Tokoh
Bagaimana Head Politika Memberi Nilai pada Profil Tokoh

Setiap profil tokoh di situs ini berakhir dengan satu angka. Halaman ini memuat seluruh bahan yang dipakai untuk membuat angka itu: tujuh pilar, tangga penilaian tiap pilar, tabel kelas jabatan, kelas partai, faktor pengali, sampai contoh hitungan lengkap dari nol. Tujuannya supaya Anda bisa menghitung ulang sendiri, lalu membantah bagian yang menurut Anda keliru.
Halaman ini memuat aturan versi 6, yang berlaku sejak 18 September 2026. Setiap kali rubriknya berubah, nomor versinya naik dan perubahannya dicatat di tabel di bawah ini. Perubahan tidak pernah diberlakukan surut tanpa diumumkan, dan setiap profil tokoh selalu mencantumkan versi aturan yang dipakai pada hari ia dinilai.
| Versi | Berlaku sejak | Apa yang berubah |
|---|---|---|
| Versiv5 | Berlaku sejak29 Agustus 2026 | Apa yang berubahSkor dilaporkan sebagai bilangan bulat, pita ketidakpastian wajib ditampilkan, uji kepekaan wajib diterbitkan, dan setiap penilaian dikerjakan dua analis secara terpisah. |
| Versiv6 | Berlaku sejak18 September 2026 | Apa yang berubahKelas baru untuk ketua pengurus wilayah di provinsi berpemilih besar pada modal partai, dan nilai tambah terbatas untuk riwayat kemenangan pada modal elektoral. |
Aturan yang berlaku untuk sebuah penilaian adalah versi yang tercantum di artikel tokohnya masing masing, bukan versi terbaru di halaman ini.
Pertanyaan yang paling sering masuk ke kami bunyinya begini: tokoh ini sebenarnya kuat atau tidak. Jawaban yang biasa beredar berupa kesan. Dia dekat dengan istana, dia punya massa, dia orang lama. Semuanya terdengar masuk akal, dan tidak satu pun bisa diperiksa. Kalau kesan itu salah, tidak ada cara untuk membuktikannya salah.
Head Politika memilih jalan yang lebih merepotkan, yaitu memberi angka. Begitu kami menulis 70, kami terikat pada angka itu. Anda berhak bertanya dari mana 70 datang, memeriksa tiap bahannya, lalu menunjuk bagian mana yang menurut Anda keliru. Supaya itu benar benar bisa Anda lakukan, seluruh isi rubriknya dimuat di halaman ini, bukan disimpan di dokumen dalam.
Halaman ini panjang karena memang dirancang sebagai buku petunjuk, bukan pengantar. Bacalah bagian yang Anda butuhkan saja. Kalau Anda datang dari sebuah profil tokoh dan bingung pada satu angka, langsung buka bagian pilar yang bersangkutan, lalu cocokkan dengan tangganya.
Poin Penting dalam 30 Detik
Versi rubrik yang berlaku
| Versi | Berlaku sejak | Perubahan pokok |
|---|---|---|
| v5 | 29 Agustus 2026 | Skor dibulatkan ke bilangan bulat, disertai pita ketidakpastian, uji kepekaan wajib diterbitkan, dan penilaian ganda diwajibkan. |
| v6 | 18 September 2026 | Kelas tersendiri untuk ketua pengurus wilayah di provinsi berpemilih besar pada modal partai, dan nilai tambah terbatas untuk riwayat kemenangan pada modal elektoral. |
| v7 | 22 September 2026 | Nilai tambah yang menyusut menurut waktu bagi mantan pemegang jabatan eksekutif hasil pemilihan langsung, dan kelas baru pada modal jaringan bagi tokoh yang kerabat inti atau orang dekatnya sedang memegang jabatan tinggi negara. Rubrik dikunci sampai 22 Desember 2026. |
Aturan yang berlaku untuk sebuah penilaian adalah versi yang tercantum di artikel tokohnya masing masing, bukan versi terbaru di halaman ini.
Tambahan versi 7
Nilai tambah pasca-jabatan eksekutif. Mantan pemegang jabatan eksekutif hasil pemilihan langsung mendapat nilai tambah yang ditambahkan ke skor akhir dan menyusut menurut waktu sejak masa jabatannya berakhir. Presiden: +8 dalam dua tahun pertama, +4 sampai lima tahun, +2 sampai sepuluh tahun. Gubernur: +4, +2, +1. Bupati atau wali kota: +2, +1, lalu nol. Wakil dihitung setengah. Hanya jabatan tertinggi yang dihitung, dan nilai tambah ini tidak pernah menurunkan skor.
Jaringan kekuasaan aktif. Bila kerabat inti atau orang yang pernah diangkat tokoh itu sedang memegang jabatan presiden, wakil presiden, menteri, atau gubernur, dan ada kerja politik bersama yang terdokumentasi dalam 24 bulan terakhir, modal jaringan masuk kelas 90 sampai 100. Hubungan keluarga saja tidak cukup. Bila jabatan itu berakhir, kelasnya kembali ke tangga biasa.
Bobot, rumus, dan tangga pilar lain tidak berubah. Rubrik dikunci sampai 22 Desember 2026.
Tujuh hal yang perlu Anda pegang sebelum membaca skor mana pun di situs ini.
Yang diukur adalah modal politik pada satu tanggal tertentu, yaitu kemampuan seseorang hari ini untuk menggerakkan keputusan, mengumpulkan dukungan, dan bertahan saat diserang. Bukan peluang menang pemilu, bukan mutu kinerja, dan bukan kepantasan menduduki jabatan.
Ada 7 pilar yang sama untuk semua orang, dari menteri sampai relawan. Yang berubah antartokoh bukan pilarnya, melainkan tangga penilaiannya, yang mengikuti kelas jabatan.
Penilaian berjalan lewat 6 langkah tetap, dari menetapkan tanggal sampai menerbitkan angka beserta rentang wajarnya. Urutannya tidak boleh dibalik, dan seluruhnya dibuka di halaman ini.
Bobot tiap pilar adalah pilihan Head Politika, bukan temuan penelitian. Kami menerbitkannya justru supaya bisa diperdebatkan, dan Anda dipersilakan menghitung ulang memakai bobot versi Anda sendiri.
Skor ditulis bilangan bulat beserta pitanya, misalnya 70 dengan pita 60 sampai 81. Angka berkoma akan memberi kesan teliti yang tidak dimiliki bahannya. Bila selisih dua tokoh di bawah 10, anggap keduanya setara.
Pilar yang datanya kosong tidak pernah diisi angka tengah. Ada dua kode yang berbeda untuk keadaan kosong, yaitu tidak berlaku dan tidak tersedia, dan perlakuannya bertolak belakang.
Seluruh tangga penilaian, tabel kelas jabatan, kelas partai, dan faktor pengali dimuat lengkap di bawah. Dengan itu Anda bisa menghitung ulang tokoh mana pun memakai kalkulator biasa.
Satu kalimat yang paling sering terlewat. Skor tinggi tidak berarti orangnya baik, dan skor rendah tidak berarti orangnya buruk. Angka ini mengukur kekuatan, bukan kebaikan.
6 Langkah Penilaian, dari Penetapan Tanggal sampai Angka Akhir
Ketuk tiap langkah untuk membuka isinya, termasuk hal yang dilarang dilakukan di langkah itu.
1 Kunci tanggal penilaiannya lebih dulu
Skor adalah potret satu hari, bukan rata rata sepanjang karier seseorang. Karena itu tanggalnya ditetapkan sebelum data dikumpulkan, lalu dicantumkan di halaman tokoh yang bersangkutan.
Seluruh data yang dipakai harus sudah ada pada tanggal itu. Kabar yang muncul sesudahnya tidak disisipkan ke angka lama, melainkan masuk ke pembaruan berikutnya beserta tanggal dan sebabnya.
Yang dilarang di langkah ini. Mengambil data yang terbit setelah tanggal penilaian untuk memperbaiki angka yang sudah terlanjur terasa kurang enak.2 Tetapkan kelas jabatannya
Kelas ditentukan oleh jabatan yang sedang dipegang pada tanggal penilaian, bukan jabatan tertinggi yang pernah dipegang. Mantan menteri yang hari ini tidak menjabat apa pun masuk kelas tokoh tanpa jabatan.
Bila seseorang memegang jabatan negara dan jabatan partai sekaligus, kelasnya ditentukan oleh jabatan negaranya, dan jabatan partainya dihitung di pilar modal partai. Daftar lengkap ketujuh kelasnya ada tepat di bawah bagian ini.
Yang dilarang di langkah ini. Memakai jabatan masa lalu supaya tangga penilaiannya menjadi lebih menguntungkan.3 Isi ketujuh pilar memakai tangganya
Tiap pilar dinilai 0 sampai 100. Angkanya tidak diambil dari perasaan penilai, melainkan dari tangga yang sudah ditetapkan sebelum datanya dilihat.
Urutan itu yang menentukan segalanya. Kalau tangga disusun setelah hasilnya kelihatan, yang terjadi bukan penilaian, melainkan pembenaran. Setiap angka pilar wajib punya data mentah dan tautan sumber yang bisa Anda buka sendiri.
Yang dilarang di langkah ini. Memberi angka berdasarkan kesan, tanpa peristiwa bertanggal yang bisa diperiksa orang lain.4 Tangani pilar yang datanya kosong
Ada dua keadaan kosong yang sering dikira sama, padahal perlakuannya bertolak belakang. Tidak berlaku berarti pilar itu mustahil dimiliki orang dengan jabatan seperti itu. Tidak tersedia berarti pilar itu seharusnya bisa dinilai, tetapi datanya tidak ditemukan.
Yang pertama bobotnya dipindahkan ke pilar lain. Yang kedua tidak, dan bila pilar yang bisa dinilai tinggal kurang dari 5, skor total tidak ditampilkan sama sekali.
Yang dilarang di langkah ini. Memakai label tidak berlaku untuk menutupi data yang sebenarnya ada tetapi tidak dicari sampai tuntas.5 Hitung, lalu setarakan ke skala 0 sampai 100
Tiap angka pilar dikalikan bobotnya, hasilnya dijumlahkan, dibagi 100, lalu dikurangi potongan liabilitas. Angka yang keluar dari langkah ini masih berada di skala mentah yang bisa bernilai minus, jadi ia dipindahkan dulu ke skala 0 sampai 100.
