum menyatakan mana yang benar. Halaman ini akan diperbarui begitu pengukuran itu terbit, ke arah mana pun hasilnya.

02Jarak dua ukuran

Dikenal 91,5 persen, dipilih 10 persen

Popularitas Anies berada di 91,5 persen menurut Adidaya Institute, dengan lapangan 1 sampai 8 Mei 2026, 1.240 responden, dan margin of error 2,78 persen. Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka ada di 92,7 persen, Dedi Mulyadi di 90,4 persen. Ketiganya praktis sudah dikenal seluruh pemilih, jadi perbedaan nasib mereka lahir di tempat lain.

Nama sudah bukan soalnya lagi.

Burhanuddin Muhtadi dari Indikator Politik Indonesia sudah menyebut soal ini pada 21 Juni 2020. Menurutnya, bila seorang tokoh sudah dikenal lebih dari 90 persen, ruang menaikkan angka sudah tidak ada di popularitas, dan pindah ke kinerja serta tingkat kesukaan. Enam tahun kemudian, keterangan itu terpakai persis untuk menjelaskan keadaan Anies hari ini.

Grafik 2
Jarak antara dikenal dan dipilih, 3 tokoh teratas
Batang navy menunjukkan tingkat pengenalan, batang merah menunjukkan elektabilitas. Semakin lebar jaraknya, semakin banyak orang yang tahu tetapi tidak memilih.
Anies BaswedanAnies Baswedan jarak 81,5 poin
Pengenalan91,5%
Elektabilitas10%
Prabowo SubiantoPrabowo Subianto jarak 77,7 poin
Pengenalan92,7%
Elektabilitas15%
Dedi MulyadiDedi Mulyadi jarak 48,4 poin
Pengenalan90,4%
Elektabilitas42%

Cara membaca. Angka pengenalan berasal dari Adidaya Institute, lapangan 1 sampai 8 Mei 2026, n 1.240, margin of error 2,78 persen, dari pemberitaan. Angka elektabilitas berasal dari Tempo Data Science, lapangan 31 Juli sampai 11 Agustus 2026, n 1.260, margin of error 2,9 persen, simulasi terbuka bernama, dari pemberitaan. Keduanya survei yang berbeda dengan jarak waktu 3 bulan, jadi lebar jarak di grafik ini dibaca sebagai gambaran kasar, bukan hasil satu pengukuran tunggal. Prabowo dan Gibran Rakabuming Raka dilaporkan berada pada angka pengenalan yang sama, yaitu 92,7 persen. Perbandingan ini hanya untuk menakar jarak, dan bukan pembahasan tentang kedua tokoh tersebut.

03Beda ukuran

5 ukuran yang sering ditukar tempatnya

Pemberitaan survei kerap menyamakan lima hal yang sebenarnya berbeda jauh. Seseorang bisa dikenal 91,5 persen, disukai 68 persen, teringat lebih dulu oleh 6 persen, dan dipilih oleh 10 persen, semuanya pada orang yang sama. Kelimanya diukur dengan pertanyaan yang berlainan, jadi menukar satu dengan yang lain membuat kesimpulannya ikut meleset.

Satu di antaranya justru tidak pernah muncul.

Tabel 1
Anies dalam 5 ukuran yang berbeda
Angka terbaru yang tersedia untuk masing masing ukuran, beserta pertanyaan yang dipakai untuk mendapatkannya.
Pengenalan91,5%
Persentase pemilih yang mengaku tahu atau pernah mendengar namanya.Adidaya Institute, lapangan 1 sampai 8 Mei 2026, n 1.240, margin of error 2,78 persen. Dari pemberitaan.
Teringat pertama6%
Nama yang keluar lebih dulu saat pemilih ditanya tanpa disodori daftar apa pun.Tempo Data Science, lapangan 31 Juli sampai 11 Agustus 2026, n 1.260, margin of error 2,9 persen. Dari pemberitaan. Sepanjang 2025 sampai 2026 ukuran ini bergerak di 4,2 sampai 10,6 persen.
Kesukaan68%
Persentase yang menyatakan suka kepada tokohnya, terlepas dari akan memilih atau tidak.Saiful Mujani Research and Consulting, Mei 2023, di kalangan pemilih kritis, turun dari 74 persen pada Juni 2022. Tidak ditemukan pengukuran kesukaan untuk 2025 dan 2026.
PenolakanTidak ada
Persentase yang menyatakan tidak akan memilihnya apa pun keadaannya.Tidak ditemukan satu pun rilis lembaga besar yang mengukurnya untuk Pilpres 2029, sepanjang 2024 sampai Agustus 2026.
Elektabilitas10%
Persentase yang menyatakan akan memilihnya bila pemilihan digelar hari ini.Tempo Data Science, lapangan 31 Juli sampai 11 Agustus 2026, n 1.260, margin of error 2,9 persen, simulasi terbuka bernama. Dari pemberitaan.
Celah data yang perlu dikatakan