Seluruh hitungannya diperiksa ulang dengan mesin hitung, bukan dari ingatan, dan tabel langkahnya ikut diterbitkan supaya Anda bisa mengulanginya dengan kalkulator biasa.
Yang dilarang di langkah ini. Mengubah bobot di tengah jalan supaya angka akhirnya terasa lebih pantas.6 Terbitkan angkanya beserta batasnya
Yang diterbitkan bukan satu angka telanjang. Satu penilaian yang lengkap memuat bilangan bulat, pita ketidakpastian, tabel uji kepekaan, selisih antarpenilai, dan penanda arah pergerakan.
Pita dan uji kepekaan memperlihatkan seberapa goyah angkanya. Arah pergerakan memperlihatkan ke mana ia bergerak, karena dua tokoh dengan skor sama bisa berada di jalur yang berlawanan.
Yang dilarang di langkah ini. Menampilkan skor tanpa memuat rubrik dan tangga penilaiannya di halaman yang sama.Tangga Penilaian Ditetapkan Sebelum Data Dikumpulkan
Rubrik yang disusun setelah hasilnya kelihatan selalu bisa dibuat pas. Itu sebabnya langkah 2 dan langkah 3 tidak boleh ditukar. Kelas jabatan ditetapkan lebih dulu, tangganya mengikuti kelas itu, baru datanya dimasukkan.
Konsekuensinya kadang tidak enak. Ada tokoh besar yang mendarat di angka sedang karena tangga yang berlaku untuknya memang begitu. Kami menerbitkannya apa adanya, karena angka yang bisa digeser sesuai selera tidak ada gunanya bagi siapa pun.
7 Kelas Jabatan dan Cara Menentukannya
Kelas jabatan menentukan tangga mana yang dipakai, terutama pada modal kelembagaan dan modal publik. Kelas ditetapkan dari jabatan yang sedang dipegang pada tanggal penilaian.
| Kode | Kelas jabatan | Contoh jabatan | Yang perlu diperhatikan |
|---|---|---|---|
| KodeK1 | Kelas jabatanEksekutif nasional | Contoh jabatanPresiden, wakil presiden, menteri, wakil menteri, kepala badan setingkat menteri. | Yang perlu diperhatikanBanyak yang masuk kelas ini lewat pengangkatan, bukan lewat pemilihan. Riwayat pemilihannya tetap dinilai bila pernah ada. |
| KodeK2 | Kelas jabatanLegislatif nasional | Contoh jabatanKetua dan wakil ketua DPR, MPR, DPD, anggota DPR, anggota DPD. | Yang perlu diperhatikanAnggota DPD dilarang undang undang berpartai, sehingga modal partainya ditandai tidak berlaku. |
| KodeK3 | Kelas jabatanEksekutif daerah | Contoh jabatanGubernur, wakil gubernur, bupati, wakil bupati, wali kota, wakil wali kota. | Yang perlu diperhatikanModal publiknya diukur di wilayah kerjanya, kecuali namanya benar benar muncul di survei nasional. |
| KodeK4 | Kelas jabatanLegislatif daerah | Contoh jabatanPimpinan dan anggota DPRD provinsi, kabupaten, dan kota. | Yang perlu diperhatikanKemenangan di tingkat daerah dikalikan faktor tingkat, supaya tidak menyalip kemenangan di tingkat nasional. |
| KodeK5 | Kelas jabatanPengurus partai | Contoh jabatanKetua umum, sekretaris jenderal, ketua harian, ketua bidang, pengurus wilayah. | Yang perlu diperhatikanBila ia tidak memegang jabatan negara apa pun, modal kelembagaannya ditandai tidak berlaku, karena kekuasaan partai bukan kekuasaan negara. |
| KodeK6 | Kelas jabatanPenunjang kekuasaan | Contoh jabatanStaf khusus, tenaga ahli, komisaris badan usaha milik negara, pejabat karier, juru bicara lembaga. | Yang perlu diperhatikanJabatannya ada karena diangkat seseorang, dan bisa berakhir kapan pun yang mengangkat memutuskan begitu. |
| KodeK7 | Kelas jabatanTokoh tanpa jabatan | Contoh jabatanRelawan, aktivis, tokoh masyarakat, akademikus, pengusaha berpengaruh, bakal calon. | Yang perlu diperhatikanTanpa jabatan negara, modal kelembagaannya bernilai kecil, dan tekanan penilaian pindah ke pilar publik serta jaringan. |
Bila seseorang memegang dua jabatan sekaligus, misalnya menteri sekaligus ketua umum partai, kelasnya ditentukan oleh jabatan negaranya. Jabatan partainya tidak hilang, melainkan dihitung di pilar modal partai.
Kelas Jabatan Mengubah Tangga Penilaian, Bukan Bobot
Godaan terbesar dalam sistem seperti ini adalah memberi bobot berbeda untuk tiap kelas, misalnya memperbesar modal elektoral untuk kepala daerah dan memperkecilnya untuk tenaga ahli. Head Politika tidak melakukan itu.
Alasannya sederhana. Begitu bobotnya berbeda antarkelas, dua tokoh dari kelas berbeda tidak lagi bisa dibandingkan, dan seluruh gagasan peringkat nasional runtuh. Perbedaan antarjabatan ditangani di tempat lain, yaitu di tangga penilaian dan di aturan pilar yang tidak berlaku.
Jadi bila Anda membaca dua profil dan melihat seorang gubernur serta seorang staf khusus dinilai dengan bobot yang sama persis, itu bukan kelalaian. Itu memang syarat supaya keduanya boleh diletakkan di meja yang sama.
7 Pilar Modal Politik dan Tangga Penilaiannya
Ketujuh pilar di bawah ini dipakai untuk semua orang, dengan bobot yang sama. Ketuk satu pilar untuk membuka tangga penilaiannya, bukti yang diterima, dan bukti yang ditolak. Bila Anda datang dari sebuah profil tokoh dan bingung pada satu angka, cocokkan angka itu dengan tangga di sini.
P1 Modal elektoral bobot 20
Kemampuan mengumpulkan suara atas nama sendiri. Ini satu satunya modal yang tidak bisa diberikan orang lain kepada seseorang.
Angkanya dibandingkan dengan calon lain pada tingkat dan daerah pemilihan yang sama, pada pemilihan yang sama. Suara 80 ribu di satu kabupaten dan 80 ribu di daerah pemilihan DPR RI bukan hal yang setara, dan pembandingnya harus setingkat.
Yang dipakai selalu pencalonan terakhir yang pernah diikutinya, bukan yang paling menguntungkan. Angka tangga di bawah ini kemudian dikalikan dua faktor pengali, yaitu faktor tingkat pemilihan dan faktor kesegaran, yang tabelnya dimuat di bagian faktor pengali.
Bagi tokoh yang pencalonan terakhirnya kalah, ada nilai tambah terbatas untuk kemenangan yang pernah ia raih dalam sepuluh tahun terakhir. Aturannya dimuat di bagian faktor pengali, lengkap dengan pagu dan contoh hitungannya.
Tangga penilaian- Hasil resmi penyelenggara pemilu, termasuk jumlah suara pribadi per calon.
- Daftar calon terpilih beserta daerah pemilihannya.
- Rekapitulasi yang mengutip penetapan resmi, bila dokumen aslinya tidak dapat diakses.
- Klaim kemenangan besar tanpa angka suara yang bisa diperiksa.
- Suara partai di daerah pemilihan yang dihitung seolah olah suara pribadi.
- Jabatan yang diperoleh lewat pemilihan oleh lembaga, misalnya wakil kepala daerah pengganti. Itu masuk kelas 10 sampai 29, karena yang memilihnya bukan pemilih.
Pilar ini ditandai tidak berlaku hanya bila seseorang belum pernah sekali pun maju dalam pemilihan langsung apa pun. Menteri yang menang pemilihan legislatif lebih dulu tetap dinilai di sini, karena suara yang pernah ia kumpulkan tidak hilang ketika ia berpindah kursi. Dilarang menjumlahkan suara dari beberapa pemilihan.
P2 Modal kelembagaan bobot 20
Kekuasaan yang melekat pada jabatan yang sedang dipegang hari ini. Di Indonesia, jabatan sering menentukan arah keputusan lebih cepat daripada popularitas.
Tangga pilar inilah yang paling banyak berubah antarkelas jabatan, karena puncak kekuasaan seorang gubernur memang berbeda dari puncak kekuasaan seorang menteri. Tiap tingkat di bawah ini memuat contoh untuk beberapa kelas sekaligus.
Tangga penilaian- Surat keputusan pengangkatan, atau halaman resmi lembaga yang memuat nama dan jabatannya.
- Struktur organisasi yang memperlihatkan berapa unit kerja berada di bawah koordinasinya.
- Dokumen yang menunjukkan kewenangan anggaran, hukum, atau keamanan pada bidang yang dipegangnya.
- Sebutan jabatan yang hanya muncul di pemberitaan, tanpa dokumen mana pun yang menegaskannya.
- Jabatan duta, penasihat kehormatan, dan sejenisnya yang bersifat seremonial dan tidak membawa kewenangan.
- Jabatan yang sudah berakhir pada tanggal penilaian.
Tiga hal menggeser angka ke atas di dalam kelasnya, bukan melompati kelas: menjabat lebih dari satu periode berturut turut, membawahi bidang yang menyentuh hukum, keamanan, atau anggaran, dan mengoordinasi unit kerja lebih banyak daripada rekan setingkat. Untuk pengurus partai murni yang tidak memegang jabatan negara, pilar ini ditandai tidak berlaku, karena kekuasaan partai bukan kekuasaan negara.
P3 Modal partai bobot 15
Posisi seseorang di dalam partai dan jaraknya ke pusat pengambilan keputusan. Di Indonesia, partai yang memegang tiket pencalonan, sehingga jarak ke meja keputusan itu bernilai nyata.
Angka tangga di bawah ini masih dibatasi oleh kekuatan partainya lewat aturan pagu kelas partai. Ketua umum partai yang tidak punya kursi tidak bisa disetarakan dengan ketua umum partai yang memerintah. Tabel kelas partai dan pagunya dimuat di bagian berikutnya.
Khusus ketua pengurus wilayah provinsi, kelas 30 sampai 49 di bawah ini dapat naik ke kelas 40 sampai 59 bila provinsinya termasuk berpemilih besar dan partainya kelas A atau B. Syarat lengkapnya dimuat di bagian kelas partai.
Tangga penilaian- Surat keputusan kepengurusan, atau susunan pengurus pusat yang diumumkan resmi oleh partai.
- Penugasan tertulis dari ketua umum, lengkap dengan cakupan tugasnya.
- Keterangan resmi partai tentang status keanggotaan seseorang.
- Pujian ketua umum di atas panggung yang belum turun menjadi surat keputusan.
- Kepanitiaan kegiatan yang dihitung seolah olah jabatan pengurus.
- Kartu tanda anggota yang dihitung seolah olah jabatan struktural.
Untuk tokoh yang boleh berpartai tetapi memilih tidak, pilar ini tetap diberi angka di bawah 10, karena ketiadaan partai itu pilihan dan akibatnya nyata. Berbeda dengan anggota DPD, aparatur sipil negara, prajurit aktif, anggota kepolisian aktif, dan hakim, yang dilarang undang undang berpartai. Untuk mereka pilar ini ditandai tidak berlaku, sebab menghukum seseorang karena menaati undang undang jelas tidak adil.
P4 Modal jaringan bobot 15
Kemampuan bekerja dengan kekuatan politik di luar kelompoknya sendiri. Hampir semua keputusan besar di Indonesia butuh lebih dari satu fraksi, sehingga kemampuan ini punya harga.
Pilar ini dinilai dari peristiwa yang bisa diperiksa, bukan dari daftar kenalan. Ukurannya jumlah peristiwa bertanggal dalam 24 bulan terakhir, supaya jaringan lama yang sudah tidak aktif tidak terus dihitung.
Tangga penilaian- Peristiwa bertanggal berupa perundingan, kesepakatan, atau kerja bersama dengan kekuatan di luar kelompoknya.
- Pujian atau pengakuan yang terekam, bertanggal, dan datang dari luar kekuatan politiknya sendiri.
- Penunjukan resmi di lembaga atau organisasi yang anggotanya lintas kekuatan.
- Daftar kenalan, foto bersama, dan kehadiran di acara yang sama.
- Kesan kedekatan yang disampaikan orang dekat tanpa peristiwa yang bisa ditunjuk.
- Pujian dari sesama pengurus partainya sendiri, karena itu bukan bukti kemampuan lintas kekuatan.
Pilar ini yang paling bergantung pada penilaian orang, bersama modal publik. Karena itu keduanya dinilai dua analis secara terpisah, dan rata rata selisih antarpenilai diterbitkan di tiap profil.
P5 Modal publik bobot 15
Pengenalan nama, keterpilihan, dan sentimen terhadap seseorang. Bobotnya diletakkan di bawah modal kelembagaan karena pilar ini mengukur potensi, bukan kekuasaan yang sudah di tangan.
Kolom tangga yang dipakai ditentukan oleh tempat nama seseorang benar benar muncul di survei, bukan semata oleh kelas jabatannya. Seorang gubernur yang masuk daftar survei calon presiden dinilai memakai kolom nasional. Bila namanya muncul di kedua kolom, dipakai kolom yang menghasilkan kelas lebih tinggi, dan alasannya disebutkan.
Tangga penilaian- Rilis survei yang menyebut nama lembaga, tanggal pengambilan data, jumlah responden, dan margin of error.
- Angka pengenalan tokoh yang diukur lembaga survei, bukan diperkirakan sendiri.
- Ketiadaan nama di seluruh survei yang ditelusuri, dicatat sebagai temuan beserta rentang penelusurannya.
- Jumlah pengikut media sosial yang dipakai sebagai pengganti angka keterpilihan.
- Jajak pendapat daring yang pesertanya memilih sendiri untuk ikut.
- Survei yang tidak membuka metodenya, termasuk yang tidak menyebut margin of error.
Aturan pagu pengenalan berlaku di sini. Bila pengenalan seseorang di atas 60 persen tetapi keterpilihannya nol atau tidak pernah terukur, angka pilar ini dibatasi paling tinggi 49. Sangat dikenal tetapi tidak dipilih siapa pun adalah gejala modal publik yang rapuh, bukan modal publik yang kuat. Bila hanya satu dari tiga indikator yang punya data, pilar tetap dinilai, tetapi batas keyakinannya ditulis rendah.
P6 Modal sumber daya bobot 10
Kemampuan membiayai kegiatan politik. Bobotnya paling kecil di antara pilar yang menambah, karena uang adalah modal yang paling mudah dipinjam dari pihak lain, dan karena itu paling mudah pula hilang.
Sumber utamanya laporan harta kekayaan resmi. Untuk orang yang tidak wajib melapor, dipakai riwayat usaha dan pembiayaan yang terdokumentasi, dan statusnya ditulis apa adanya sebagai angka perusahaan, bukan angka pribadi.
Tangga penilaian- Laporan harta kekayaan penyelenggara negara yang bisa diakses publik.
- Prospektus, laporan keuangan, dan dokumen resmi perusahaan terbuka.
- Riwayat pembiayaan kegiatan politik yang tercatat dalam laporan dana kampanye.
- Taksiran kekayaan yang disusun dari gaya hidup atau dari barang yang terlihat di media sosial.
- Angka perusahaan yang disajikan seolah olah kekayaan pribadi pemiliknya.
- Sebutan pengusaha besar tanpa satu pun angka yang bisa diperiksa.
Laporan tanpa utang menggeser angka ke paruh atas kelasnya, utang besar menggesernya ke paruh bawah. Untuk tokoh yang tidak wajib melapor dan tidak punya dokumen apa pun, pilar ini ditandai tidak tersedia, bukan diberi angka. Angka kekayaan disajikan apa adanya, dan dilarang menyiratkan bahwa kekayaan besar diperoleh dengan cara yang tidak benar.
P7 Liabilitas potongan, maksimal 15
Beban yang dapat dipakai lawan. Pilar ini tidak menambah kekuatan siapa pun, ia hanya memotong, dan potongannya paling besar 15 angka.
Yang dihitung hanya isu yang punya sumber terperiksa. Kenaikan kelas potongan hanya boleh terjadi bila status hukum seseorang benar benar berubah, bukan karena isunya makin ramai diberitakan.
Tangga penilaian- Putusan pengadilan, surat penetapan status hukum, dan dokumen resmi lembaga etik.
- Laporan resmi yang tercatat nomor dan tanggalnya di lembaga penerima.
- Pemberitaan kontroversi yang memuat tanggapan pihak yang bersangkutan.
- Isu yang hanya beredar di media sosial tanpa bukti. Ini tidak dihitung sama sekali.
- Tuduhan pidana yang belum berujung putusan berkekuatan hukum tetap, diperlakukan seolah olah sudah terbukti.
- Hal yang menyangkut kehidupan pribadi dan keluarga yang tidak menduduki jabatan publik.
Tiap isu wajib disertai bantahan atau penjelasan dari pihak yang bersangkutan. Bila tanggapan tidak ditemukan setelah ditelusuri, itu wajib ditulis terus terang di halaman tokohnya. Di dalam satu kelas, potongan diambil di batas atas bila jumlah isunya banyak atau bobotnya berat.
Cara Menentukan Angka di Dalam Satu Kelas Tangga
Tangga menentukan kelasnya lebih dulu, misalnya 30 sampai 49. Sesudah itu barulah penilai memilih letak di dalam kelas tersebut. Diambil di ujung bawah bila keadaannya masih goyah, di tengah bila biasa saja, dan di ujung atas bila ada keadaan yang benar benar menonjol.
Itu sebabnya di profil tokoh Anda akan menemukan kalimat seperti angkanya diambil di ujung atas kelas itu, selalu disertai alasannya. Perpindahan di dalam satu kelas tidak boleh dilakukan diam diam.
Satu hal yang perlu Anda tahu sejak awal: lebar kelas 20 angka inilah sebabnya skor akhir tidak pernah kami tulis dengan koma. Bahan yang masuk memang sekasar itu.
Kelas Partai dan Pengaruhnya pada Nilai Modal Partai
Jabatan yang sama di partai yang berbeda tidak menghasilkan kekuasaan yang sama. Karena itu tiap partai ditetapkan kelasnya lebih dulu, dan kelas itu memberi batas atas pada angka modal partai.
| Kelas partai | Syarat | Batas atas modal partai |
|---|---|---|
| Kelas partaiA | SyaratLolos ambang parlemen dan berada di 5 besar perolehan suara nasional. | Batas atas modal partai100 |
| Kelas partaiB | SyaratLolos ambang parlemen, di luar 5 besar. | Batas atas modal partai75 |
| Kelas partaiC | SyaratPeserta pemilu, tidak lolos ambang parlemen, tetapi punya kursi DPRD. | Batas atas modal partai55 |
| Kelas partaiD | SyaratPeserta pemilu tanpa kursi di tingkat mana pun, atau partai baru yang belum pernah ikut pemilu. | Batas atas modal partai40 |
| Kelas partaiR | SyaratKendaraan politik nonpartai, yaitu organisasi relawan, organisasi kemasyarakatan, dan organisasi profesi. | Batas atas modal partai45 |
Kelas partai ditentukan dari hasil pemilu terakhir. Untuk pengurus partai di daerah, yang dipakai tetap kelas nasional partainya, sedangkan tingkat jabatannya sudah tercermin di tangga modal partai.
Ketua Umum Partai Kelas D Paling Tinggi Memperoleh 40
Tangga modal partai menempatkan ketua umum di kelas 90 sampai 100. Bila partainya tidak punya kursi di tingkat mana pun, angka itu dipotong ke batas atas kelas D, yaitu 40.
Aturan ini ada karena tanpanya, jabatan besar di partai yang tidak punya kursi akan terbaca setara dengan jabatan besar di partai yang memerintah. Padahal yang satu bisa mencalonkan orang, yang satu lagi tidak.