Dugaan yang beredar luas menyebut angka Anies tertahan karena penolakan terhadapnya tinggi. Dugaan itu ternyata keliru, setidaknya sebagai klaim berdasar angka. Tidak ada lembaga yang menerbitkannya untuk 2029, sehingga tidak ada yang bisa dipakai untuk membenarkan maupun membantahnya.

Yang tersedia hanya tiga angka dari konteks lain. Litbang Kompas mencatat 17,3 persen yang menolaknya dalam konteks Pilgub Jakarta 2024. Algoritma Research mencatat resistensi 3,7 persen untuk Pilpres 2024 lewat survei Desember 2022, angka yang justru tergolong rendah. Median mencatat 26,9 persen pendukungnya sendiri akan berpaling bila ia didukung Joko Widodo, lewat survei 30 Maret sampai 7 April 2026 berbasis pengguna media sosial.

Ketiganya menjawab pertanyaan yang berbeda dari yang sedang dicari, dan tidak satu pun mengukur penolakan nasional untuk 2029. Pandangan Head Politika: selama angka itu belum ada, penolakan sebaiknya diperlakukan sebagai kemungkinan yang belum terukur.

04Bentuk pertanyaan

Ditanya bebas 6 persen, disodori daftar 11,6 persen

Cara bertanya mengubah hasilnya hampir dua kali lipat. Perbedaannya mirip ditanya mau makan apa, dibanding disodori daftar menu. Nama yang tidak langsung terlintas sering muncul begitu tertulis di depan mata, dan itulah yang terjadi pada angka Anies.

Ketuk tiga tab di bawah untuk melihat selisihnya.

Perbandingan 3 bentuk pertanyaan
Angka yang sama, pertanyaan yang berbeda
Seluruh angka di bawah berasal dari periode yang berdekatan, sehingga selisihnya lebih banyak menjelaskan cara bertanya daripada perubahan dukungan.
6persen

Pemilih ditanya siapa yang akan dipilih tanpa disodori nama sama sekali. Anies keluar dari ingatan 6 persen responden. Ukuran ini paling jujur menggambarkan siapa yang benar benar teringat lebih dulu, dan paling keras kepada tokoh yang lama tidak memegang jabatan.

  • 6%Tempo Data Science, lapangan 31 Juli sampai 11 Agustus 2026, n 1.260, margin of error 2,9 persen. Dari pemberitaan.
  • 4,4%Poltracking Indonesia, lapangan 3 sampai 10 Oktober 2025, n 1.220, margin of error 2,9 persen. Dari pemberitaan.
  • 10,6%Indekstat, lapangan 11 sampai 25 Januari 2026, n 1.200, margin of error 2,9 persen. Dari pemberitaan.
8,2 sampai 10,1persen

Pemilih disodori daftar sedang, umumnya 16 sampai 19 nama, lalu boleh menyebut nama lain di luar daftar. Ini bentuk yang paling sering dipakai lembaga survei nasional, dan angka Anies di sini paling stabil.

  • 8,6%Indikator Politik Indonesia, lapangan 16 sampai 21 Januari 2025, n 1.220, margin of error 2,9 persen, 19 nama. Rilis asli.
  • 10,1%Indekstat, lapangan 11 sampai 25 Januari 2026, n 1.200, margin of error 2,9 persen, 16 nama. Dari pemberitaan.
  • 8,2%Saiful Mujani Research and Consulting, lapangan 5 sampai 19 Juli 2026, n 749, margin of error 3,7 persen. Dari pemberitaan.
10,3 sampai 11,6persen

Daftar diperpanjang sampai 32 nama, atau namanya diadu satu lawan satu dengan Prabowo Subianto. Di kedua bentuk ini angkanya paling tinggi. Sebagian dukungannya bekerja saat diingatkan, dan tidak muncul sendiri.