Sejak 2014, sebagian modal politik di Indonesia mengalir lewat jalur di luar partai, yaitu organisasi relawan, organisasi kemasyarakatan, dan organisasi profesi. Ada tokoh yang tidak pernah menjadi anggota partai mana pun, tetapi memimpin organisasi relawan berskala nasional, lalu memperoleh jabatan menteri. Basis politiknya nyata, hanya saja bukan partai. Untuk mereka dipakai kelas R.
| Angka | Syarat pada kelas R |
|---|---|
| Angka35 sampai 45 | Syarat pada kelas RKetua umum organisasi relawan atau organisasi kemasyarakatan berskala nasional, yang perannya dalam pemenangan pemilu atau dalam pembentukan kebijakan terdokumentasi. |
| Angka20 sampai 34 | Syarat pada kelas RPengurus pusat organisasi semacam itu, atau ketua organisasi berskala provinsi. |
| Angka10 sampai 19 | Syarat pada kelas RPengurus daerah organisasi semacam itu. |
| AngkaDi bawah 10 | Syarat pada kelas RTidak punya kendaraan organisasi apa pun. |
Dua aturan pemakaiannya. Pertama, bila seseorang punya jabatan di partai dan di organisasi nonpartai sekaligus, dipakai angka yang lebih tinggi, tidak dijumlahkan. Kedua, klaim tentang skala dan peran organisasi wajib bersumber, dan organisasi yang hanya ada di atas kertas dinilai di bawah 10. Batas atas kelas R ditetapkan 45 karena organisasi nonpartai tidak dapat mencalonkan siapa pun dan tidak memegang kursi.
Ketua Pengurus Wilayah di Provinsi Berpemilih Besar
Kekuasaan seorang ketua pengurus wilayah berbanding lurus dengan jumlah pemilih dan jumlah kursi yang ia kelola. Karena itu tangga modal partai membedakan provinsi berpemilih puluhan juta dari provinsi berpemilih ratusan ribu, dan keduanya angka resmi yang bisa diperiksa siapa pun.
| Keadaan | Kelas modal partai |
|---|---|
| KeadaanKetua pengurus wilayah provinsi, provinsinya masuk sepuluh besar daftar pemilih tetap nasional, dan partainya kelas A atau B. | Kelas modal partai40 sampai 59 |
| KeadaanKetua pengurus wilayah provinsi lainnya. | Kelas modal partai30 sampai 49 |
Tiga keadaan berikut menggeser angka ke atas di dalam kelasnya, dan tidak satu pun boleh dipakai untuk melompati kelas.
Menjabat lebih dari satu periode di posisi itu.
Kursi partai di DPRD provinsi bertambah selama kepemimpinannya.
Partainya memegang jabatan pimpinan di DPRD provinsi.
Kelas Baru Ini Tetap Tunduk pada Pagu dan pada Susunan Partainya
Pertama, pagu kelas partai tetap berlaku. Ketua wilayah dari partai kelas B tetap tidak boleh melampaui 75, sama seperti pengurus mana pun di partai itu.
Kedua, angka seorang ketua wilayah tidak boleh melampaui angka pengurus pusat berportofolio strategis di partai yang sama. Pembatas ini menjaga agar susunan kekuasaan di dalam satu partai tetap masuk akal, dan agar jabatan daerah tidak terbaca lebih besar daripada jabatan pusat di atasnya.
Ukuran yang dipakai adalah daftar pemilih tetap nasional pada pemilu terakhir, karena angka itu resmi, terbuka, dan berlaku sama untuk semua partai. Setiap artikel yang memakai aturan ini wajib mencantumkan sumber daftar sepuluh besar tersebut beserta tahun datanya.
Yang tidak tersentuh aturan ini: pengurus pusat, pengurus kabupaten dan kota, serta pemegang kendaraan nonpartai kelas R. Tangga mereka tetap seperti yang tertulis di bagian sebelumnya.
Dua Faktor Pengali pada Modal Elektoral
Angka tangga modal elektoral tidak langsung dipakai. Ia dikalikan dua faktor lebih dulu, supaya kemenangan di tingkat yang berbeda dan pada tahun yang berbeda tidak dianggap sama nilainya. Angka 78 yang muncul di tabel kedua hanyalah contoh, yaitu angka tangga milik seseorang yang terpilih dengan suara pribadi jauh di atas rata rata. Angka itu dipakai supaya Anda bisa melihat berapa sisanya setelah dikalikan.
Faktor Tingkat Pemilihan
Faktor ini menyetarakan bobot kemenangan di tingkat yang berbeda. Tanpanya, peraih suara tertinggi di DPRD kabupaten akan menyalip peraih suara tertinggi di DPR RI pada peringkat nasional, padahal jumlah pemilih dan luas daerah yang harus ia taklukkan jauh berbeda.
| Tingkat pemilihan | Faktor |
|---|---|
| Tingkat pemilihanPemilihan presiden | Faktor1,00 |
| Tingkat pemilihanDPR RI, atau pemilihan gubernur | Faktor1,00 |
| Tingkat pemilihanDPD | Faktor0,95 |
| Tingkat pemilihanPemilihan bupati atau wali kota | Faktor0,90 |
| Tingkat pemilihanDPRD provinsi | Faktor0,80 |
| Tingkat pemilihanDPRD kabupaten atau kota | Faktor0,70 |
Faktor Kesegaran
Faktor ini dihitung dari jarak waktu antara pemilihan terakhir yang pernah diikuti seseorang dan tanggal penilaiannya. Satu siklus pemilu di Indonesia adalah 5 tahun. Kemenangan sepuluh tahun lalu tetap dihitung, tetapi tidak lagi bernilai penuh, karena pemilih, daerah pemilihan, dan pesaingnya sudah berganti.
Contoh cara memakainya. Seseorang dinilai pada 2026 dan pemilihan terakhir yang ia ikuti adalah Pemilu 2019. Jaraknya 7 tahun, sehingga masuk baris kedua, dan faktornya 0,85.
| Jarak pemilihan terakhir ke tanggal penilaian | Contoh, bila dinilai pada 2026 | Faktor pengali | Contoh angka tangga 78 berubah menjadi |
|---|---|---|---|
| Jarak pemilihan terakhir ke tanggal penilaian0 sampai 5 tahun | Contoh, bila dinilai pada 2026Terakhir maju pada Pemilu 2024 | Faktor pengali1,00 | Contoh angka tangga 78 berubah menjadi78, tidak berubah |
| Jarak pemilihan terakhir ke tanggal penilaianLebih dari 5 sampai 10 tahun | Contoh, bila dinilai pada 2026Terakhir maju pada Pemilu 2019 | Faktor pengali0,85 | Contoh angka tangga 78 berubah menjadi66 |
| Jarak pemilihan terakhir ke tanggal penilaianLebih dari 10 sampai 15 tahun | Contoh, bila dinilai pada 2026Terakhir maju pada Pemilu 2014 | Faktor pengali0,70 | Contoh angka tangga 78 berubah menjadi55 |
| Jarak pemilihan terakhir ke tanggal penilaianLebih dari 15 tahun | Contoh, bila dinilai pada 2026Terakhir maju pada Pemilu 2009 atau sebelumnya | Faktor pengali0,55 | Contoh angka tangga 78 berubah menjadi43 |
Dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, yang dihitung adalah pemilihan terakhir yang ia ikuti, bukan yang hasilnya paling bagus. Kedua, jabatan yang diperoleh lewat pengangkatan atau lewat pemilihan oleh lembaga tidak menghentikan hitungan jarak ini, karena yang diukur di sini adalah kesegaran mandat dari pemilih.
Angka Tangga Dikali Faktor Tingkat Dikali Faktor Kesegaran
Contohnya seorang wakil menteri yang dinilai pada 2026. Ia terakhir maju sebagai calon anggota DPR RI pada Pemilu 2019, dan terpilih dengan suara pribadi sekitar rata rata calon terpilih di tingkat yang sama.
Angka tangganya 62, karena ia berada di kelas 50 sampai 69. Faktor tingkatnya 1,00, karena pemilihannya DPR RI. Faktor kesegarannya 0,85, karena jaraknya satu siklus. Hasilnya 62 dikali 1,00 dikali 0,85, yaitu 53.
Kalau ia terakhir maju di DPRD provinsi pada tahun yang sama, dengan angka tangga yang sama, hasilnya menjadi 62 dikali 0,80 dikali 0,85, yaitu 42. Selisih 11 angka itu memang disengaja.
Nilai Tambah untuk Riwayat Kemenangan
Pokok aturannya tidak berubah. Yang dipakai tetap pencalonan terakhir, dan tetap dilarang memilih pencalonan yang hasilnya paling menguntungkan atau menjumlahkan suara dari beberapa pemilihan. Nilai tambah ini hanya melengkapi, dan besarnya dibatasi.
Nilai tambah diberikan hanya bila dua syarat terpenuhi sekaligus. Pertama, pencalonan terakhirnya kalah, sehingga ia masuk kelas 10 sampai 29 pada tangga modal elektoral. Kedua, ia pernah menang dalam pemilihan langsung apa pun dalam sepuluh tahun terakhir, dihitung dari tanggal penilaian.
Empat langkah menghitung nilai tambah riwayat kemenangan. Bila ada lebih dari satu kemenangan dalam sepuluh tahun terakhir, tiap kemenangan dihitung sendiri sendiri lalu dipakai yang menghasilkan nilai tambah tertinggi, bukan dijumlahkan.
Dari Angka Tangga sampai Nilai Tambah Akhir
Angka di bawah ini angka rekaan, bukan angka tokoh mana pun. Seorang tokoh dinilai pada 2026. Pencalonan terakhirnya pemilihan bupati pada 2024 dan ia kalah, sehingga tangganya di kelas 10 sampai 29 dan angkanya 18. Dikalikan faktor tingkat 0,90 dan faktor kesegaran 1,00, modal elektoralnya menjadi 16,2.
Ia pernah terpilih sebagai anggota DPR RI pada 2019, dalam sepuluh tahun terakhir, dengan angka tangga 62. Faktor tingkatnya 1,00 dan faktor kesegarannya 0,85, sehingga hasilnya 53. Dua puluh persen dari 53 adalah 10,6, dan angka itu masih di bawah pagu 15 sehingga dipakai penuh.
Modal elektoralnya menjadi 16,2 ditambah 10,6, yaitu 26,8. Seandainya kemenangan 2019 itu terjadi tanpa pesaing, nilai tambahnya dipotong setengah menjadi 5,3, dan hasil akhirnya 21,5.