  • 11,6%Indikator Politik Indonesia, lapangan 14 sampai 24 Juli 2026, simulasi 32 nama. Jumlah responden dan margin of error tidak disebutkan dalam pemberitaan. Dari pemberitaan.
  • 10,3%Poltracking Indonesia, lapangan 3 sampai 10 Oktober 2025, n 1.220, margin of error 2,9 persen, satu lawan satu melawan Prabowo Subianto. Dari pemberitaan.

Satu kejanggalan yang dibiarkan apa adanya. Untuk survei Poltracking Maret 2026, angka teringat pertama Anies dilaporkan 9,2 persen oleh CNN Indonesia dan Liputan6, sedangkan Detik menulis 4,2 persen untuk survei yang sama. Keduanya ditampilkan apa adanya, dan angka itu tidak dipakai dalam perbandingan di atas sampai rilis aslinya bisa diperiksa.

05Sebaran dukungan

Basisnya menang di 2 provinsi saja

Pada Pilpres 2024 pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar mengumpulkan 40.971.906 suara atau 24,95 persen, dan unggul di 2 dari 38 provinsi, yaitu Aceh dan Sumatera Barat. Angka nasionalnya besar, sebarannya sempit. Dukungan yang menumpuk seperti ini menyulitkan pada pemilihan presiden, karena suaranya berlimpah di tempat yang sudah dimenangi dan tipis di tempat yang belum.

Yang terjadi setelahnya lebih menentukan. Pada Pilkada 2024, pemilih yang setahun sebelumnya memilih Anies sebagian besar berpindah ke figur lain, dan bukan ke calon yang diusung partai partai pendukungnya.

Peta ringkas
2 provinsi yang dimenangi pada Pilpres 2024
Hasil resmi KPU, ditetapkan lewat Keputusan 360 Tahun 2024 pada 20 Maret 2024.
Provinsi 1
Aceh
Basis paling kuat sejak kampanye 2024, dengan selisih besar atas dua pasangan lain.
Provinsi 2
Sumatera Barat
Indikator Politik Indonesia sempat mencatat elektabilitasnya 34,6 persen di provinsi ini pada 2023, jauh di atas angka nasionalnya.
Ke mana pemilihnya pergi setahun kemudian
Pilgub Jakarta 2024, mantan pemilih Anies yang memilih Ridwan Kamil
48%
Poltracking Indonesia, 2024. Dari pemberitaan.
Pilgub Jawa Barat 2024, basis Anies dan Muhaimin yang memilih Dedi Mulyadi
50,9%
Analisis perpindahan suara Pilkada 2024. Dari pemberitaan.

Dari mana angka Median berasal. Pengukuran Median Agustus 2026 memuat pecahan yang menunjukkan angka tingginya tidak tersebar merata. Di wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, Anies tercatat 29,5 persen, jauh di atas angka nasionalnya sendiri. Menurut kelompok usia, angkanya tertinggi pada 20 sampai 29 tahun dengan 25,2 persen, lalu 21,2 persen pada 50 sampai 59 tahun. Peringatan penting: margin of error membesar pada data pecahan karena jumlah responden tiap kelompok jauh lebih kecil daripada sampel nasional, sehingga angka angka ini dibaca sebagai petunjuk arah, bukan sebagai ukuran yang setara dengan angka nasional.

Yang tidak tersedia. Tidak ditemukan data kemantapan pilihan khusus pendukung Anies untuk 2029, yaitu berapa persen di antara mereka yang menyatakan sudah tidak akan berubah. Yang ada hanya angka umum seluruh pemilih dari Indekstat, lapangan 11 sampai 25 Januari 2026, n 1.200, margin of error 2,9 persen: 67,3 persen menyatakan yakin pada pilihannya dan 27,5 persen masih bisa berganti. Sebaran menurut usia dan pendidikan juga hanya tersedia sebagai analisis, tanpa angka resmi yang bisa dikutip.

06Kendaraan politik

Dia belum punya partai

Syarat pencalonan presiden justru sedang selonggar longgarnya. Mahkamah Konstitusi menghapus ambang batas pada awal 2025, sehingga satu partai peserta pemilu kini cukup untuk mengusung satu calon. Pintunya terbuka lebar. Anies tetap berdiri di luar, karena seluruh partai yang mengusungnya pada 2024 sudah berada di dalam pemerintahan, dan satu satunya partai yang menyatakan siap mengusungnya belum berstatus peserta pemilu.

Ketuk tiga butir di bawah untuk rinciannya.

3 lapis persoalan
Aturan sudah longgar, kendaraannya belum ada
Keadaan per Agustus 2026, disusun dari putusan pengadilan, keterangan resmi partai, dan pemberitaan bertanggal.
1AturanAmbang batas pencalonan sudah dihapus

Mahkamah Konstitusi membacakan Putusan 62/PUU-XXII/2024 pada 2 Januari 2025, atas permohonan empat mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Pasal 222 Undang Undang 7 Tahun 2017 dinyatakan bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945 dan tidak lagi mengikat. Dua hakim, Anwar Usman dan Daniel Yusmic Foekh, menyatakan pendapat berbeda.

Akibatnya setiap partai peserta pemilu boleh mengusung calon presiden sendiri, tanpa syarat jumlah kursi maupun suara. Revisi Undang Undang Pemilu untuk menindaklanjuti putusan itu masuk Program Legislasi Nasional Prioritas 2025 dan dibahas Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat, tetapi sampai Agustus 2026 belum disahkan. Selama belum ada undang undang baru, putusan itu sendiri yang berlaku.

Sumber: Putusan Mahkamah Konstitusi 62/PUU-XXII/2024, dibacakan 2 Januari 2025. Keterangan proses revisi dari pemberitaan.

2Partai lamaKetiga pengusungnya pada 2024 kini di pemerintahan

Anies bukan anggota partai mana pun. NasDem, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Keadilan Sejahtera, tiga partai yang mengusungnya pada 2024, seluruhnya sudah merapat ke pemerintahan Prabowo Subianto setelah pemilihan selesai.

Sampai Agustus 2026 tidak ditemukan pernyataan resmi dari satu pun partai lama yang menyebut akan mengusungnya pada 2029. Menurut keterangan Refly Harun pada September 2025, Anies tiga kali menolak tawaran kursi menteri dan memilih tetap di luar. Keterangan itu berasal dari pihak ketiga dan perlu diverifikasi.

Sumber: pemberitaan bertanggal, 2024 sampai 2026. Tidak ada rilis resmi partai yang menyatakan sikap mengusung.

3Partai baruPartai Gerakan Rakyat belum berbadan hukum tetap

Partai ini tumbuh dari organisasi relawannya. Anies menerima kartu anggota kehormatan bernomor 0001 pada 17 Desember 2025. Organisasinya berubah menjadi partai politik lewat rapat kerja nasional 18 Januari 2026, dengan Sahrin Hamid sebagai ketua umum, lalu mendaftar ke Kementerian Hukum pada 23 Juli 2026 dengan klaim 38 surat keterangan terdaftar.

Sahrin Hamid menyatakan pada 23 Juli 2026 bahwa bila partainya ditetapkan sebagai peserta pemilu, calon presidennya sudah dipastikan Anies Baswedan. Dua syarat masih menghadang: status badan hukum tetap dari Kementerian Hukum, dan verifikasi faktual Komisi Pemilihan Umum untuk menjadi peserta Pemilu 2029. Keduanya belum terpenuhi.

Sumber: pemberitaan bertanggal 23 sampai 24 Juli 2026, dan keterangan resmi partai. Status verifikasi dapat berubah sewaktu waktu.

07Pembanding

Pelajaran dari 3 tokoh yang pernah sangat dikenal

Pengenalan tinggi pernah berakhir dengan tiga cara berbeda di Indonesia. Ada yang angkanya runtuh cepat, ada yang bertahan tinggi selama 10 tahun sampai akhirnya menang, ada pula yang mentok bertahun tahun tanpa pernah naik. Ketiganya menunjukkan satu hal yang sama: dikenal orang adalah syarat yang perlu, dan tidak pernah cukup.

Ini pelajaran, bukan ramalan tentang Anies.