Kemenangan melawan kotak kosong dihitung setengah dari nilai tambah yang seharusnya. Alasannya sederhana, yaitu kemenangan tanpa pesaing bukan ukuran daya saing. Tanpa aturan ini setiap calon tunggal akan memperoleh nilai tambah penuh, dan celah itu pasti dimanfaatkan. Jumlah pemilih yang memilih kotak kosong wajib ditampilkan di artikelnya agar pembaca bisa menilai sendiri.
Seluruh langkah hitungan ini ditampilkan terbuka di artikel yang memakainya: pemilihan mana yang dipakai, angka tangganya, kedua faktornya, hasil 20 persennya, pemotongan setengah bila berlaku, dan angka akhirnya. Pembaca harus bisa menghitung ulang sendiri tanpa bertanya kepada kami.
Dua Jenis Pilar Kosong dan Perlakuannya
Pilar yang tidak punya angka tidak pernah diisi nilai tengah. Ia diberi salah satu dari dua kode, dan kedua kode itu diperlakukan bertolak belakang. Bagian inilah yang membuat sistem penilaian ini adil untuk semua jenis jabatan.
Bagan keputusan untuk pilar yang tidak punya angka. Urutan pertanyaannya mengikat, dan jawabannya menentukan apakah bobot pilar itu dipindahkan atau tidak.
| Keadaan | Kode | Bobotnya | Boleh masuk peringkat |
|---|---|---|---|
| KeadaanPilar itu mustahil dimiliki orang dengan kelas jabatan ini | KodeTB | BobotnyaDialihkan ke pilar lain | Boleh masuk peringkatYa |
| KeadaanData tidak ditemukan setelah dicari sungguh sungguh | KodeTT | BobotnyaTidak dialihkan | Boleh masuk peringkatHanya bila pilar yang dapat dinilai masih 5 atau lebih |
| KeadaanData ada, tetapi nilainya nol atau nyaris nol | KodeTetap dinilai dengan angka | BobotnyaTidak dialihkan | Boleh masuk peringkatYa |
Contoh kode TB: anggota DPD yang dilarang undang undang menjadi anggota partai, sehingga modal partainya mustahil ada. Contoh kode TT: seorang bupati yang laporan harta kekayaannya tidak dapat diakses, padahal ia wajib melaporkannya.
Dilarang Memakai Kode TB untuk Menutupi Kode TT
Kalau datanya sebenarnya ada tetapi tidak dicari sampai tuntas, itu TT, bukan TB. Perbedaannya tidak main main, karena TB memindahkan bobot ke pilar lain sehingga tokohnya tidak dirugikan, sedangkan TT membiarkan bobot itu hilang dan bisa membatalkan tampilnya skor total.
Kode yang keliru karena itu selalu menguntungkan tokoh yang dinilai. Itu sebabnya aturan ini ditulis sebagai larangan, bukan sebagai anjuran.
Cara Bobot Pilar TB Dipindahkan ke Pilar Lain
Bobot pilar yang ditandai TB dibagikan secara berimbang menurut besar bobot asli tiap pilar yang tersisa, bukan dibagi sama rata. Pilar yang bobot aslinya besar menerima tambahan yang besar pula.
Contohnya seorang menteri yang belum pernah sekali pun maju dalam pemilihan apa pun. Modal elektoralnya ditandai TB, dan bobot 20 miliknya dibagikan ke 5 pilar yang menambah lainnya. Jumlah bobot asli kelima pilar itu 75. Tiap pilar menerima tambahan sebesar bobot aslinya dibagi 75 lalu dikali 20.
| Pilar | Bobot asli | Tambahan | Bobot aktif |
|---|---|---|---|
| PilarModal kelembagaan | Bobot asli20 | Tambahan5,33 | Bobot aktif25,33 |
| PilarModal partai | Bobot asli15 | Tambahan4,00 | Bobot aktif19,00 |
| PilarModal jaringan | Bobot asli15 | Tambahan4,00 | Bobot aktif19,00 |
| PilarModal publik | Bobot asli15 | Tambahan4,00 | Bobot aktif19,00 |
| PilarModal sumber daya | Bobot asli10 | Tambahan2,67 | Bobot aktif12,67 |
| PilarJumlah | Bobot asli75 | Tambahan20,00 | Bobot aktif95,00 |
Angka pada kolom tambahan berasal dari hitungan berikut. Modal kelembagaan menerima 20 dibagi 75 dikali 20, hasilnya 5,33. Modal partai, jaringan, dan publik masing masing menerima 15 dibagi 75 dikali 20, hasilnya 4,00. Modal sumber daya menerima 10 dibagi 75 dikali 20, hasilnya 2,67.
Jumlah Bobot Tetap 95, Sehingga Batas Atas Skor Tidak Berubah
Perhatikan baris jumlah pada tabel di atas. Setelah pemindahan, total bobotnya kembali menjadi 95, sama persis dengan keadaan ketika ketujuh pilar hidup. Pemindahan bobot tidak menaikkan dan tidak menurunkan batas atas skor seseorang, ia hanya memindahkan tekanan penilaian.
Bagi menteri dalam contoh ini, tekanan itu menumpuk di modal kelembagaan, yang bobot aktifnya naik menjadi 25,33. Artinya jabatannya menjadi penentu terbesar angkanya, dan jabatan pengangkatan bisa dicabut kapan saja oleh yang mengangkat. Inilah sebabnya tokoh dengan modal elektoral TB jarang menembus angka tinggi.
Bila Anda membuka sebuah profil tokoh dan melihat bobot tertulis 25,33 dan 12,67 alih alih 20 dan 10, itu tandanya ada satu pilar yang ditandai TB di halaman tersebut.
Skor Total Hanya Ditampilkan Bila 5 dari 7 Pilar Dapat Dinilai
Pilar berkode TB dihitung sebagai pilar yang dapat dinilai, karena ketidakberlakuannya adalah fakta tentang jabatan orang itu, bukan kekosongan data. Pilar berkode TT tidak dihitung, karena ia memang lubang.
Bila pilar yang dapat dinilai kurang dari 5, halaman tokoh itu hanya menyajikan angka per pilar, disertai keterangan kenapa totalnya tidak dihitung. Angka setengah jadi tidak diterbitkan sebagai angka utuh.
Contoh Hitungan Lengkap dari Nol sampai Angka Akhir
Dua contoh di bawah ini bukan penilaian atas orang tertentu. Keduanya adalah pola jabatan yang paling sering ditemui, dan dipakai supaya Anda bisa melihat seluruh jalan hitungannya tanpa terganggu perdebatan tentang tokoh siapa pun. Angkanya sudah diperiksa ulang dengan mesin hitung.
Contoh 1: Pimpinan Lembaga Legislatif Nasional, Seluruh Pilar Dapat Dinilai
Wakil ketua lembaga legislatif nasional, lebih dari satu periode, berasal dari partai kelas A, dan terakhir maju pada pemilihan legislatif kurang dari 5 tahun lalu.
| Pilar | Angka | Kenapa angkanya sekian | Bobot | Hasil |
|---|---|---|---|---|
| PilarModal elektoral | Angka78 | Kenapa angkanya sekianTerpilih di DPR RI dengan suara pribadi jauh di atas rata rata calon terpilih, dan menjadi penyumbang suara terbesar partainya di daerah itu. Pemilihan terakhirnya kurang dari 5 tahun lalu, sehingga faktor kesegarannya 1,00. | Bobot20 | Hasil1.560 |
| PilarModal kelembagaan | Angka84 | Kenapa angkanya sekianWakil ketua lembaga legislatif nasional, lebih dari satu periode, membawahi bidang yang menyentuh hukum dan keamanan. Ketiga hal itu menggesernya ke ujung atas kelas 70 sampai 89. | Bobot20 | Hasil1.680 |
| PilarModal partai | Angka86 | Kenapa angkanya sekianMemegang jabatan setingkat ketua harian di partai kelas A, ditambah penugasan strategis dari ketua umum. Batas atas kelas A adalah 100, sehingga tidak ada pemotongan. | Bobot15 | Hasil1.290 |
| PilarModal jaringan | Angka80 | Kenapa angkanya sekianLebih dari 3 peristiwa perundingan lintas fraksi yang terdokumentasi tanggalnya dalam 24 bulan terakhir, sebagian dengan kekuatan di luar koalisinya. | Bobot15 | Hasil1.200 |
| PilarModal publik | Angka18 | Kenapa angkanya sekianTidak pernah masuk daftar survei keterpilihan mana pun, meskipun namanya sering muncul di pemberitaan nasional. Ini kelas 10 sampai 29, dan angkanya diambil di tengah kelas. | Bobot15 | Hasil270 |
| PilarModal sumber daya | Angka64 | Kenapa angkanya sekianKekayaan terlapor berada di rentang Rp50 miliar sampai Rp100 miliar, dengan utang yang tercatat kecil. | Bobot10 | Hasil640 |
| PilarLiabilitas | Angkapotongan 4 | Kenapa angkanya sekianAda kontroversi publik yang terdokumentasi dan sudah dibantah, tanpa proses hukum. Kelas potongannya 2 sampai 4, diambil di batas atas karena isunya lebih dari satu. | Bobotdikurangkan | Hasiltidak dikali |
| Langkah | Hasil |
|---|---|
| LangkahJumlah seluruh hasil perkalian | Hasil6.640 |
| LangkahDibagi 100 | Hasil66,4 |
| LangkahDikurangi potongan liabilitas 4 | Hasil62,4 |
| LangkahDipindahkan ke skala 0 sampai 100, yaitu 62,4 ditambah 15, dibagi 110, dikali 100 | Hasil70,4 |
| LangkahDibulatkan menjadi bilangan bulat | Hasil70, pita 60 sampai 81 |
Perhatikan modal publiknya yang hanya 18. Tokoh dengan kekuasaan besar di dalam lembaga negara sering tidak pernah diukur keterpilihannya oleh lembaga survei, dan rubrik ini mencatatnya apa adanya, bukan menutupinya dengan angka tengah.