Korsel, 3 tokoh
Tiga jalan berbeda setelah dikenal hampir semua pemilih
Geser lewat tombol di bawah panel, atau ketuk nama yang ingin dibaca lebih dulu.
Sempat memimpin, lalu tinggal seperlimanya

Sepanjang 2023 pengenalannya sangat tinggi dan elektabilitasnya sempat berada di puncak, di kisaran 34 persen. Setelah kalah pada Pilpres 2024, angkanya terus turun sampai tersisa 2 sampai 5 persen pada survei survei 2026. Pengenalan yang besar tidak menahan penurunan itu sama sekali.Sumber: rangkaian survei nasional 2023 sampai 2026, dari pemberitaan.

01 dari 3
Kalah dua kali, angkanya tidak pernah jatuh

Pada 2014 dan 2019 ia kalah, tetapi elektabilitasnya bertahan di papan atas sepanjang periode di antara keduanya, lalu menang pada 2024. Yang membedakannya dari contoh pertama adalah mesin partai yang ia pimpin sendiri, dan keadaan politik yang berubah ke arahnya menjelang pemilihan.Sumber: hasil resmi KPU 2014, 2019, dan 2024, beserta survei nasional pada periode tersebut.

02 dari 3
Dikenal luas, angkanya tidak pernah beranjak

Sejak 2019 sampai 2024 namanya dikenal luas, sementara elektabilitasnya sebagai calon presiden konsisten di bawah 5 persen. Pengenalan yang tinggi bertahan bertahun tahun tanpa pernah berubah menjadi dukungan, dan ia akhirnya menempuh jalan lain lewat jabatan pemerintahan.Sumber: rangkaian survei nasional 2019 sampai 2024, dari pemberitaan.

03 dari 3

Cara memakai perbandingan ini. Ketiga tokoh di atas menghadapi keadaan politik, lawan, dan kendaraan partai yang berbeda dari Anies. Kesamaannya hanya satu, yaitu tingkat pengenalan yang nyaris sempurna. Perbandingan ini dipakai untuk memahami hubungan antara dikenal dan dipilih, dan tidak dipakai untuk menebak hasil 2029.

08Bacaan strategis

4 hambatan, diurutkan dari yang paling mungkin

Ada tiga hal yang secara teknis harus terjadi supaya angkanya bergerak naik. Partai Gerakan Rakyat lolos menjadi peserta Pemilu 2029, atau ada partai lama yang berbalik mengusungnya. Tingkat kesukaan naik, dan itu menuntut panggung baru serta pekerjaan yang terlihat hasilnya. Keadaan berubah, misalnya bila figur yang sekarang dominan melemah.

Urutan di bawah adalah penilaian analitik Tim Head Politika atas bukti yang tersedia, dan bukan angka resmi dari lembaga mana pun. Yang paling atas paling banyak sandaran datanya, yang paling bawah paling sering disebut orang tetapi paling sedikit buktinya.

Urutan hambatan
Dari yang paling terdokumentasi ke yang paling sulit diukur
Penilaian analitik Tim Head Politika, disusun dari temuan di bagian bagian sebelumnya.
1Tidak ada kendaraan partai yang pastiPaling konkret dan paling mudah diperiksa. Tanpa partai peserta pemilu, tidak ada mesin di daerah yang bekerja setiap hari untuk menaikkan angka.Bukti: status Partai Gerakan Rakyat per 23 Juli 2026, dan tidak adanya pernyataan resmi partai lama.
2Ruang persaingan menyempitDedi Mulyadi naik dari sekitar 30,6 persen pada April 2026 menjadi 41 sampai 42 persen pada Juli dan Agustus 2026, sementara Prabowo Subianto berada di posisi petahana. Ruang bagi penantang lain ikut mengecil.Bukti: Tempo Data Science Agustus 2026, dan catatan Adi Prayitno dari Parameter Politik Indonesia pada 3 Agustus 2026. Dari pemberitaan.
3Tingkat kesukaan diam di tempatAngka terakhir yang bisa diperiksa berasal dari 2023, yaitu 68 persen di kalangan pemilih kritis, turun dari 74 persen pada 2022. Sesudah itu tidak ada lembaga yang mengukurnya lagi, sehingga hambatan ini nyata tetapi datanya sudah lawas.Bukti: Saiful Mujani Research and Consulting, Mei 2023 dan Juni 2022.
4Polarisasi pemilihPaling sering disebut pengamat, paling sedikit sandaran angkanya. Tanpa pengukuran penolakan nasional, besar kecilnya pengaruh polarisasi terhadap langit langit dukungannya masih terbuka untuk diperdebatkan.Bukti: pandangan sejumlah pengamat, 2023. Tidak ada data survei penolakan untuk 2029.
2 pandangan
Yang menilai masih bisa naik, dan yang menilai sudah mentok
Kutipan diambil apa adanya beserta tanggalnya. Sebagian berasal dari 2023, jadi umurnya perlu diperhitungkan saat dibaca hari ini.