Contoh 2: Menteri yang Belum Pernah Maju dalam Pemilihan
Menteri bidang penunjang yang jalan politiknya lewat organisasi relawan, bukan lewat partai dan bukan lewat kotak suara. Modal elektoralnya ditandai TB, sehingga bobotnya dialihkan seperti pada tabel pembagian bobot di bagian sebelumnya.
| Pilar | Angka | Kenapa angkanya sekian | Bobot | Hasil |
|---|---|---|---|---|
| PilarModal elektoral | AngkaTB | Kenapa angkanya sekianBelum pernah sekali pun maju dalam pemilihan apa pun. Pilar ditandai tidak berlaku, dan bobot 20 miliknya dibagikan ke 5 pilar lain. | Bobotdialihkan | Hasiltidak dihitung |
| PilarModal kelembagaan | Angka62 | Kenapa angkanya sekianMenteri bidang penunjang, satu periode, bidangnya tidak menyentuh hukum, keamanan, maupun anggaran besar. Kelas 50 sampai 69, diambil di paruh atas. | Bobot25,33 | Hasil1.570,46 |
| PilarModal partai | Angka42 | Kenapa angkanya sekianBukan anggota partai mana pun, tetapi memimpin organisasi relawan berskala nasional yang perannya dalam pemenangan pemilu terdokumentasi. Dinilai di kelas R, batas atasnya 45. | Bobot19,00 | Hasil798,00 |
| PilarModal jaringan | Angka68 | Kenapa angkanya sekianPunya akses terdokumentasi ke pucuk eksekutif, tetapi peristiwa kerja lintas kekuatannya hanya dua dalam 24 bulan terakhir. Kelas 50 sampai 69, diambil di ujung atas. | Bobot19,00 | Hasil1.292,00 |
| PilarModal publik | Angka35 | Kenapa angkanya sekianSesekali masuk daftar survei nasional, tanpa kemunculan yang berulang. Kelas 30 sampai 49, diambil di paruh bawah karena kemunculannya jarang. | Bobot19,00 | Hasil665,00 |
| PilarModal sumber daya | Angka40 | Kenapa angkanya sekianKekayaan terlapor berada di rentang Rp10 miliar sampai Rp50 miliar. Kelas 30 sampai 49, diambil di tengah. | Bobot12,67 | Hasil506,80 |
| PilarLiabilitas | Angkapotongan 2 | Kenapa angkanya sekianSatu kontroversi publik yang terdokumentasi dan sudah dibantah, tanpa proses hukum. Kelas 2 sampai 4, diambil di batas bawah. | Bobotdikurangkan | Hasiltidak dikali |
| Langkah | Hasil |
|---|---|
| LangkahJumlah seluruh hasil perkalian | Hasil4.832,26 |
| LangkahDibagi 100 | Hasil48,32 |
| LangkahDikurangi potongan liabilitas 2 | Hasil46,32 |
| LangkahDipindahkan ke skala 0 sampai 100, yaitu 46,32 ditambah 15, dibagi 110, dikali 100 | Hasil55,7 |
| LangkahDibulatkan menjadi bilangan bulat | Hasil56, pita 45 sampai 66 |
Selisih 14 Angka, dan Penyebabnya Bisa Ditunjuk Satu per Satu
Contoh 2 mendarat di 56, sedangkan contoh 1 di 70. Penyebab utamanya bukan kemampuan pribadi, melainkan tiga hal yang bisa ditunjuk: tidak adanya riwayat suara, batas atas 45 pada kendaraan nonpartai, dan jabatan yang diperoleh lewat pengangkatan sehingga dapat dicabut sewaktu waktu.
Perhatikan juga bahwa pita keduanya, yaitu 60 sampai 81 dan 45 sampai 66, masih bertindihan di rentang 60 sampai 66. Artinya selisih 14 angka itu nyata, tetapi tidak sebesar kesan yang ditimbulkan dua angka telanjang.
Alasan Hasil Hitungan Dibagi 110, Bukan 100
Ini pertanyaan yang paling sering masuk, dan jawabannya sebenarnya sederhana. Angka 110 bukan angka pilihan. Ia panjang penggarisnya.
Bayangkan rapor yang nilainya bisa minus. Nilai paling buruk yang mungkin adalah minus 15, yaitu ketika seluruh pilar bernilai nol dan potongan liabilitasnya penuh. Nilai paling baik yang mungkin adalah 95, yaitu ketika seluruh pilar sempurna dan tidak ada beban apa pun. Angka 95 itu berasal dari jumlah bobot seluruh pilar yang menambah.
Sekarang bayangkan seutas tali yang ujung kirinya ditancapkan di minus 15 dan ujung kanannya di 95. Dari minus 15 ke nol ada 15 langkah, lalu dari nol ke 95 ada 95 langkah. Jumlahnya 110 langkah. Di situlah angka 110 berasal.
Garis bilangan skor mentah. Arketipe pada contoh 1 berhenti di titik 62,4, yang berarti ia sudah menempuh 77,4 dari 110 langkah, setara 70 persen perjalanan dari titik paling nihil menuju titik paling sempurna menurut rubrik ini.
Skor Terendah yang Mungkin Muncul Adalah 13,6, Bukan Nol
Karena garisnya dimulai dari minus, seseorang yang modal politiknya benar benar nol tetapi tidak punya beban sama sekali tetap mendarat di 13,6. Sebabnya ia sudah berdiri 15 langkah dari ujung kiri sejak awal. Angka 0 hanya tercapai bila modalnya nol sekaligus bebannya maksimal.
Kalimat ini wajib dimuat di setiap halaman yang menampilkan skor total. Tanpa itu, pembaca yang teliti berhak menuduh angkanya digelembungkan, dan tuduhan itu akan sulit dibantah.
Rumus lantainya tetap: batas potongan liabilitas dibagi jumlah bobot ditambah batas potongan itu, lalu dikali 100. Pada jumlah bobot 95, hasilnya 15 dibagi 110 dikali 100, yaitu 13,6.
Pita Ketidakpastian dan Cara Menghitungnya
Setiap kelas tangga selebar 20 angka, sehingga bahan yang masuk ke rumus memang kasar. Menerbitkan hasilnya dengan satu angka di belakang koma berarti mengaku teliti sampai sepersepuluh, padahal bahannya tidak sehalus itu. Karena itu skor selalu ditulis bilangan bulat, disertai pita.
| Batas | Cara menghitungnya | Hasil pada contoh 1 |
|---|---|---|
| BatasBatas bawah pita | Cara menghitungnyaSeluruh angka pilar dikurangi 10, dengan batas terendah 0, dan potongan liabilitas ditambah 2, dengan batas tertinggi 15. | Hasil pada contoh 160 |
| BatasBatas atas pita | Cara menghitungnyaSeluruh angka pilar ditambah 10, dengan batas tertinggi 100, dan potongan liabilitas dikurangi 2, dengan batas terendah 0. | Hasil pada contoh 181 |
Angka 10 dipakai karena itu setengah lebar satu kelas tangga. Angka 2 dipakai karena itu setengah lebar satu kelas potongan liabilitas. Rumusnya tetap, sehingga siapa pun bisa mengulanginya dan memperoleh pita yang sama persis.
Pita kedua contoh pada bagian sebelumnya. Meskipun skornya berselisih 14 angka, pita keduanya masih bertindihan di rentang 60 sampai 66.
Selisih di Bawah 10 Angka Dianggap Setara
Karena pita tiap tokoh selebar sekitar 20 angka, dua tokoh yang berselisih 3 angka sebenarnya tidak dapat dibedakan. Menyatakan yang satu lebih kuat daripada yang lain adalah klaim yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Aturan praktisnya sederhana. Bila selisih dua skor di bawah 10, perlakukan keduanya sebagai setara, dan bacalah penanda arah pergerakannya untuk melihat ke mana masing masing bergerak.
Uji Kepekaan yang Diterbitkan di Setiap Profil
Setiap halaman tokoh memuat satu tabel kecil yang memperlihatkan seberapa goyah angkanya bila bobot atau penilaian pilarnya diubah. Ketiga baris ini dihitung ulang dengan mesin, bukan diperkirakan.
| Uji | Caranya | Hasil pada contoh 1 |
|---|---|---|
| UjiBobot digeser | CaranyaTiap bobot digeser 5 poin ke atas dan ke bawah, seluruh kombinasi dihitung. | Hasil pada contoh 164 sampai 75 |
| UjiAngka pilar digeser | CaranyaTiap angka pilar digeser 10 angka ke atas dan ke bawah, seluruh kombinasi dihitung. | Hasil pada contoh 162 sampai 79 |
| UjiKeduanya digeser bersamaan | Caranya20.000 kombinasi acak, yang dilaporkan rentang tengah 90 persen. | Hasil pada contoh 165 sampai 76 |
Cara membacanya begini. Bila baris pertama sempit tetapi baris kedua lebar, artinya angka itu tidak peka terhadap bobot, melainkan peka terhadap penilaian tiap pilar. Bila keduanya lebar, artinya angka itu memang belum kokoh, dan biasanya karena data tokohnya masih sedikit.
Pembaca yang Teliti Akan Menghitungnya Sendiri
Menerbitkan tabel ini terasa seperti melemahkan diri sendiri. Kenyataannya sebaliknya. Siapa pun yang ingin membantah angka kami akan mulai dengan menggeser bobot, dan jauh lebih baik bila ia menemukan bahwa kami sudah menghitungnya lebih dulu dan memuat hasilnya di halaman yang sama.
Penilaian oleh Dua Analis secara Terpisah
Modal jaringan dan modal publik adalah dua pilar yang paling bergantung pada penilaian orang, sehingga paling mungkin berbeda antaranalis. Empat aturan berikut berlaku untuk seluruh penilaian.
Setiap tokoh dinilai dua analis secara terpisah, tanpa saling melihat angka satu sama lain.
Selisih tiap pilar dicatat. Bila selisihnya lebih dari 15 angka pada pilar mana pun, keduanya wajib membahas ulang dan menuliskan alasan penyelesaiannya.
Rata rata selisih antarpenilai diterbitkan di kotak metodologi tiap halaman tokoh, apa pun hasilnya.
Bila hanya tersedia satu analis, itu wajib dinyatakan terus terang, dan pita ketidakpastiannya dilebarkan 5 angka ke masing masing arah.