Modal sosialnya masih kuat, terutama kedekatan dengan pemilih muda perkotaan yang terbentuk sejak Pilpres 2024.

Ringkasan analisis Pinterpolitik, 2025. Diparafrasekan.

Belum ada tokoh yang benar benar punya basis pemilih loyal, sehingga peluang masih terbuka bagi beberapa nama sekaligus.

Ringkasan pandangan Dedi Kurnia Syah, Indonesia Political Opinion, 30 Juli 2023. Diparafrasekan.

Posisi ekonomi dan politiknya dinilai tidak pas untuk merebut suara pemilih kebanyakan.

Ringkasan pandangan Saiful Mujani, Saiful Mujani Research and Consulting, 8 Juni 2023. Diparafrasekan.

Keberhasilannya di Pilkada Jakarta 2017 tidak bisa disamakan dengan pola pemilihan presiden, karena pemilih dan lawannya berbeda.

Ringkasan pandangan A. Khoirul Umam, Indostrategic, 23 Agustus 2023. Diparafrasekan.

Bila seseorang sudah dikenal lebih dari 90 persen, tambahan dukungan hanya bisa datang dari kinerja dan tingkat kesukaan.

Ringkasan pandangan Burhanuddin Muhtadi, Indikator Politik Indonesia, 21 Juni 2020. Diparafrasekan.

Catatan keseimbangan. Pandangan yang menilai angkanya masih bisa naik lebih sedikit ditemukan dalam pemberitaan 2025 sampai 2026 dibanding yang menilai sudah mentok. Ketimpangan itu bisa berarti dua hal: pandangan optimistis memang lebih jarang, atau media lebih jarang memuatnya. Keduanya belum bisa dipastikan.

Penutup

Angka 10 persen itu sendiri tidak menjelaskan apa apa sampai ditaruh di sebelah tiga hal lain: pengenalan 91,5 persen, capaian 24,95 persen pada 2024, dan tidak adanya partai yang mengusungnya. Selama 18 bulan, ketiganya menunjuk ke satu kesimpulan yang lebih tenang daripada judul judul yang beredar, yaitu dukungan Anies Baswedan berhenti di satu titik, dan yang menahannya lebih banyak berupa soal struktur daripada soal popularitas. Pengukuran Median Agustus 2026 menantang kesimpulan itu dengan angka 2 kali lipat pada 2 bentuk pertanyaan sekaligus, dan sampai ada pengukuran berikutnya, kesimpulan lama itu berstatus sedang diuji, bukan gugur dan bukan pula terbukti ulang.

Satu bagian dari dugaan yang beredar tidak terbukti. Penolakan tinggi sering disebut sebagai penyebab, tetapi angkanya tidak pernah ada. Selama tidak ada lembaga yang mengukurnya, pernyataan itu tetap berupa dugaan, sekuat apa pun terdengarnya.

Yang bisa diperiksa dalam waktu dekat justru urusan administratif. Status badan hukum Partai Gerakan Rakyat dan hasil verifikasi Komisi Pemilihan Umum akan menentukan lebih banyak hal daripada satu dua survei berikutnya. Halaman ini diperbarui setiap ada rilis survei nasional baru dan setiap ada perubahan status partai tersebut.

FAQ10 pertanyaan yang paling sering muncul

Pertanyaan yang sering diajukan

1PengertianApa yang dimaksud dengan elektabilitas?

Elektabilitas adalah persentase pemilih yang menyatakan akan memilih seseorang bila pemilihan digelar pada hari survei dilakukan. Ukuran ini berbeda dari popularitas, yang hanya menghitung berapa banyak orang mengenal namanya, dan berbeda pula dari tingkat kesukaan.