Penanda Arah Pergerakan: Naik, Mendatar, Turun
Skor adalah potret satu tanggal, dan potret tidak dapat membedakan orang yang sedang naik dari orang yang sedang turun. Karena itu setiap penilaian wajib menyertakan satu penanda arah.
| Penanda | Syarat |
|---|---|
| PenandaNaik | SyaratDalam 5 tahun terakhir jabatannya menguat, atau perolehan suaranya meningkat, atau partainya menguat. |
| PenandaMendatar | SyaratTidak ada perubahan berarti pada ketiga hal di atas. |
| PenandaTurun | SyaratDalam 5 tahun terakhir ia kehilangan kursi hasil pemilihan, atau berpindah ke partai berkelas lebih rendah, atau jabatannya melemah. |
Arah Pergerakan Tidak Ikut Masuk ke Dalam Skor
Penanda ini sengaja dibiarkan di luar hitungan, supaya tidak menghitung dua kali hal yang sudah tercermin di modal elektoral dan modal kelembagaan. Ia dibaca berdampingan dengan angkanya, bukan dijadikan pengali.
Akibatnya penting untuk Anda pegang: dua tokoh dengan skor sama bisa berada di jalur yang berlawanan. Skor 55 yang sedang naik dan skor 55 yang sedang turun bukan hal yang sama, dan keputusan politik yang diambil dari keduanya seharusnya juga berbeda.
Untuk halaman tokoh yang sudah dinilai lebih dari sekali, arah pergerakan dihitung dari selisih skor antarpenilaian, dan selisihnya ditampilkan beserta tanggalnya.
Peringkat Memakai Kelompok, Bukan Nomor Urut
Karena pita tiap tokoh selebar sekitar 20 angka, memberi nomor urut 7 dan 8 kepada dua tokoh yang berselisih 3 angka adalah klaim yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Peringkat Head Politika karena itu memakai kelompok tetap selebar 10 angka.
| Kelompok | Rentang skor |
|---|---|
| KelompokKelompok 1 | Rentang skor90 sampai 100 |
| KelompokKelompok 2 | Rentang skor80 sampai 89 |
| KelompokKelompok 3 | Rentang skor70 sampai 79 |
| KelompokKelompok 4 | Rentang skor60 sampai 69 |
| KelompokKelompok 5 | Rentang skor50 sampai 59 |
| KelompokKelompok 6 | Rentang skor40 sampai 49 |
| KelompokKelompok 7 | Rentang skorDi bawah 40 |
Di dalam satu kelompok, nama diurutkan menurut abjad, bukan menurut skor. Ini mencegah pembaca membaca selisih yang sebenarnya tidak nyata.
Batas kelompok tetap dan tidak digeser untuk siapa pun. Akibatnya skor 69 dan 70 jatuh di kelompok berbeda meski hanya berselisih 1. Kelemahan itu melekat pada batas mana pun, dan kami menyebutnya sendiri supaya tidak dikira permainan.
Skor angka tetap ditampilkan di kolom tersendiri beserta pitanya, sehingga pembaca bisa menilai sendiri jarak antartokoh.
Lima Syarat Sebuah Nama Boleh Masuk Tabel Peringkat
Kelimanya wajib terpenuhi. Bila satu saja tidak terpenuhi, namanya tetap boleh punya halaman penilaian, tetapi tidak dimasukkan ke tabel peringkat.
Dinilai dengan versi aturan yang sama, dan nomor versinya dicantumkan.
Paling sedikit 5 dari 7 pilar dapat dinilai.
Tanggal penilaiannya berada dalam jendela 90 hari yang sama dengan nama lain di tabel itu.
Seluruh data mentahnya terbuka dan bertautan, sehingga dapat diperiksa pembaca.
Sudah melewati pemeriksaan tautan satu per satu dan penilaian oleh dua analis.
Membandingkan Gubernur dengan Menteri Diperbolehkan, dengan Tiga Keterangan
Karena bobotnya sama untuk semua kelas jabatan, peringkat lintas jabatan sah menurut aturan ini. Tiga hal wajib ditampilkan agar tidak menyesatkan: kolom kelas jabatan di sebelah nama, jumlah pilar yang ditandai tidak berlaku, dan kalimat pengingat bahwa yang diukur adalah modal politik, bukan mutu kepemimpinan.
Sekalipun begitu, peringkat di dalam satu kelas jabatan selalu lebih kuat daripada peringkat gabungan. Bila memungkinkan, peringkat sesama gubernur disajikan lebih dulu, dan peringkat gabungan menyusul sebagai pelengkap.
Kamus Istilah yang Dipakai di Seluruh Halaman Tokoh
Dua puluh istilah berikut muncul berulang di setiap profil. Bila satu kata membuat Anda berhenti membaca, cari di sini lebih dulu.
| Istilah | Artinya |
|---|---|
| IstilahModal politik | ArtinyaBekal yang membuat seseorang mampu menggerakkan keputusan, mengumpulkan dukungan, dan bertahan saat diserang. |
| IstilahPilar | ArtinyaSalah satu dari 7 hal yang diukur. Pilarnya sama untuk semua orang. |
| IstilahBobot | ArtinyaBesar pengaruh sebuah pilar terhadap skor akhir. Jumlah seluruh bobot yang menambah adalah 95. |
| IstilahBobot aktif | ArtinyaBobot sebuah pilar setelah menerima limpahan dari pilar yang ditandai TB. Contohnya 20 menjadi 25,33. |
| IstilahTangga penilaian | ArtinyaDaftar bertingkat yang menentukan angka sebuah pilar. Tiap tingkat selebar 20 angka. |
| IstilahKelas jabatan | ArtinyaPengelompokan jabatan dari K1 sampai K7. Menentukan tangga mana yang dipakai. |
| IstilahKelas partai | ArtinyaPengelompokan partai dari A sampai D, ditambah kelas R untuk kendaraan nonpartai. |
| IstilahPagu | ArtinyaBatas atas sebuah angka pilar. Contohnya modal partai di partai kelas D paling tinggi 40. |
| IstilahTB | ArtinyaTidak berlaku. Pilar itu mustahil dimiliki orang dengan kelas jabatan ini, sehingga bobotnya dialihkan. |
| IstilahTT | ArtinyaTidak tersedia. Pilar itu seharusnya bisa dinilai, tetapi datanya tidak ditemukan, sehingga bobotnya hilang. |
| IstilahFaktor tingkat | ArtinyaPengali pada modal elektoral yang menyetarakan kemenangan di tingkat pemilihan berbeda. |
| IstilahFaktor kesegaran | ArtinyaPengali pada modal elektoral yang memperhitungkan jarak waktu ke pemilihan terakhir. |
| IstilahLiabilitas | ArtinyaBeban yang dapat dipakai lawan. Sifatnya memotong, paling besar 15 angka. |
| IstilahPita | ArtinyaRentang wajar di sekitar skor, misalnya 70 dengan pita 60 sampai 81. Menunjukkan batas ketelitian angkanya. |
| IstilahLantai skala | ArtinyaAngka terendah yang mungkin muncul, yaitu 13,6, bukan nol. |
| IstilahUji kepekaan | ArtinyaHitungan ulang dengan bobot dan angka pilar yang digeser, untuk melihat seberapa goyah skornya. |
| IstilahKelompok | ArtinyaSatuan peringkat selebar 10 angka. Dipakai menggantikan nomor urut. |
| IstilahArah pergerakan | ArtinyaPenanda naik, mendatar, atau turun. Dibaca berdampingan dengan skor, tidak ikut dihitung. |
| IstilahPengenalan | ArtinyaPersentase orang yang mengenal nama seseorang saat ditanya lembaga survei. |
| IstilahKeterpilihan | ArtinyaPersentase orang yang menyatakan akan memilih seseorang. Sering disebut elektabilitas. |
Apakah Penilaian Ini Termasuk Penelitian Ilmiah
Jawaban jujurnya setengah. Ini indeks analitik bermetode terbuka, bukan penelitian ilmiah. Perbedaannya besar, dan kami menyebutnya dengan nama yang benar sejak awal.
- Aturannya ditetapkan sebelum datanya dilihat.
- Hitungannya dapat diulang siapa pun dan menghasilkan angka yang sama.
- Dapat dibuktikan salah di tingkat data. Bila angka suaranya keliru, orang bisa menunjukkannya.
- Data yang hilang ditangani dengan aturan tertulis, bukan ditebak.
- Seluruh sumbernya bertaut dan dapat diperiksa pembaca.
- Bobotnya ditetapkan lewat penalaran, bukan diturunkan dari data.
- Tangganya bertingkat, tetapi diperlakukan seolah jarak antartingkat sama besar.
- Belum ada pengujian yang menunjukkan skor ini berhubungan dengan hasil politik di dunia nyata.
- Angka faktor kesegaran dan batas atas kelas partai berasal dari penilaian kami, bukan dari perhitungan empiris.
Kelemahan ini kami tulis di halaman metodologi, bukan kami sembunyikan, karena metode yang batasnya tidak disebut jauh lebih mudah dipatahkan daripada metode yang mengakui batasnya lebih dulu.
Tujuh Hal yang Kami Larang pada Diri Sendiri
Larangan berikut berlaku untuk seluruh penilai Head Politika, tanpa pengecualian, dan sengaja diterbitkan supaya dapat ditagih siapa pun.
Menyebut skor sebagai ramalan keterpilihan. Seseorang bisa punya modal politik tinggi dan tetap tidak maju, atau maju lalu kalah.
Memberi angka pada pilar yang datanya tidak ada. Angka tengah untuk data yang tidak ada adalah karangan yang menyamar sebagai kehati hatian.
Mengubah bobot agar hasilnya terasa lebih pantas. Bobot ditetapkan lebih dulu dan berlaku untuk semua orang, termasuk tokoh yang kami sukai maupun tidak.
Membandingkan tokoh yang tidak dinilai dengan aturan yang sama. Perbandingan hanya sah bila alat ukurnya sama dan kelengkapan datanya setara.
Menaikkan atau menurunkan nama atas permintaan pihak mana pun. Peringkat tidak pernah menjadi bahan promosi berbayar bagi tokoh yang diperingkat.
Mencatat tuduhan tanpa sumber yang dapat diperiksa. Isu yang hanya beredar di media sosial tanpa bukti tidak dihitung sama sekali di pilar liabilitas.
Memuat urusan pribadi dan keluarga yang tidak menjabat publik. Yang dinilai adalah kekuatan politik seseorang, bukan kehidupan rumah tangganya.
Pertanyaan yang Paling Sering Masuk
Sebelas pertanyaan berikut datang dari pembaca profil tokoh kami. Ketuk untuk membuka jawabannya.
Apa yang sebenarnya diukur oleh skor ini?
Modal politik seseorang pada satu tanggal tertentu, yaitu kemampuannya hari itu untuk menggerakkan keputusan, mengumpulkan dukungan, dan bertahan saat diserang. Skor ini bukan ramalan menang kalah, bukan nilai kinerja, bukan ukuran kejujuran, dan bukan penilaian pantas atau tidaknya seseorang menduduki jabatan.
Dari mana angka 110 pada rumusnya?
Itu panjang rentang skor mentahnya. Nilai terendah yang mungkin adalah minus 15 dan tertinggi 95, sehingga jaraknya 110 langkah. Angka 110 dipakai untuk memindahkan hasil ke skala 0 sampai 100 yang lebih mudah dibaca. Ia bukan angka pilihan, melainkan panjang penggarisnya.
Kenapa skor terendah bukan nol?
Karena rentang mentahnya memuat angka minus. Seseorang tanpa modal politik sama sekali dan tanpa beban apa pun mendarat di 13,6, sebab ia sudah berdiri 15 langkah dari ujung kiri sejak awal. Angka 0 hanya tercapai bila modalnya nol sekaligus bebannya maksimal.
Apakah menteri yang belum pernah ikut pemilu otomatis dirugikan?
Tidak. Bila ia belum pernah sekali pun maju, modal elektoralnya ditandai TB dan bobotnya dialihkan ke pilar lain, sehingga batas atas skornya tetap sama. Yang berubah hanya letak tekanannya, yang menumpuk di modal kelembagaan. Berbeda dengan menteri yang pernah menang pemilihan legislatif lebih dulu, karena ia tetap dinilai di pilar itu memakai pencalonan terakhirnya.
Bagaimana dengan relawan atau tokoh organisasi kemasyarakatan yang tidak berpartai?
Modal partainya dinilai lewat kelas R, yaitu kendaraan politik nonpartai, dengan batas atas 45. Batasnya lebih rendah daripada partai karena organisasi nonpartai tidak dapat mencalonkan siapa pun dan tidak memegang kursi. Bila seseorang punya jabatan di partai sekaligus di organisasi nonpartai, dipakai angka yang lebih tinggi, tidak dijumlahkan.
Kenapa bobot modal publik hanya 15, padahal politik banyak soal popularitas?
Karena modal publik mengukur potensi, sedangkan modal kelembagaan dan modal elektoral mengukur kekuasaan yang sudah di tangan. Orang yang sangat dikenal tetapi tidak punya jabatan dan tidak pernah terukur keterpilihannya belum bisa menggerakkan keputusan apa pun. Bobot itu pilihan kami, dan Anda dipersilakan menghitung ulang dengan bobot versi Anda sendiri.
Bisakah saya menghitung ulang memakai bobot saya sendiri?
Bisa, dan kami menganjurkannya. Setiap profil memuat angka tiap pilar beserta sumbernya. Kalikan angka pilar dengan bobot versi Anda, jumlahkan, bagi 100, kurangi potongan liabilitas, lalu pindahkan ke skala 0 sampai 100 dengan cara yang sama. Bila hasil Anda berbeda jauh, kirimkan kepada kami beserta bobot yang Anda pakai.
Kenapa dua tokoh dengan skor berbeda bisa berada di kelompok yang sama?
Karena pita ketidakpastian tiap tokoh selebar sekitar 20 angka. Selisih di bawah 10 angka tidak dapat dipertanggungjawabkan sebagai perbedaan yang nyata, sehingga keduanya diperlakukan setara. Kelompok kami selebar 10 angka, dan di dalamnya nama diurutkan menurut abjad.
Apakah skor seseorang bisa berubah?
Bisa, dan memang dirancang begitu. Tiap halaman tokoh adalah halaman pelacak yang diperbarui bila datanya berubah, misalnya karena ada surat keputusan baru, hasil survei baru, atau perubahan status hukum. Setiap perubahan mencantumkan tanggal dan sebabnya, dan skor lama tidak dihapus.
Apakah Head Politika menerima bayaran untuk menaikkan skor seseorang?
Tidak. Menaikkan atau menurunkan nama atas permintaan pihak mana pun termasuk larangan yang kami tulis di dalam aturan, dan tabel peringkat tidak pernah dijadikan bahan promosi berbayar bagi tokoh yang diperingkat. Head Politika memang bekerja sebagai konsultan politik, dan karena itu larangan ini ditulis terbuka agar bisa ditagih siapa pun.
Bagaimana kalau saya menemukan kekeliruan di salah satu halaman?
Kirimkan kepada kami beserta buktinya. Koreksinya dimuat dengan mencantumkan tanggal perubahan, dan hak jawab berlaku untuk siapa pun yang namanya disebut. Bantahan yang paling berguna adalah yang menunjuk pilar mana, tangga mana, dan data mana yang menurut Anda keliru.
Apa yang Terjadi pada Skor Lama
Nomor versi bukan hiasan. Empat hal berikut menjelaskan apa yang berlaku untuk angka yang sudah terbit lebih dulu.
Artikel yang terbit sebelum 18 September 2026 memakai versi aturan yang tercantum di artikelnya masing masing. Angka di sana sah dibaca dengan versi itu.
Penilaian ulang dikerjakan pada pembaruan berikutnya tiap artikel, bukan serentak untuk semua nama pada hari yang sama.
Bila penilaian ulang mengubah skor, perubahan itu disebutkan terbuka di artikel tokohnya, lengkap dengan angka lama, angka baru, dan aturan mana yang menyebabkannya.
Aturan versi 6 tidak mengubah skor tokoh yang pencalonan terakhirnya menang, dan tidak mengubah skor tokoh yang belum pernah maju dalam pemilihan mana pun. Bagi keduanya, kedua tambahan versi 6 tidak berlaku.
Karena itu dua artikel tokoh yang terbit pada tanggal berbeda bisa memakai versi aturan berbeda tanpa salah satunya menjadi keliru. Yang wajib selalu ada adalah nomor versi dan tanggal penilaiannya.
Keterangan yang Wajib Dibaca Bersama Setiap Skor
Empat keterangan berikut disalin apa adanya ke setiap halaman tokoh, tanpa diringkas.
Skor Head Politika adalah indeks analitik, bukan hasil penelitian ilmiah. Metodenya terbuka penuh dan dapat dihitung ulang siapa pun, tetapi bobot dan tangga penilaiannya adalah penilaian Head Politika, bukan temuan empiris.
Cara membaca yang benar. Anggap dua tokoh setara bila selisih skornya di bawah 10. Peringkat kami memakai kelompok selebar 10 angka, dan di dalam satu kelompok nama diurutkan menurut abjad, bukan menurut skor.
Batas kelompok bersifat tetap. Skor 69 dan 70 jatuh di kelompok berbeda meski hanya berselisih 1 angka. Kelemahan itu melekat pada batas mana pun, dan kami menyebutnya sendiri.
Versi aturan. Halaman ini memuat aturan versi 6 yang berlaku sejak 18 September 2026. Versi 6 menambahkan dua hal terhadap versi 5, yaitu kelas baru untuk ketua pengurus wilayah di provinsi berpemilih besar pada modal partai, dan nilai tambah terbatas untuk riwayat kemenangan pada modal elektoral bagi tokoh yang pencalonan terakhirnya kalah. Bobot, rumus, dan tangga pilar lain tidak berubah. Setiap profil mencantumkan versi aturan yang dipakai pada hari penilaiannya dibuat, dan perubahan tidak pernah diberlakukan surut tanpa diumumkan.
Halaman Tokoh yang Memakai Rubrik yang Sama
Cara terbaik memahami halaman ini adalah membukanya berdampingan dengan satu halaman tokoh, lalu mencocokkan tiap angka dengan tangganya.
- Sufmi Dasco Ahmad, Sudaryono, Merry Riana, dan Pipin Sopian. Contoh tokoh dengan ketujuh pilar hidup dan modal kelembagaan besar.
- Merry Riana. Contoh tokoh yang modal elektoralnya ditandai TB, sehingga bobotnya dialihkan.
- Sudaryono. Contoh tokoh yang berpindah jalur, dari kendaraan relawan sampai jabatan negara.
- Pradana Indraputra. Contoh modal politik yang tidak lahir dari kotak suara.
Seluruh data mentah pada tiap halaman tokoh dilengkapi tautan sumber yang dapat Anda buka satu per satu. Sumber yang tidak dapat diakses ditulis terus terang sebagai tidak ditemukan, bukan diganti dengan perkiraan.
Dua Halaman Data yang Menjadi Bahan Penilaian
Keduanya bukan halaman tokoh dan tidak memakai skor 7 pilar. Keduanya dipakai sebagai bahan pada dua pilar tertentu.
- Daftar lembaga survei di Indonesia. Dipakai untuk menentukan rilis survei mana yang boleh masuk ke pilar modal publik.
- Elektabilitas partai politik. Dipakai untuk menetapkan kelas partai pada pilar modal partai.
Angka Ini Alat Bantu Berpikir, Bukan Vonis
Skor Head Politika tidak dimaksudkan untuk mengakhiri perdebatan tentang seorang tokoh. Tujuannya justru memulai perdebatan itu di tempat yang lebih baik, yaitu di atas data yang sama dan alat ukur yang sama.
Kalau Anda tidak setuju dengan angka kami, itu hasil yang bagus. Yang kami minta hanya satu: bantahlah dengan menunjuk pilar mana, tangga mana, dan data mana. Seluruh bahannya sudah tersedia di halaman ini dan di halaman tokoh yang bersangkutan.
Ditulis, dianalisis, dan dipublikasikan oleh Tim Riset Head Politika, memakai Aturan Skor Modal Politik Head Politika versi 6.
Ingin Peta Politik Dapil Anda Dibaca dengan Data?
Diskusikan situasi Anda langsung dengan tim kami. Tanpa biaya, tanpa keterikatan, hanya pembicaraan jujur tentang peluang Anda.
Mulai Konsultasi Gratis