2Angka terbaruBerapa elektabilitas Anies Baswedan sekarang?

Bergantung lembaga mana yang dibaca, dan keduanya berasal dari periode lapangan yang bertumpang tindih. Tempo Data Science mencatat 10 persen dengan lapangan 31 Juli sampai 11 Agustus 2026, n 1.260, margin of error 2,9 persen, diketahui lewat pemberitaan. Median mencatat 20,5 persen pada daftar semi terbuka dan 19,5 persen pada pertanyaan terbuka, dengan lapangan 21 Juli sampai 2 Agustus 2026, n 1.212, margin of error 2,76 persen, tatap muka. Sepanjang Januari 2025 sampai Juli 2026 angkanya bergerak di 8,2 sampai 11,6 persen, sehingga pengukuran Median berada di luar pita itu dan sedang diuji.

3PencalonanApakah Anies Baswedan maju pada Pilpres 2029?

Sampai Agustus 2026 belum ada pernyataan resmi darinya yang memastikan maju. Ia beberapa kali menyebut pembahasan 2029 masih terlalu awal.

4KendaraanPartai apa yang akan mengusung Anies?

Hanya Partai Gerakan Rakyat yang menyatakan akan mengusungnya. Partai itu mendaftar ke Kementerian Hukum pada 23 Juli 2026, dan sampai kini belum berbadan hukum tetap serta belum lolos verifikasi Komisi Pemilihan Umum sebagai peserta Pemilu 2029.

5SebabMengapa elektabilitasnya tidak naik naik?

Tiga sebab punya sandaran data: tidak adanya kendaraan partai, papan atas yang dipadati Prabowo Subianto dan Dedi Mulyadi, serta tingkat kesukaan yang tidak diukur lagi sejak 2023. Polarisasi sering disebut sebagai sebab keempat, tetapi belum ada angka yang mengukurnya.

6PenolakanBerapa banyak pemilih yang menolak memilih Anies?

Tidak diketahui. Tidak ada lembaga survei besar yang mempublikasikan angka penolakan nasional terhadap Anies untuk Pilpres 2029 sepanjang 2024 sampai Agustus 2026. Angka penolakan yang beredar berasal dari konteks lain, misalnya Pilgub Jakarta 2024.

7PengenalanApakah Anies masih dikenal luas?

Ya. Popularitasnya 91,5 persen menurut Adidaya Institute, lapangan 1 sampai 8 Mei 2026, n 1.240, margin of error 2,78 persen, dan diketahui lewat pemberitaan.

8Pilpres 2024Berapa perolehan suaranya pada Pilpres 2024?

Bersama Muhaimin Iskandar ia memperoleh 40.971.906 suara atau 24,95 persen, menempati urutan kedua, dan unggul di 2 provinsi yaitu Aceh dan Sumatera Barat. Angka ini ditetapkan Komisi Pemilihan Umum lewat Keputusan 360 Tahun 2024 pada 20 Maret 2024.

9AturanApakah ambang batas pencalonan presiden masih berlaku?

Tidak. Mahkamah Konstitusi menghapusnya lewat Putusan 62/PUU-XXII/2024 yang dibacakan pada 2 Januari 2025. Setiap partai peserta pemilu kini dapat mengusung calon presiden sendiri, dan revisi Undang Undang Pemilu untuk menindaklanjutinya belum disahkan sampai Agustus 2026.

10Perbedaan angkaMengapa angkanya berbeda beda antarlembaga?

Perbedaan terbesar datang dari bentuk pertanyaan. Ditanya tanpa daftar nama, angkanya sekitar 6 persen. Disodori daftar 32 nama, angkanya 11,6 persen. Selisih di bawah margin of error juga bukan perbedaan yang berarti.

Catatan metodologi dan transparansi

  1. Head Politika juga menyelenggarakan survei sebagai bagian dari layanannya. Penilaian di halaman ini disusun dari dokumen publik yang dapat diperiksa siapa pun. Seluruh angka survei di halaman ini disertai nama lembaga, tanggal lapangan, jumlah responden, margin of error, dan bentuk pertanyaan pada tempatnya masing masing.
  2. Angka yang diperoleh dari pemberitaan, bukan dari rilis asli lembaga survei, ditandai dengan keterangan dari pemberitaan pada baris yang bersangkutan. Rilis resmi Tempo Data Science 26 Agustus 2026 tidak tersedia untuk umum saat halaman ini disusun, sehingga seluruh angkanya ditandai demikian.
  3. Selisih yang lebih kecil daripada margin of error tidak diperlakukan sebagai perubahan.
  4. Lima ukuran dibedakan tegas: pengenalan, teringat pertama, kesukaan, penolakan, dan elektabilitas. Keempat ukuran pertama tidak dipakai menggantikan elektabilitas.
  5. Perbedaan angka antarmedia untuk survei yang sama ditampilkan apa adanya, tidak dirapikan, dan tidak dipakai sebagai data sampai rilis aslinya bisa diperiksa.
  6. Urutan hambatan dan susunan pembanding tokoh adalah penilaian analitik Tim Head Politika atas data yang tersedia, dan bukan angka resmi lembaga mana pun. Penilaian itu ditandai di tempatnya.
  7. Celah yang belum tertutup: angka penolakan nasional untuk 2029, pengukuran tingkat kesukaan pada 2025 dan 2026, kemantapan pilihan khusus pendukung Anies, serta tautan publik rilis Median Agustus 2026 yang belum tersedia saat pembaruan ini disusun.
  8. Dokumen yang mengatasnamakan Indikator Politik Indonesia dengan simulasi 32 nama pada Juli 2026 dibantah oleh lembaga tersebut. Angka 11,6 persen yang berasal darinya masih tercantum di beberapa bagian halaman ini sebagai batas atas pita lama, dan akan ditinjau ulang pada pembaruan berikutnya.
  9. Ketika 2 lembaga berbeda hasil melampaui margin of error, keduanya ditampilkan berdampingan dan tidak ada yang dipilih sebagai yang benar. Tesis halaman ini ikut diuji ulang secara terbuka, bukan dipertahankan diam diam.
  10. Halaman ini berupa pelacak dan diperbarui dalam 48 jam setiap ada rilis survei nasional baru atau perubahan status hukum partai yang menyatakan akan mengusungnya.
  11. Hak jawab dan koreksi terbuka untuk lembaga survei maupun pihak yang disebut di halaman ini.
Sumber, rilis asli dan dokumen resmi
Sumber, pemberitaan sekunder
Catatan perubahan
  • 7 September 2026. Ditambahkan survei Median dengan lapangan 21 Juli sampai 2 Agustus 2026, 1.212 responden, tatap muka, margin of error 2,76 persen, yang mencatat 20,5 persen pada daftar semi terbuka dan 19,5 persen pada pertanyaan terbuka. Tesis langit langit tidak dihapus, melainkan diuji terbuka lewat bagian baru berisi 2 kemungkinan beserta syarat pembuktiannya. Grafik bagian 1 ditambah 1 titik, kartu angka kunci diperlebar menjadi rentang, dan sebaran menurut wilayah serta usia dimasukkan. Ditambahkan pula keterangan bahwa dokumen 32 nama yang mengatasnamakan Indikator Politik Indonesia dibantah lembaga tersebut. Tidak ada angka lama yang dihapus.Pembaruan disusun setelah rilis Median 31 Agustus 2026.
  • 27 Agustus 2026. Halaman diterbitkan, memuat 6 titik survei tatap muka, perbandingan 5 ukuran, sebaran dukungan Pilpres 2024, status kendaraan partai, dan urutan 4 hambatan.Susunan awal halaman.
Ditulis, dianalisis, dan dipublikasikan oleh Tim Head Politika. Terbit 27 Agustus 2026, terakhir diperbarui 7 September 2026. Bila Anda memiliki data, koreksi, atau hak jawab atas angka di halaman ini, hubungi Head Politika.
Bacaan lanjutan di Head Politika
Bagikan
Tentang Penulis

Ditulis oleh Tim Head Politika, konsultan politik Indonesia yang mendampingi kandidat eksekutif dan legislatif melalui riset data, strategi kampanye terukur, dan komunikasi yang efektif sejak 2014.

Konsultasi Gratis

Ingin Peta Politik Dapil Anda Dibaca dengan Data?

Diskusikan situasi Anda langsung dengan tim kami. Tanpa biaya, tanpa keterikatan, hanya pembicaraan jujur tentang peluang Anda.

Mulai Konsultasi Gratis
Daftar Isi